
Jakarta, Bandara A
Keysha dan kedua orang tuanya baru saja tiba di bandara. Danu menggeret koper yang berisi pakaian mereka, sedangkan Kirana menuntun arah jalan untuk Keysha.
Ketiga orang tersebut menghadang taksi, dan langsung mengantarkan mereka pulang.
"Nak, mungkin saat ini kau tidak bisa melihat keadaan kita. Namun papa ingin memberitahukan padamu. Kondisi ekonomi kita tidak seperti yang dulu. Bisnis papa jatuh, dan beberapa aset yang kita punya, ditarik oleh bank karena hutang perusahaan cukup besar." tutur Danu.
Pria itu mengarahkan pandangannya pada Keysha yang masih diam.
"Ukuran rumah kita juga tidak sebesar dulu. Apakah kau tidak merasa malu jika kita hidup dalam kesederhanaan?" tanya Danu.
Keysha tersenyum, tatapan gadis itu lurus ke depan.
"Aku tidak malu menjadi seorang yang paling miskin sekali pun. Harta tidak cukup membuat ku bahagia, jadi tidak ada yang harus dipermasalahkan dari semua itu." timpal Keysha.
Danu lega mendengar jawaban dari anak gadisnya. Pria itu takut jika masalah ini akan menambah beban pikiran Keysha. Takut jika anak gadisnya tidak bisa menerima keadaannya yang sekarang.
....
Ketiganya pun telah tiba di rumah. Jika dulu bangunan besar dengan bergaya Eropa yang menjadi tempat tinggalnya, namun sekarang rumah mereka tak sebesar dulu.
Bik Asih membukakan pintu saat bel berbunyi. Ya, asisten rumah tangganya itu memegang teguh janjinya pada Keysha untuk tetap menemani anak asuhnya itu hingga akhir hayatnya.
Pintu pun terbuka, Bik Asih menatap Keysha dengan tersenyum. Pandangan gadis itu lurus ke depan. Bik Asih menyingkir, ia pikir jika anak asuhnya itu sedang tidak ingin diganggu.
Kirana menuntun jalan Keysha. Gadis itu mengarahkan tongkatnya ke depan, Bik Asih yang melihat hal tersebut pun langsung mengernyitkan keningnya.
"Maaf Tuan, Non Keysha..." Bik Asih tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Matanya tertuju pada Keysha yang berjalan dengan tongkat penuntun tersebut.
Danu menganggukkan kepalanya.
"Kecelakaan itu merenggut semua hidupnya, tolong bantu rawat Keysha ya Bik."ucap Danu sembari berlalu.
Bik Asih menutup mulutnya tak percaya. Melihat Keysha seperti itu, ia juga merasa sedih. Gadis kecil yang dulu di asuh olehnya kini telah kehilangan penglihatannya.
...
Kirana membawa Keysha ke kamar, gadis itu pun duduk di atas kasur sembari meraba sekitarnya.
"Beristirahatlah." ujar Kirana, membuka koper tersebut dan mengeluarkan semua pakaian untuk dimasukkan ke keranjang pakaian kotor.
"Ma, aku ingin mandi. Bisakah menuntunku ke kamar mandi?"tanya Keysha.
__ADS_1
Kirana pun tersenyum. Ia segera bangkit dan langsung menuntun Keysha ke kamar mandi.
"Jika kau merasa kesulitan, panggil saja Mama atau Bik Asih." ujar Kirana.
Keysha hanya mengangguk pelan. Melihat anak gadisnya seperti ini, Kirana merasa kembali merawat Keysha layaknya bayi besar. Dan inilah saatnya bagi Kirana untuk menunjukkan semua kasih sayang yang belum sempat ia berikan pada anak gadisnya itu.
Cukup lama berada di dalam kamar mandi, Keysha pun keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Kirana langsung menuntun anak gadisnya itu. Ia menyiapkan pakaian untuk Keysha.
Sungguh ini memalukan! tapi mau dikata apa lagi, Keysha tak bisa melihat apapun saat ini. Penglihatannya menggelap, bahkan saat ini ia benar-benar tak dapat melihat apapun yang ada dihadapannya.
"Biarkan aku saja, Ma. Mama beristirahat lah" ujar Keysha.
"Tapi nak.."
"Kelak aku akan terbiasa." ucap gadis itu menyela pembicaraan Kirana.
"Baiklah kalau begitu mama tinggal kamu sendirian. Nanti jika kamu membutuhkan sesuatu panggil saja Mama atau Bik Asih." ujar Kirana yang sesaat kemudian meninggalkan Keysha di dalam kamarnya.
Keysha mengenakan pakaiannya. Setelahnya gadis itu mengitari kamarnya. Meraba setiap sudut baik itu lemari, pintu, serta yang lainnya. Keysha mencoba mengingat posisi benda yang ada di kamarnya, karena tak mungkin ia selalu memanggil ibunya saat hendak mencari sesuatu.
Gadis itu kembali meraba hingga menemukan sebuah jendela. Ia pun berdiri di depan jendela tersebut, menghirup oksigen dengan rakusnya. Ia memejamkan matanya, mencoba melihat keluar menggunakan instingnya. Dan sesaat kemudian Keysha pun tersenyum.
"Aku kembali.." gumam gadis itu.
Seiring berjalannya waktu, usaha yang saat ini David tekuni semakin lama semakin berkembang. Restoran kecil yang dikelolanya cukup ramai pengunjung.
Apalagi saat malam Minggu tiba, tentu saja banyak kawula muda berdatangan. David sempat kewalahan saat melayani pelanggan yang cukup ramai. Saat itu karyawan yang bekerja di restonya masih terbilang sedikit.
David melihat salah satu pelanggan yang sedikit mencolok. Seorang gadis mengenakan topi serta memakai kacamata hitam.
"Apakah dia menggunakan kacamata hitam itu karena silau dengan sinar bulan?" gumam David heran, karena gadis itu mengenakannya saat dimalam hari.
David bergegas menghampiri gadis yang mencuri perhatiannya.
"Mau pesan apa, nona?" tanya David.
Gadis itu terkekeh geli saat David menanyainya. Sesaat kemudian, ia pun membuka topi serta kacamata yang dikenakannya.
"Kau.."
"Hehe ternyata penyamaran ku cukup menarik membuat seorang David untuk datang menghampiri." ujar Indah sembari mengembangkan senyumnya.
"Apa kau sedang memata-matai ku?" tanya David pada kekasihnya.
__ADS_1
"Aku datang kesini karena merindukanmu, dan sekaligus memgawasimu agar tidak nakal." tukas Indah.
David pun menarik kursi yang ada dihadapannya. Pria itu meluangkan waktunya sejenak untuk sang kekasih. Bagaimana pun juga, jarak yang ditempuh Indah untuk menemui dirinya tidaklah dekat.
"Kau sudah makan?" tanya David.
Indah menggelengkan kepalanya.
"Tunggu sebentar, aku akan membuatkan sesuatu untukmu."ujar David.
Pria itu bergegas ke dapur, memasang apron dan kemudian menyiapkan makanan untuk Indah. Ia mengambil beberapa bahan yang akan diolahnya.
Namun seketika gerakannya terhenti. Entah mengapa tiba-tiba kenangan itu kembali terlintas dipikirannya. Ini bukanlah kali pertama ia memasakkan sesuatu untuk Indah, akan tetapi mengapa pria itu tiba-tiba teringat akan kejadian yang lalu. Dimana ia sering membuat makanan untuk Keysha.
Lamunan David buyar seketika saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Indah memeluk pria itu dari belakang.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Indah.
"Ah, tidak. Aku hanya berpikir makanan apa yang harus ku buat untukmu." kilah David.
Indah masih melingkarkan tangannya di pinggang David. Mencium aroma parfum dari pakaian pria itu.
"Kapan kau akan melamar ku?" tanya gadis itu tiba-tiba.
David segera melerai tangan Indah dari pinggangnya. Pria itu pun berbalik menatap kekasihnya.
"Tunggulah di luar, aku akan membuatkanmu makanan." timpal David yang sedikit mendorong tubuh kekasihnya itu untuk keluar dari dapur.
Setelah melakukan hal tersebut, David kembali ke dalam untuk memasak. Indah menghembuskan napasnya dengan kasar sembari menatap punggung kekasihnya itu.
"Entahlah, aku terlalu takut untuk kehilangan dirimu." gumam Indah yang kemudian melangkah pergi.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ♥️
Klik favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1