Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 20 Aston Akan Bertindak Cepat


__ADS_3

Alexa bersandar di dinding, dan lunglai jatuh ke lantai, tubuhnya bergetar hebat, wajah wanita itu terlihat pucat pasti, mulutnya hampir tidak bisa bersuara. Di telinganya hanya terdengar suara Carita dan Maxwell membentaknya, ia sangat ketakutan, kedua matanya tampak pilu. Umpat dan olokan Carita dan Maxwell tidak dapat di hentikan. Aston berjalan cepat mendekati mereka. "Mommy! Daddy! tolong hentikan! Alexa tidak salah, ini hanya video jebakan, ada seseorang yang ingin menghancurkan hubungan kami berdua, please... Ku mohon, Aston akan mencari bukti jika Alexa tidak bersalah, dan membuat klarifikasi tentang video yang di sorot tadi."


Carita tidak percaya, itu hanya ucapan Aston yang tidak ada gunanya. Semua tamu yang hadir telah pergi, dan mereka sudah menerima informasi yang tidak tahu akan kejelasannya. Dan informasi itu akan merebak dengan cepat sebentar lagi.


Nama Aston Marck pemilik saham perusahaan terbesar di pusat kota ini akan hancur seketika. Wanita yang lebih tegas dari suaminya itu bertolak pinggang. Dengan kedua mata membulat melihat Aston yang tidak mendengarkan ucapan mereka. "Sudahlah Aston, sudah tidak ada gunanya lagi kamu klarifikasi berita tadi, karena namamu sudah buruk di mata klien dan rekan bisnismu! Segera ceraikan wanita itu!"


Ucapan dari kalimat terakhir Carita membuat Aston dan Lexa terkejut. Tidak di sangkanya ibu dari pria yang baru menikahinya itu, menyuruh Aston menceraikannya. Pun pernikahan itu baru di lakukan tadi pagi.


Aston yang lebih melindungi Lexa, mengelak. Ia tidak akan menerima perintah sang ibu. Karena baginya mendapatkan cinta Alexa butuh pengorbanan yang besar. Dan kali ini ia tidak akan menyia-nyiakan wanita itu. "Maaf Mommy Carita, Aston menolaknya. Mommy dan Daddy tidak perlu mencampuri urusan Aston, karena aku bisa mengatasi masalah itu sendiri."


Maxwell berdecak kesal, meski ia jarang mendampingi Aston putranya, ia masih berhak untuk memberikan arahan yang terbaik untuk anaknya. "You insolent child! How dare you disobey an old man's order!"


Aston menjawabnya, "I'm so sorry Mommy, I love Alexa so much. I can't live without it. Let me live life together with the woman I love."


"Aku kecewa jauh-jauh datang kemari, hanya untuk sebuah penghinaan besar keluarga saja. Aku tidak perduli lagi terhadapmu! Jika ada sesuatu apapun, jangan hubungi kami! You understand!" bentak Carita, mereka beranjak dari sana.

__ADS_1


Pria itu melihat Lexa, ia segera menggendongnya dan membawanya pulang. "Lexa, bersabarlah sedikit saja, aku akan membersihkan namamu. Kamu jangan khawatir. Aku akan membantumu!" ucap Aston Marck dengan memukul pelan bahu Lexa yang duduk disebelah kursi mobil depannya.


Alexa tidak bergeming sedikitpun. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Karena semua sudah hancur pada hari yang sama. "Kamu tidak perlu menghiburku seperti itu, Aston. Rasanya percuma saja, aku sudah dipandang buruk oleh publik. Maafkan aku yang telah merusak nama baikmu."


Astone mencoba untuk menengkan Lexa. Jika ia seperti ini terus ia akan sakit, berakibat buruk pula pada kandungannya. Pria itu menambah laju kecepatan mobilnya, hingga hanya perlu beberapa menit saja ia sudah sampai di kediaman rumah. Kedatangannya disambut oleh Bibi Ijah.


Wanita paruh baya itu heran kenapa keduanya tidak bahagia dikala pernikahan ini? Aston meminta Bibi Ijah untuk membuatkannya bubur dan susu, karena ia butuh nutrisi untuk tubuhnya. Kali ini ia sangat lemah. Terlalu banyak beban pikiran hingga ia tidak bisa banyak bicara. Aston menggendong tubuh Lexa, menuju lantai atas kamar mereka dan merebahkannya pelan. Lalu memanggil dokter pribadi untuk memeriksa keadaannya.


Setibanya di sana dokter memberikan cairan infus yang terhubung langsung dengan tubuhnya , serta obat penambah darah, dan vitamin, dokter mengatakan ia tidak boleh banyak pikiran, paksa harus istirahat cukup agar kondisinya segala pulih. "Terima kasih dokter," ucap Sean.


Bibi menyuruhnya untuk makan serta minum susu sementara ia keluar kamar untuk menyelesaikan suatu hal. Aston keluar saja, tanpa bicara pada Alexa.


[ "Halo Dania, tidak perlu basa-basi, aku ingin menanyakan satu hal padamu, Kenapa kamu menyuruh seorang untuk menyebarluaskan video Alexa? Bukankah kita sudah melakukan perjanjian, jika Alexa ataupun Sean sudah tidak bersama lagi kita hentikan semua ini, masing-masing dari kita sudah memilikinya. Dan aku harap salinan video itu kamu hapus!" ] ucap Aston, pada wanita di seberang telepon.


[ "Maaf Aston aku tidak tahu apa yang kau maksud? Kenapa kau tiba-tiba marah terhadapku?" ] tanya Dania, berpura-pura. Ia bekerjasama dengan Andrea dalam melakukan pekerjaan ini.

__ADS_1


[ "Sudahlah Dania aku tidak mau mendengar mulutmu membual! Aku tidak akan mengampuni kesalahan besarmu ini! Kau menghancurkan aku juga menghancurkan Alexa!" ]


[ "Sudah aku katakan jika bukan aku pelakunya, kau menuduhku tanpa bukti, dan asal kau tahu saja video itu yang memiliki bukan kita saja. Sean dan beberapa lainnya mungkin sudah mempunyai salinan itu. Jadi untuk hal ini kamu harus bekerja cepat dan segera membersihkan nama baikmu dan istrimu." ] Segera setelah mengatakan hal itu Dania menutup panggilannya.


Aston tidak ingin berdiam diri saja menerima kenyataan tentang Alexa, ia menyuruh anak buah untuk mencari tahu siapa yang telah berani menambahkan acara penayangan film itu.


****


Di samping itu, Andrea dan Dania bertepuk tangan, mereka sukses membuat Alexa mati kutu. Wanita itu tidak akan berani lagi mengganggu Sean. Dania dan putranya akan menjalani hidup tanpa bayang-bayang Lexa.


Masih di dalam rumah sakit, Andrea dan menantunya menunggu, para dokter keluar dari ruangan operasi, wanita yang membenci Alexa itu penuh dengan rasa khawatir akan keadaan putranya. Selama berjam-jam belum ada informasi dari petugas medis setelah ia dipindahkan dari UGD ke ruang operasi.


Setelah beberapa menit kemudian, seorang dokter baru keluar dari ruang operasi dan memberitahukan kepada mereka keadaan Sean saat ini. "Selamat malam dengan keluarga pasien."


Andrea dan Dania segera berjalan mendekati dokter yang memakai jas putih dan kemeja bergaris hitam. "Ya dokter. Bagaimana keadaan putra saya sekarang, dokter? Apakah ada masalah serius sehingga operasinya berlangsung lama?"

__ADS_1


Dokter yang masih berusia muda itu mengulas senyum, ia mengatakan jika keadaan pasien tidak cukup serius. Mereka hanya memberikan operasi kecil di kepala yang sedikit terdapat luka robek. Iya masih belum sadar.


Andrea bisa bernafas dengan lega, ia hanya menunggu, kapan Sean sadar saja. Tanpa memikirkan kekhawatiran yang lain.


__ADS_2