
David memacu kendaraannya dengan cepat setelah mengantarkan Dini ke sekolahnya. Jantung pria itu berdegup kencang, perasaannya menjadi tak enak. Ia kepikiran dengan Keysha yang saat ini berada di rumah.
David kembali menginjak gas mobilnya. Beberapa pengendara yang lain meneriaki serta melayangkan sumpah serapah untuk pria tersebut. Namun, ia memilih untuk menulikan telinganya. Yang terpenting saat ini ia harus segera sampai ke rumah untuk menemui sang istri.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, David pun akhirnya tiba di halaman rumah. Pria tersebut segera turun dari mobilnya. Dengan setengah berlari menaiki anak tangga dan langsung menuju ke kamar.
Saat membuka kamarnya, benar saja! Ia melihat Keysha dengan bibir yang membiru tengah tergeletak di lantai.
"Key!" seru David yang seketika menggema.
"Sayang, bangun!" ujar David menepuk-nepuk pipi Keysha. Namun, gadis itu tak kunjung membuka matanya. Tubuh Keysha terasa sangat dingin.
David pun langsung membopong tubuh Keysha yang sudah berbusana. David lekas memasukkan istrinya ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
Mata David berkaca-kaca melihat tubuh gadis yang dicintainya lemas tak berdaya. "Apa yang sebenarnya terjadi, Key," gumam David.
Setelah cukup lama di perjalanan, keduanya pun tiba di rumah sakit. David kembali membopong tubuh istrinya ke dalam. Perawat pun dengan cepat membawa brankar ke arah David.
David meletakkan Keysha ke atas brankar. Pria itu pun membantu tim medis untuk mendorong brankar tersebut.
Tangan David masih setia menggenggam tangan milik istrinya. Memberikan kehangatan pada sang istri walaupun dengan hal-hal yang kecil.
Keysha pun segera di bawa ke ruang UGD. David menatap kosong ke arah pintu yang tertutup. Seketika tubuhnya luruh, seluruh sarafnya seakan mati rasa.
David bolak-balik di depan ruang UGD sembari menatap cemas ke arah pintu yang masih tertutup. Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari dalam.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya David.
Dokter membuka masker yang menutupi wajahnya. Tampak helaan napas berat terdengar sangat jelas.
"Bisakah anda ikut dengan saya?" ujar dokter tersebut.
David pun mengikuti langkah sang dokter hingga ke ruangannya. "Silahkan duduk," ucap dokter tersebut mempersilahkan.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya David.
Dokter pun langsung menjelaskan tentang kondisi Keysha terkini. Ia memberitahukan pada David tentang penyakit yang di derita Keysha.
Seketika semuanya tampak hening bagi David. Tangannya bergetar hebat sementara jantungnya kembali berdegup dengan kencang. Pernyataan dokter membuatnya menjadi lemas seketika.
"Tolong selamatkan istri saya Dok," pinta David, ia tak merasa malu lagi meneteskan air matanya. Hatinya benar-benar merasa hancur.
"Yang bisa kami lakukan hanyalah dengan cara kemoterapi, hal itu akan memperlambat perkembangan kanker. Akan tetapi, kami juga menyampaikan kabar buruk, bahwa kandungan yang ada di dalam rahim istri anda sangat lemah, cara ini bisa saja membuat anda dan istri anda kehilangan calon anak anda," papar Dokter.
DEGGG...
David benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Kali ini Tuhan sungguh berat mengujinya. Tanpa berkata apapun David keluar dari ruangan tersebut.
Langkah David gontai, air matanya terus jatuh. Tak perduli orang yang berpapasan dengannya memperhatikan pria tersebut.
Setibanya ia di ruang UGD, ia melihat sang istri tengah terbaring lemas. Seketika lutut David melemas. Kenyataan yang ia dapat benar-benar membuatnya bak serpihan.
Dilihatnya wajah cantik yang tampak pucat. Seketika tangis David pun pecah. Ia memeluk sang istri dengan tersedu.
Ia menciumi pipi serta tangan Keysha berulang kali. Bahunya bergetar, dadanya terasa sesak. "Kenapa harus kau yang menderita? mengapa Tuhan tidak membiarkan aku saja yang merasakan sakitnya?" gumam David.
Keysha yang sedari tadi sudah sadar, hanya bisa meneteskan air mata. Hal yang paling ia takutkan adalah saat suaminya menangisi dirinya seperti ini. Keysha tak sanggup jika melihat David menitikkan air matanya.
Pandangan David mengabur karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia melihat sang istri yang menatapnya juga ikut menangis. Tangan David menghapus jejak air mata Keysha. Pria tersebut mengecup kening sang istri cukup lama dan dalam. Seakan memberitahukan pada gadis itu bahwa rasa sayang yang ia miliki tak terhingga.
"Key, mari kita jalani kemoterapi," bujuk David.
Ia tahu keputusan ini terlalu berat baginya. Mereka bisa saja kehilangan sang buah hatinya saat ini. Namun, David lebih tak sanggup lagi jika kehilangan sang istri. Keysha adalah segalanya. Gadis itu adalah dunianya.
Mendengar ucapan dari suaminya, Keysha menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Pikirkan kesembuhanmu Sayang," ujar David menggenggam erat tangan istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi apapun yang terjadi aku ingin mempertahankannya."
Mendengar jawaban dari Keysha, membuat David kembali menitikkan air matanya. "Tolong Key, jangan egois. Ini demi kesembuhanmu," tandas David menatap manik mata sang istri dengan dalam.
"Suamiku, aku tahu ini berat bagimu. Tapi aku tetap ingin mempertahankannya. Ku mohon jangan memaksaku, cukup kemarin aku kehilangan janinku, aku tidak ingin hal itu terulang lagi."
David menghela napasnya dengan berat. "Key, kau tahu? Ini sangat sulit bagiku, Sayang. Pikirkan aku, Key. Bagaimana denganku selanjutnya? Apa yang harus ku lakukan." David tertunduk, tangisnya pecah seketika.
"Maafkan aku," ucap Keysha.
Gadis itu juga tak bisa menahan tangisnya. Kenyataan ini terlalu pahit bagi mereka berdua. Mengapa ujian cinta mereka selalu saja bertubi-tubi.
Baru saja mereka menyembuhkan luka masing-masing. Mengikat dengan janji suci, mengecap yang namanya sebuah kebahagiaan. Namun, kenapa kini kembali menyisakan luka lagi?
"Aku akan mencarikan dokter terbaik untukmu. Kau harus sembuh Key. Bisa saja mereka salah memberikan diagnosa," ucap David seraya menyeka air matanya.
"Sayang, aku sudah memeriksakan kondisiku di rumah sakit lain, hasilnya juga tetap sama," timpal Keysha.
"Kalau begitu ikuti kemoterapi saja ya, hmmm...." David masih membujuk Keysha untuk melakukan hal tersebut. Namun, Keysha tetap dengan keputusannya.
Seketika David berdiri, pria itu meninju dinding rumah sakit berulang kali melampiaskan rasa kesalnya. Sementara Keysha hanya bisa menangis melihat suaminya.
Tangan David terlihat memerah menghantam dinding berwarna putih yang ada di hadapannya berkali-kali. Ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Keputusan istrinya benar-benar sudah bulat. Memaksakan kehendaknya pun pada akhirnya kembali membuat sang istri membuka luka lamanya lagi.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Yang belum favorit, yuk di favoritkan supaya dapat notifikasi update terbarunya~