Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Keputusan Kevin


__ADS_3

Keysha mengambil kunci mobil yang diserahkan oleh Kevin. Gadis itu berencana jalan-jalan sejenak untuk sekedar cuci mata karena suntuk berada seharian di rumah. Keysha mengatur playlist lagu pada tape mobilnya. Dengan perlahan ia pun melajukan mobil tersebut ke jalanan.


Selama di perjalanan, gadis itu mengemudikan mobilnya sembari bersenandung. Ini juga salah satu penyembuh untuk rasa bosannya.


Keysha memberhentikan mobilnya tepat di sebuah coffee shop.


"Hari ini aku membutuhkan gula." gumam gadis itu sembari turun dari mobilnya.


Keysha pun memasuki tempat tersebut. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari posisi tempat duduk yang nyaman.


Keysha memilih salah satu kursi yang terletak di bagian sudut paling belakang. Tempat duduk yang paling ia senangi tentunya bagian sudut paling belakang. Tidak hanya di coffee shop, bahkan di sekolah pun gadis itu memilih duduk di belakang. Meskipun dulunya ia adalah siswi yang pintar, namun tetap saja Keysha sering menghindari pertanyaan dari guru seusai menjelaskan pelajaran.


Tak berapa lama kemudian, pesanan Keysha pun tiba. Moccacino ice dan choco lava cake menemaninya siang ini. Keysha mencicipi cakenya. Lagi-lagi ia bernostalgia dengan kejadian yang lalu. Gadis itu kembali memandang gelang yang masih setia melingkar di lengan kirinya. Entah mengapa pria itu masih saja melekat dalam ingatannya. Padahal ia sudah berjanji untuk mencoba melupakan masa lalunya demi sang suami.


Keysha menjauhkan cakenya dan memilih untuk meminum moccacino yang ada dihadapannya. Meskipun ia merasa ingin menikmatinya lagi, namun Keysha mencoba menahannya.


"Setelah ini aku tidak akan memakan cake, karena setelah mencicipinya ingatanku kembali padamu. Harusnya aku sadar bahwa saat ini ada hati yang harus ku jaga." gumam Keysha.


Tak lama kemudian gadis itu mencoba melepas gelangnya. Namun kegiatannya terhenti saat ponselnya berdering. Dilihatnya nama Kevin tertera di layar ponsel itu. Keysha pun segera mengangkat panggilan dari Kevin.


"Key, mungkin malam ini aku pulang larut. Karena masih banyak urusan kantor yang harus aku tangani. Kau sebaiknya tidur saja, dan jangan lagi menungguku seperti kemarin."ujar suara dari seberang telepon.


"Oke."


"Kau sedang apa?" tanya Kevin.


"Aku sedang berada di luar, di rumah terus membuatku sedikit merasa bosan." ujar Keysha seraya terkekeh.


"Oh, kalau begitu selamat bersenang-senang." ucap Kevin yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Keysha tersenyum sembari memandangi layar ponselnya.

__ADS_1


"Key, aku sedikit tak percaya dia menyebut namaku seperti itu." gumam Keysha.


Keysha pun beranjak dari tempat duduknya menuju ke meja kasir untuk melakukan transaksi pembayaran. Keysha melupakan aktivitas sebelumnya yang hendak melepas gelang tersebut. Dan pada akhirnya gelang itu masih melingkar cantik di lengan kirinya.


....


Di lain tempat, Kevin dalam mode serius tampak berpikir keras. Di ruangan tersebut pria itu tidak sendiri melainkan bersama dengan Riko.


"Sepertinya aku belum bisa untuk mengatakannya saat ini. Aku masih butuh waktu untuk menjelaskan semuanya. Saat ini gadis itu tampak sangat bahagia, dan aku tak sanggup mengatakan hal yang membuatnya langsung terjatuh ke dasar jurang yang paling dalam." gumam Kevin.


Pria itu masih bingung bagaimana cara untuk memberitahukan tentang Icha pada Keysha. Akan tetapi Kevin juga merasa tak sanggup jika harus menyembunyikan tentang Icha dari istrinya yang satu itu. Apalagi kini Ardi telah menculik Icha dan Varo, fakta itu membuatnya menjadi pria yang tak berdaya.


"Aku hanya memberi saran sebagai seorang teman. Sungguh tidak ada maksud tersembunyi dibalik itu. Jika kau mengira bahwa aku masih menginginkan wanitamu, itu salah! Aku lebih mementingkan persahabatan kita. Lagi pula dia milikmu, dan aku tidak akan merebutnya." jelas Riko.


"Maafkan aku karena membuatmu harus menuruti ucapanku." ucap Riko.


"Tidak masalah." ujar pria itu bangkit seraya menepuk pundak Kevin.


Kevin menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Berhadapan dengannya tidaklah mudah. Aku tahu persis apa seperti apa saudara tiriku. Dia serakah akan kekuasaan. Mengambil istriku dari tangannya tidak akan bisa dengan tangan kosong. Setidaknya harus ada yang aku tukarkan untuk menebusnya." terdengar nada frustasi dari ucapan Kevin.


"Aku akan meminta Papa untuk menggantikan posisiku untuk Ardi. Aku sudah benar-benar menyerah kali ini. Yang penting adalah satu, aku bisa mengeluarkan mereka dari sana." ucap pria itu.


Riko menatap Kevin dengan sendu. Pria itu tahu perjuangan Kevin mencapai titik ini tidaklah mudah. Walaupun dia adalah ahli waris yang sah, namun papanya itu menekan keras anaknya untuk menjadi sosok yang berkompeten.


"Mungkin aku akan hidup bahagia setelah melepaskan semuanya. Tidak ada lagi beban di pundak ku." sambung Kevin seraya mengulas senyumnya namun hatinya terasa sakit.


Riko tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya mampu menenangkan atasannya tanpa berani bertindak. Karena jika Riko sudah mulai bergerak, maka yang ia takuti adalah nyawa anak dan istri sahabatnya itu.


Ardi memang licik dan haus akan kekuasaan. Keserakahannya itu membutakan segalanya. Awalnya pria itu adalah sosok adik yang penurut. Kevin pun menyukainya meski kedua orang itu berbeda ibu. Akan tetapi seiring bertambahnya usia, semua berubah. Sosok yang dikenal lugu, kini menjadi lebih pintar dan licik.

__ADS_1


Ponsel Kevin tiba-tiba berdering. Dilihatnya di layar tersebut nomor tak dikenal. Kevin sudah bisa menebak, siapa yang meneleponnya saat ini. Pria itu pun langsung menjawab panggilannya.


"Apa kabar saudara tiriku?" ujar suara dari seberang sana. Suara itu seakan menggema di telinga Kevin.


"Dimana kau menyembunyikannya?" tanya Kevin langsung pada intinya.


Suara tertawa membahana terdengar jelas dari seberang telepon. Kini Ardi telah berhasil membuat Kevin terlihat menyedihkan. Biasanya pria itu tampak tenang meskipun Ardi mengancamnya akan membunuh Kevin sekalipun.


"Menyembunyikan apa? aku tidak mengerti." kilah pria itu.


"Jangan bermain-main denganku Ardi!"


"Selama ini kau lah yang bermain-main denganku! Kau tahu, aku sangat menantikan saat-saat dimana kau merasa frustasi dan tak mampu lagi untuk berpikir keras. Saat dimana aku bisa menertawakan kekalahan mu." ujar Ardi.


Kevin mengepalkan tangannya. Mencoba untuk menghadapi Ardi dengan sedikit bersabar.


"Tolong, kembalikan dia padaku. Aku akan menuruti kemauanmu tapi tolong, jangan ambil dia dariku." Kevin terdengar begitu menyedihkan. Rasa putus asa serta hancur berbaur menjadi satu. Tak ada pilihan lain selain memenuhi permintaan Ardi.


"Wah, aku tidak akan pernah menyangka jika memancingmu dengan hal itu dapat membuatmu dengan cepat menuruti kemauanku. Sungguh di luar dugaanku." ucap pria itu.


Kevin mengepalkan tangannya dengan kuat. Mencoba menahan gejolak emosi dalam dadanya. Mencoba untuk tetap bersabar agar saudara tirinya itu dapat mengembalikan Icha dan Varo.


"Kalau begitu urus saja dulu hal itu, maka aku akan mengembalikan mereka ke tanganmu." Ardi langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak. Pria itu mengembangkan senyum kemenangannya karena berhasil meraih apa yang dia inginkan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2