Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 9 Direktur utama Aston Marck


__ADS_3

Entah kenapa harinya berubah ketika ada Sean masuk dalam kehidupannya. Ia bisa cepat melupakan kesedihannya ketika pria itu berulah.


Lexa membalikkan tubuhnya, menatap langit kamar. Punggung nya sedikit sakit, setengah hari ia duduk saja menatap layar laptop.


Memutar benda pipih canggih, yang bisa di gunakan untuk kepentingan nya. Menunggu balasan Marco yang lumayan nyeleneh. Nafasnya lebih lancar dari semula. Bahkan senyummu tampak mengembang.


Tink!


Setelah menunggu beberapa menit pria itu membalas pesan Alexa, buru-buru wanita itu membuka layar ponselnya dengan menggeser satu jempol dari atas ke bawah di atas layar.


Iya bukan tipe wanita yang rumit, hingga harus memberi sandi ponselnya dengan kode atau cara yang sulit untuk menutupi privasinya. Hanya penguncian standar.


[ 'Aku gak sotoy. Karena aku tahu gerak gerik mu di kantor.]


['Emang kamu keturunan demit?'] Lexa tertawa saat mengetiknya.


Tidak lama kemudian pria itu memutuskan untuk membuat panggilan untuknya.


["Halo, Sayang!”]


["Ih najis, ada apa telpon? Aku kesel lho sama kamu. Tahu gak, sepulang dari rumah sakit, aku mencari nama dan alamat kantormu tapi di perusahaan itu tidak ada yang mengenal kamu, sebenarnya kamu itu bekerja di mana, tapi untunglah, tiba-tiba ada orang baik yang menerima aku di kantor Perusahaan yang kamu kirimkan kemarin, entah seperti mimpi atau baru dapat durian jatuh. Meski tidak membawa surat lamaran mereka menerimaku sebagai sekretaris, direktur utama yang bernama Aston. Keren gak tuh!"]


["Marah kenapa, padahal dapat pekerjaan bagus kan?"]


["Kan kamu bohongin aku, Marco!"]


["Aku gak bohongin kamu, aku memang kerja disana kok! Besok kamu akan tahu sendiri, aku kerja di bagian apa. Ya sudah, jangan lupa istirahat! Love you, Sayang! Jangan sedih-sedih lagi ya, inget! Kamu jelek kalau sedang nangis!"] Umpatnya, segera mengakhiri panggilannya.


Chat kedua baru masuk, dari seorang manager Fiva, wanita itu bertukar kontak nomer saat jam istrihat berlangsung di kantor.

__ADS_1


Wanita anggun berparas cantik tersebut mengatakan jika besok pagi ia di minta membawa surat lamaran pekerjaan, untuk melengkapi data dirinya di perusahaan tempat ia bekerja. Gak etis jika ia bekerja tanpa data diri. Sebagai bentuk kelengkapan.


****


Keesokan harinya ...


Lexa datang lebih awal dari karyawan lainnya, satpam tersenyum dan buru-buru membuka gerbang untuk wanita yang special incaran Tuan Aston-nya.


Seluruh karyawan dan karyawati perusahaan sudah di beri tugas untuk menjaga baik wanita yang baru menginjakkan kakinya kemarin itu.


Jika ada yang berbuat macam-macam tidak akan ia toleransi untuk memecatnya.


"Selamat pagi Nona Alexa. Anda bersemangat sekali, baru pukul 06. 40 sudah sampai kantor," ucap Pak Suroso. Setelah membuka gerbangnya untuk wanita berambut panjang dengan memakai sepatu seadanya.


Lexa berjalan masuk, dan menjawab pernyataan Pak Satpam. "Saya karyawati baru, Pak. Jadi saya harus lebih giat dari karyawan lainnya. Saya tidak mau di cap sebagai 0 karyawati pemalas."


"Benarkah? Bapak suka semangat Nona," Kata Suroso. "Ya sudah silahkan masuk, pintu susah saya buka," lanjutnya.


Ia menatap layar laptop nya, menunggu pekerjaan yang akan ia kerjakan pagi kini, Manager Fiva sudah memberitahu kepadanya jika besok sebagian pekerjaan itu akan ia kirimkan melewati email. Sudah menunggu berapa menit lamanya, tidak ada email masuk ataupun wanita itu langsung yang datang ke ruangan Lexa.


Tak lama kemudian suara panggilan telpon berbunyi. Ia buru-buru kembali mengitari mejanya, setelah berdiri melihat -lihat dari jarak dekat ruangan pribadinya. Mengangkat gagang telpon dan mendengarkan baik-baik suara si pemanggil.


["Halo, bisa kamu keruangan direktur utama sekarang? Saya tunggu!"]


Suara yang terdengar singkat dan jelas segera sirna. Belum Lexa menggerakkan bibirnya. "Duh, main matiin panggilan sebelum aku bersuara. Dasar direktur tidak sopan!" sungutnya.


Jantungnya berdebar, kali ini ia akan bertemu langsung dengan pemimpin perusahaan ini. Ia takut jika pria itu galak, atau tidak suka dengan pekerjaan nya. "Aku harus cepat ke ruangannya sekarang. Aku pasti bisa!"


Lexa berjalan keluar ruangannya sendiri. Dan melangkahkan kakinya menaiki lift ke ujung atas. Dimana hanya ada ruangan direktur saja disana.

__ADS_1


Setelah keluar lift, ia mencari satu ruangan, saat kedua bola mata Lexa tertuju pada satu ruang, ia buru-buru berjalan ke sana.


Tok tok tok!


Meski sedikit gemetaran, Lexa harus masuk dan mengikuti perintah atasannya itu. "Permisi, Pak!"


Terdengar suara familiar di telinganya, ia menepis, mungkin hanya kebetulan sama, namun bukan orang yang sama. Pikirnya. Saat membuka pintu yang berlapis kaca tebal berwarna hitam sebagian, ia melihat seseorang di balik kursi tinggi, bagian dinding kursi menutupi tubuhnya, kecuali sebagain kepala.


"Permisi, Pak. Saya Alexa, ada yang bisa saya kerjakan, Pak?" tanya Lexa, berusaha sebaik mungkin agar tidak salah bicara.


Pria itu tak kunjung menjawab, Hingga kursi putar itu mulai menggeser perlahan, dan kini terlihat siapa pria yang duduk di kursi empuk dan menjabat sebagai direktur utamanya. "Marco?" sapa Lexa tidak percaya.


Wanita itu melihat ulang meja, dengan nama Direktur utama Aston Marck. "Apa aku sedang berhalusinasi?" tanya Lexa lirih. Suara itu dapat di tangkap oleh Aston.


"Haha, kamu terkejut ya, Sayang?" pria yang suka menggoda Lexa dengan nama Marco ternyata Direktur utama di perusahaan besar.


Lexa mengatupkan mulutnya, ia sedikit kesal pria itu sudah bermain-main dengan perasaannya. "Aku tidak terkejut, hanya kaget saja! Bagaimana aku bisa bertanya siapa Marco, orang nama kamu Aston! Dasar menyebalkan!"


"Haha, stt! Harus sopan sama atasan! Bagaimana kalau aku memberimu hukuman?"


"Sudahlah, Anda manggil saya ada keperluan apa?" yang Lexa, masih menunjukkan wajah buruknya.


Aston menyuruhnya duduk dan menunjukkan satu pekerjaan untuknya. "Tolong kamu revisi file ini, nanti hasilnya sebelum di print ku tunjukkan kembali pada saya," titah Aston.


"Baiklah, kalau begitu say permisi," jawab Lexa lirih, ia memutar tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya.


"Lusa datang ke pernikahan Sean sama aku saja, aku juga di undang," ucap Aston, perkataan pria itu membuat langkah Lexa terhenti. Ia membalikkan tubuhnya kembali, tanpa suara. Hanya terkejut saja.


"Anda kenal dengan calon mempelai?" tanya Lexa heran, apa dia rekan bisnis Sean. Atau teman Dania?

__ADS_1


Aston menganggukkan kepala. "Ya, Dania yang mengundangku untuk datang ke pesta pernikahannya. Apa kamu yakin akan hadir? Apa kamu kuat berdiri melihat kebahagiaan mereka?"


"Apa maksud ucapan Anda, Pak? Biarkan mereka bahagia, lagipula Sean tidak berjodoh denganku, aku tidak bisa memaksa jodoh. Air dia datang sendiri pada saatnya," jelas Lexa, tanpa menunggu jawaban Aston, ia membawa file-file nya dan pergi meninggalkan ruangan Aston Marck.


__ADS_2