
Waktu begitu cepat berlalu, dalam jangka setahun ini akhirnya Keysha mampu berjalan sendiri tanpa tuntunan dari orang sekitarnya. Gadis itu melakukan aktivitas seperti sedia kala di dalam rumah tanpa harus merepotkan siapapun.
Namun dengan satu syarat, benda-benda yang ada di rumah harus sesuai posisi dan tidak berubah sedikit pun. Jika ada satu hal yang posisinya tak sesuai seperti biasanya, orang-orang yang ada di dalam rumah langsung memberitahukan pada Keysha.
Keysha belum pernah berjalan-jalan jauh dari rumah. Biasanya ia hanya berjalan disekitar halaman rumahnya saja. Insting gadis itu belum cukup kuat jika berada di keramaian. Namun Keysha tetap melatihnya dulu di sekitar rumah, baru ia akan mencoba untuk berjalan keluar dan masih dengan bimbingan orang rumah.
Bik Asih selalu mendampingi Keysha, begitu pula dengan kedua orang tuanya. Sesibuk apapun, mereka masih menyempatkan waktunya untuk memberikan kasih sayang pada anak semata wayangnya itu.
Perekonomian keluarga Danu sudah cukup membaik, meskipun jauh dari kesuksesan pertama yang ia gapai dulu. Kini Danu sudah membangun kembali bisnis baru meskipun kecil-kecilan. Dan butik milik Kirana juga mulai berjalan normal.
Malam ini, Keysha dan kedua orang tuanya tengah berada di depan teras. Tak lama kemudian, Bik Asih membawakan teh serta camilan.
Bik Asih pun menengahi teh serta camilan tersebut.
"Terima kasih Bi." ucap Kirana.
Bik Asih menganggukkan kepalanya dan kemudian kembali ke dalam.
"Dihadapanmu berjarak sekitar 30cm kau akan menemukan teh, dan camilan yang berada di sebelah kirinya." ujar Kirana memberitahu pada Keysha.
Keysha pun berhasil meraih teh tersebut, meniupnya sebelum menyeruput minuman itu. Setelah meletakkan teh, ia pun mengambil camilan ya g dimaksudkan oleh Kirana tadi.
"Kemampuanmu sudah cukup baik, Nak. Kau bahkan sudah berjalan di dalam rumah tanpa harus dibantu lagi." tutur Danu.
"Aku selalu meminta Bik Asih untuk memberitahukan semuanya, Pa. Bik Asih patut dapat bonus gaji yang besar." ucap Keysha sembari terkekeh.
"Tenang saja, nanti Papa akan menambah gaji Bik Asih karena telah merawatmu dengan baik." timpal Danu. Mereka bertiga pun tergelak tawa.
"Key, apakah kamu tidak ingin jalan-jalan keluar? Jika kamu ingin melakukannya, katakan saja pada mama. Mama akan membawamu kemana pun tempat yang ingin kau tuju." tukas Kirana.
"Belum saat ini, tapi mungkin nanti." ujar Keysha.
"Kabari saja mama, mama akan meluangkan waktu untukmu." ucap Kirana, Keysha pun menyunggingkan senyumnya.
Ketiganya pun kembali berbincang-bincang. Kadang terdengar gelak tawa dari ketiganya. Meskipun berada di rumah yang lebih kecil, namun Keysha merasakan kehangatan sebuah cinta dari kedua orang tuanya di rumah ini.
__ADS_1
***
Seiring berjalan waktu, kesuksesan pula menghampiri David. Kini pria itu telah membuka sebuah restoran yang besar. Restoran yang diberi nama 'DK Resto' tersebut sangat terkenal di kota itu.
Tak hanya dari kalangan kaum muda, bahkan para pebisnis pun sering berdatangan untuk membicarakan tentang pekerjaan dengan memesan ruang tertutup.
Hari ini teman-teman David mengunjungi restoran miliknya. Vanesha dan Dito sudah menikah dua bulan yang lalu, dan saat ini wanita tersebut datang dengan perut yang sudah cukup membuncit.
Sementara Reyhan, pria yang satu ini baru saja pulang dari Kanada. Setelah cinta menjungkir balikkan dunianya hingga temannya yang satu itu hidup di negara lain, dan saat ini pria itu kembali dengan wajah yang sangat menawan.
"Wah, usahamu tambah maju saja." ucap Dito.
"Syukurlah, ini semuanya juga berkat dukungan dari orang sekitar, juga tak luput dukungan dari kalian." timpal David.
"Usaha sudah maju, tinggal nikah saja. Kira-kira kapan kalian berdua akan memutuskan untuk berhenti melajang?" kini wanita yang tengah berbadan dua membuka suara.
Reyhan berpura-pura tidak mendengar, pria itu mengalihkan perhatiannya pada secangkir esspresso yang ada dihadapannya. Sementara David hanya tersenyum.
"Untuk sepupuku yang satu ini, aku bisa menebaknya bahwa dia tak memiliki ketertarikan pada wanita lagi. Atau kau sudah menyimpang?" ujar Vanesha.
Dito yang mendengar hal tersebut, langsung menyenggol lengan istrinya karena telah berucap demikian.
"Apa? lagi pula sudah biasa aku membullynya dulu." ujar Vanesha saat mendapat teguran dari Dito.
David hanya terkekeh, memang tak heran jika Vanesha terkesan sedikit sembrono dalam berucap. Karena mereka sudah cukup lama saling mengenal.
"Ckckck... sangat tidak etis." ucap Reyhan berdecak kesal sembari membersihkan celananya yang terciprat semburan kopi tadi.
"Asal kau tahu, wanita bahkan mengantri hanya untuk mendapatkan hatiku." ujar Reyhan.
"Lantas mengapa kau tidak menerima salah satu dari mereka?" tanya Vanesha.
"Belum ada yang benar-benar mampu mencuri hatiku." timpal Reyhan dengan santainya.
David hanya terkekeh saat mendapati keduanya tengah beradu argumen. Kejadian tersebut tak asing bagi David, karena saat kuliah dulu kedua sahabatnya itu memang sering kali bercekcok.
__ADS_1
"David... Kau kapan akan menikah?" kini pertanyaan yang paling dihindari David langsung mengarah padanya. David terdiam sejenak, kelihatan sekali ketiga temannya itu tampak menunggu jawaban darinya.
"Aku masih menikmati waktu sekarang, belum terpikirkan olehku untuk menikah." timpal David.
"Mantan kekasihmu mungkin sudah punya anak, Kau juga harus seperti itu." ucap Vanesha.
Dito yang sudah tak tahan langsung membungkam mulut istrinya itu dengan makanan yang ada di atas meja. Gadis itu selalu saja berbicara tanpa mengetahui kondisi seseorang.
Seketika ucapan Vanesha membuka luka lama David. Gadis sudah lama tak didengar kabarnya, namun ia juga tak ingin mendengar apapun tentang masa lalunya. Yang mungkin saja saat ini sudah hidup bahagia dengan pria yang ia pilih, dan memiliki beberapa anak dari pria tersebut. Sementara David, masih seperti ini. Bahkan kekasihnya membicarakan tentang pernikahan pun, David segera mengalihkan pembicaraan tersebut.
"David, Kau baik-baik saja Dude? maaf jika istriku terlalu ceroboh dalam berkata." ujar Dito yang langsung meminta maaf.
David menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Hei.. sudahlah, lagi pula pernikahan itu pembicaraan yang sedikit sensitif. Vanesha, aku harap kau lebih bijak lagi dalam memilih pembahasan untuk dibicarakan." tegur Reyhan pada sepupunya itu.
"Maaf..." ucap Vanesha yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, santai saja." ujar David. Pria itu merasa tak enak hati karena tiba-tiba suasana menjadi canggung.
David meraih minumnya di atas meja. Ia pun masih memikirkan ucapan dari Vanesha tadi.
"Apakah aku harus mengambil langkah itu? Apakah sudah waktunya untukku mengajak Indah untuk menikah? Haruskah aku melakukannya?" pertanyaan itu terbesit di dalam benaknya.
"Mungkin sudah waktunya untukku meninggalkan semua tentangnya. Meskipun terkadang otakku masih memutar ulang memori tentang dirinya." ujar David dalam hati.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ♥️.
__ADS_1
Jangan lupa klik favorit untuk mendapatkan notifikasi update terbarunya