
"Apa Alexa? Kata dokter sudah ada perkembangan dari, Mama?" Kedua mata Sean berbinar-binar. Ya merasa tidak percaya dalam beberapa menit saja keadaan Mama Sean berangsur baik.
Tidak kemudian dokter yang tadi menangani Andrea kembali mendatangi Alexa dan Sean.
"Maaf dengan keluarga pasien?" tanya Dokter memastikan keduanya benar dari keluarga Andrea.
Sean lekas menjawabnya, "Ya dokter? Bagaimana keadaan, Mama saat ini?
"Menurut hasil pemeriksaan kami dari segala uji laboratorium, bahwa ibu Anda bisa rawat jalan. Carilah seorang yang bisa sabar untuk mengurusnya, memperlakukannya dengan baik penuh kasih dan sayang. Saya meyakini beliau bisa lebih sembuh dengan cepat, hindarkan orang-orang yang bisa membuat pikirannya kembali sakit." Jelas dokter pada mereka.
Sean melihat kearah Alexa. Dan wanita itu segera menganggukkan kepala, Sean sudah mengerti jawabannya.
'Aku tahu kamu bisa ku andalkan dalam hal ini, Sayang. Karena dari dulu kamu adalah wanita yang baik,' gumam Sean menatap wanita itu dengan tersenyum.
"Baik, Dokter! Kekasih saya sudah siap menjaganya dengan baik, jadi apakah hanya perawatan tersebut saja? Keadaanya bisa membaik? Tidak perlu ke luar negeri untuk perawatan terbaiknya?" tanya Sean kembali.
"Tidak perlu, kami akan menugaskan perawat untuk merawat dan memantau keadaan ibu beliau. Jadi jangan khawatir, beserta obat-obat yang harus dikonsumsi setiap harinya," ucapnya.
"Jadi kapan, ibu saya boleh pulang?" tanya Sean penasaran dan tidak sabar. Meski hatinya mengatakan lebih baik dirawat disini dulu Samapi sembuh.
Dokter mengatakan Andrea boleh pulang besok pagi. Menunggu hasil terakhir dari laboratorium.
Pria berjas putih itu berlalu dari mereka, dan memasuki ruang kamar lain.
Salah satu perawat juga baru keluar dari sana, di tempat Andrea di tangani.
"Maaf Tuan dan Nyonya Alexa, silahkan jika kalian ingin melihat keadaan ibu Andrea, beliau sudah bisa dijenguk," ucap perawat pada keduanya.
Alexa segera bangun dari sana, dan segera masuk ke dalam ruangan Andrea disusul Sean.
Sampainya didalam ruangan itu ...
__ADS_1
Saat Alexa sudah berjalan dan berdiri di samping ranjang Andrea, ia tak kunjung melihat Sean di sebelahnya.
Wanita itu menoleh ke belakang ternyata pria itu tidak beranjak dari sana, Lexa segera bersuara. "Kenapa kau masih disana? Mari lihatlah Mama Andrea sudah bisa menggerakkan mata dan bibirnya.
Alexa menatap Andrea dan berusaha mengajaknya bicara. "Selamat siang Mama Andrea, ini Alexa. Mama pasti masih ingat padaku, kan?"
Dari kedua sudut matanya menitihkan air mata. Satu buliran menggelincir jatuh begitu saja, membuat Lexa terkejut.
Ia segera berteriak histeris pada Sean agar ia lekas datang melihatnya. "Sean!! Cepat kemari!! Ibu kamu menangis, Sean!!"
Pria yang mematung di samping pintu itu berjalan pelan ke arah Andrea berbaring.
Ia tidak kuasa melihat keadaan ibunya seperti ini. Bagaimana kelanjutan hidupnya setelah ini. Sungguh ia saat ini adalah anak yang patut dipersalahkan atas semua yang terjadi.
"Lihat, Sean! Mama Andrea bersedih sepertinya!" kata Lexa. Ia segera menghapus air mata itu, Sean pun melihatnya.
"Mama, Kenapa mama tiba-tiba menitihkan air mata? Mama tidak boleh sedih. Sean putra kesayangannya Mama sudah kembali untuk Mama. Jadi cepatlah pulih keadaanmu," ucap Alexa, dengan perlahan mengelus, dan menata rambut Andrea.
Lagi, wanita yang tak berdaya tersebut malah menggulirkan air matanya sering. "Sean, ada apa dengan mama kamu ini? Cepat panggilkan dokter saja!" perintah Alexa yang ikut takut akan keadaanya.
Tidak lama kemudian ia kembali dengan dokter khusus Andre. Ia segera mengecek keadaan Andre sekarang.
Setelah selesainya pengecekan ia memberi informasi, "Kalian tidak perlu khawatir, karena ini sudah menunjukkan perkembangan pasien Nyonya Andrea. Entah dalam ilmu kedokteran bisa di artikan, ia memiliki perasaan yang harus diungkapkan saat itu juga, dari wajah Nyonya Andrea ia tampak bersedih. Mudah-mudahan saja saat ia sudah sembuh nanti segera menjelaskan perasaannya," tutur Dokter yang masih berusia muda itu.
"Seperti itu ya. Lexa, apa sih sebenarnya yang dipikirkan, Mama? Apa beliau rindu, Papa? Atau ada masalah lain yang tidak kita ketahui disimpannya rapat?" tanya Sean, ia meletakkan kepalanya di atas bahu Lexa. Kali ini dia amat bersedih, dan meletakkan seluruh kesedihan itu di bahu Alexa.
Alexa mencoba menenangkannya. "Sabar ya, Sean. Kamu harus positif thinking, dan selalu berdoalah pada pemilik raga," tutur Lexa, ia memeluk tubuh kekasihnya erat, tidak perduli ada dokter di sampingnya.
Dokter itu menoleh kearah mereka dan mendengus kesal. Seraya berkata, 'Dasar. Pasangan muda mudi. Apa mereka melupakan aku disini? Hah?'
"Baiklah saya harus permisi dulu ya, beri suapan sedikit-sedikit sama bubur itu! Dan nanti beberapa jam lagi saya kesini untuk menyuntikkan obat melalui selang infusnya," kata dokter tampan yang sudah sabar menangani mereka.
__ADS_1
Sean dan Alexa mengangguk. "Baik, Dokter!"
Sean mendekati Andrea, dan menci_um keningnya. "Mama, lekas sembuh ya, aku ingin menyampaikan jika saat kasus perceraian antar aku dan Dania, serta Lexa dan Aston selesai, aku ingin menikahi Lexa. Sungguh perasaan ini tidak berubah sama sekali, Ma," ucap Sean, lagi ia mengecup pipi kanan Andrea.
"Tahu tidak, Ma. Jika semua hal yang kita benci pada Lexa itu semua siasat Dania dan Aston? Mereka yang membuat semua seperti ini, Ma. Hingga ia di benci sema orang karena perbuatan yang tidak ia lakukan." Pria itu berhenti berkata, dan melihat wajah Lexa yang sedang berdiri disampingnya menepuk bahunya pelan.
Menunjukkan senyumnya yang dipaksakan, mengingat terakhir kali wanita itu berkata kasar padanya, dan memisahkan hubungan Sean dengannya.
Alih-alih juga menjodohkan Sean dengan Dania
, Mengingatnya hanya membuat sakit hati Alexa.
Ia mulai menitihkan air mata, lekas ia menyekanya sebelum Sean melihat.
"Lexa, jika kau mau makan, silahkan kamu makan dulu, di sini ada kantin. Biar kita gantian jaga Mama. Jangan sampai kamu ikut sakit," ujar Sean.
"Aku tidak lapar, nanti saja Sean," Jawab Lexa. Sebenarnya perutnya lapar, tapi tidak enak jika meninggalkan Andrea.
"Jangan gitu, kalau kita sakit, nanti siapa yang akan jaga,Mama? Hem, ya sudah sepertinya kita ke kantin bareng saja deh, lagipula mama juga sudah tidur," usulnya.
"Apa tidak apa-apa Mama kita tinggalkan?" Lexa masih kuatir.
"Tak apa. Yuk!"
Mereka berdua berjalan ke arah kantin rumah sakit.
Setelah memesan, pramusaji lekas mengantar makanan yang mereka pilih dari daftar menu yang tersedia.
"Itu makanan kesukaan mu Alexa," menyodorkan sebuah piring yang berisi nasi goreng seafood.
"Haha, kamu ingat juga. Padahal itu Uda lama banget."
__ADS_1
Sementara di ruang Andrea dirawat...
Seorang dengan penutup kepala hitam berjalan berjinjit dengan mengendap. Ia melihat kondisi ruangan yang sepi.