Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 17 Kehidupan Sean Hancur


__ADS_3

Tepat pukul 04.00 sore, Aston sudah terlihat di dalam rumah. Bahkan Bibi Ijah heran karena tuannya sudah pulang lebih awal dari biasanya. Ia sudah menduga karena mungkin ingin bertemu lebih cepat dengan wanita yang berada di dalam rumah ini.


Bibi tersenyum sendiri melihat tuannya lebih ceria, wajahnya selalu terlihat mengembang setelah keberadaan Alexa dirumah itu. "Tuan, makanan nya sudah siap. Semua ini hasil olah tangan dari Nona Alexa," ucap Bibi pada Aston yang baru turun dari lantai atas. Di dekat sana ada Lexa yang sedang berada di ruang keluarga melihat acara di televisi. Ia mendengar perkataan bibi yang membuatnya malu. "Ah, apa sih Bik, enggak kok. Aku cuma bantuin Bibi aja di dapur!"


"Sudah-sudah ayo kita makan bersama," ajak Bibi Ijah pada mereka. Lexa juga mengajak Bibi Ijah makan bersama dalam satu meja.


Semua lahap, karena memang rasanya berbeda dari masakan bibi Ijah biasanya. "Wih, mantap benar rasanya. Jadi pengen nambah."


Selepas makan malam Aston menyinggung tentang hubungan mereka. "Lexa, bagaimana, kamu sudah pikirkan baik-baik tentang masa depanmu? Apa kamu tidak percaya jika aku mencintai kamu? Pikirkan baik-baik tentang usia kandungan kamu yang tiap hari bertambah. Apa yang orang katakan tentang kamu nantinya?"


Aston berkata saat Bibi Ijah membersihkan piring kotor, membawanya ke dapur. Lexa terdiam, ia belum siap dengan semua ini. 'Apa ini sudah menjadi jalan untuk ku? Menikah dengan Aston? Pria yang sama sekali tidak ku cintai ini? Tapi, mungkin cinta akan datang perlahan setelah ku jalani bersamanya.'


Lexa masih memikirkan ucapan Aston. Lexa mencoba mengulik sedikit tentang masa lalunya. Ia ingin mendengar sendiri dari mulut Aston, jika yang dikatakan Bibi itu benar. "Beri aku waktu Aston, oh ya. Aku mau tanya. Apa benar kamu adalah Miller? Pria yang selalu mendapat perlakuan buruk mahasiswa anak dari universitas Suka Maju?"


Aston menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum hambar. Ia menatap dalam wajah Lexa yang berada dekat dengannya. Lexa sedikit menjauh. "Ya Lexa, aku Miller. Aku adalah pria cupu yang selalu mendapat pembullyan satu kampus itu. Dan aku masih mencoba bertahan karenamu. Kamu ada disaat aku sangat butuh bantuan. Terimakasih ya atas kebaikan kamu dulu. Dan satu hal yang selalu ku ingat, kamu pernah mengatakan jika kau menyukaiku, entah bagaimana aku bisa mengartikan cinta itu tulus, tapi nyatanya, kamu kekasih Sean."


Deg!


Alexa terkejut mendapati jawaban dari Aston barusan. Ia tidak mengira, jika pria yang dulu di kata cupu sekarang telah berubah total. Bahkan ia ingat ucapannya yang menyukainya.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya Aston, dulu aku tidak berniat mengatakan hal tersebut, aku hanya ingin kamu maju, itu hanya kata penyemangat buatmu, agar kamu tidak di anggap remeh anak kampus. Tapi nyatanya, sebelum acara kelulusan tiba, kau sudah keluar universitas tanpa pamit padaku, sejak itu aku sudah tidak mendengar kabar darimu lagi," tutur Lexa, bernostalgia.


Aston tidak sedih dengan ucapan wanita disampingnya. Karena sekarang dia berada di sisinya. Dan mungkin sebentar lagi akan menjadi istrinya. Namun di atas sebuah kebohongan besar yang ia dan Dania ciptakan.


"Aston, kenapa kamu diam? Kamu marah ya? Sekali lagi aku minta maaf," ucap Lexa sedih. Dia menggosok punggung tangan Aston yang berada di atas meja makan.


Pria yang memiliki tahi lalat kecil di dagu itu tersenyum tipis. "Aku tidak marah, kamu tidak pantas di marahi, dari dulu kamu adalah wanita yang ku kenal baik. Selamanya kamu akan menjadi wanita yang baik," puji Aston.


Malam itu Lexa tidak bisa tenang, memikirkan antara ucapannya yang harus ia penuhi, dan perihal pertanyaan Aston untuk meminangnya. Selama beberapa hari ini, Sena juga tidak memberinya kabar. Menurutnya pria itu mungkin sudah bahagia bersama Dania dan melupakan dia.


"Lalu untuk apa lagi aku menunggu, Sean? Bukankah jelas-jelas ia sudah menghardikku secara terang-terangan. Dia sudah tidak memiliki cinta lagi untukku. Untuk apa lagi aku menunggunya? Ayo Lexa, sadarlah. Saat ini ada Aston di sampingmu, dia akan menjagamu, sebelum kehamilan ini besar, menikahlah dengan Aston!" titahnya pada diri sendiri.


Malam itu, Aston mengajak Lexa makan malam, di sebuah restoran mahal dan romantis. Lexa sudah mengatakan sebelumnya jika ia akan menerima Aston sebagai suaminya. Maka dari itu Aston ingin mengabadikan malam hari itu dengan candle light dinner.


"Apa ini tidak berlebihan, Aston?" tanya Lexa, melihat banyak makanan berada hadapannya.


Aston menggeleng kepala. Ia menyuruh Lexa segera menikmati hidangan yang sudah disajikan pramusaji restoran itu. "Ayo, kita makan dulu, selagi hangat." Lexa pun mengangguk.


Saat menyuap nasi, yang sudah bercampur dengan hidangan olahan dari udang, tiba-tiba sesuatu yang keras mengenai giginya. Ia menghentikan sendok yang akan dilahap nya. Dan mencari tahu benda apa yang membuatnya tidak nyaman itu. Lexa menarik sendok keluar, dan melihat sebuah cincin bermata satu berwarna putih.

__ADS_1


Lexa tersenyum dan memperhatikan Aston. "Cincin? Kamu yang ngelakuin ini semua? Kalau cincin itu sampai tertelan olehku bagaimana? Bahaya lho!"


"Maaf maaf, aku tidak bisa romantis. Aku hanya berusaha menjadi pria yang romantis, seperti pria-pria para umumnya," jawab Aston.


"Tidak perlu menjadi orang lain Aston, jadilah dirimu sendiri."


"Sini aku pakaikan!" pinta Aston.


Lexa menolak. "Tapi ini belum di cuci, nanti kalau jariku di kerubung semut bagaimana?"


Aston pasrah, karena wanita selalu benar. "Ah, aku selalu salah di mata kamu, Lexa."


****


Sementara kehidupan Sean makin terpuruk, tiap malam dihabiskan untuk mabuk-mabukan. Dan bahkan ia jarang pulang. Perusahaan masih bisa di atasi oleh Andrea.


Saat malam tiba, Andrea tidak dapat tidur, ia terbayang kehidupan putranya yang ia sendiri tidak bisa mencegah. "Dania, rencana apa yang akan kau lakukan demi perubahan Sean? Sungguh Mama sangat khawatir tentang keadaannya sekarang, mama takut kehidupannya di buat hancur sendiri. Mama ingin Sean kembali seperti dulu. Dania, Tolong buat Sean berubah!"


"Ya, Ma. Akan saya coba, saat ini dia sedang berada di diskotik lagi. Dania akan mengajaknya pulang bersama pak sopir." Wanita yang beberapa hari ini mengurung diri di dalam kamar, akan segera bertindak demi suaminya.

__ADS_1


Malam itu, ia bergegas ke tempat para pemilik harta menghabiskan uangnya di meja bar. Dengan meneguk beberapa botol minuman keras berkadar alkohol tinggi. Ia memilah beberapa orang yang sudah gila, kehilangan kesadarannya, bersuara dan bertingkah tak sewajarnya di dalam lokasi tersebut. Barulah kedua matanya menemukan Sean duduk di kursi sofa bersama dua wanita disebelahnya.


__ADS_2