Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 29 Ada Kemajuan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian dokter keluar dengan wajah datar, berjalan mendatangi Sean dan Alexa.


Ia akan menyampaikan beberapa informasi sepertinya. Keduanya menyambut segera. "Bagaimana keadaan Mama Andrea, Dok?"


Sean tampak pucat, sebelum dokter itu menjawabnya. "Maaf sebelumnya, saya memberikan informasi jika terdapat beberapa zat berbahaya yang beberapa kali masuk kedalam tubuh Nyonya Andrea, hingga merusak sel syaraf."


"Bagaimana maksudnya, Dokter? Saya tidak memahami ucapan Dokter?" Sebenarnya Sean terkejut, tapi ia masih ingin mengetahui informasi selanjutnya.


"Ya bisa dikatakan ada yang sengaja memasukkan sebuah zat berbahaya pada tubuh Nyonya Andrea," lagi, Dokter menjelaskan. "Bisa sengaja disuntikkan atau bisa dicampur melalui makanan dan minuman."


Seperti ia tidak percaya ucapan sang dokter. Tapi dugaan itu semua mengarah ke Dania. "Aku tahu, jika semua ini ulah wanita itu!" ucapnya sangat yakin.


Sean mengatakan pada dokter, untuk segera memberi penanganan yang terbaik untuk ibunya. Apapun tindakan dan biayanya, Ibu Andrea harus sembuh.


Dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan sang ibu.


"Terimakasih banyak dokter!"


*****


Berita kepulangan Sean dan Alexa terdengar Aston. Ia segera mendatangi rumah sakit dimana Andrea dirawat .


Langkah kaki Aston panjang, hingga sampai ia berdiri di hadapan Sean dan Alexa.


Kedua bola mata Alexa bulat sempurna saat melihat suaminya itu berdiri di hadapannya. Ia memegang erat tangan Sean karena ia ingin mencari perlindungan dari pria itu.


Sean mengarahkan Alexa untuk berlindung di belakang tubuhnya. Saat Aston ingin meraih lengan Alexa, Sean menghalanginya.


"Minggir kamu!" perintahnya.


Wajah Sean sudah menunjukkan akan ada perkelahian besar setelah ini. "Alexa tidak akan kembali lagi padamu, Aston! Dia akan menjadi milikku, dan selamanya!"


Wajah Aston murka, tanpa aba-aba dia langsung meninju wajahnya, hingga tubuh Sean mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kurang ajar!" Sean merasa kesakitan, dan ia maju untuk membalas.


"Sini kau! Pria pengecut!" suruh Sean, dengan melayangkan pukulan yang bisa ditangkisnya.


Ia merasa Aston sangat mahir dalam pukulan ini. Hingga ia bisa menghalaunya kesekian kali.

__ADS_1


Sementara Alexa, ia berteriak untuk menghentikannya. "Ku mohon jangan lanjutkan! Berhenti! Ini rumah sakit, jagn buat kegaduhan di sini. Mengertilah!"


Sean menolaknya hingga satu pukulan berhasil melayang ke wajahnya juga, sangat keras dan menyakitkan.


"Ah!"


Tubuh pria itu menggelepar ke lantai. Tak cukup satu pukulan, Sean mengangkat kerah baju Aston hingga ia kembali berdiri.


"Mana kekuatanmu! Ayo lagi, lawan aku!"


"Aku mohon, sudah hentikanlah!" teriak Alexa


Tidak lama kemudian, ada dua anggota keamanan datang dan menanyakan perihal mereka bertengkar, mereka tidak memberikan penjelasan malah ia berniat melanjutkan perkelahian itu kembali.


"Pria itu harus aku lenyapkan, Pak! Gara-gara dia hubungan pernikahan kami dibatalkan! Dia tidak pantas untuk hidup! Atau sebaiknya bahwa dia ke rumah sakit jiwa!" ucap Sean dalam rengkuhan security.


"Sudah Pak, minggir kau jangan menghalangi keinginan ku untuk menghabisi orang itu!" kata Aston memberontak ingin lepas dari cengkraman petugas.


Pria yang memakai seragam lengkap itu mengeluarkan kata-kata kasarnya, "Diam! Kalian harus keluar dari rumah sakit ini, sekarang kalian sudah mengganggu ketentraman pasien yang lain!"


"Hentikan saya, Pak! Saya hanya ingin membawa istri saya pulang, itu saja. Aku ingin istri saya balik bersama saya!" bela Aston menunjukkan tujuan ia datang kesana.


, Mama! jaga Mama ya!" teriaknya. Alexa menganggukkan kepalanya.


"Lepaskan aku dong, Pak! Mama saya sedang sakit, dan butuh aku. Bapak jangan seenaknya berbuat ini terhadap ku."


Petugas meminta maaf, karena keduanya yang telah berbuat ulah dalam lingkungan rumah sakit.


Mereka hanya ingin memberi waktu agar mereka berdua bisa menyelesaikannya masalahnya segera.


"Maaf silahkan kalian selesaikan dulu! Kami hanya ditugaskan oleh kepala Rumah Sakit agar tidak ada kegaduhan yang terjadi akibat suatu masalah, yang akan membuat pasien lain terganggu," ucap Petugas.


Saat diluar gerbang rumah sakit, Aston kembali ingin memberi pelajaran Sean. "Pria breng_sek! Ternyata kamu yang menyembunyikan istriku! Kau sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya, Jadi jangan terlalu mencampuri urusan kami!"


Bug!


Sean langsung meninju wajahnya kesal. Ia mengumpat akan kekejaman yang di lakukannya pada Alexa.


Berkali-kali Sean mendominasi memukul wajah Aston hingga ia terkapar ke tanah beralaskan rumput tanaman.

__ADS_1


"Ampun! Jangan lakukan lagi!" Aston melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.


Sean tersenyum menyeringai, ia mengangkat kembali tubuh Aston hingga berdiri sejajar dengannya.


"Ingat ya Aston! Aku pinta kamu segera mengurus surat perceraianmu dengan Alexa! Atau tidak, aku akan membunuhmu! Ingat! Sebuah pernikahan yang tidak di dasari dengan kejujuran, maka hasilnya akan buruk!" ancam Sean menunjuk kedua matanya.


Sebuah hantaman kembali mendarat di wajah Aston, hingga wajahnya yang putih bersih tersebut sudah menjadi babak belur.


Tubuh pria itu terkapar lemas, Sean mengangkat ibu jari dan mengoleskan di pelipis keningnya yang mengeluarkan darah. Sean menempelkan ibu jari tiu di atas kertas.


Aston ingin mengelak, namun tak kuasa. "Untuk apa kamu mencuri cap jari ku?" tanya Aston dengan menelisik.


Sean membanting tangan Aston, dan menendangnya. Sebelum banyak wartawan atau pejuang sosmed meliput kejadian. Ini, dan reputasi perusahaan makin kacau, ia harus segera pergi.


"Breng_sek! Jawab dulu, apa yang kamu lakukan dengan cap jariku!"


Sayang teriaknya tidak dihiraukan Sean yang sudah pergi darinya. Ia menghubungi pengacara, dan membuat surat perceraian mendadak antara Alexa dan Aston.


"Setelah ini, tidak akan ada yang bisa mengganggu ketentraman Alexa! Tidak Aston atau pria lainnya. Sean tersenyum, setelah ini ia akan selamanya menjadi milik Sean seutuhnya.


*****


Sementara Dania, ia masih bersembunyi. Wanita itu tidak ada dimanapun. Ia tidak ingin dipenjara karena banyak kasus, dari penganiyaan sampai perencanaan pembunuhan. Sean tidak akan memaafkan wanita itu.


Ia melaporkan kekantor polisi agar segera menemukan dan meringkusnya. Sean sudah hilang kesabarannya.


Wanita yang selamanya hidup berdampingan dengannya hanya Alexa seorang. Tidak akan ada wanita lain dihatinya.


Kembali ia balik ke rumah sakit menemui Lexa yang masih setia disana. pria itu duduk di dekatnya.


"Ada perkembangan apa dengan, Mama?" tanya Sean, ia mengangkat tangan Lexa lamu menciumnya.


"Kata dokter, akan membutuhkan banyak waktu untuk menyembuhkan Mama Andrea, Mas. Aku janji untuk membantumu!" ucapnya membuat Sean sedikit lega.


"Aku akan membantumu merawat mama. Mama Andrea pasti segera sembuh. Kamu sabar ya! Mari kita berdoa bersama demi kesembuhan mama."


Sean mengangguk. Tidak lama itu dokter datang menemui mereka, jika dalam waktu beberapa jam saja, keadaan Andrea sedikit menunjukkan kemajuan.


"Benarkah, Dokter?"

__ADS_1


__ADS_2