
David baru saja tiba di rumahnya. Pria itu langsung bergegas masuk menuju ke kamar Kinan. Dan benar saja, sebuah map berwarna coklat tergeletak di atas meja.
David segera bergegas mengambil dokumen tersebut dan kemudian kembali ke mobil menuju ke tempat kerja kakaknya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, David pun tiba di tempat kerja Kinan. Ia mengeluarkan ponsel yang ada di dalam sakunya, mencoba untuk mengirimi pesan singkat pada kakaknya.
Aku sudah di depan
David menyenderkan tubuhnya di pintu mobil. Sesekali pria itu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam pemberian Indah beberapa tahun yang lalu.
Tak lama kemudian, Kinan pun keluar dari tempat kerjanya. Gadis itu menghampiri David yang sudah sedari tadi menunggunya.
"Ini.." ujar David sembari menyerahkan dokumen yang ada di tangannya kepada Kinan.
"Terima kasih adikku yang tampan." ujar Kinan sembari tersenyum.
"Lain kali jangan sampai ketinggalan lagi, jika hal ini terulang, kau ambil saja sendiri." tukas David yang sedikit kesal karena telah menunggu Kinan cukup lama untuk keluar menemuinya.
"Iya maaf." ujar Kinan.
"Kalau begitu aku lanjut kerja dulu, kau hati-hati di jalan." sambung Kinan sembari melambaikan tangannya dan melangkah masuk kembali ke gedung yang ada dihadapannya.
David hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kinan yang memang terkenal sedikit ceroboh. Pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya, melajukan kendaraan roda empat itu ke jalanan.
...
Keysha dan Kirana tengah menikmati hidangan yang tersaji di depan mereka. Masih dengan hal yang sama, sebelum melakukan apapun Keysha harus mendengarkan instruksi dari ibunya agar ia dapat meraih sesuatu tanpa harus menumpahkan atau pun menjatuhkannya.
"Wajar saja disini ramai pengunjung, ternyata makanannya sangat enak." ucap Keysha sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Apa kau sangat menyukainya?" tanya Kirana.
Keysha menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, lain kali kita makan ke tempat ini lagi."ujar Kirana.
Keysha pun tersenyum, senang mendengar hal itu. Ia mendengar suara merdu dari penyanyi resto yang tengah menghibur pengunjung yang ada di tempat tersebut.
Suasana di tempat ini mengingatkannya kembali akan kenangan yang lalu, saat gadis itu masih menjadi penyanyi di resto milik Indah. Keysha pun seketika merasa rindu pada sahabatnya itu.
Sejak menikah, Keysha tak mengirim pesan atau pun berkabar pada Indah. Gadis itu tak ingin jika nantinya Indah akan bersedih. Apalagi dengan kondisi seperti ini.
Tanpa ada angin maupun hujan, memori di otak Keysha memutar kembali tentang kenangannya bersama David. Entah mengapa tiba-tiba saja, Keysha memikirkan pria itu setelah sekian lamanya.
Mendadak jantungnya berdegup kencang. Keysha pun meletakkan sendok yang ada di genggamannya sejenak. Tangan Keysha tergerak menyentuh dadanya. Kirana yang melihat tingkah aneh dari putrinya pun segera menegur Keysha.
"Ada apa Nak?" tanya Kirana dengan lembut.
"Apakah dadamu terasa sakit?" sambung Kirana saat melihat Keysha menyentuh dadanya.
"Tidak apa-apa, Ma." timpal Keysha.
__ADS_1
Gadis itu kembali mengambil sendoknya dan segera melanjutkan makannya.
"Ma, apakah aku boleh menyanyi disana?" tanya Keysha.
"Satu lagu saja. Tiba-tiba aku merindukan diriku yang dulu." sambung Keysha dengan ekspresi yang memelas.
Kirana tampak berpikir, sesaat kemudian ia pun menyetujui permintaan Keysha.
"Baiklah, tapi kau harus menghabiskan makananmu dulu." ujar Kirana.
Keysha pun terlihat begitu senang karena ibunya tak melarang kegemarannya untuk saat ini.
"Apa alasanmu gemar bernyanyi, Nak? bahkan dulu papamu sangat menentang hobimu saat itu." tanya Kirana.
"Entahlah, aku hanya sangat senang melakukannya. Saat aku menyudahi nyanyian ku dan riuh tepuk tangan pun terdengar. Aku merasa bangga, walau pun yang ku lakukan hanya sedikit menghibur, tetapi mereka dapat mengapresiasi ku. Dan menurutku, itu lebih dari cukup." papar Keysha.
Kirana mengangguk paham saat mendengarkan ucapan dari Keysha. Kini ia sadar, bahwa dirinya dan Danu tak pernah mengapresiasi jerih payah anaknya itu secara langsung. Mereka hanya menuntut untuk Keysha menjadi gadis yang sempurna tanpa tahu keterbatasan yang dimiliki putrinya serta kebebasan yang diinginkan oleh anak gadisnya itu.
Keysha dan Kirana sudah menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Sesuai dengan janjinya tadi, Kirana mengizinkan Keysha untuk bernyanyi setelah makan.
Kini Keysha pun berjalan mendekat ke arah panggung di tuntun oleh ibunya.
"Bolehkah aku menyanyikan satu lagu?" tanya Keysha pada penyanyi yang baru saja menyudahi lagunya.
"Baik kak, silahkan." ucap pria itu mempersilahkan Keysha.
Pria itu memberikan mikrofonnya pada Keysha. Sebelum memulai lagu yang akan dinyanyikannya, Keysha menutup matanya sejenak. Mencoba membayangkan orang-orang yang tengah menatap ke arah dirinya. Keysha pun mengembangkan senyum dan kembali membuka mata.
Dan tatap matamu
Sering kubertanya-tanya benarkah ini
Tak lagi kurasa
Hangatnya cintamu
Hampa rasanya saat peluk dirimu
Oh, di manakah
Kau yang dulu mencintaiku
Kini kau telah berubah
Kau acuhkan diriku
Biar waktu yang merelakan
Setiap keping kenangan
'Tuk hapus sedihku
__ADS_1
Suara merdu milik Keysha mengalihkan perhatian setiap orang. Semua mata menatap seksama ke arah Keysha sembari meresapi nyanyian gadis itu.
...
David tengah berada di perjalanan menuju pulang. Pria itu mencoba menghubungi salah satu pegawainya.
"Halo Pak." ucap suara dari seberang telepon.
"Apakah mobil paket yang membawa bahan makanan sudah datang?" tanya David.
"Belum, Pak." timpal pegawai tersebut.
"Ya sudah kalau begitu." ujar David.
Baru saja ia hendak menutup teleponnya, namun ia mendengar samar-samar suara nyanyian dari seberang telepon. Suara yang amat dikenalnya, suara gadis yang pernah memenuhi isi kepalanya.
"Tunggu sebentar, jangan dulu tutup teleponnya!" ujar David.
Pria itu menepikan sejenak mobilnya, ia mendengarkan seksama nyanyian tersebut.
"Suara itu.. siapa yang menyanyikannya?!" tanya David.
"Salah satu pengunjung resto yang ada disini Pak." timpal pegawai tersebut.
Mata David berkaca-kaca, ia langsung mengucilkan telepon dari genggamannya. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Yang ada dipikirannya saat ini adalah bertemu dengan pemilik suara itu. Ia ingin segera tiba disana hanya untuk memastikan.
"Tunggu aku, ku mohon!" gumam David sembari menginjak pedal gas mobilnya untuk menambah kecepatan laju kendaraannya saat ini.
David melintasi beberapa pengendara yang ada di depannya. Persetan dengan umpatan serta sumpah serapah yang akan ia dapatkan. Tujuannya hanya satu, ia harus segera tiba sebelum gadis itu kembali menghilang.
Namun laju kendaraan David terpaksa terhenti karena jalanan yang ada di depannya tiba-tiba macet. Setelah ditelusuri, ternyata ada kecelakaan hingga menyebabkan jalanan saat itu macet parah.
"Oh ****!" David mengumpat kesal sembari memukul setir mobilnya.
Ia kembali meraih ponselnya, namun lagi-lagi kesialan menimpanya saat mendapati ponselnya dalam keadaan mati karena kehabisan daya.
"Tunggu aku, tolong." gumam David dengan penuh harap.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ♥️
Klik favorit untuk mendapatkan notifikasi update terbarunya~
__ADS_1