Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 21 Kedatangan Andrea


__ADS_3

Semalaman ini Alexa, tidak bisa memejamkan matanya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Aston pun menemani Lexa yang hanya menangis tiada bisa berhenti.


Isak tangis wanita itu begitu pilu, hingga hatinya tergugah ingin berkata jujur, namun ia belum siap akan kenyataan jika nanti semua sudah terkuak. "Lexa, ayo dong kamu jangan begini. Aku tidak bisa melihat kamu terpuruk seperti sekarang, aku menikahimu untuk merubah, agar kehidupanmu bahagia bersamaku, setelah pesta pernikahan kita, kau malah menangis tiada henti. Apa yang harus aku lakukan agar senyummu itu kembali seperti sedia kala, ingatlah saat ini kau sedang hamil, kau jangan larut dalam kesedihanmu, kali ini aku di samping mu, kita akan hadapi berdua bersama," ucap Aston selalu mencoba menenangkan Lexa.


"Apakah pilihan kamu benar, Apa kamu tidak ingin mengikuti perintah ibumu untuk meninggalkanku? Apa kau tidak malu namamu sudah buruk di mata publik? Semua karena aku, aku minta maaf, Aston. Seharusnya dari awal aku menolak untuk menikah dengan mu, akhirnya seperti ini jadinya, aku tidak tahu, siapa yang berbuat kejam ini padaku, apa itu Sean atau Dania?" Lexa terisak-isak, mencurahkan seluruh isi hatinya.


Aston berkata untuk dia lebih tenang, dan ia menegaskan sekali lagi jika Aston tidak menyesal menikah dengan Alexa. Aston memeluk tubuh wanita yang tidak berdaya itu. Hingga tanpa sadar, ia tertidur dalam pelukannya.


Sampai pagi menjelang...


Di Rumah Sakit Pelita Hati, dimana Sean di rawat. matahari sudah terbit dari arah timur. Sinarnya menerangi ruang kamar Sean. Pria itu tersadar, tanpa sepengetahuan Dania dan Andrea yang menunggunya semalaman di sampingnya.


Ia melihat beberapa peralatan medis terhubung dengan tubuhnya, dan kedua wanita masih terlelap. 'Kenapa aku sampai bisa di rumah sakit ini?' pria itu mengingat kembali terakhir kali ia sadar. Ya baru ingat setelah pergi meninggalkan hari pernikahan Aston dan Alexa.


Pria yang mengenakan baju pasien berwarna biru-biru itu melepaskan seluruh peralatan medis yang masih menempel dengan tubuhnya secara paksa. Ia mencabut satu persatu, tanpa memperdulikan keadaannya sekarang. Meski kepalanya masih terasa sangat sakit, ia akan pergi dari sana tanpa sepengetahuan mereka.


Sean berjalan mengendap, agar keduanya tidak terbangun karenanya. Setelah sukses keluar dari kamar inap itu, ia segera berjalan cepat meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Ia berjalan saja tanpa tahu tujuan selanjutnya, dalam pikirannya hanya ingin pergi dalam kehidupan ini, hatinya sudah terlampau sakit dan entah bagaimana cara untuk mengobati. Jika dipaksakan menjalin hubungan dengan Dania, sama saja ia akan membohongi hatinya sendiri.


Terpaksa ia mencari tumpangan, kala itu ada sebuah mobil pick up tanpa muatan. Sopir itu mempersilakan Sean menumpang, meski entah ke mana tujuannya ia tetap ingin pergi dari sana. Sama seorang kernet pria paruh baya yang selalu menasehati agar berpegangan takutnya pria itu tergelincir jatuh.


Mobil pick up itu membawa Sean ke luar kota, saat hendak mengambil muatan akhirnya mantan kekasih Alexa itu mencari tumpangan yang lain. Dari berbagai tumpangan, akhirnya ia berada pada tempat yang jauh dari kediamannya, jauh dari Alexa maupun Andrea.


Sementara Andrea dan Dania sibuk mencari Sean, ia saling menyalahkan karena tidak bisa menjaga Sean dengan baik. Andrea kini menyalahkan Alexa, dia menuduh wanita itu yang menyembunyikan Sean.


Siang itu Andrea dan Dania pergi ke kediaman Aston Marck. Ia mencari Alexa, kebetulan wanita itu sedang membantu pekerjaan bibi, menyapu halaman. Meski sang bibi melarangnya, dia tetap bersikukuh untuk mengerjakan.


Wanita yang awalnya turun dari mobil mewah berwarna hitam, serasi dengan kaca mata lebar yang ia kenakan untuk menghindari paparan sinar matahari, berjalan dengan langkah kaki panjang menuju Lexa berdiri, wanita itu ternganga melihat ibu Sean datang bersama Dania. Gerbang pada saat itu dalam kondisi terbuka. Membuatnya tampak lebih mudah memasuki area kediaman rumah, saat itu Aston masih dalam masa kerjanya di kantor.


Plak!


"Tidak perlu, dasar kamu wanita hina. Kau sembunyikan di mana Sean? Hah? Aku yakin, Sean saat ini bersamamu, ya kan?" tanya Andrea bersuara keras padanya, dengan menggertakkan gigi-giginya karena geram. Lexa memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparannya.


Lexa menggeleng kepala. Ia mengatakan tidak tahu apapun dengan mantan kekasihnya itu. Malah kali ini pikirannya kacau kembali karena Sean hilang. 'Astaga, bagaimana bisa ia hilang? Dimanakah kau, Sean?' perasaan sedih sudah gelut dalam pikirannya.

__ADS_1


"Kau Jangan berkata dusta! Aku tahu, meskipun kau sudah menjadi istri Aston, tapi kau masih menginginkan putraku. Tidak akan aku biarkan Alexa!" kecam Andrea pada Lexa yang sudah menitihkan air mata karena hilangnya Sean.


Dania ikut bersuara. Ia mendorong tubuh Alexa yang masih lemas hingga terjungkal ke tanah beralaskan rumput tanaman. "Air mata buaya kau Lexa! Aku sama sekali tidak kasihan terhadapmu! Dimana kau sembunyikan Sean!"


Bibi dan petugas keamanan datang, mereka menyuruh dengan tidak terhormat kedua wanita itu pergi. "Maaf Nyonya, saya harus memaksa anda keluar dari kediaman Tuan Aston Marck!"


"Lepaskan saya! Kau akan menyesal karena berbuat ini kepada saya! Apa kamu tidak tahu siapa saya! Direktur utama perusahaan anak saya!" Andrea berteriak tidak terima, ia mengelak dan tidak ingin pria itu mengendalikannya untuk berjalan keluar dari kediaman Aston Marck.


Petugas keamanan berhasil menutup pintu gerbang, dengan dua wanita yang berada di luarnya. "Sekali lagi saya minta maaf Nyonya, karena semua adalah kesalahan Anda sendiri membuat huru-hara di kediaman Tuan Aston."


"Dasar orang kampung!" olok Dania.


Andrea berteriak kembali. Menuntaskan kemarahannya. "Hey Alexa! Kau tidak akan bisa hidup tenang! Tunggu saja, aku akan membalas semua ini!"


Bibi Ijah mengajak majikannya itu masuk ke dalam rumah dan memberi minuman untuk menenangkan pikirannya. "Silahkan Nyonya Alexa."


Bibi Ijah duduk di samping istri majikannya, dan menepuk bahunya pelan. "Nyonya tenang ya, jangan pikirkan lagi. Nanti Nyonya dapat membebani pikiran sendiri. Bibi Ijah tidak mau Nyonya menjadi sakit. Apa Bibi Ijah telepon-kan Tuan Aston, agar cepat pulang?"

__ADS_1


"Jangan Bik, nanti Mas Aston jadi cemas. Aku tidak apa-apa. Bibi tenang saja. Semua sudah biasa ku alami kok. Aku diam hanya memikirkan keberadaan Sean dimana. Itu saja, tidak ada hal lain yang membebani pikiran ku." Alexa mengulas senyum, meski hatinya jauh berbeda dengan ungkapan dari raut wajahnya.


"Baiklah kalau begitu Nyonya," ucap Bibi Ijah, pamit meninggalkan Lexa yang duduk bersandarkan kursi sofa di ruang tamu. Ia memejamkan kedua matanya sampai ia tak sadar tertidur.


__ADS_2