Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 8 Undangan pernikahan


__ADS_3

Alexa manggut-manggut, dan lekas berdiri membuntuti Fiva. Meski agak canggung, ia harus mengorek informasi di perusahaan ini pad Fiva, sementara ia hanya dekat dengan wanita ini.


Lexa mencoba berjalan beriringan dengan pipa di sebelahnya. Maju mundur ia ingin mengungkapkan sesuatu akhirnya ia mau membuka mulutnya di kala suasana hening. Wanita itu juga tidak buka suara, hanya wajahnya saja yang terlihat sangat manis. "Mbak," sapanya pada wanita yang memperhatikan Lexa setelah ia memanggilnya.


Wanita cantik itu menunggu Lexa melanjutkan ucapannya dengan mengangkat kedua alisnya. "Ya, ada apa Nona?"


"Aku seharian ini tidak melihat pemilik perusahaan ini, memang orangnya yang mana sih?" tanya Lexa dengan suara sedikit lebih pelan. Ia takut, jika orang yang ia maksudkan ada di sekitarnya. Dan jika ia menyinggung akan berdampak pada pekerjaannya.


"Apa kalau waktunya istirahat, beliau juga ke kantin makan bersama kalian?" lagi, tanya Lexa.


Sesungguhnya hari ini ia belum siap bekerja, dengan kondisi dan pakaian yang ia kenakan tak layak jika ia bekerja di sebuah perusahaan besar seperti yang ia pihak ini.


Baru keluar dari rumah sakit, ia sudah memulai dengan paksa tubuhnya untuk bekerja keras. Benar-benar kehidupan yang ia jalani sangat berat.


"Pak Aston pria yang baik, dia di kagumi banyak wanita, tapi kami hanya bisa sebatas mengagumi saja Nona, kami tidak sederajat dengan beliau. Jadi kami memantaskan diri, kami sadar kami bukan siapa-siapa, beliau menyukaimu Nona Lexa,-" Fiva belum melanjutkan ucapannya, Lexa sudah memotong.


Dengan menelan saliva lebih dulu. "Apa Mbak? Haha, Mbak ku mohon jangan bercanda, ya. Aku tidak kenal siapa itu Pak Aston, namanya aja baru saya dengar dari Mbak," ucap Lexa setengah tertawa.


Fiva tidak bicara lagi, sampai ia sudah berada di kawasan kantin. Mari Nona, kita duduk disini!" ajaknya dengan membantu Lexa menarik kursi.


Setelah ia memesan di penjaga kantin, beberapa karyawan lain ikut bergabung, mereka banyak bercerita, hingga Lexa sudah berasa memiliki keluarga baru di tempat kerjanya sekarang. Ia merasa mereka sangat ramah pada Lexa. Mereka perlakukan Lexa seprti karyawan lainnya.


"Nona Lexa,-" sapa Manager Fiva.

__ADS_1


"Sudah jangan panggil saya Nona, panggil saja saya Lexa aja, Mbak."


"Baiklah Lexa, kita teman ya! Aku mau sampaikan tadi Pak Aston bilang, kalau setelah istirahat kamu di antar supir kantor pulang," lanjutnya.


Lexa menghentikan kegiatan makannya, ia meletakkan kembali sendok yang abru ia angkat. "Ha? Pulang?"


"Ya Lexa, Keadaan kakimu kan baru saja membaik. Jadi kami perlu istirahat dulu, Pak Aston sangat khawatir jika terjadi sesuatu padamu, anggap saja kerja setengah hari ini sebagai training kerja," ucap Fiva menimpalinya dengan senyum.


'Bagaimana bisa ia tahu, aku sedang tidak sehat? Ah, aku semakin penasaran pada Pak Aston ini, siapakah sebenarnya pria itu? Apakah sebelumnya aku mengenalnya?' pikiran Lexa hanya bergelut pada hal itu semata.


Siang itu supir kantor benar mengantar Lexa pulang, supir itu diam tidak banyak yang di bahas, meski terkadang Lexa yang bertanya, ia tidak berani menjawabnya dengan asal. Apapun pertanyaan dari Lexa. Ia menutup informasi mengenai bosnya.


Tubuhnya sedikit lemas, ia berjalan saja masuk kerumah dengan cat dinding yang banyak mengelupas. Pintu kayu dengan lapisan yang tidak utuh lagi.


Ia perlahan membalikkan kertas undangan model buku diary tersebut, dan terkejut membaca nama ya g di print dengan menggunakan huruf estetik. 'Sean Dan Dania'.


Nafas sengal, seperti tercekat di tenggorokan Lexa, dan ia menghela nafas kasar. Ia tetap melangkahkan kaki mendekati kursi sofa yang berada tidak jauh dari pintu.


Dengan sedikit gemetaran ia akhirnya mendaratkan tubuhnya disana sambil meletakkan tubuhnya di dinding sofa. Pelan tapi pasti, ia membuka kertas undangan yang berbau parfum Paris, berwarna putih, ada motif bunga di tiap sudut nya.


Nama Sean dan Dania kembali terbaca oleh mata tajamnya. "Akhirnya, kamu menemukan kebahagiaan sendiri, Sean. Selamat ya atas hari bahagiamu, semoga kamu berjodoh dengan Dania."


Bola matanya sudah penuh dengan air mata, sedikit saja ia mengedip, seluruh air yang terkumpul akan terjatuh juga. Beberapa menit kemudian, benar saja ia menangis tidak puasa untuk menahan perasaan sedih. Ketika dia melihat seharusnya yang tertera adalah namanya, dan yang terjadi nama Alexa berubah dengan nama Dania, sahabat lagi sayang akan menjadi Nyonya Sean.

__ADS_1


"Aku tidak boleh menangis, semuanya yang sudah terjadi ini, berjalan dengan bagaimana mestinya," ucap Lexa, dengan menyeka air matanya.


Sedikit terisak-isak, ia melanjutkan membacanya sampai hari dan tanggal yang tertera tidak lama lagi. "Apa aku akan kuat menghadiri pesta pernikahan ini? Rasanya aku tidak akan sanggup menghadirinya.


Ia melepaskan undangan yang ia pegang, jatuh saja kertas ringan itu ke lantai tanpa di sengaja Lexa, tubuhnya sudah lelah, lemas, dan seluruh jiwanya seakan pergi.


Bayangan Alexa bersama Sean lalu lalang dalam pikiran Lexa, betapa cinta mereka dulu tidak dapat di pisahkan. Lexa menepis perasaannya. "Ah, sudahlah. Semuanya sudah terlanjur. Aku anggap dia bukan jodohku."


Lexa berjalan menuju kamarnya, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Menyembunyikan kesedihannya, yang tidak dapat di bendung.


Tink Tink! Bunyi suara ponsel Lexa, pesan dari aplikasi berwarna hijau baru masuk beberapa kali. Lexa mengangkat wajahnya dan melihat pesan yang dikirim.


"Marco? Ngapain anak ini chat? Awas ya, dia uda bohong sama aku! Sama perusahaan tempat dia bekerja," ucap sinis Lexa.


Segera ia membuka pesannya. ['Halo, Sayang!']


"Dih, anak ini. Suka banget bicara ngawur!" Lexa terpaksa tersenyum membaca chat pertamanya. Wanita cantik itu menghapus seluruh air mata yang masih bersisa di pelupuk mata setelah mengingat tingkah dan ucapan pria aneh itu, meski bayangannya teringat akan pria yang menyekap dan menghilangkan kehormatan nya dulu.


[ 'Lagi ngapain nih? Coba aku tebak, kamu pasti lagi menangis. Tidak usah senyum-senyum kalau baca pesanku ya, kalau ada yang melihat nanti sangka orang tidak waras!']


[ 'Gimana kerjanya? Kerasan gak? Aku harap kamu kerasan, karena kerjanya gak berat, juga orang-orang di sana baik.']


Alexa mengerutkan keningnya. Dia kok bisa tahu kalau Alexa sudah bekerja, dan lagi, ia tahu di sana orang baik padanya. "Jangan bilang, kalau pria itu punya mata-mata! Atau tidak dia punya keturunan dukun? Bisa baca semua kegiatanku, ah tidak mungkin!"

__ADS_1


Lexa mengetik pesan singkat. "Dasar sotoy!"


__ADS_2