
Keysha berada di dalam kamar mandi untuk menunggu hasil testpacknya keluar. Gadis itu memejamkan matanya sebelum melihat dengan jelas testpacknya yang ada di tangannya.
Perlahan Keysha membuka matanya. Seketika telaga beningnya berbinar saat melihat hasilnya ternyata positif.
Keysha menutup mulutnya, sementara matanya berkaca-kaca. Ia sudah tak bisa berkata apa-apa selain memanjatkan rasa syukur karena telah diberikan sebuah hadiah yang amat luar biasa. Sebuah anugerah dari Tuhan yang ia nanti-nantikan selama ini. Setelah sekian lama ia gagal menjadi seorang ibu, kini gadis itu akan menjadi seorang ibu lagi.
"Terima kasih, Tuhan. Akan ku jaga dia selalu sepenuh hatiku. Aku tak ingin kehilangannya lagi," ucap Keysha sembari sesegukan menatap testpacknya yang ada di tangannya.
Rasa bahagia bercampur haru membuncah. Sekilas ia mengingat kepedihan saat ia kehilangan anaknya sewaktu kecelakaan dulu, hingga ia berharap akan penantian yang panjang untuk rahimnya kembali menghangat, dan kini Tuhan telah mengabulkan do'anya.
Keysha keluar dari kamar mandi dengan senyuman serta air mata yang tak berhenti menetes. Ia mengusap perutnya yang masih rata, sudah ada satu nyawa yang akan menjadi calon penerusnya.
Rasa mual, pusing, maupun lemas seakan menguap begitu saja setelah mendapatkan kenyataan bahwa dirinya saat ini tengah mengandung.
"Anakku, calon bayiku." Keysha mengusap perutnya sembari berbicara pada sang buah hati yang saat ini masih berbentuk segumpal darah.
Keysha hendak meraih ponselnya di atas nakas. Ia berencana untuk memberitahukan kabar gembira ini pada suaminya. Namun, tiba-tiba Keysha mengurungkan niatnya.
"Sebaiknya nanti saja, aku akan memberinya kejutan saat dia pulang nanti," gumam Keysha.
"Nak, sehat-sehat ya di dalam perut mama. Mama sangat menantikan kehadiranmu, Nak." air mata Keysha kembali menetes, suaranya bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
Tak lama kemudian, terdengar pintu kamarnya di ketuk.
"Masuk ...," seru Keysha.
Bik Wati muncul dari balik pintu. "Nyonya, apakah nyonya ingin saya panggilkan dokter?" tawar Bik Wati yang melihat wajah Keysha sedikit pucat.
"Tidak usah, Bik. Saya sebentar lagi juga akan membaik kok. Ini cuma efek sementara karena hadirnya si kecil," ujar Keysha sembari mengusap perutnya.
Seketika Bik Wati terperangah. "Berarti, nyonya positif hamil?" tanya Bik Wati memastikan.
"Ini testpacknya garis dua," sahut Keysha memperlihatkan testpack pada Bik Wati.
"Wah ... Alhamdulillah. Selamat ya, Nyonya. Bibi ikut senang mendengar kabar baik ini," ujar Bik Wati.
"Terima kasih, Bik. Tapi jangan dulu bilang siapa-siapa ya. Aku ingin membuat kejutan kecil untuk suamiku," tutur Keysha.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu, bibi lanjutkan pekerjaan di dapur dulu," ucap Bik Wati.
Keysha mengangguk. Bik Wati pun keluar dari ruangan itu. Sementara Keysha kembali berbaring, tangannya tak henti-hentinya mengusap perutnya yang masih rata.
"Kira-kira kau perempuan atau laki-laki, Nak." Keysha menerka-nerka. Gadis itu mengambil ponselnya, membuka internet untuk mempersiapkan nama si jabang bayi nanti.
....
Di resto, David tengah mengecek perlengkapan dapur yang baru saja masuk. Pria itu sesekali melihat arloji berwarna silver yang melingkar di tangan kirinya.
"Sebentar lagi Dini pulang," batin pria tersebut.
Ia pun langsung membuka lembaran bagian belakang dan membubuhkan tanda tangan bahwa barang tersebut telah di terima.
__ADS_1
"Untuk selanjutnya kau urus saja, saya ada urusan mendadak," timpal David menyerahkan faktur tersebut ke salah satu pelayan bagian pengecekan.
Pria itu bergegas keluar dari gudang penyimpanan bahan makanan. Ia langsung berjalan menuju ke parkiran untuk menjemput putrinya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, David pun tiba di sekolah. Ia melihat anak gadisnya tengah berbincang dengan salah satu guru sembari menaiki ayunan.
Saat menyadari kehadiran David, Dini pun bergegas berlari ke arah ayahnya.
"Papa ...." gadis itu menghambur ke dalam pelukan ayahnya.
"Maaf ya Nak, papa telat jemputnya." David menggendong tubuh putrinya itu.
Pria tersebut berjalan menghampiri guru yang sedari tadi menemani Dini.
"Terima kasih Bu karena sudah menjaga anak saya," ucap David.
"Sama-sama, Pak. Lagi pula sudah jadi tanggung jawab kami untuk menjaga anak-anak," timpal guru tersebut.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya, Bu."
"Nak, pamitan dulu sama Bu Guru dan ucapkan terima kasih," sambung David mengajari putrinya.
"Terima kasih Bu Guru, karena sudah menjaga Dini. Dini pamit pulang ya, Bu Guru." gadis kecil itu berjalan menghampiri gurunya dan langsung mencium punggung tangannya.
"Sama-sama, Sayang. Hati-hati di jalan ya," ucap guru tersebut seraya mengusap puncak kepala Dini.
"Iya, Bu Guru."
"Papa ... mama udah sembuh belum dari sakitnya?" tanya Dini.
"Papa belum telepon mama. Dini mau ikut papa ke resto atau menemani mama di rumah?" tanya David.
"Mau pulang saja. Dini mau merawat mama yang lagi sakit," ucap gadis kecil tersebut.
Ucapan Dini membuat David bangga. Gadis kecil ini sungguh memiliki pemikiran yang dewasa. Biasanya anak seusianya hanya mementingkan bermain saja, tetapi Dini berbeda.
"Anak papa pintar sekali." David mencium puncak kepala putrinya.
"Ya sudah, ayo kita masuk ke mobil. Papa antar Dini pulang ke rumah," ucap David yang kemudian menggendong Dini dan membawa anaknya itu masuk ke dalam mobil.
David pun melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke rumah. Ia juga terpikir dengan kondisi sang istri di rumah. Namun, di resto akhir-akhir ini benar-benar ramai dan membuat David sedikit sibuk dari hari biasanya.
Keduanya pun tiba di rumah. David segera membawa anaknya untuk turun dari dalam mobil. Saat keduanya sudah berada di depan kamar, Dini langsung berlari menghampiri ibunya yang saat ini tengah tertidur.
"Mama tidur ya?" tanya Dini sembari menatap wajah ibunya lekat.
Mendengar suara anaknya, membuat Keysha terbangun dari tidurnya.
"Anak mama sudah pulang?" tanya Keysha.
Dini menimpalinya dengan sebuah anggukan kecil. "Mama masih sakit?" tanya Dini.
__ADS_1
"Mama sudah tidak sakit lagi, Nak."
"Kamu sudah memanggil dokter ke sini?" kali ini David lah membuka suara.
Keysha mengulas senyumnya dan kemudian mengganti posisinya yang awalnya berbaring menjadi duduk.
"Aku tidak apa-apa, Suamiku."
"Sebaiknya diperiksakan dulu, Istriku." David menatap istrinya sembari bersedekap.
"Sungguh aku sudah tidak apa-apa. Oh iya, aku memiliki kejutan kecil untukmu," ucap Keysha dengan antusias.
"Kejutan?" David menaikkan alisnya sebelah.
Keysha mengangguk. Lalu gadis itu membuka laci nakasnya dan memperlihatkan hasil testpacknya ke sang suami.
David tertegun, ia melirik ke arah Keysha sejenak dan kemudian kembali melihat benda kecil yang ada di tangannya.
"Ini serius, Key?" Keysha mengangguk.
"Aku ...." mata David berkaca-kaca. Kebahagiaannya terasa lengkap saat ini. Penantian panjang mereka akhirnya membuahkan hasil.
"Aku akan menjadi seorang ayah," gumam pria itu.
"Kau sudah menjadi seorang ayah, Suamiku. Tapi, kali ini anggota keluarga kita bertambah," ujar Keysha.
"Sebentar lagi Dini akan segera punya adik bayi." Keysha mengalihkan pandangannya ke Dini.
"Berarti Dini akan jadi kakak?"
"Iya, Nak."
"Asyik ... akhirnya Dini punya adik," ujar gadis kecil itu kegirangan.
David membawa istri dan anaknya ke dalam pelukannya. Pria itu mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali dan beralih ke puncak kepala Dini.
Ia terduduk tepat di depan perut sang istri yang masih rata. Benih yang selama ini di tabur di dalam rahim sang istri, kini sudah tumbuh. Dengan penuh haru serta rasa bahagia yang membuncah, David mengusap perut rata istrinya.
"Cepat besar ya, Nak. Papa sudah tak sabar ingin menggendongmu," gumam David seraya mengulas senyumnya.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ♥️
Yang belum favorit yuk di favoritkan supaya dapat notifikasi update terbarunya~
__ADS_1