Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 19 Petaka Pernikahan Alexa


__ADS_3

Hari bahagia Alexa dan Aston sudah terdengar diberbagai penjuru, pernikahan yang berlangsung meriah dan mewah, mengundang para rekan bisnis penting dari semua golongan. Lexa tidak ingin membedakan antara semua golongan. Meski tidak banyak yang ia kenal, ia mengundang semuanya. Termasuk Sean. Seperti halnya pada saat pesta pernikahannya dengan Dania, ia pun hadir disana. Pernikahan itu juga akan diliput di media sosial. Karena berita penting itu harus diumumkan khalayak umum.


Acara akad nikah di langsungkan pagi, pada pukul 10.00. Yang menghadiri hanya sanak saudara, dan termasuk orang tua Aston yang baru sampai bandara tadi malam.


Kedua mempelai duduk berdampingan di depan penghulu, ketiganya kebetulan memakai pakaian yang sama berwarna putih. Seperti biasa Lexa sudah tampak begitu cantik. Tak hanya beberapa saja yang memujinya, semua yang datang memuji kecantikannya wanita itu. Gedung di dekorasi oleh orang terkenal di bidangnya. Hingga semua tampak mewah tidak ada kesan minus. Hampir semua sudut ruang di hiasi dengan warna gold. Dan beberapa bingkai berwarna ungu.


Pernak pernik hiasan dinding membuat mata takjub. Penghulu sudah bersiap membimbing Aston yang tidak sabar ngucapin qabulnya.


Penghulu yang berusia paruh baya tersebut menjabat tangan Aston Marck, dan pria itu menggenggamnya. Penghulu mulai mengucapakan ijab nya. “Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Aston Marck bin Maxwell Marck dengan anak saya yang bernama Alexa Kill dengan maskawin-nya berupa emas 1000 gram dan uang sebesar 100 juta rupiah di bayar tunai.”


Aston dengan mantab menjawab qabulnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Alexa Kill binti Bewerly dengan maskawinnya tersebut, di bayar tunai.”


"Bagaimana semua saksi? Sah?" tanya penghulu, sembari melirik ke setiap saksi yang hadir.


"Sah!" Serentak menjawab demikian.


Setelah semua setuju, dan mengesahkan, penghulu mengucap syukur atas terlaksananya acara dengan hikmad dan lancar.


Di sisi lain, sepasang kaki seorang pria bergetar hebat. Hampir tubuhnya lunglai di lantai. Untunglah kedua tangannya mampu memegang erat dinding pembatas gedung, berwarna biru selaras dengan kemeja yang dikenakan Sean. Hingga tubuhnya masih bisa berdiri tegap. Sebuah linangan air mata bergulir silih berganti, hingga tetesannya berjatuhan mengenai sepatu pantofel-nya.


Ia menyeka berulangkali, tak ingin siapapun disana memperhatikan keadaanya sekarang. Teramat dahsyat cinta yang begitu besar untuk Lexa. Kini hancur bagai debu yang tidak bersisa, tertiup angin dan lenyap.

__ADS_1


"Kau sudah dimiliki pria lain. Selamat ya, Lexa. Semoga kamu bahagia selamanya," kedua matanya tidak mampu lagi melihat pemandangan menyakitkan ini, ia berbalik dan meninggalkan gedung itu segera.


Sean keluar dari tempat itu dan pergi menggunakan mobil pribadinya. Dengan laju tercepat. Ia tidak mampu memikirkan hal lain, ia hanya ingin melupakan Lexa. Kedua mata Sean sudah berubah merah. Pikiran dan hati pun sudah teramat sakit.


Dengan minuman memabukkan pun tidak mampu membuatnya melupakan wanita itu. Bukan waktu singkat untuk dapat mencintainya.


Pikirnya tidak fokus ke jalan, hanya ada bayang-bayang Lexa saja, mobil itu ia belokkan ke pembatas jalan kepalanya terbentur kaca depan mobil, wajahnya sedikit terluka, dan mobil rusak pada bagian depannya.


Brak!!


Mobil itu berasap, tak lama kemudian ada beberapa orang menolongnya, mereka mengeluarkan Sean dari sana. Meski ia menolak dan berteriak ingin mati saja, namun tak di indahkan oleh mereka. Pria itu harus selamat.


Dengan tubuh penuh luka, Sean dilarikan ke rumah sakit. Ia tak sadarkan diri dalam waktu lama. Para dokter menanganinya dan keluarga Sean, Andrea serta Dania menunggu di luar ruang UGD, setelah mendapat informasi oleh pria yang menolong Sean.


Andrea makin membenci Alexa, bagaimana pun juga hanya wanita itu penyebab keadaan Sean saat ini, ia membawa dampak buruk pada putranya itu. Wanita itu menggertakkan gigi-giginya mengingat wajah Lexa. "Aku benci wanita miskin itu! Gara-gara dia putraku seperi ini! Aku tidak bisa membiarkannya tertawa di atas tangis putraku! Camkan itu Alexa!"


****


Pesta pernikahan Aston dan Lexa di adakan malamnya. Lebih meriah dari pesta yang di adakan Sean dan Dania. Kedua mempelai terlihat bahagia, terpancar dari sinar wajah Lexa dan Aston, senyum mengembang ter-ulas tiap saat.


"Kamu bahagia, Lexa?" tanya Aston saat di atas pelaminan.

__ADS_1


Lexa mengangguk pelan, dengan senyum mengembangnya. "Ya Aston, aku sangat bahagia. Terimakasih ya, kamu mau menerima keadaanku apa adanya."


Terdapat satu acara surprise, yang tidak di ketahui Aston dan Lexa. Pembawa acara kedua yang sudah bayar oleh seseorang, untuk meramaikan acara. Keduanya tidak mengetahui akan adanya acara tersebut. Hanya bisa menikmati saja.


"Pada puncak acara, kami akan memutarkan sebuah film untuk para hadirin semuanya, cerita cinta tentang kisah mempelai pria dan wanita pada masa kuliah dulu," ucap pembawa acara membuat para tamu undangan tidak sabar.


Aston dan Lexa pun terkejut dibuatnya. Mereka saling memandang satu sama lain, dalam sebuah pertanyaan, yang mereka sendiri tidak mengerti jawabannya. "Apa maksud semua ini?" tanya Lexa, Aaron Marck mengangkat bahunya. Dan menggelengkan kepala.


Sebuah proyektor menyorot ke di dingin tembok gedung berwarna biru. Tampak jelas, dari lighting yang sengaja di padamkan. Semua yang hadir terdiam beberapa saat. Semua mata mengarah ke dinding.


Semua mata terbelalak melihat video yang diputar. Para undangan riuh, dan saling menghujat Lexa, mereka tidak menyangka wanita yang sedang duduk di atas kursi pelaminan itu adalah wanita yang hina.


Aston berdiri dan berjalan menuju mesin proyektor, ia segera membanting mesin pemutar itu, hingga rusak berat. "Siapa yang berani macam-macam terhadap acara ini? Katakan!"


Aston murka, membuat para tamu undangan saling berhambur meninggalkan acara di gedung tersebut. Para awak media mereka suruh menghapus dan membatalkan acara penayangan itu, mereka yang menolak, dengan paksa Aston merusak peralatan mereka, hingga tidak ada yang dapat menyimpannya.


Di bantu anak buah mereka, semua tidak bersisa, tidak ada satupun yang berani menayangkan di media televisi atau media cetak lainnya. Jika ada yang berani melanggar, ia akan menutup paksa perusahaan mereka.


Aston tidak dapat menemukan pria yang mendalangi kejadian tersebut. Pria itu lolos , sementara Lexa di sidang oleh orang tua Aston. Ia di hina, dipermalukan sampai tangis kebahagiaan itu berubah menjadi tangis kepedihan di acara malam pernikahan nya.


Plak!

__ADS_1


Sebuah tamparan keras di layangkan oleh Carita, wajahnya yang berubah merah padam membuat Lexa bergidik disudut ruangan. "Dasar wanita hina! Aku malu memiliki menantu seperti mu Lexa! Dasar wanita murahan! Aku tidak sudi Aston berdampingan denganmu!" Suara Carita menggema dalam satu ruangan.


__ADS_2