Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 15 Mabuk berat


__ADS_3

Kejadian itu menjadi pusat tontonan orang-orang yang berada di sana. Tidak jarang juga teman-temannya menyuruh Sean untuk berhenti minum. Namun tampaknya Sean tidak mengindahkan ucapan mereka. "Sudahlah! Kalian Jangan banyak bacot. Aku benci orang-orang yang terlalu mengguruiku! Kalian sama halnya dengan Alexa, manis di mulut tapi menyakitkan di hati. Bullshit kalian semua!"


Sean menarik tangan wanita yang berdiri di sampingnya itu menuju kedalam, disana ada beberapa ruang kamar yang ditujukan untuk pria-pria berkelas seperti Sean, mereka bisa memilih beberapa wanita untuk menemani minum.


"Wah, Sean akan menghabiskan wanita itu!" teriak teman Sean tang lain.


"Lepaskan saya, Tuan! Saya minta maaf!" Wanita itu memberontak dan menarik tangannya agar bisa lepas dari cengkraman Sean, sepertinya ia tidak bisa lepas dari nya.


Wanita itu berusaha keras, ia adalah pelayan baru yang bekerja di sana. Kali ini ia teramat ketakutan karena perlakuan pria yang sudah meminum minuman keras dalam kadar tinggi. Ia bisa melecehkannya tanpa disadari. Wanita itu meminta pertolongan namun tidak ada yang menghiraukan.


Malah kebanyakan mereka menertawakannya dan bersorak dengan keras. "Nikmati saja Nona! Layani pria itu sampai puas!"


"Sudahlah! Ikut denganku! Kamu harus melayaniku malam ini! Aku butuh wanita untuk menghiburku! Kamu jangan menolaknya!" ucap Sean secara paksa mendorong tubuhnya sampai masuk kedalam ruang kamar yang disediakan khusus itu.


Wanita yang memakai pakaian yang tidak terlalu minim berwarna hitam, dengan sepatu high heels yang sudah tertinggal sebelah karena berjalan dengan cepat itu bersujud di kaki Sean. "Ampun Tuan. Jangan apa-apakan saya. Saya baru disini, saya hanya butuh uang untuk tambahan menikah, jika saya ternodai oleh Anda, bagaimana saya bisa melanjutkan hubungan saya dengan calon suami saya nanti!"


Sean seketika terdiam. Ia ingat kembali dengan Alexa. Ia melepaskan cengkraman-nya di lengan sang wanita dan mengatakan, "Pergi!"


Bergegas ia pergi dari ruang kamar tersebut. Ia berlari dan berucap syukur. Pria itu masih sadar dan melepas nya.


Sean menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, dan mengumpat beberapa kali, ia masih belum percaya dengan apa yang ia lihatnya di video itu. "Haha, Alexa... Semurahannyakah kau bisa tidur bersama pria lain selain denganku. Ternyata dibalik kepolosan wajahmu, ada banyak sifat yang tidak aku ketahui. Dasar kau perempuan hina!"

__ADS_1


Bug bug bug! Sean memukul ranjang beberapa kali meluapkan kesalnya.


****


Dikediaman Andrea, wanita selaku Ibu dari Sean, khawatir akan keberadaan anaknya. Ia menyuruh Dania untuk mencari tahu di mana putranya saat ini, karena beberapa lamanya ia menghubungi lewat panggilan ke nomor pribadinya pria itu tidak lekas menjawab.


Ia berjalan mondar-mandir sambil memegangi benda pipih di genggamannya. "Dania coba hubungi teman Sean, dimanakah ia berada. Oh ya Apakah kau yakin kalau putraku sudah pergi dari rumah sakit selepas ia membawa Alexa tadi?"


Dania meyakinkan ibunya, jika ia sudah pergi. Wanita berdarah iblis itu sangat yakin, jika suaminya saat ini sudah jijik melihat wajah Alexa. Dengan perbuatannya yang terhina. "Saya sudah menghubungi kekasih Alexa, Ma. Mas Sean sudah pergi dari tadi malam, dia hanya mengantarkannya saja lalu pergi."


Andrea menyuruh Dania untuk menelpon teman kerjanya yang lain. Dan wanita itu mematuhinya. Setelah beberapa menit dia menemukan kontak khusus rekan bisnisnya di dapat dari ponsel Sean lain yang tertinggal didalam kamarnya.


Dan dia memberitahu Andrea jika Sean sedang berada di sebuah diskotik besar tengah kota. Saat ini ia dalam kondisi mabuk berat. Andrea menyuruh Dania dan supirnya untuk menjemput Sean.


****


Perjalanan dari diskotik ke kediaman Andrea lumayan dekat, tidak sampai 20 menit mereka sampai. Keduanya membantu Sean masuk ke dalam kamarnya dan merebahkannya disana. "Terimakasih, Pak!"


Dania membuka sepatu, dan baju Sean berniat menggantinya. Ia ikut tidur disamping Sean dan membelai pipinya seraya mengatakan, "Sean, Kenapa kau jadi seperti ini? Sebenarnya aku tidak ingin hatimu hancur, tapi aku harus melakukannya. Karena aku sangat mencintaimu. Semoga kedepannya kamu bisa mencintaiku seperti besarnya kau mencintai Alexa sepenuh jiwamu."


Wanita itu tanpa sadar tertidur di samping Sean hingga pagi menjelang. Terik matahari menembus kamar Sean melalui celah dari pantulan jendela tersibak karena semilir angin yang tertiup dari sela ventilasi udara.

__ADS_1


Cahaya terang itu mengekspos wajah Sean yang letaknya satu banding lurus dengannya. Hingga ia beberapa kali mengerjapkan netra karena silaunya.


Pria itu terbangun seketika, menghindarkan mata dari sinar, menghalangi menggunakan kedua tangannya seraya menyipitkan kedua bola matanya. Ia melihat ke seluruh sudut ruangan, baru sadar saat ini berada di dalam ruang kamarnya sendiri. Saat mulai beranjak turun ia melihat Dania tertidur satu ranjang bersamanya. "Siapa yang mengizinkan wanita ini tidur bersama ku?"


Tak lama kemudian wanita itu ikut terbangun, karena cahaya ruangan sudah terang meninggalkan bohlam lampu redup yang berada di atas meja, sebelah ranjang tidur masih menyala.


"Kau sudah bangun?" tanya Dania ringan. Ia belum melihat kedua mata Sean yang sudah bulat sempurna melihat ke arahnya.


"Siapa yang suruh kau tidur di sini!" tanya Sean dengan tegas.


Dania menjelaskan ceritanya tadi malam, dia juga tidak sadar jika sampai ketiduran di sana. Dania meminta maaf, dan menjelaskan kembali tentang pernikahan itu, dan dia saat ini telah menjadi istri sahnya, jadi sudah sepantasnya jika mereka tidur berdua dalam satu ranjang.


Sean tidak mengizinkan itu terjadi, ia tidak ingin


berada sedekat itu dengan wanita yang tidak ia cintai. Pernikahannya sebatas status semata. Tidak lebih dari itu. Ucapan Sean membuat Dania teriris. Ternyata tidak semudah itu menyingkirkan Lexa dari hidupnya.


Air mata Dania mulai membasahi bola matanya, sebentar -sebentar ia seka dengan tangannya. Sean kembali membentak Dania agar segera pergi dari kamarnya. "Ku ingatkan sekali lagi ya, cari kamar lain! Jangan sekali-kali kau berani merebahkan tubuhmu di atas ranjang ini!"


Dania merasa sangat lemas, mendengar kalimat -kalimat yang terdengar keras dan jelas menusuknya. Meski pria itu membenci Alexa, tapi juga tidak mudah untuk masuk begitu saja dalam kehidupan Sean. Walau status mereka sudah sah sebagai suami dan istri.


"Pergi kataku! Keluar!" Bentaknya berulang kali, melihat kedua kaki Dania tidak di gerakkan, malah diam mematung.

__ADS_1


Kali ini ia tidak kuat menahan air matanya lagi, air matanya sudah membanjiri kedua pipinya, ia beranjak dari ranjang dan pergi keluar kamarnya, menutup dengan keras pintu kamar Sean. "Tidak tahu malu! Memangnya siapa dia? Bisa masuk saja dal kehidupan ku, aku hanya menikahinya Karen paksaan, Mama Andrea. Tidak lebih!"


__ADS_2