Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 28 Mama Andrea Terkena Stroke


__ADS_3

Sean menggandeng tangan Alexa menerobos Dania yang menghadangnya. "Minggir!"


Dengan cepat Dania mengikutinya lalu menghadangnya kembali dengan merentangkan kedua tangannya di tengah pintu.


Sean besok pikir jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita yang berstatus istri namun tidak ia cintai itu.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau menghalangi langkahku? Aku ingin menemui mama. Cepat menyingkir! Sekalian angkat kaki dari rumahku!"


bentak Sean, sudah tidak tahan lagi dengannya.


Secepat angin, ia menunduk dan menggelantung di kakinya. "Sean, Aku mohon maafkanlah kesalahanku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu kembali. Aku senang kau bisa kembali lagi ke rumahmu, teman kita bisa bersama lagi membangun kehidupan yang baik."


Bug


Sean menendang tubuh Dania hingga sedikit menjauh darinya. "Sudahlah, aku tidak bisa memberikan kesempatan kedua untuk siapapun yang sudah melakukan kesalahan terbesar khususnya untuk seseorang yang paling aku sayangi! Pergi kau Dania!"


Alexa hanya bisa memperhatikan drama Dania, entah wanita munafik itu berkata dengan jujur atau hanya bersilat lidah.


Sungguh permainan dramanya sangat baik, hingga ia tidak bisa membedakan keduanya.


'Hah! Aku tidak tahu kali ini aku harus bersedih atau tertawa gembira di atas derita Dania. Ia menabur, ia juga yang menuai. Hukum karma pasti berlaku.'


"Sean, aku mohon. Ampuni aku, berikanlah satu kesempatan lagi, aku berjanji akan menjadi istri yang terbaik untukmu, jika aku mengulang kesalahan itu kembali, terserah kau hukum aku seperti apa, aku akan menerimanya," jelas Dania lagi, ia tidak mau putus asa. Dan tetap mencoba membujuk Sean agar ia memaafkannya.


"Sudah berapa kalimat lagi untuk ku ucapan padamu, jika aku membencimu! Kamu paham kan bahasa manusia? Kamu itu iblis yang sedang menyamar, Bagaimana mungkin seorang teman baik menyuruh pria untuk menodai seorang wanita Bahkan ia sahabatnya sendiri, dengan tujuan agar pernikahan sahabatnya dibatalkan. Sungguh picik sekali niatmu!" teriak Sean, tanpa ampun.


Bayangan tentang kebersamaan nya bersama Dania muncul kembali dalam pikiran, dia adalah teman yang sudah bertahun-tahun bersamanya dari menginjakkan bangku sekolah menengah pertama.


Susah dan senang mereka lalui bersama, saat seorang guru menghukum keduanya karena telat dan lupa mengerjakan PR. Dihukum bersama berlari mengitari sekolahan sampai berkali-kali.

__ADS_1


Mencari contekan pada teman yang lebih berprestasi dari mereka. Ulah mereka diketahui guru, lagi- lagi dihukum berdiri dengan satu kaki dan menjewer kedua telinga secara bersilang. Ia hanya menepis bayangan itu, karena pada akhirnya keakraban dari pertemanan itu tiada artinya. Alexa berusaha melupakan.


"Pergi ku bilang Dania!" suruh Sean.


Kali ini Sean tidak mendengarkan ucapan Dania lagi, secepatnya ia akan mengurus surat perceraian dengannya.


Ia bergegas berjalan masuk ke dalam rumahnya dan mencari Andrea. "Mama! Mama!"


Dia mencari ke seluruh sudut ruangan, namun tidak ia temui Andrea di manapun. "Apa Mama sedang di kantor?" pikirnya.


Ia mencoba mencari di dalam kamar Andrea. Saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut melihat mamanya diam dengan mata terbuka terbujur diatas bad kasur.


"Mama?" Terserah ia melangkah kaki panjang menuju ke arah Andrea yang tidak bersuara, saat ia memanggilnya.


Pria itu menggoyangkan tubuh mamanya Kenapa beliau tidak merespon panggilannya, tentu punya seakan kaku.


Alexa ikut masuk kedalamnya, ia tidak menyangka perempuan itu mengalami hal ini. Tapi itu masih praduganya saja. 'Apa Mama Andrea mengalami stroke? Karena pikirannya yang berat menunggu Sean pulang?"


"Alexa, Apa yang sedang terjadi pada mamaku? Kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku, Bahkan ia tidak merespon sama sekali kehadiranku di sini? Bukannya Mama Andre sedang menungguku pulang? Katakan padaku Alexa?" tanya Sean khawatir.


Alexa mencoba perlahan menjawabnya dengan sangat hati-hati, takut Sean akan terpukul setelah mendengarnya. "Maaf Sean, sepertinya mamamu terkena mental. Karena terus memikirkan kamu."


Sean menatap ke arah Alexa dengan bingung. "Apa maksud kamu Lexa?"


"Mama Andrea mengalami stroke, Sean." Alexa berkata pada intinya.


"Apa? Kenapa bisa? Mama Andrea tindak memiliki tekanan darah tinggi. Bagaimana bisa dia mengalami stroke?" tanya Sean.


Ia berteriak memanggil nama Dania, Namun wanita itu tidak kunjung datang. Terpaksa ia berlari mencari dan membawanya kesana.

__ADS_1


Sean menemukan Dania terdiam di dalam kamarnya, wajahnya terlihat pucat dan sepertinya ketakutan membuat Sean berpikir yang bukan-bukan padanya.


Bahkan selintas, Sean berpikir jika keadaan mamanya saat ini tidak lepas dari rencana jahat Dania.


"Hai wanita iblis! Apa yang sedang terjadi pada Mama Andrea? Kenapa keadaannya seperti ini sekarang? Apa yang sudah kau lakukan padanya!? Katakan!" teriak Sean, kemarahannya sudah diambang batas.


Dania menggelengkan kepalanya berniat melindungi diri dari tuduhan Sean. Ia mundur beberapa langkah saat pria itu ingin mencengkram kerahnya dan bahkan ingin menamparnya.


"Tidak seperti itu Sean! Aku akan jelaskan semuanya padamu kau jangan menuduh aku sembarangan seperti ini, Padahal aku di rumah menjaga Mama Andrea dengan baik tapi sungguh ucapanmu itu menyukai hatiku!" bela Dania, menunjukkan air mata yang baru ia buatnya dengan sedikit isakan tangis maka terlihatlah ia sekarang seperti sedang bersedih juga.


"Bullshit!! Selamanya Aku tidak akan pernah mempercayai Semua ucapan busukmu itu! Karena semua itu hanya ucapanmu yang penuh dengan sandiwara! Sekali lagi kutanya, Apa yang kau perbuat pada mama!" teriak Sean lagi.


Dania berkata dan bersungguh-sungguh bahwa ia tidak melakukan apapun pada Andrea.


Karena Sean tidak bisa sabar menunggu perempuan itu bicara, maka secepatnya ia harus membawa sendiri Andrea ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut.


Iya bersama Alexa membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sampainya di sana Sean meletakkan di atas ranjang pasien lalu dibantu oleh beberapa perawat mendorongnya ke ruangan IGD.


Sean merasa bersedih dan menyesal karena meninggalkan Andrea sendiri di rumah. Bahkan beberapa hari dia tidak mengabari mamanya tersebut sampai kondisinya menjadi seperti ini.


Alexa duduk di samping Sean dan menenangkan pikiran pria tersebut. Dengan memukul pelan bahu Sean.


"Sean, tenanglah berdoalah yang terbaik untuk mamamu. Semoga mamamu cepat sembuh seperti sedia kalah, pasti di dalam pikiran dan hatinya ia ingin memelukmu Karena rindu, namun pergerakan tubuhnya terhambat untuk melakukan itu semua. Aku yakin Mama Andrea pasti segera membaik."


"Terima kasih ya, Alexa semoga ucapanmu benar. Aku sangat berdosa karena mengecewakan beliau meninggalkan rumah dan perusahaan. Entah bagaimana keadaan perusahaanku sekarang ini, Semoga tidak ada masalah besar. Bukan semuanya bisa menghandle pekerjaan itu dengan benar," ucap Sean, yang juga memikirkan perusahaannya.


"Ya Sean, sama-sama. Sudah jangan sedih lagi. Kita bisa mengupayakan dengan mencari dokter terhebat untuk menyembuhkan Mama Andrea, jadi janah khawatir lagi."

__ADS_1


__ADS_2