Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Epilog


__ADS_3

13 tahun kemudian...


Dini bersama dengan anak serta suaminya tengah berziarah ke makam Keysha dan David. Setelah berpesan padanya untuk terakhir kali bahwa ia ingin di makamkan di samping Keysha, setelah beberapa hari kemudian, David pun berpulang.


Pria kecil yang berusia sekitar enam tahun tengah memandang nisan kakeknya secara bergantian.


"Mama ... kenapa makam kakek dan nenek berdekatan?" tanyanya dengan polos.


"Karena kakek dan nenek ingin bersama selamanya," timpal Dini.


"Tapi, makam nenek sudah terlihat cukup lama, sementara makam kakek, ukiran namanya masih terlihat bagus, jarak tahunnya juga sangat lama."


"Kakek dan nenek itu memiliki kesetiaan yang cukup kuat. Mereka bak Romeo dan Juliet, seperti Habibie dan Ainun. Tak perduli kesetiaan mereka diuji dengan waktu yang cukup lama, pada akhirnya mereka membuktikan bahwa cintanya lebih kuat hingga akhir hayat," sahut Dini dengan bijak.


"Kau masih kecil, Nak. Jadi belum mengerti sampai di situ," celetuk suaminya sembari mengusap kepala putranya.


Dini melemparkan senyumnya. Kemudian mengarahkan pandangannya pada kedua nisan yang ada di hadapannya saat ini.


"Ma, pa, terima kasih karena telah merawatku sepenuh hati," batin Dini.


Dini beserta suami dan anaknya pun beranjak dari duduknya. Mereka melangkah kaki meninggalkan pemakaman untuk pulang ke rumah.


"Ma, Zacky kalau sudah dewasa nanti ingin seperti kakek yang setia pada nenek," celetuk bocah kecil tersebut.

__ADS_1


Dini dan suaminya saling melemparkan tatapan heran. "Apa Zacky tahu arti kesetiaan itu, Nak?" tanya Marco, suaminya Dini.


"Tentu saja, Pa. Kesetiaan itu adalah seseorang yang memegang prinsip dan selalu menepati janjinya. Tak mengingkari janji yang telah diucapkannya," tutur Zacky.


"Wah anak mama dan papa rupanya pintar sekali," puji Marco.


"Iya, mama juga kaget si Zacky bilang begitu," celetuk Dini.


"Ya sudah, ayo kita pulang! Ini sudah sore," ajak Marco. Pria itu pun menggendong anaknya. Ketiga orang itu pun berjalan segera memasuki mobil. Marco melajukan kendaraan roda empat tersebut membelah jalanan sore.


....


(Adegan Bonus)


Keysha memetik salah satu tangkai bunga mawar dan mencium wangi bunga tersebut dengan sangat rakus.


Dua orang anak laki-laki tengah berkejaran ke sana dan ke mari. Terdengar candaan yang begitu jelas serta gelak tawa yang amat nyaring dari kedua bocah yang tampak asyik dengan kegiatannya itu.


"Nak, jangan berlarian nanti terjatuh," tegur Keysha melihat kedua anaknya yang asyik bermain.


Gadis itu kembali melangkahkan kakinya. Ia melihat salah satu kupu-kupu yang tengah terbang hinggap di jemarinya.


"Cantik sekali," ujar Keysha dengan berdecak kagum.

__ADS_1


Sebuah sinar yang amat menyilaukan mata muncul tiba-tiba. Keysha tampak penasaran, sinar apa yang ada di depannya. Baru beberapa langkah, ia melihat sebuah siluet tubuh yang juga tengah berjalan menghampiri.


Keysha tak menghentikan langkahnya, ia berjalan semakin dekat. Jantungnya berdegup dengan kencang, perasaanya membuncah saat menyadari sosok yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.


"David ...," gumam Keysha. Ia pun langsung menghambur ke pelukan pria tersebut.


"Maaf telah membuatmu menunggu lama," ujar David seraya mengusap surai milik istrinya dengan rasa sayang.


Keysha menggeleng pelan. "Penantianku sudah terbayarkan," gumam Keysha sembari melonggarkan pelukannya.


David mengarahkan pandangannya pada sosok anak laki-laki yang sedari tadi menatapnya. Keysha tersenyum lalu kemudian menyuruh untuk kedua anak tersebut mendekat.


"Nak, cepat kemari! Sambut papa," seru Keysha.


"Mereka ...."


"Iya, mereka adalah anak-anak kita," ucap Keysha.


David pun langsung memeluk kedua anak tersebut. Keysha juga ikut bergabung dalam pelukan kerinduan tersebut. Mereka pun saling mengulas senyum. Berbahagia dengan skenario yang telah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa.


Seberat apapun hidupmu, tersenyumlah. Anggap bahwa dirimu salah satu tokoh di dalam sebuah novel yang akan berakhir dengan bahagia. ~ Keysha Amanda.


Jika istriku mengorbankan nyawanya untuk anak kami, maka aku akan mengorbankan sisa hidupku untuk mencintainya. ~David Anggara.

__ADS_1


THE END


__ADS_2