
Sore itu Aston pulang seperti hari kemarin tidak terlalu malam, ia masih mengkhawatirkan keadaan Alexa. Dua hari ini ia sudah bekerja seperti biasanya.
Saat tiba di rumahnya, pria itu melihat istrinya tertidur di atas sofa. Segera ia menggendong dan memindahkannya ke dalam kamar.
Aston adalah pria normal, ia ingin sekali menyentuh tubuh istrinya itu. Ia ingin menanamkan benih dalam rahimnya. Pria bermata sipit itu menginginkan seorang anak dari Lexa. Hingga sudah tidak akan ada lagi yang dapat memisahkan keduanya.
Aston takut, kebohongan tentang kehamilannya di ketahui oleh Lexa, sebelum ia tahu, Aston harus membuatnya hamil sunguhan. Dengan melepaskan benihnya. Ia mendekati tubuhnya dan tidur di sampingnya. Memandang paras ayu sang istri, ia ci_um beberapa kali pipi dan keningnya, merasa kebahagiaan hakiki sudah didapatkannya.
Jantung Aston berdebar, saat tangan Lexa tanpa sadar memeluknya. Mungkin ia sedang memimpi, dari kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Wanita itu tersenyum manis, membuat Aston ikut dalam bahagianya. Saat Aston memilin rambut Lexa, wanita itu berbicara pelan. "Apa yang kamu inginkan, lakukan saja, Sayang."
Sontak membuat Aston semangat, ternyata keinginannya di kabulkan oleh Lexa. Wanita itu di kiranya hanya pura-pura tidur, Karena malu untuk mengucapkannya. Nyatanya ia bisa berkata untuk melancarkan keinginan suaminya.
"Ah, kamu ternyata hanya berpura-pura tidur, ayo bangun. Kita olah raga bersama!" ajak Aston, pada Lexa yang terpejam. Melihat ia enggan membuka mata, membuat tangan jahilnya dengan segera saja tanpa meminta izin membuka kencing baju Alexa satu persatu, dimulai dari kerah baju. "Aku sudah sangat tidak sabar, Sayang," ucap Aston menahan keinginannya.
Gerakan Aston yang tidak bisa sedikit saja bersabar, membuat Alexa terbangun. Ia terkejut melihat suaminya, pria itu dengan lancangnya akan berusaha memegang sesuatu benda berharga miliknya. "Apa yang akan kamu lakukan padaku, Aston?" Ia sedikit marah dan menaikkan tempo nada suaranya, dengan segera ia menyeret selimut dan menutupi kancing yang separuh terbuka. Membuat anggota dari tubuhnya yang lain terlihat sebagian.
__ADS_1
Aston mundur dari jarak terdekatnya dengan Lexa, "Aku minta maaf Alexa, aku hanya pria normal yang menginginkan sesuatu, yang sudah sepantasnya diberikan oleh seorang istri. Tidak lebih dari itu, Apakah kamu keberatan untuk melakukannya sekarang? Karena saat ini aku sedang menginginkannya."
Ucapan Aston yang berbeda dari biasanya membuat Lexa gemetar, entah apakah saat ini dia sedang normal jika menolak untuk sementara waktu. Sungguh ia benar belum siap melakukannya bersama pria itu. "Maafkan aku, Apakah keinginanmu ini bisa ditunda untuk sementara waktu. Karena sungguh saat ini aku belum siap untuk hal ini. Jadi berikanlah aku kesempatan untuk mempersiapkan semuanya, Aku tidak ingin melakukannya karena terpaksa, Aku ingin melakukannya bersamamu karena cinta."
Penjelasan Alexa membuat pria bermata sipit itu diam sejenak lalu merapikan bajunya dan turun dari ranjang, tanpa bersuara lagi ia keluar dari kamar mereka. Alexa diam tidak mengikuti ataupun meminta maaf, karena saat ini ia pun sedang bimbang. Yang merupakan kewajibannya sebagai seorang istri karena seluruh pikiran dan hati hanya dipenuhi nama Sean saja.
"Astaga, jadi ingat Sean. Ke manakah pria itu pergi? Aku sangat khawatir terhadapnya. Apa aku mau minta bantuan Aston untuk menyuruh anak buahnya mencari, Sean? Ah tidak mungkin. Aku pasti akan menghancurkan hatinya lagi. Sudah cukup aku menyusahkan pria itu, mungkin aku bisa mencarinya seorang diri, kami berpacaran lama, dan aku mengetahui tempat-tempat di mana ia dulu pernah singgah, lantas bagaimana aku meminta izin pada Aston untuk pergi? Aku yakin dia tidak akan mengizinkanku." Pikiran Lexa bergelut sendiri. Tidak ada seseorang yang ia percaya untuk mencurahkan seluruh pikiran nya, untuk sekedar bermusyawarah.
****
Dania juga turun tangan sendiri mencari sang suami dengan menanyakan keberadaannya, pada teman dan rekan kerja Sean. Hingga selang tujuh hari berlalu putra Andrea belum dapat ditemukan.
Semua orang suruhan Andrea gagal menemukannya, hingga wanita yang sementara memimpin perusahaan putranya itu tidak bersemangat dalam melakukan kegiatan apapun, termasuk mengurusi perusahaan milik puteranya.
Andrea sedikit pusing, apa yang harus ia lakukan agar putranya dapat ditemukan. Hingga ia terpaksa harus mengeluarkan banyak uang dengan memberikan iming-iming kepada orang yang menemukan. Jika salah satu di antara mereka bisa membawa Sean ke hadapannya dia berikan 100 juta.
__ADS_1
Malam itu Dania mendekati Andrea yang terduduk lesu di kursi ruang tamu. Dia menanyakan kepada Ibu mertuanya, apakah cara itu tidak membuat keselamatan suaminya terancam? Andrea hanya menggeleng kepala. Ia tidak tahu bagaimana caranya lagi untuk bisa lekas menemukan putranya.
Hingga kabar itu beredar cepat di media massa, foto-foto Sean viral di manapun. Orang-orang berbondong-bondong berusaha mencari pria itu.
Sementara ditempat Sean berada...
Pria yang masih sakit, terbaring di ranjang lusuh milik keluarga sederhana, mendapatkan kabar dari pemilik gubuk. Seorang ibu paruh baya yang menemukan pria itu terkulai lemas ditepi jalan, ia bersama suami membawanya pulang dan merawatnya. "Nak Sean, ibu baru melihat tayangan di televisi tetangga, kalau mama kamu sedang mencari-mu, dia menawarkan sejumlah uang bagi orang yang bisa menemukan kamu, dan membawamu pulang."
Sean tersenyum getir. Ia tidak terkejut mendengar kabar yang baru ia dengar itu. "Lalu, apa ibu tidak ingin melapor ke mama ku, untuk memberitahukan bahwa aku di sini. Jika itu ibu lakukan maka kalian akan mendapatkan uang banyak."
Perempuan yang tidak memiliki seorang anak itu duduk di sisi ranjangnya dan mengusap rambutnya pelan ia tersenyum dan berkata, "Kami tidak akan melakukan itu, kami hanya ingin kamu kembali pada mama-mu saat sudah benar-benar siap, kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun jika kau mau, tapi pesan kami, selesaikan masalahmu, dan jangan berlari. Karena masalah kecil ataupun besar sekalipun tidak akan pernah bisa terselesaikan dengan cara melarikan diri."
Sean tersenyum, ia mengangguk kepala pelan. "Aku masih belum kuat menerima kenyataan hidup ku aja Bu, wanita yang aku cintai telah tega melukai hatiku, dia menodai cinta kita, dan bahkan ia telah menikah dengan pria lain. Aku belum bisa menerima semu itu," ucapnya, Ia bangun dari pembaringannya dan bersandar di dinding ranjang.
"Sabar ya, Nak. Ibu doain, jika kamu bisa sabar, sudah jangan sedih-sedih lagi, ibu bawa kamu kesini untuk bisa membuatmu sedikit melepaskan beban mu, oh ya, kamu jangan keluar rumah dulu ya, karena di luar sedang tidak aman. Ibu takut akan keselamatan kamu," titah Ibu yang bernama Dewi tersenut.
__ADS_1