
Keysha berjalan gontai keluar dari rumah sakit. Tubuhnya bergetar, dadanya terasa sesak. Gadis itu memilih duduk di salah satu bangku yang ada di depan rumah sakit. Air mata Keysha jatuh seketika. Hatinya hancur menjadi serpihan tak berbentuk.
Baru saja ia mengecap manisnya, tetapi kini gadis itu di hadapkan dengan sebuah kenyataan yang pahit. Pernyataan dokter beberapa menit yang lalu masih terngiang-ngiang di ingatannya.
"Kami melihat adanya tumor ganas atau kanker yang bersarang di otak anda. Kanker ini sudah menyebar dan memasuki stadium 4," ucap Dokter.
"Penyakit ini bisa saja menyebabkan mati rasa pada kaki dan tangan, kelumpuhan hingga stroke, serta daya ingat yang melemah dan rasa sakit di kepala yang sangat kuat. Mungkin gejala awal memang tidak akan begitu terlihat, tetapi karena kanker sudah menyebar, kemungkinan anda akan mengalami hal-hal yang saya sebutkan tadi."
Keysha meremas lututnya dengan kuat saat mendengar penuturan dari dokter tersebut.
"Kira-kira, apakah bisa disembuhkan, Dok?" tanya Keysha.
"Penanganan melalui operasi hanya memiliki keberhasilan sekitar enam persen, karena kanker yang anda derita sudah cukup parah. Cara alternatifnya adalah dengan menjalani kemoterapi, hal ini dapat memperlambat pertumbuhan kanker," timpal dokter.
"Tapi, saat ini saya tengah mengandung."
"Kemoterapi maupun obat kanker lainnya cukup keras. Karena usia kandungan anda masih terbilang muda, ini cukup membahayakan bagi janin anda," papar dokter.
Langit menjadi mendung seketika, seakan mengerti atas kesedihan yang dialami oleh Keysha saat ini. Gadis itu menikmati rinai air hujan yang mulai membasahi wajahnya. Ia pun menatap langit sembari mendongakkan wajahnya.
"Kenapa harus aku? Kenapa selalu aku?
Beberapa orang mulai berteduh sementara Keysha beranjak dari tempat duduknya dengan langkah gontai. Seketika Keysha menghentikan langkahnya, lututnya benar-benar terasa lemas, hatinya juga terasa perih.
"Tuhan, ini sangat tidak adil bagiku. Sungguh, aku tak sanggup!" seru Keysha sembari mendongakkan wajahnya.
Gadis itu perlahan kembali bangkit dan berjalan menuju mobilnya. Di dalam mobil, Keysha menangis sejadi-jadinya. Ia menumpahkan semua air matanya, sembari memukul setir yang ada di hadapannya berkali-kali.
"Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak sanggup jika harus kehilangannya lagi," ujar Keysha histeris. Gadis itu menangis tersedu di dalam mobilnya. Ia menenggelamkan wajahnya di setir, sementara pundaknya naik turun.
Setelah cukup lama menumpahkan semua rasa sedihnya, Keysha memilih untuk melajukan kendaraannya menuju ke rumah.
Selama di perjalanan, ia mencoba untuk tidak menangis, akan tetapi air matanya semakin deras saat gadis itu menahannya.
"Mama akan melindungimu Nak," gumam Keysha sembari mengemudi. Ia segera menyeka setiap air mata yang jatuh tertumpah begitu saja.
Setibanya di rumah, Keysha segera bergegas turun dari mobilnya, menuju ke kamarnya. Gadis itu langsung mengguyur tubuhnya dengan air.
Di bawah guyuran air shower ia kembali menumpahkan air matanya. Dadanya sangat sesak jika kembali mengingat kenyataan pahit yang di alaminya.
__ADS_1
Setelah cukup lama berada di dalam kamar mandi, Keysha segera mengganti pakaiannya dan memoles wajahnya dengan make up agar tak terlihat pucat.
Keysha kembali membuka laptopnya untuk melanjutkan cerita yang kemarin ia buat. Saat tangannya menari di atas Keyboard, sesekali gadis itu tampak tersenyum, namun setelahnya ia kembali menitikkan air matanya lagi.
Keysha merasa bahwa dirinya bak orang yang sudah kehilangan akal. Namun, lagi-lagi Keysha disadarkan oleh keberadaan si kecil yang ada di dalam rahimnya saat ini.
Pandangannya pun beralih ke perutnya dan kemudian mengusap anaknya yang masih berbentuk segumpal darah itu.
"Kita jalani semuanya dengan baik ya, Nak. Jangan membuat papa menjadi khawatir dan mengetahui semuanya," gumam Keysha. Dan kemudian ia pun kembali melanjutkan ketikannya.
....
David yang baru saja pulang dari resto melihat istrinya tampak tertidur pulas. Biasanya Keysha memilih untuk menunggunya di ruang tengah atau menghabiskan waktu bersama dengan Dini.
Akhir-akhir ini, ia juga menyadari akan perubahan sikap istrinya itu. Keysha menjadi seseorang yang sering melupakan hal-hal yang baru saja dilakukannya. Biasanya sang istri memiliki daya ingat yang kuat, tetapi David merasakan perbedaan yang terlalu drastis.
David mengecup kening istrinya, membuat Keysha menggeliat dan kemudian perlahan membuka matanya.
"Kau baru pulang?" tanya Keysha sembari mengusap matanya.
"Iya, mengapa wajahmu terlihat lelah sekali?" tanya David yang mulai curiga.
"Padahal aku tidak melakukan aktivitas berat, hari ini aku hanya sibuk melanjutkan tulisanku saja," sambung Keysha.
"Jika menulis membuatmu kelelahan, sebaiknya jangan kau lakukan itu."
"Tapi Sayang, aku mulai menyukainya," sanggah Keysha.
"Kau bisa melakukannya nanti, jangan terlalu dipaksakan," sahut David.
Seketika Keysha terdiam dengan ucapan David. "Jika tidak sekarang, maka aku benar-benar tidak bisa menyelesaikannya. Tubuhku kelak akan semakin melemah, ingatanku juga tak sesempurna dulu. Waktuku tinggal sebentar lagi, lantas kapan jika bukan saat ini?" gumam Keysha dalam hati.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya David saat melihat istrinya melamun.
"Ah iya, aku baik-baik saja. Kalau begitu aku akan melihat Dini di kamarnya terlebih dahulu," ujar Keysha yang baru saja hendak beranjak dari tempat tidurnya, akan tetapi dengan cepat David meraih tangan istrinya.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Key?" selidik David.
"Kau selalu saja menghindar kontak mata denganku," sambung pria itu.
__ADS_1
"Itu hanya perasaanmu saja, Sayang. Ini aku tidak menghindarimu," ucap Keysha sembari menatap suaminya dengan seksama.
"Aku baru saja dari kamar Dini. Dia sudah tertidur, sebaiknya kau duduklah di sini. Aku ingin menyapa anak kita." David menepuk kasur yang ada di sebelahnya.
Keysha menuruti ucapan suaminya, gadis itu duduk di sebelah David.
Perlahan David mengusap perut istrinya. "Kesayangannya Papa, jaga mama baik-baik ya Nak. Jangan membuatnya kelelahan," ucap David yang kemudian mendaratkan kecupan di perut Keysha.
Tesss...
Seketika air mata Keysha jatuh menetes begitu saja. Melihat David yang begitu menyayangi anak yang ada dalam perut Keysha, membuat gadis itu merasa sedih.
Suaminya tak mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahkan Keysha pun tak dapat berucap untuk mengatakan semuanya yang akan membuat hati David hancur seketika.
David menatap Keysha saat air mata istrinya itu jatuh di wajahnya. "Kenapa kau menangis?" tanya David.
Dengan segera Keysha menyeka jejak air mata yang ada di pipinya. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa teramat senang dengan kehadirannya membuat hidup kita menjadi lengkap," ujar Keysha.
"Iya, aku sangat mengharapkan kehadirannya. Namun, jika ditanya tentang rasa sayangku antara kau dan anak kita, aku lebih memilihmu Key," ucap David sembari tersenyum.
Mata Keysha berkaca-kaca, hatinya hancur saat mendengar ucapan suaminya itu. Tangan David terulur untuk langsung menyeka jejak air mata sang istri.
"Bagaimana jika di posisimu? Apakah jawabmu akan sama denganku?" tanya David.
Perlahan Keysha pun menggelengkan kepalanya. "Maaf, tapi aku lebih menyayanginya," ujar Keysha seraya terkekeh.
David mencebikkan bibirnya, ia pun langsung mendekat pada perut Keysha. "Nak, papa sangat iri padamu," ucap pria itu.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️❤️❤️
yang belum favorit, yuk di favoritkan supaya dapat notifikasi update terbarunya~
__ADS_1