
Singkat cerita, hari ini merupakan hari persidangan perceraian antara Kevin dan Keysha. Kevin datang bersama dengan kuasa hukumnya sementara Keysha didampingi oleh kedua orang tuanya.
Sesekali Kevin mengarahkan pandangannya pada istrinya yang tengah tertatih melangkahkan kaki dengan tongkat yang memandu jalannya.
Istri? saat ini mungkin ia masih menganggapnya seorang istri karena dalam hitungan beberapa menit lagi keduanya dinyatakan bukanlah sepasang suami istri lagi.
"Apakah kau akan bahagia setelah ini?" ucap Kevin dalam hatinya.
Sungguh ia masih sangat berat melepaskan Keysha. Akan tetapi pria itu harus merelakannya.
Keduanya pun kini berada di ruang sidang, menghadap hakim yang saat ini tengah memberikan beberapa pertanyaan. Dan sesaat kemudian ketukan palu dari hakim pun amat nyaring terdengar. Bersamaan dengan hancurnya hati Kevin saat menatap Keysha. Pria itu sungguh tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Air mata sempat jatuh di pipinya, namun dengan cepat pria itu menyekanya.
Persidangan pun telah usai. Kini Kevin melangkahkan kakinya dengan gontai keluar dari kantor pengadilan. Saat berada di depan, pria itu berpapasan dengan sang istri. Ralat!! mantan istrinya.
Kirana melihat Kevin dan kemudian mengajak Danu untuk membiarkan keduanya berbicara.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Kevin.
"Jauh lebih baik, seperti yang kau lihat." timpal Keysha.
"Aku harap setelah ini kau menemukan pria yang benar-benar menjagamu, tidak seperti diriku." lirih Kevin.
Keysha mengembangkan senyumnya. Ia tak bisa berbohong bahwa saat ini dirinya juga diselimuti oleh rasa sedih yang mendalam.
Namun tetap saja ini semua harus ia lakukan. Kevin tak bisa hidup dengan mencintai dua wanita sekaligus. Keysha memberikan ruang untuk Icha berbahagia, karena selama ini dirinyalah yang berbahagia diatas penderitaan Icha.
Cukup lama keheningan tercipta diantara dua insan yang kini tengah menyelami pikirannya masing-masing. Kevin mengarahkan pandangan pada Keysha dengan seksama sembari menahan rasa sakitnya. Ia menatap mantan istrinya itu dengan sepuasnya karena ini adalah terakhir kalinya untuk mereka bertemu dan berbincang.
"Aku tahu jika ini sedikit tak pantas, namun bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" pinta Kevin sembari menggigit bibirnya, agar tangisnya tak terdengar oleh wanita yang ada dihadapannya.
Keysha mendengar nada bicara mantan suaminya itu tampak bergetar. Meskipun tak dapat melihat secara langsung, akan tetapi Keysha tahu jika saat ini Kevin tengah menangis.
Perlahan Keysha menganggukkan kepalanya. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Setelah mendapatkan persetujuan, tanpa menunggu lama Kevin segera merengkuh tubuh Keysha. Membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
"Terima kasih karena sudah mendampingiku selama ini. Aku pria bodoh yang tak pantas untuk mendapatkan dirimu. Setelah ini berbahagialah, kau pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku." ujar Kevin. Tangis yang sedari tadi coba ia tahan, kini pecah seketika.
__ADS_1
Keysha merasakan pundaknya basah. Kevin sungguh menangis karena perpisahan ini. Tanpa sengaja air mata Keysha ikut jatuh. Ia membalas pelukan dari mantan suaminya.
"Bukan karena kau yang tidak sempurna, tapi karena takdir yang tak berpihak pada kita. Terima kasih juga karena telah menerimaku. Ku harap kau lebih berbahagia di kehidupanmu yang baru." ucap Keysha.
Mendengar hal itu membuat Kevin semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintaimu, Keysha. Aku mencintaimu..." Kevin hanya mampu mengucapkan hal itu dalam hatinya.
Ingin rasanya ia menyerukan kalimat tersebut, akan tetapi semuanya tak akan berubah. Keysha sudah bukan miliknya lagi.
Perlahan Kevin melonggarkan pelukannya. Meskipun tak wajar, pria itu memberanikan dirinya untuk mengecup kening Keysha.
Gadis itu diam mematung sembari memejamkan matanya. Meskipun Kevin tak mengucapkannya secara langsung, Keysha sudah tahu apa yang dirasakannya dari sikap pria itu padanya.
"Mulai hari ini, kau bukan milikku lagi. Dan mulai detik ini, aku melepaskanmu." ujar Kevin sembari mengusap surai panjang milik Keysha.
Sesaat kemudian, pria itu pun berlalu dari hadapan Keysha. Kedua orang tua Keysha datang menghampiri anak gadisnya. Keysha menggenggam tongkat pemandunya dengan kuat untuk menahan tangisnya di depan kedua orang tuanya.
"Ma, bisakah kita kembali ke Indonesia secepatnya?" tanya Keysha pada Kirana.
"Besok kita akan kembali ke Jakarta." ujar Kirana.
Mereka bertiga pun melangkah pergi dari tempat tersebut.
Di perjalanan pulang, Keysha membiarkan kaca mobil terbuka. Semilir angin menerpa wajahnya. Gadis itu memejamkan matanya, mencoba merasakan suasana di luar dengan imajinasinya.
Sekelebat bayangan tentang masa lalu pun menghinggapi dirinya. Masa-masa dimana saat ia bersama dengan Kevin, saat anaknya masih bersemayam dalam rahimnya. Dan saat kecelakaan tersebut menimpanya.
Rasa sakit akan kehilangan masih menyayat hatinya hingga kini. Dan sekarang, ia juga harus merelakan sang suami untuk wanita lain.
Meskipun perpisahan ini adalah keinginannya, namun tetap saja tak ada yang indah dari hal itu. Walaupun cara terbaik dengan berpisah, akan tetapi masih tetap menorehkan luka di hati.
Kirana sedari tadi memandangi anak gadisnya. Ia tak berani berucap apapun. Wanita itu membiarkan Keysha tenggelam dalam pikirannya sendiri. Setelah melihat adegan di depan kantor pengadilan tadi, Kirana paham bahwa keduanya memiliki rasa namun entah mengapa mereka memutuskan untuk berpisah.
"Mengapa kalian memilih jalan yang sulit?" ujar Kirana dalam hati.
__ADS_1
....
Mereka bertiga sampai di sebuah penginapan. Keysha memilih untuk beristirahat dan membaringkan tubuhnya yang lelah.
Ia beberapa kali mencoba mengerjapkan matanya. Terkadang penglihatannya terlihat buram dan terkadang semuanya gelap.
Matanya kian memburuk, gadis itu masih enggan menerima pendonor. Beberapa waktu lalu pihak rumah sakit menghubungi keluarga Keysha, yang memberitahukan bahwa Keysha sudah bisa menerima donor mata. Namun lagi-lagi gadis itu menolaknya.
Gadis itu enggan menerimanya karena satu hal. Jika ia dapat melihat seperti sedia kala, maka rasanya lebih menyesakkan lagi. Ia belum sanggup untuk dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia telah kehilangan anaknya.
Dengan kehilangan penglihatannya, Keysha dapat berangan-angan bahwa saat ini ia sedang dalam kondisi hamil besar, semua mata menatap ramah padanya dan ikut berbahagia dengan kehamilannya.
Keysha tersenyum membayangkan hal itu. Ia hidup dalam dunianya sendiri. Kehilangan penglihatannya membuat dirinya selalu berfantasi.
"Mulai hari ini, kau bukan milikku lagi. Dan mulai detik ini, aku melepaskanmu."
Kalimat itu kembali terngiang di telinganya. Sesaat kemudian gadis itu pun meneteskan air mata. Keysha tak menampik bahwa ia sedih karena telah berpisah dari Kevin.
Keysha menghembuskan napasnya dan kemudian mengeluarkannya perlahan.
"Bukankah ini keinginanmu? seharusnya kau berbahagia karena dia sudah mewujudkannya." gumam Keysha sembari menghapus air matanya.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️
Klik favorit untuk mendapatkan notifikasi update nya ❤️
Oh ya, aku lupa. Jika berkenan yuk mampir juga di karya temen aku yg ini. Kalau udah mampir jgn lupa untuk tinggalkan jejak kalian di kolom komentar. Terima kasih❤️
__ADS_1