
Aston tidak mengetahui jika Alexa mendengarkan percakapan mereka, ia sangat menyesal karena tadi menerima ajakan Dania untuk bertemu dengannya di tempat ini.
"Lexa, aku bisa jelaskan padamu, semua tidak seperti yang kau dengarkan, aku mohon kamu jangan marah padaku," ucap Aston, dengan menarik tangan Alexa lalu menci_um tangannya. Agar wanita itu berhenti memasang wajah buruk.
Lexa membuang tangan Aston yang mencoba menggenggam eratnya, ia tidak ingin lagi melihat wajah mereka, wanita yang kini tidak bisa meredam emosinya, berjalan begitu saja meninggalkan mereka tanpa bicara. "Lupakan aku Aston!"
Alexa setengah berlari, berusaha menjauhi Aston pria yang saat ini dibencinya. Iya masih belum menerima, Jika dia adalah istri pria pendusta. Pria yang selama ini ia cari, sebagai pria yang menganiaya di hotel itu ternyata terapi yang sama.
"Alexa tunggu!" Teriak Aston mengejar Alexa.
Wanita itu tidak mendengarkan teriakan Aston yang sudah berlari lebih cepat darinya dan kali ini ia sudah menghadangnya di depan. "Pergi kamu Aston! Kamu pembohong! Seharusnya aku tahu jika kau tidak melakukan itu, itu hanya video palsu, dan aku tidak hamil! Pergi kau pembohong!"
"Kau mau kemana? Tidak semudah itu kau pergi dariku! Kau sudah menjadi istriku, dan selamanya kau akan bersamaku Alexa! Aku sudah memperjuangkanmu sejak lama, kali ini aku tidak akan membiarkan dirimu sendiri atau siapapun menghancurkan hubungan ini! Aku sangat menggilai mu, sejak dari pertama aku melihatmu di bangku kuliah dulu, kamu harus menepati janjimu untuk bersamaku selamanya!" jelas Aston, berkata sambil menggertakkan gigi giginya, kedua bola matanya bulat sempurna menatap Alexa.
Wanita itu ketakutan, tidak biasanya Aston berbicara dengan mengancam seperti sekarang ini, layaknya ia kali ini memiliki kepribadian ganda.
"Lepaskan tangan ini Aston! Kau menyakitiku!" kata Lexa, dengan mencoba membuang genggaman tangannya. Tapi tangan pria itu sangat erat hingga ia tidak bisa lepas darinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, dan aku tidak ingin kau menjadi istri pembangkang, sudah menjadi milikku dan selamanya akan menjadi milikku! Ngerti kamu Alexa!" ucapnya dengan nada tinggi.
"Aku mohon lepaskan, kau menyakitiku, sakit Aston! Ah sakit!" Pinta Alexa, ia merintih, sementara Aston makin erat menggenggamnya.
"Kita pulang!" ajaknya kemudian.
__ADS_1
Lexa menggelengkan kepala. "Tidak! Aku tidak mau pulang ke rumah pria pembohong sepertimu! Sungguh kau pria pendusta! Aku membencimu, Aston! Lepas! Lepas!"
"Ikut bersamaku atau kau akan merasakan akibatnya, Alexa! Aku sudah lelah menjadi pria baik, aku tidak mau berpura-pura lagi, pulang atau hal buruk terjadi padamu!" ancam Aston, dengan menggeret tangannya dengan cara paksa.
Alexa tetap bersikukuh ingin berusaha lepas darinya. Hingga beberapa orang melihatnya dan ingin membantunya, Aston menegaskan mereka untuk tidak ikut campur, karena wanita itu adalah istrinya. Jadi terserah ia mau apakan Alexa. Mereka tidak ada yang bisa membantunya.
Sementara Dania tertawa melihat Lexa diperlakukan kejam oleh Aston, ia sudah melihat Aston kembali menjadi pria yang semula ia kenal. "Mampus kau Lexa!"
Aston berhasil membawanya masuk ke dalam mobil, dan melaju menuju kediamannya kembali. Ia sering berbicara kasar padanya, kali ini Lexa sangat tidak mengenal suaminya itu. "Aston, berhenti! Aku mau turun di sini saja, ku mohon!"
Dengan fokus pada kemudi nya, ia bergantian melihat jalan depan dan Lexa. "Berhenti bersuara! Atau aku lempar secara dramatis dari sini sekarang!" teriaknya dengan menatap tajam ke arahnya.
'Aku takut sekali, apa yang akan diperbuatnya setelah aku sampai di rumah nanti, aku takut pria itu menyakitiku, bagaimana caranya aku bisa lepas dari pria psikopat ini. Oh Tuhan, seharusnya tadi, aku tidak menunjukkan diriku pada nya, seharusnya aku lari saja, aku tidak bisa berbuat apapun sekarang.' Hanya bisa berkata dalam hati saja Lexa saat ini. Ia melihat pandangan Aston mengerikan.
Sesampainya di kediaman Aston..
Aston memandang dengan tatapan menakutkan. "Jangan ikut campur wanita tua! Minggir kau!" Aucap Aston pada Bibi, dengan mendorong tubuh wanita tua itu hingga tersungkur jatuh kelantai.
Lexa terkejut, perlakuan Aston bukan buruk saja padanya, pada Bibi Ijah yang setia bersamanya pun dia seperti itu. "Aston! Kamu keterlaluan, lihat Bibi Ijah ia terluka!"
Aston tidak memperdulikan ucapan Lexa, ia berjalan saja dengan menarik tangannya dan melemparkan tubuh Lexa ke kamar dan menguncinya.
"Buka pintunya, Aston buka! Keluarkan Aku dari kamar ini. Aku ingin mencari Sean!" Teriak Alexa dengan menggebrak pintu kamar. Berharap pria psikopat itu membuka pintunya.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengeluarkanmu dari kamar ini sampai kapanpun! Apalagi mengizinkanmu menemui pria breng_sek itu!" Suara Aston lebih tinggi dari teriakan Alexa.
Ia terjatuh dan menyandarkan punggungnya di belakang pintu. Brak! Brak! Brak!
"Aston! Keluarkan aku dari sini Aston!"
Aston tidak mendengarkan lagi teriakan Alexa karena ia sudah pergi dari sana. Lexa hanya berharap, ia bisa pergi dari pria itu.
Saat Aston tidak berada di kediamannya. Terdengar suara Bibi Ijah membuka pintu pelan kamar Alexa.
"Nyonya, cepat segeralah keluar dari rumah ini karena tuan Aston tidak ada di rumah. Bibi tidak ingin Tuan menyakitimu. Jika Tuan sudah murkas seperti itu dia bisa melakukan segala hal di luar kendalinya," kata bibi Ijah dengan sesekali melihat ke kanan dan ke kiri takut pria itu muncul begitu saja di hadapan mereka.
Entah Alexa harus berkata kepada asisten rumah tangga Aston itu, ia mengembangkan kedua sudut bibirnya. "Terima kasih ya Bibi Ijah, aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini."
Bibi Ijah tersenyum seraya berkata, " Sama-sama Nyonya, cepat segeralah pergi, sebelum Tuan kembali pulang."
Alexa menganggukkan kepalanya, dan pergi, "Bik, apa kamu nantinya tidak apa-apa, jika Aston mengetahui kau yang membebaskanku?"
"Sudah, jangan pikirkan Bibi Ijah, Bibi akan atasi semuanya. Nyonya berhati-hatilah!" Pesannya.
Kedua kaki Alexa segera berjalan cepat meninggalkan kediaman Aston Marck. Dia berlari melewati pintu gerbang rumah suaminya. Ia berlari sembari tersenyum, ia akan pergi dan mencari Sean. Dalam pikirannya hanya akhir bahagia bersama kekasihnya itu.
"Sean, aku datang. Tunggulah aku!" Dengan segala cara ia menumpang beberapa mobil dan motor orang-orang yang kebetulan berlalu darinya.
__ADS_1
Berjam-jam ia menapaki jalanan yang sudah asing darinya, saat ini ia melewati jalanan sepi tanpa kendaraan yang berlalu darinya.
Matahari sudah akan bersembunyi dari tempat ia beredar, sunrise terlihat gemilang di ufuk barat. Ia berhenti dan melihat Surya akan berganti sinar rembulan. "Indahnya, aku ingat saat akan bersamamu Sean."