
"Mulai saat ini, kau tidak perlu menyembunyikan identitasmu. Sedari awal, aku sudah mengetahui dirimu, David," ucap Keysha.
David pun mematung seketika. Seakan tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Keysha.
"Sejak kapan?" tanya David.
"Sejak kapan kau mengetahuinya?!" pria itu mengulangi ucapannya dengan intonasi yang tinggi.
"Sejak pertama kali, saat insiden pelayan menabrakku. Aku mengenali suaramu," ucap Keysha.
David mengusap wajahnya dengan kasar."Mengapa kau... kau seperti tak mengenaliku sama sekali. Apakah ini sangat menyenangkan bagimu?"
"Bukankah kau juga mencoba untuk menjadi orang lain. Aku mengikuti permainanmu," timpal Keysha.
"Jangan membuat alasan yang tak masuk akal!"
"Aku bersungguh-sungguh." Keysha tak mau kalah. Memang alasan itulah membuat gadis tersebut melangkah sejauh ini.
"Sudahkah puas kau membodohiku seperti ini?"
"Bukan hanya aku saja, tapi kau juga berniat membodohiku, David."
Acara suap-suapan serta momen manis lainnya berujung dengan sebuah percekcokan.
"Apakah karena kau mengasihaniku? maka dari itu kau melakukan segalanya untukku dengan alasan sebuah tanggung jawab akibat kecelakaan kecil itu," tebak Keysha.
"Iya, aku mengasihanimu karena dirimu terlalu menyedihkan!" tukas David.
DEGGG...
Keysha seakan baru saja dihantam oleh batu. Ucapan David sangat menyakitkan baginya.
"Mengapa kau membuat hidupmu rumit? Jika kau tidak ingin dikasihani oleh orang lain, jangan membuat dirimu terlihat menyedihkan!"
"Dengan tingkah bodohmu itu, kau hanya menyusahkan orang lain, membuat hidupmu seakan tak berguna, apakah itu adalah tujuanmu?" kata-kata pedas terus saja keluar dari mulut David membuat gadis yang ada dihadapannya tak mampu membendung air matanya lagi.
"Cukup David!" sergah Keysha.
Gadis itu meraba tongkat pemandu yang ada di sampingnya. Ia pun berjalan menjauhi David. Ucapan pria itu terlalu menusuk, namun Keysha akui bahwa semua yang dikatakan oleh David memang benar adanya. Hanya saja ia tak ingin David mengkritik hidupnya lebih jauh lagi.
Langkah Keysha semakin menjauh, David yang merasa bersalah pun diam-diam mengikuti gadis itu dari belakang. Bahkan Keysha salah arah untuk jalan pulang, namun David tetap mengikutinya.
__ADS_1
Keysha yang memang tak melihat, ia melangkah dengan sembarang tanpa sengaja, kakinya tersandung oleh batu yang membuat gadis itu tersungkur seketika.
Keysha menangis tersedu, David yang melihat hal tersebut langsung menolong Keysha. Akan tetapi, baru saja David memegang tangan gadis itu, dengan cepat pula Keysha menepisnya.
"Pergi saja! Tidak usah memperdulikanku lagi!" teriak gadis itu sembari berurai air mata.
David tetap memaksakan diri, tak perduli dengan sikap yang Keysha tunjukkan terhadapnya.
"Pergi!!" Keysha mendorong David yang membuat pria itu hampir terjungkal. Beberapa orang memperhatikan keduanya, namun David tak menggubris tatapan mereka.
David kembali bangkit, ia langsung menggendong tubuh Keysha, seakan tubuh gadis itu sangat ringan, seringan kapas.
Keysha memberontak, David tetap menggendong gadis itu. Pukulan atau pun cubitan dari Keysha tak membuat dirinya menyerah begitu saja. Hingga pada akhirnya, Keysha lah yang menyerah sendiri akan sikap keras kepalanya.
"Mengapa kau masih memperdulikanku! seharusnya kau tak bersikap seperti ini," ujar Keysha tersedu.
David menggendong Keysha, membawa gadis itu ke mobil. Pria itu mengambil kotak p3k yang ada di mobilnya. Mengobati lutut Keysha yang terluka akibat terjatuh tadi.
Dengan perlahan, David membersihkan luka Keysha menggunakan air bersih. Sesekali Keysha mengernyitkan keningnya karena merasa pedih. Setelah itu David mengelapnya dengan tisu, perlahan ia pun mengoleskan salep antibiotik pada luka Keysha dan meniupnya agar tak terlalu perih. Lalu kemudian membalutnya dengan perban.
Sikap hangat David membuat Keysha terenyuh. Ada rasa bersalah di dalam dirinya karena sudah berlaku kasar pada pria yang ada dihadapannya.
"Maafkan aku karena sudah bersikap kasar padamu," ujar Keysha.
"Aku juga salah karena tak berkata jujur. Tapi aku takut, jika nanti kau akan semakin menjauh dariku. Aku terlalu serakah karena ingin membuatmu berada di dekatku. Seharusnya saat ini aku tak lagi mengganggumu, tapi...."
Keysha belum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba David mendaratkan sebuah kecupan di keningnya. Bibir lembut dan hangat itu cukup lama menempel di keningnya.
Keysha memejamkan matanya, kecupan itu membuat hatinya menghangat seketika. David juga mendaratkan bibirnya di kedua mata Keysha. Pria itu menghapus jejak air mata yang ada di wajah cantik gadis masa lalunya itu.
"Kau tahu, sedari dulu aku menyukai mata indahmu. Akan tetapi, aku lebih menyukai jika kau kembali menatapku dengan tersenyum," ucap David lembut.
"Bukan hanya kau yang serakah, aku juga menyadari bahwa diriku sama sepertimu. Awalnya aku hanya ingin memastikan, apakah aku hanya merasa iba karena melihat kondisimu yang seperti ini. Namun, semakin lama aku semakin ingin menjagamu, dan hati kecilku berkata bahwa aku tak bisa meninggalkanmu begitu saja," ujar David.
Setetes air mata jatuh di pipi Keysha. David segera mengusap bulir bening yang membasahi wajah gadisnya itu.
"Jangan menangis, aku lebih suka melihatmu tersenyum," sambung pria itu.
Keysha mengangguk pelan.
"Jika sudah ada pendonor, sebaiknya lakukan operasi pengangkatan kornea. Jangan menolak lagi untuk melakukannya karena kejadian yang lalu," pungkas David.
__ADS_1
"Kau sudah mengetahuinya?" tanya Keysha.
"Pak Danu yang memberitahukan semuanya padaku," ungkap David.
"Kau juga harus melanjutkan hidupmu, jika kau terus hidup seperti ini, selalu meratapi nasibmu yang kemarin kau tidak akan pernah bisa bangkit, Key. Berpikir lah positif, ayo bangkit! dan lekaslah lakukan operasi demi kesembuhanmu."
Keysha menghela napasnya berat, gadis itu berpikir sejenak dan tak lama kemudian mengangguk pelan.
Melihat hal tersebut, membuat David bahagia. Ia langsung merengkuh tubuh Keysha tanpa permisi. Ia berhasil membujuk gadis yang ada dihadapannya ini melakukan penyembuhan pada matanya.
"Aku akan mendaftarkan mu di beberapa rumah sakit sebagai pasien penerima donor. Jika suatu saat nanti sudah ada pendonor, kau tidak boleh berubah pikiran lagi, karena kau sudah berjanji padaku," ujar David.
"Baiklah," ucap Keysha sembari tersenyum.
David menarik pangkal hidung Keysha dengan gemas, sama seperti yang ia lakukan waktu dulu. Keduanya pun berbincang dan sesekali tergelak tawa.
Setelah dirasa hari sudah mulai sore, David kembali membawa Keysha menuju ke resto terlebih dahulu karena tas gadis itu tertinggal di ruangannya.
"Ikut bersamaku atau tetap berada di dalam mobil?" tanya David.
"Ah, sebaiknya ikut dulu bersamaku. Aku akan membuatkanmu sesuatu," ujar pria itu.
Keysha menggeleng pelan, namun David tetap memaksa. Pria itu membuka pintu mobilnya dan langsung menggendong tubuh Keysha keluar dari mobil tersebut.
"Turunkan aku, meskipun tak bisa melihat, aku bisa menebak banyak mata yang menatap ke arah kita," bisik Keysha.
BRAKKK...
Sebuah buket bunga terlepas jatuh ke tanah. David berbalik menatap sosok yang ada di belakangnya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️
__ADS_1
Klik favorit untuk mendapatkan notifikasi update terbarunya~