
Setelah cukup lama berkeliling, ketiga orangbtersebut memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, Keysha sudah terlelap berada di kursi depan sementara Indah duduk sendiri di belakang.
"Dia sangat kelelahan," gumam Indah sembari membenarkan posisi kepala gadis itu yang hampir membentur pintu mobil.
David tersenyum menatap Keysha yang dengan mudahnya tertidur.
Keheningan cukup lama tercipta, kedua orang yang masih dalam keadaan sadar tak banyak berbicara.
"Aku akan kembali besok," ucap Indah membuka pembicaraan.
"Mengapa begitu cepat? Kau tidak ingin berlama-lama di sini?" tanya David.
"Sulit bagiku, Vid. Meskipun aku mencoba berdamai dengan keadaan, tapi hatiku masih merasa sedikit sakit. Ya mungkin aku butuh waktu untuk melupakan semuanya." Indah menatap ke arah luar jendela, matanya sedikit memerah tetapi gadis itu bisa menahan air matanya agar tak tumpah.
"Maafkan aku...." David menatap Indah dari pantulan kaca. Hanya kata maaf lah yang bisa ia katakan, karena untuk mengobati luka Indah, pria itu tak bisa melakukannya.
"Tak apa, aku harap tak ada lagi kecanggungan diantara kita. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Vid. Kau yang bisa tersenyum bahagia saat melihatnya. Aku harap kau tak akan menyakiti Keysha," ujar Indah.
"Aku janji," timpal David.
Tesss....
Setetes air mata jatuh di pipi Keysha. Saat ini posisi gadis itu tidur menyamping, jadi tak ada yang tahu bahwa Keysha tengah menitikkan air mata.
Sedari tadi ia menutup matanya bukan karena gadis itu mengantuk atau pun tidur. Ia hanya berpura-pura melakukan hal ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dari awal Keysha menduga bahwa ada sesuatu antara David dan Indah. Kini ia pun mengetahui semuanya.
"Maafkan aku, Kak. Aku tak seharusnya berbuat seperti ini," batinnya.
Mobil yang dikendarai oleh David tiba di salah satu hotel tempat Indah menginap. Setelah mobil berhenti, gadis itu pun langsung bersiap untuk turun.
"Besok biarkan kami mengantarmu, meskipun itu sulit tapi ku mohon ini demi Keysha," ujar David.
Indah mengangguk seraya mengulas senyumnya. Gadis itu pun langsung turun dari mobil. David menatap ke arah Keysha yang sedari tadi tidur membelakanginya. Pria itu baru saja hendak membenahi kursi agar Keysha lebih nyaman, namun ia menyadari pundak Keysha bergetar.
"Sayang, ada apa?" tanya David lembut.
Keysha berbalik, pipinya sudah basah karena air mata. Melihat hal tersebut, sontak membuat David terkejut.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Kenapa menangis?" tanya David.
Gadis itu masih tersedu. Tangan David langsung tergerak untuk menghapus air mata kekasihnya. Dan kemudian ia pun membawa Keysha ke dalam pelukannya.
"Kenapa kau tak berkata jujur, hiksss,..."gumam Keysha di sela tangisnya.
"Maksudmu apa? Sungguh aku tak mengerti," ujar David menatap wajah kekasihnya.
"Jika kau masih mencintai Kak Indah, datanglah padanya. Jangan hanya karena merasa kasihan dengan kondisiku yang sekarang, kau menyia-nyiakannya," ujar Keysha.
David mengusap surai panjang Keysha. "Baiklah, aku berkata jujur. Aku sama sekali tidak mencintainya. Dulu aku memang pernah menjalin hubungan dengannya, tetapi itu hanya untuk melupakanmu. Diantara kami berdua semuanya telah selesai. Baik itu Indah atau pun aku. Jika pernyataanku masih meragukanmu, aku akan menghubungi Kak Indah untuk berbicara bertiga, agar semuanya jelas," tukas David.
Keysha menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Gadis itu mencoba meredam tangisnya.
"Sungguh, kalian putus bukan karena kau merasa kasihan padaku?" tanya gadis itu lagi.
"Sungguh, Key," ucap David serius.
Cukup lama David menatap ke arah Keysha. " Sekarang, apakah kau sudah mempercayaiku?" tanya David.
Keysha menganggukkan kepalanya. "Sudah, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Jangan menangis lagi,"ucap David menarik puncak hidung Keysha. Pria itu pun kembali melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah kekasihnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh David memasuki pekarangan rumah Keysha. Di lihatnya Danu dan Kirana menunggu kepulangan anak gadisnya di teras rumah.
"Maaf Pak, Bu, karena tidak pulang di waktu yang tepat," ujar David.
"Tidak apa-apa, Nak David. Santai saja, lagi pula kami juga sangat berterima kasih karena sudah mengajak Keysha pergi," ucap Kirana.
David menyunggingkan senyumnya merespon ucapan Kirana. "Kalau begitu, saya permisi dulu Pak, Bu," ujar David.
"Tidak mampir dulu atau sekedar singgah untuk minum kopi?" kini beralih Danu yang bersuara.
"Tidak Pak, mungkin lain kali saja. Soalnya hari sudah cukup malam," tandas David.
"Ya sudah kalau begitu berhati-hatilah," ucap Danu.
"Saya pamit dulu, Pak, Bu," ujar David meraih punggung tangan kedua orang tua Keysha.
"Key, aku pulang ya," ucap pria itu pada kekasihnya.
__ADS_1
Keysha mengangguk, " Hati-hati di jalan," ujar Keysha.
David kembali memasuki mobilnya. Pria itu pun melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke rumahnya.
Di perjalanan pulang, David kembali mengingat wajah Keysha saat menangis tadi. Ada rasa bersalah dalam dirinya saat gadis itu menangis karena ulahnya. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa Keysha terlihat seperti anak kecil yang menggemaskan.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. David menatap sekilas siapa yang meneleponnya. Namun, saat panggilan tersebut dari Reyhan, dengan cepat pria itu menepikan mobilnya.
Sebelum mengangkat telepon, David berharap bahwa Reyhan akan membawa kabar baik.
"Halo...." ujar suara dari seberang telepon.
"Ada apa, Kawan?" tanya David.
"Apakah sudah ada kabar tentang ucapanku kemarin?" tanya pria itu lagi.
"Untuk pendonor, aku belum mendapatkan kabar apapun dari rumah sakit. Tapi nanti setelah ada pendonor, aku segera memberi kabar padamu," ujar Reyhan.
"Baiklah, aku akan menantikan kabar baik darimu. Lantas, ada apa kau meneleponku?"tanya David.
"Emmm ... begini, bisakah kau memecat Irene dari pekerjaannya?" ujar Reyhan.
David terkejut saat mendengar apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. "Kinerjanya baik, lantas bagaimana aku bisa memecatnya?" balas David terkejut.
"Ayolah, demi pertemanan kita dan demi perjuanganku, pecatlah gadis itu," pinta Reyhan.
David menggelengkan kepalanya, entah mengapa sahabatnya yang satu ini memang sedikit berbeda. "Baiklah, tapi jika ia menanyakan alasannya, aku tetap berkata bahwa kau yang memintanya," tutur David.
"Terserah, pokoknya buat dia berhenti dari pekerjaan itu."
Sambungan telepon terputus, David segera mengetikkan pesan singkat untuk Irene sesuai dengan arahan yang dikatakan oleh Reyhan tadi. Setelah melakukan hal tersebut, pria itu kembali melajukan mobilnya membelah jalanan malam kota itu.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ♥️
klik favorit untuk mendapatkan notifikasi update terbarunya~