
Riko membeku usai mendengarkan siapa yang saat ini tengah berbicara. Baru saja ia hendak menelepon Kevin, namun pria itu lebih dulu menghubunginya. Riko langsung menjawab panggilan tersebut.
"Riko, selamatkan anak dan istriku segera karena dalang dibalik penculikan tersebut adalah papaku sendiri." ujar Kevin dari seberang telepon. Terdengar dari nada bicaranya bahwa pria itu tampak sangat panik.
"Aku akan pulang siang ini juga. Papa sudah menuju ke sana. Katakan pada anak buahmu agar membawa Icha dan Varo ke luar dari tempat itu!" tukasnya lagi.
Kevin mengerutkan keningnya karena tak mendapat respon apapun dari Riko.
"Kau mendengarku?"
"Maaf, Tuan. Tapi Tuan besar baru saja membunuh anak buahku. Dia sempat memberitahukan ku namun setelahnya dia mati tertembak." jelas Riko.
Kevin mengusap wajahnya dengan frustasi. Iya, pria itu benar-benar kehilangan akal saat ini. Ingin rasanya memaki-maki Riko saat itu juga karena tak mendengarkan ucapannya sedari awal.
"Bukankah aku menyuruhmu sedari kemarin untuk mengeluarkan Icha dan Varo? inikah yang kau sebut strategi yang baik?!" Kevin langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia kembali mengemasi barang-barangnya dengan asal. Dan menarik koper itu bersamanya untuk keluar.
Persetan dengan tiket yang mengantarkan keberangkatannya siang ini, intinya ia ingin malam ini juga sudah berada di tempat tersebut.
....
Keysha yang baru saja mematikan televisi langsung terkejut saat melihat Riko bergegas keluar dengan raut wajah yang pucat karena ketakutan. Gadis itu pun mencoba mengikuti Riko hingga keluar.
"Ada apa? mengapa kau tampak gusar seperti itu?" tanya Keysha penasaran.
"Nyonya, lebih baik Nyonya di rumah saja karena ada sesuatu yang harus saya urus. Nyonya jangan pergi kemana pun sementara saya di luar rumah. " ucap Riko. Pria itu menghidupkan mesin mobilnya dan langsung menuju ke jalanan.
Sementara Keysha memandang kepergian Riko dengan heran. Entah dia merasa ada sesuatu yang besar terjadi pada pria itu. Gadis itu menatap ke layar ponselnya. Ia pun mencoba menghubungi Kevin lagi setelah tadi ia mencoba namun tak ada respon. Kali ini suaminya mengangkat panggilan tersebut. Seketika raut wajah Keysha berubah menjadi sangat senang.
"Susah sekali menghubungimu." gerutu Keysha saat panggilan tersebut di jawab oleh Kevin.
"Aku akan pulang malam ini juga." setelah berucap demikian suaminya itu langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
Keysha tertegun sejenak, gadis itu merasa kali ini ada sesuatu yang terjadi. Namun ia tak mengetahui tentang hal tersebut.
"Nyonya, kami diperintahkan oleh Pak Riko untuk tidak memperbolehkan Nyonya berada terlalu lama di luar rumah." ujar kepala pelayan.
__ADS_1
Keysha melirik ke arah pelayan tersebut. Ia pun mencoba menanyakan sesuatu yang terjadi pada pelayan itu.
"Aku merasa akhir-akhir ini penjagaanku terlalu ketat, bukankah kemarin Kevin menyuruhku untuk keluar jika merasa bosan di dalam rumah?" ujar Keysha.
"Maaf Nyonya, saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan saja. Jika kami gagal menjaga Nyonya, maka seluruh pelayan akan terancam dipecat dari pekerjaannya." tutur kepala pelayan.
Keysha menghembuskan napasnya dengan kasar. Mengapa kebebasannya ini harus dikaitkan dengan pekerjaan orang lain, ia sangat membenci hal itu.
"Mengapa tiba-tiba? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi tanpa sepengetahuan ku?" Keysha menghampiri kepala pelayan tersebut. Gadis itu menatap kepala pelayan, mencoba membaca dari mimik muka.
"Maaf Nyonya, kami sungguh tidak mengetahui apa yang terjadi. Kami hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Pak Riko dan Tuan Kevin." wajah pelayan itu terlihat seperti biasa saja. Tak menyembunyikan hal apapun.
Keysha menyerah, akan lebih baik jika nanti ia pertanyakan langsung pada Kevin. Meskipun mustahil, gadis itu berharap agar ia dapat membantu kesulitan yang dialami oleh suaminya. Karena pria itu jarang sekali membagi cerita tentang dirinya sendiri.
Setelah memastikan, Keysha pun segera melangkah menuju ke kamarnya. Ia sudah merasa mengantuk sedari tadi, akan tetapi saat melihat Riko tergesa-gesa rasa kantuknya menjadi hilang.
Sesampainya di kamar, gadis itu merebahkan diri. Ia mengusap perut ratanya yang sudah ada satu nyawa bersemayam di dalam rahimnya. Buah cintanya dengan Kevin.
"Mama berharap dengan hadirnya kamu dapat mengubah sifat papamu yang tertutup. Tak mengapa ia tidak mencintai mama, asalkan ia mencintaimu dengan sepenuh hati." racau Keysha yang masih mengelus perutnya.
Ia pun menarik selimutnya hingga menutupi setengah badan. Meraih bantal guling yang ada di sampingnya dan kemudian mulai memejamkan mata.
...
"Apa yang kalian lakukan, hah?! Mengapa kalian mengikatku disini!" bentak Ardi pada bodyguard yang tengah menjaganya di dalam ruangan.
"Aku yang memerintahkan kalian, mengapa kalian melakukan hal ini kepadaku? Jawab barengs*k." seru Ardi. Pria itu berkali-kali mencoba melepaskan ikatan yang membelit tubuhnya. Dengan posisi yang saat ini duduk di kursi, tangan dan kakinya terlilit oleh tali yang terikat kuat.
Terdengar derap langkah dari luar, membuat seluruh bodyguard yang sedari tadi mengelilingi Ardi memberikan jalan pada pemilik langkah tersebut.
Dari kejauhan Ardi menatap ke arah pintu dengan samar-samar. Apalagi ruangan tersebut sengaja dipasang lampu remang-remang. Namun saat siluet itu semakin mendekat menampakkan wajah pemilik langkah itu dengan jelas. Ardi membelalakan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Apa kau senang terjebak dalam permainanmu sendiri?" tanya pria itu sembari melemparkan seringaian iblisnya.
"Pa-Papa.." ucap Ardi terbata-bata.
__ADS_1
Pria itu masih tak menyangka jika ayah tirinya lah dalang dibalik penyekapannya.
PLAKKK...
Satu tamparan dihadiahi oleh Ruslan mendarat cantik di pipi kanan Ardi. Pria itu hanya meringis sembari merasakan sesuatu yang asin serta amis dari sudut bibirnya.
"Kau pikir aku akan diam saja saat melihat anakku menjadi orang yang bodoh karena ulahmu?!" bentak pria itu.
"Pa, ini salah paham. Biar aku jelaskan.."
"Aku tak ingin mendengar penjelasanmu! Bahkan Kevin belum membuka mulutnya pun aku sudah mengetahui terlebih dahulu jika kau menyekap anak dan istrinya." tukas Ruslan memotong pembicaraan anak tirinya itu.
"Pa, tolong lepaskan aku. Aku tidak berniat untuk menyakiti Kevin seperti itu, aku hanya ingin ia membagi yang dimiliki olehnya separuh untukku." pinta Kevin dengan wajah yang memelas.
Mendengar penuturan dari Ardi, membuat Ruslan tertawa keras.
"Apakah aku tidak salah dengar? hanya separuh?" Ruslan kembali terkekeh geli.
"Kau bukan hanya meminta separuh akan tetapi kau meminta semua yang ia miliki. Kau pikir siapa dirimu berani semena-mena dengan putraku yang berharga." tukas Ruslan.
"Apakah perlu ku perjelas asal-usulmu dari mana? Kau sudah cukup beruntung bisa masuk ke keluarga kami. Selama ini aku hanya memandang wajah ibumu yang polos, sudah lama rasanya aku ingin membunuhmu secara diam-diam." sambung Ardi sembari melemparkan tatapan remeh pada Ardi. Ruslan pun melangkah pergi meninggalkan Ardi dalam ruangan dengan pencahayaan yang minim tersebut.
Degup jantung Ardi terasa berdebar begitu cepat. Perkataan yang ditangkap oleh indera pendengarannya seketika memancing emosi pria itu.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini." gumam Ardi dengan mata yang penuh tekad.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️.
__ADS_1
Guys aku minta tolong nih, mampir juga yuk ke karya aku yang baru. Judulnya "Dijodohkan Dengan CEO Arogan" kebetulan novel itu adalah misi kepenulisan dari MT. Jadi aku minta dukungan dari kalian juga, gpp kan😁. Kalau keberatan baca, cukup kalian like sama favorit aja aku udah bersyukur bgt.