
Setelah berhasil lolos dari kemacetan yang panjang, David pun bergegas memacu kendaraannya menuju ke resto.
Tak lama kemudian pria itu tiba di resto, ia menepikan mobilnya di seberang jalan. Sesaat kemudian ia pun keluar dari mobil tersebut langsung berlari menuju ke resto.
David masuk ke dalam resto, melemparkan pandangannya ke atas panggung tadi, namun yang ia lihat adalah pria yang tak lain penyanyi di resto tersebut.
David melebarkan arah pandangnya. Matanya melihat kesana dan kemari, namun tetap saja ia tak menemukan sosok tersebut.
Pria setengah berlari, keluar dari resto untuk melihat-lihat di depan resto tersebut. Mungkin saja gadis itu masih berada di depan. Namun sesaat kemudian harapannya pupus karena ia tak mendapati sosok gadis yang dicarinya.
David mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya sedikit memerah karena berharap terlalu banyak.
"Ada apa denganmu David? Bagaimana mungkin kau masih mengharapkan gadis itu saat kau tahu bahwa ia telah berbahagia dengan pria pilihannya" gumam pria itu sembari tertawa konyol.
Pria itu melangkah gontai menuju ke mobil yang ia letakkan di seberang jalan tadi. David pun memarkirkan mobil tersebut di depan restoran miliknya.
....
15 menit sebelum David tiba.
Keysha tengah duduk di bangkunya sembari menunggu Kirana keluar dari toilet. Sesekali ia memainkan kuku jarinya. Entah mengapa perasaanya sedikit gelisah dan dadanya berdegup dengan kencang.
"Apakah karena aku merasa gugup saat di panggung tadi?" gumam gadis itu.
Kirana baru saja keluar dari toilet, ia pun menuju ke meja kasir untuk membayar makanannya tadi. Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran, Kirana menghampiri anaknya.
"Mari kita pulang, Nak." ucap Kirana.
Keysha mengangguk pelan. Dengan sigap Kirana meraih tangan Keysha menuntun anak gadisnya itu berjalan keluar dari resto tersebut.
....
David memasuki ruangannya, ia mengeluarkan ponsel yang ada di saku dan kemudian menghubungkan ponselnya pada pengisi daya.
Pria itu menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum menjatuhkan bokongnya ke kursi. Ia mencoba melupakan semuanya namun kejadian tadi terus saja mengusiknya. Bahkan suara itu hingga kini masih terngiang-ngiang di telinganya.
TOK...TOK...
Suara pintu terketuk, salah seorang pegawainya memasuki ruangan tersebut.
"Pak mobil pengiriman bahan makanan sudah datang, dan ini daftar yang dikirim hari ini." ujar pegawai tersebut sembari menyerahkan list yang ada di tangannya.
David membacanya satu persatu, dan kemudian ia pun membubuhkan tanda tangan di bagian paling bawah tanda bahwa barang tersebut sudah diterima. Ia menyerahkan lembaran kertas yang ada ditangannya ke pegawai tadi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu pak." ucap pegawai tersebut menundukkan kepalanya sebelum berlalu dari hadapan David.
__ADS_1
David mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja sembari menatap pegawai tersebut. Saat pegawai itu sudah berada di ambang pintu, David langsung mencegahnya.
"Tunggu!!" ujar David.
Pegawai pria itu langsung berbalik badan menghadap bosnya.
"Ada apa pak?" tanyanya.
"Gadis tadi, apakah kau tahu siapa namanya?,"
"Ah, tidak maksudku dengan siapa dia kemari?" tanya David karena merasa penasaran.
"Oh gadis yang menyanyi tadi, kalau tidak salah seingat saya tadi dia bersama seorang wanita yang kisaran umurnya sekitar lima puluh tahunan." ujar pegawai tersebut.
David mengangguk paham.
"Ya sudah kalau begitu, silahkan lanjutkan pekerjaanmu." ucap David. Pegawai tersebut pun langsung menghilang dari balik pintu.
"Sebaiknya lupakanlah! lagi pula kau tidak berhak memikirkannya lagi. Gadis itu sudah menghancurkan hatimu dulu." ujar David bermonolog.
....
Kirana dan Keysha saat ini dalam perjalanan menuju ke rumah. Wanita itu menatap anak gadisnya yang sedari tadi memandang lurus ke depan.
Keysha langsung menoleh ke arah ibunya. Matanya berkaca-kaca karena ucapan Kirana tadi. Cukup lama ia menantikan agar orang tuanya mendukung hobinya itu. Selama ini keduanya selalu menentang keras dan lebih memilih agar Keysha menuruti semua ucapan kedua orang tuanya. Tuntutan demi tuntutan yang membuat dirinya lelah.
"Terima kasih, ma." ujar Keysha.
"Maafkan mama selama ini tak mendukungmu selama ini. Saat kau berada di atas panggung, mama sangat kagum. Kau sungguh luar biasa, Nak." ujar Kirana melirik Keysha sejenak dan kemudian kembali fokus menatap jalanan.
Kini mobil yang dikendarai oleh Kirana sudah memasuki pekarangan rumah. Ia langsung membantu Keysha untuk turun dari mobil dan membawa anaknya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Istirahatlah Nak, mama hendak menengok butik dulu." ujar Kirana.
"Baik ma, terima kasih karena sudah menemaniku hari ini." ujar Keysha.
Gadis itu pun melangkah menuju ke kamarnya dengan menggunakan tongkat sebagai penuntun jalannya. Kirana tersenyum sejenak, dan tak lama kemudian ekor matanya menangkap Bik Asih yang saat ini sedang menyapu halaman.
"Bik.. Bik Asih.." seru Kirana.
Dengan sigap Bik Asih pun menghampiri Nyonya-nya.
"Iya, Nyonya." timpal Bik Asih.
"Titip Keysha ya, tolong jaga dia. Saya mau langsung ke butik." ujar Kirana.
__ADS_1
" Baik Nyonya."
Kirana pun kembali memasuki mobilnya, memacu kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.
...
Keysha merebahkan dirinya di dalam kamar. Ia memejamkan matanya sembari tersenyum gembira. Satu persatu kebahagiaan muncul di hidup Keysha. Di saat ia kehilangan segalanya, Tuhan menciptakan skenario terindah dengan membukakan pikiran untuk kedua orang tuanya.
"Maafkan mama Nak, berbahagia setelah kehilanganmu." gumam Keysha.
Setitik bening pun jatuh melalui sudut matanya. Dengan cepat Keysha menghapus air mata tersebut.
TOK..TOK..
Terdengar suara pintu terketuk. Keysha pun bangun dari pembaringannya.
"Non, apakah non Keysha sudah makan?" tanya Bik Asih.
"Sudah Bik, tadi aku makan saat mau pulang." timpal Keysha.
"Oh, ya sudah kalau begitu non Keysha beristirahatlah. Bibi mau lanjut beres-beres di depan." ujar Bik Asih yang kemudian menutup kembali pintu kamar Keysha.
Keysha kembali berbaring di kasur. Ia pun meraba bantal guling yang ada di sebelahnya. Namun saat itu juga ia merasakan sesuatu yang ada di tangannya tersangkut di bantal guling yang tadi di carinya.
Keysha meraba, mencoba untuk melepaskannya. Saat benda tersebut terlepas dari kaitannya tadi, Keysha pun merasa lega.
Ia meraba pergelangan tangannya. Benda yang tadi tersangkut di bantal adalah gelang yang sama dengan gelang yang dimiliki David.
Keysha pun baru menyadarinya jika benda itu masih melingkar cantik di pergelangan tangannya. Ia membelai gelang tersebut, dan sesaat kemudian pikirannya pun kembali terbawa pada sosok pria di masa lalu.
Keysha tersenyum getir saat mengingat semua masa-masa indah yang pernah terjalin. Dimana saat ia benar-benar merasakan manisnya cinta namun tiba-tiba saja ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya dinikahkan oleh Kevin demi cita-cita kekasihnya itu.
"Mungkin kau sudah menjadi pria sukses dengan seorang wanita nan sempurna yang senantiasa mendampingimu." gumam Keysha lirih.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️.
Klik favorit untuk mendapatkan notifikasi update terbarunya~
__ADS_1