
Dini menengadah menatap langit. Mata gadis kecil itu tampak berkaca-kaca. Dengan cepat ia menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
Sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu kedatangan ayahnya yang tak kunjung datang untuk menjemputnya pulang.
"Dini ibu guru antar saja ya pulang ke rumah. Ibu guru sudah menelepon orang tua Dini, tapi tidak di angkat," tutur guru yang menemani Dini sedari tadi.
Dini tertunduk lesu. Gadis kecil itu menendang-nendangkan kakinya di pasir.
"Pulang sama Bu Guru saja ya?" tawarnya lagi.
Dini menggelengkan kepalanya pelan. Air matanya kembali jatuh di pipi chubby-nya. "Dini tunggu papa saja," cicit gadis kecil tersebut.
Gurunya pun langsung mengusap air mata Dini yang jatuh. "Sudah jangan nangis lagi. Ibu di sini, akan menemani Dini sampai ayah Dini datang," ucap guru tersebut.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki tergesa-gesa menuju ke arah keduanya. Dini pun melayangkan pandangannya pada sumber suara. Ia melihat David yang terengah-engah berlari menghampirinya.
"Papa ...." mata Dini berkaca menatap David yang baru saja datang.
"Maafkan papa, Nak." David langsung merengkuh gadis kecilnya.
Dini pun langsung tersedu sembari memukul-mukul dada ayahnya. "Papa sudah tidak sayang lagi dengan Dini." berulang kali gadis itu mengucapkan kalimat tersebut disela tangisnya.
David merasa bersalah, ia pun mengusap puncak kepala anak gadisnya. "Papa minta maaf, Nak. Papa sayang sama Dini. Dini anak papa dan mama, mana mungkin papa tidak sayang lagi sama Dini," ucap David sembari menghapus jejak air mata yang tersisa di pipi tembam anaknya.
"Terima kasih, Bu. Maaf saya merepotkan," ucap David.
"Sama-sama, Pak. Ini juga sudah tugas kami."
"Kalau begitu saya pamit dulu," ujar David. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pun berlalu meninggalkan guru yang menemani Dini.
David membawa anak gadisnya masuk ke dalam mobil. Pria itu pun membantu memakaikan sabuk pengaman untuk Dini, lalu kemudian melajukan mobilnya menuju jalanan.
....
David tiba di depan rumahnya. Ia menurunkan Dini dari mobil. " Lekaslah berganti pakaianmu, Nak. Setelah itu ikut papa ke rumah sakit," ujar David.
"Siapa yang sakit, Pa." Dini menatap ayahnya dengan penuh tanya.
"Mama. Sekarang mama berada di rumah sakit," jelas David.
"Sekarang, Dini siap-siap ya. Ganti bajunya setelah itu kita ke rumah sakit. Papa mau ke kamar dulu," sambung David.
Dini mengangguk patuh. Tak lama kemudian, ia pun memanggil ayahnya. "Papa ...."
David berbalik menatap anak gadisnya. "Iya, Nak."
__ADS_1
"Maafin Dini yang sudah berprasangka buruk," ucap Dini.
"Iya Sayang. Papa maafkan, tapi jangan di ulangi lagi ya," ujar David.
"Baik, Pa." Dini pun langsung berjalan memasuki kamarnya. Setelah melihat kepergian anak gadisnya, David kembali melanjutkan langkahnya.
David masuk ke dalam kamar. Ia mengambil laptop yang ada di atas meja kerjanya.
"Sayang, nanti bisakah kau untuk singgah ke rumah sejenak? Bawakan laptop yang ada di atas meja kerjamu. Aku ingin melanjutkan tulisanku."
"Key, sebaiknya nanti saja memikirkan hal itu."
"Aku tidak bisa menundanya. Saat ini ingatanku masih bekerja. Saat aku mulai lupa akan segalanya, aku bisa membaca ulang tulisanku. Di mana aku menceritakan banyak hal tentang kita di dalamnya."
Saat mengingat percakapan mereka di rumah sakit. Seketika David terduduk lemas sembari memeluk laptop yang ada di tangannya.
Pria itu menutup matanya dengan sebelah tangan. Bahunya kembali bergetar, air matanya lagi-lagi tertumpah. Hatinya sungguh sakit menerima kenyataan yang teramat pedih ini.
TOKKK..TOKKK...
Terdengar pintu di ketuk. Tak lama kemudian, Dini masuk ke dalam kamar.
"Papa ...." Gadis kecil itu menghampiri David yang tengah terduduk di lantai seraya bersender di meja kerjanya.
"Papa kenapa menangis?" tanya Dini.
"Papa jangan menangis, Dini ikut sedih." Mata Dini berkaca-kaca. Dengan cepat David menghapus air matanya. Pria itu juga menyeka air mata Dini yang sempat menetes.
"Papa tidak apa-apa, Sayang. Ayo kita temui mama di rumah sakit," ajak David
menggenggam tangan anaknya. Keduanya pun meninggalkan kamar tersebut.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, David pun tiba di rumah sakit. Pria itu menggengam tangan mungil Dini menyusuri koridor rumah sakit.
Keduanya tiba di ruangan tempat Keysha di rawat. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Santi dan Kirana yang menjaga Keysha.
Keysha tengah memejamkan matanya. Tubuh gadis itu masih lemas dan wajahnya juga masih terlihat pucat.
"Dia baru saja tertidur," ujar Santi saat melihat pandangan anaknya begitu lekat dengan Keysha.
David meletakkan laptop yang di bawanya ke atas meja. "Ma,..."
Kedua wanita tua yang ada di sana pun langsung menoleh ke arah David.
"Aku ingin bicara," sambung David. Pria itu langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Dini jaga mama sebentar ya. Nenek mau menemui papa dulu," ujar Kirana. Ia mendudukan gadis kecil tersebut di kursi sebelah ranjang Keysha. Santi dan Kirana pun langsung menyusul langkah David.
"Ada apa, Nak?" tanya Kirana pada menantunya.
"Apakah mama berhasil membujuk Keysha untuk melakukan kemoterapi?" tanya David.
Keduanya pun menggeleng pelan. David mengusap wajahnya. Terdengar napasnya yang begitu berat karena merasa benar-benar frustasi dengan kondisi Keysha saat ini.
"Aku sudah memberikan penjelasan pada Keysha. Tidak masalah jika aku kehilangan anakku, asalkan aku tidak kehilangan dirinya. Namun, ia tetap menolak dan mempertahankan anak kami," tutur David mengucek matanya yang mulai berair.
"Dulu, saat kehilangan anaknya karena kecelakaan. Keysha hidup dipenuhi dengan rasa bersalah. Mungkin karena hal itu, ia mempertahankan anaknya bahkan tak perduli dengan nyawanya," papar Kirana menitikkan air mata.
Ketiga orang yang ada di sana saling merangkul dengan bahu yang bergetar. Kenyataan bahwa Keysha terkena kanker otak membuat semua orang terpukul.
Di waktu yang bersamaan, Dini menggengam tangan ibunya yang masih terbaring lemah. Sesekali gadis kecil itu menatap ke arah pintu saat mendengar suara Isak tangis dari luar.
"Ma, Dini sayang mama." ujar Dini sembari membenamkan wajahnya di lengan Keysha.
Keysha membuka matanya. Ia melihat anak gadisnya yang sudah sesegukan, masih setia menyembunyikan wajahnya. Keysha dapat merasakan lengannya yang mulai basah akibat air mata Dini.
"Nak ...." Keysha membelai rambut Dini perlahan.
Dini pun langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Keysha yang tampak pucat.
"Mama audah pernah bilang sama Dini. Jangan menangis Nak," ucap Keysha menghapus air mata di wajah anaknya.
"Ma, mama jangan sakit-sakit lagi. Adik juga jangan sakit. Dini sayang mama dan adik," ujar Dini.
Keysha menarik segaris senyum di bibirnya. "Dini yang rajin ya nak sekolahnya. Jangan malas belajar, kalau nanti papa repot mengurus resto, Dini harus mandiri," tutur Keysha panjang lebar.
"Dini janji akan belajar dengan rajin. Dini juga janji tidak akan nakal lagi. Dini sayang mama dan papa. Dini juga sayang adik," celoteh bocah tersebut.
"Mama juga harus sembuh, mama makan yang banyak supaya cepat sehat. Dini mau seperti dulu lagi, bisa ditemani oleh mama menonton film kartun," sambung Dini.
Keysha hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. Gadis itu akan memanfaatkan waktu yang ia miliki untuk memberikan kesan terindah pada orang-orang di sekitarnya.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Yang belum favorit, yuk difavoritkan supaya mendapatkan notifikasi update terbarunya~