
David tengah berada di kamar, pria itu mengarahkan pandangannya keluar jendela. Ia meraba ke dalam sakunya. Dilihatnya gelang yang kemarin ia temukan.
David menatap gelang pemberian Keysha beberapa tahun lalu. Sekelebat ingatan tentang masa lalunya kembali muncul. Dengan cepat David menepisnya, ia langsung meletakkan gelang tersebut ke dalam laci.
Ia melirik arloji yang melingkar ditangannya. Dan pria itu bergegas untuk bersiap menuju ke kedainya.
***
Sudah dua hari lamanya Keysha terbaring lemah. Kedua orang tuanya selalu berada di samping gadis itu. Begitu pula dengan Kevin.
Tak lama kemudian, Kirana melihat jemari Keysha bergerak perlahan.
"Keysha bangun Nak." ucap Kirana dengan lembut. Semua orang pun mendekat untuk melihat Keysha.
Dan gadis itu pun perlahan membuka matanya.
Telinganya mendengar suara yang ada disekelilingnya, namun entah mengapa penglihatannya mengabur. Ia mencoba melihat ke arah sumber suara yang sedari tadi memanggil namanya. Beberapa kali gadis itu mengerjapkan matanya, akan tetapi tetap saja sekelilingnya terlihat buram.
"Keysha apakah kau baik-baik saja?" tanya Kirana yang melihat anak gadisnya dengan tatapan bingung.
Keysha kembali mengerjapkan matanya, namun tak lama kemudian ia pun menitikkan air mata.
"Ada apa Key?" kini Kevin lah yang bertanya.
"Kenapa semuanya terlihat buram. Aku tak bisa melihat semuanya dengan jelas." ucap Keysha.
Mendengar penuturan Keysha membuat Kirana menutup mulutnya. Air matanya tumpah begitu saja. Danu segera bergegas memanggil dokter untuk memeriksakan kondisi Keysha.
Tak lama kemudian, dokter pun memasuki ruangan tersebut. Ia mengecek area mata Keysha.
"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya Kevin.
"Emmm begini, bisakah salah satu dari kalian ikut ke ruangan saya sebentar?" ucap Dokter.
"Baiklah saya akan ikut dokter." ujar Kevin.
"Tidak! saya saja. Saya adalah ayahnya." tukas Danu.
"Kalau begitu kalian berdua ikut saya." ujar dokter tersebut.
Keduanya pun mengekor dokter dari belakang. Sesampainya di ruangan yang dimaksud, dokter tersebut mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di kursi.
"Untuk kondisi mata Nona Keysha sebenarnya jauh dari kata baik. Ia mengalami gejala kebutaan akibat kecelakaan yang di alaminya. Kornea matanya rusak akibat kecelakaan yang menimpanya. Awal gejalanya mungkin penglihatan akan mengabur, akan tetapi lama kelamaan ia akan benar-benar kehilangan penglihatannya." jelas dokter.
__ADS_1
Danu memijat keningnya. Seketika tubuhnya terasa lemas mendengar ucapan dokter tadi.
"Apakah putri saya bisa sembuh?"
"Bisa saja, melalui operasi pengangkatan kornea mata pasien bisa melihat kembali. Tapi.. untuk pendonor mata itu sangat langka pak. Kami harus mendaftarkan nona Keysha terlebih dahulu sebagai calon penerima donor, setelah ada pendonor nanti pihak rumah sakit akan segera menghubungi." papar dokter tersebut.
...
Danu dan Kevin keluar dari ruang dokter setelah mendengarkan penjelasan tadi. Berkali-kali putrinya harus menanggung beban yang berat. Awalnya ia dikabarkan keguguran. Dan sekarang, putrinya tidak akan bisa melihat lagi.
Danu sempat hampir jatuh, namun dengan sigap Kevin menangkapnya. Ia pun membawa mertuanya itu untuk duduk sejenak.
"Putriku yang malang.." ucap Danu sembari tersedu.
"Mengapa harus dia yang menanggung semuanya." sambung Danu menutup wajahnya.
Mata Kevin mulai memerah. Ia telah membuat Keysha menjadi sebuah serpihan, hancur tak berbentuk.
Danu dan Kevin kembali ke ruangan semula. Dilihatnya Kirana yang menunggu penjelasan dari keduanya. Begitu pula dengan Keysha.
"Bagaimana?" tanya Kirana.
Danu hanya menimpali pertanyaan tersebut dengan menggelengkan kepalanya perlahan. Air matanya kembali jatuh. Kirana mengigit bibirnya agar tangisnya tak terdengar oleh Keysha. Tubuhnya bergetar hebat meratapi nasib anak semata wayangnya.
"Mengapa semuanya diam? Apakah aku.." tiba-tiba saja air matanya mengalir. Kemungkinan besar bahwa sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Apakah aku tidak akan bisa melihat lagi?" ucap gadis itu melanjutkan kalimatnya.
"Tidak! kau akan sembuh nanti. Sebaiknya jangan memikirkan hal apapun, Key. Aku pastikan penglihatanmu akan kembali normal." sanggah Kevin.
"Aku tidak masalah jika harus kehilangan penglihatanku, asalkan aku tidak kehilangannya." ucap gadis itu sembari memegang perutnya.
Ketiga orang yang ada disana hanya tertunduk sedih saat Keysha berharap bahwa anak yang ada di dalam rahimnya baik-baik saja.
"Anakku.. Anakku masih ada kan?" tanya gadis itu.
Semuanya membisu, mereka bingung hendak menjelaskan kepada Keysha bahwa anak ya h dikandungnya telah tiada.
"Apa kalian semua bisu? Mengapa tak ada satu pun yang menjawab pertanyaanku?! Mengapa kalian diam saja!!." Keysha benar-benar lelah menghadapi sikap orang-orang yang tak menjawab pertanyaannya sama sekali.
Kirana langsung mengusap puncak kepala anaknya, ia berusaha untuk menenangkan Keysha. Namun dengan cepat Keysha menepisnya.
"Atau jangan-jangan dia.." Keysha tak sanggup melanjutkan ucapannya. Gadis itu menangis histeris, Keysha dapat menebak bahwa anaknya telah tiada dari sikap yang ditunjukan oleh orang sekitarnya.
__ADS_1
"Keysha tenangkan dirimu, Nak." ucap Kirana.
Gadis itu duduk sembari menggelengkan kepalanya. Ia menutup kedua telinganya tak ingin mendengarkan ucapan orang-orang yang berada disekelilingnya.
"Keluar!!" teriak Keysha.
"Aku tidak ingin dikasihani, sebaiknya kalian pergi dari sini!!" seru Keysha. Tangannya meraih ke sembarang tempat.
Mereka pun beranjak keluar ruangan, membiarkan Keysha untuk lebih tenang dulu. Setelah sampai di luar, lagi-lagi Danu melayangkan pukulan pada Kevin.
"Apakah kau sudah merasa puas karena telah menghancurkan hidupnya?" cecar Danu.
"Cukup!! hentikan semua ini!! Salahkan dirimu juga, karena paksaan darimu ia menikah dengan Kevin." tukas Kirana.
Kevin terdiam, ia kembali berlutut di depan kedua orang tua Keysha.
"Maafkan aku karena tak menjaganya dengan baik, aku lah yang berhak disalahkan atas semua ini. Aku akan tetap seperti ini sampai Papa dan Mama mau memaafkan ku." ucap Kevin dengan mata yang mulai memerah.
Icha baru saja datang, saat melihat suaminya berlutut gadis itu segera menghampiri Kevin. Ia juga ikut berlutut di depan kedua orang tua Keysha. Icha juga merasa bersalah, jika saja ia tak datang hari itu, maka tak akan terjadi kecelakaan seperti ini.
"Saya juga minta maaf Om, Tante.. Sayalah yang salah." ucap Icha.
Sementara Varo menatap ibu dan ayahnya berlutut. Tak lama kemudian, Ruslan pun datang. Ia berencana untuk menjenguk menantunya. Namun saat melihat anak serta menantunya tengah berlutut di hadapan Danu, membuat pria itu marah besar.
"Apa yang kalian lakukan?!" seru Ruslan.
"Cepat berdiri, jangan melakukan hal bodoh seperti ini." cecar pria itu.
Ia mengarahkan pandangannya pada Danu.
"Mengapa kau membuatnya berlutut?"
"Apakah kau tidak lihat? putriku yang malang itu harus menanggung semuanya karena putramu" ketus Danu.
"Setidaknya putrimu masih hidup, Danu. Apakah kau tahu kami bahkan mengalami hal yang lebih berat lagi. Putraku meninggal akibat kecelakaan itu. Kau setidaknya bisa menatap putrimu, sedangkan aku.. putraku bahkan sudah menyatu dengan tanah." geram Ruslan.
"Semua ini adalah kecelakaan, kau tidak bisa menyalahkan siapapun. Kevin juga tak ingin hal ini menimpanya. Aku kemari hanya untuk menjenguk menantuku, tapi setelah melihat perlakuanmu terhadap anakku seperti ini, membuatku tak sudi untuk menginjakkan kaki kemari." ujar Ruslan yang kemudian melangkah pergi dari tempat tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️