
"dorrr" "dorrr" Suara tembakan dari belakang mobil berlapis baja, mobil itu tetap mempertahankan lajunya tanpa menyerah. Menyadari mobil sulit di hentikan deretan pria berbadan kekar memasang ranjau di tengah jalan, beruntung mobil di rem dengan cepat tanpa menyentuh ranjau.
Kaki jenjang sekretaris Ken keluar dari mobil dengan kacamata hitam khas sekretaris Ken, tidak lupa dengan jaket kulit yang bertulisan Kenny. Sangat unik bahkan seluruh dunia sudah mengenalnya karena selalu tersorot bersama tuan Liam, namun dia masih terobsesi untuk menulis namanya di jaket bagian belakang.
"Bermainlah di taman bermain, jangan di jalan umum tuan-tuan. Saya penasaran dengan masa kecil kalian yang kurang bahagia" sambil bergaya membuka kacamata nya.
Diluar dugaan, dia sedang berhadapan dengan pembunuh bayaran yang dibayar bukan untuk berbasa-basi. Salah satu dari mereka melakukan tembakan kilat yang menembus jaket sekretaris Ken "bidikan mu masih meleset, apakah kamu ingin menjadi muridku akan ku ajari teknik menembak yang benar" Ejekan di sertai dengan timah panas dari Ken, ternyata sekretaris Ken memiliki pistol di pinggangnya dan berhasil menembus kepala pria yang menyerangnya.
"lain kali minta izin dulu saat menyerang, kamu harus membayar mahal perbuatanmu. Jaket ku yang berharga, ini limited edition " gerutu sekretaris Ken memperhatikan jaketnya yang bolong.
"bukan hanya jaket anda hang akan bolong tetapi juga jantung anda tuan Ken" kata pria yang merupakan pemimpin kelompok pembunuh bayaran itu.
Dengan santai sekretaris Ken menjawab seakan sedang berhadapan dengan anak anjing yang imut "coba saja"
Tembakan beruntun dari mereka tidak dapat melukai sekretaris Ken, pria yang menjadi bayangan tuan Liam itu berhasil menghindari peluru yang di tembakan. Kini dia berdiri diantara pembunuh dan melayangkan pukulan mematikan, gerakannya yang cepat menjatuhkan mereka satu-persatu.
Sekretaris Ken sempat lalai karena jumlah yang dihadapi lebih banyak, dia mendapati pukulan dari belakang. Alhasil dia sempat kehilangan keseimbangan tubuhnya. Namun, sekretaris Ken tidak mungkin selemah yang dibayangkan, dia bangkit dan melakukan pembalasan. Sekretaris Ken menghabiskan waktu cukup lama dalam membantai pembunuh itu.
"ch, ternyata aku telah menghabiskan banyak waktu, cepat katakan kepada siapa kalian bekerja!" kata Ken sambil mematahkan sebelah tangan pria yang masih sadarkan diri.
Pria pembunuh itu tersenyum pahit mengisyaratkan bahwasanya walau mati dia tidak akan mengatakannya "saya sangat puas dapat mengukur kekuatan seorang Kenny, Haha sekarang aku akan mati dengan bahagia" katanya dengan kebanggaan.
Sekretaris Ken tidak sabaran hingga memutuskan mencabut nyawa pria itu sesuai keinginannya. Setelahnya Ken kembali terburu-buru menuju rumah utama karena dia mendapati pesan darurat dari pak Man kalau telah terjadi kekacauan di rumah utama.
Ternyata penghalang sekretaris Ken belum juga selesai, ada sebuah benda dengan lampu berwarna merah berkedip di kursi penumpang belakang, sangat jelas hitungan mundur angkanya tiga detik lagi akan meledak jika itu benar-benar bom.
__ADS_1
"Boommmm" ledakan dengan kobaran api yang besar, bahkan kepingan dari pecahan mobil berterbangan dalam ledakan. Mobil sekretaris Ken telah di pasang bom tanpa di ketahui nya dan ledakan itu dapat membakar tubuhnya.
Sedangkan dirumah utama menjelang dini hari tuan Liam terduduk di tangga, dia menatap banyak tubuh berbalutkan darah di segala sisi. Penyerangan itu memakan banyak korban bahkan yang tidak bersalah dan tidak tahu apapun telah kehilangan nyawanya. Dia dapat menyaksikan para pengawal dan pelayan rumah utama yang tidak terselamatkan, tuan Liam merasa bersalah akan semua itu.
"tuan muda saya sudah mengurus semuanya, Saya sudah menghubungi markas dan sebentar lagi akan datang membereskan kekacauan ini. Anda lumayan mendapat luka segeralah membersihkan diri tuan, saya akan menyiapkan obat untuk anda" kata pak Man yang sudah tua namun tidak mengenal lelah setelah pertempuran tadi.
"Bereskan semuanya pak, jasad mereka kirimkan kepada keluarga agar mendapati perlakuan yang layak dan jangan lupa kompensasi nya untuk membiayai keluarganya." tuan Liam pergi ke kamarnya dan mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air.
Setelah bersih dia teringat pada putranya dan juga istrinya, segera dia menuju ruangan tempat mereka berada dan menghubungi pak Man agar membawakan dokter.
"apa kalian baik-baik saja sayang" katanya mendekati mereka yang tertidur.
"seharusnya aku yang bertanya apakah ini kamu atau arwahmu?" Nadila menyalurkan ketakutannya.
"hm besok pagi kita akan meninggalkan rumah utama sayang, ini tidak aman untuk kalian" tuan Liam berharap bisa bergerak dengan cepat. Banyak di bicarakan dalam. ruangan itu hingga kemunculan manusia tidak diundang di hadapan mereka, siapa lagi kalau bukan Sekretaris Ken yang di klaim terlambat 101% dalam menjaga keamanan tuan Liam.
"jadi kamu terlambat karena terlalu asik bermain petasan" lanjutnya setelah mengetahui cerita yang sebenarnya. Nadila tidak habis pikir dengan tuan Liam yang masih sempat menertawakan Ken, bagaimana mungkin bom waktu disebut dengan petasan? inilah definisi psikopat.
Perjalanan memindahkan Nadila dan Rans diatur ketat oleh sekretaris Ken, pagi subuh sebelum Matahari terbit mobil berlapis anti peluru berbaris di depan rumah utama. Nadila berpisah dengan suaminya, kali ini Ken benar-benar tidak bisa di bantah.
"ikutlah bersama kami" mohon Nadila.
"aku harus menyelesaikan ini Samapi akhir sayang kalau tidak maka ini terus berlanjut. Hiduplah bersama putranya kita Rans.
Mobil melaju membelah keramaian kota bahkan Nadila tidak tahu akan dibawa kemana dirinya namun tetap diam di kursi penumpang. dia hanya percaya pada suaminya bahwa semua akan baik-baik saja dan suaminya akan kembali padanya.
__ADS_1
"mengapa serumit ini, tuhan lindungi mereka suamiku. Izinkan kami berkumpul kembali dan hidup dengan damai" Nadila berdoa sambil memeluk baby Rans.
Di perjalanan mobil yang di tumpangi Nadila di ikuti beberapa mobil asing yang di tandai bukan dari dalam kota, mereka dari gangster dengan terang-terangan memasang logo kekuasaan mereka. Hendra kewalahan menghindari kejaran para gangster dan mereka terpaksa berhenti karena telah di selip.
Nadila ketakutan dan merasa menyesal karena berpisah dengan suaminya banyak pria yang datang menuju mobil mereka dengan benda tajam di tangan mereka. "mengapa berhenti Hendra! ayo jalan, bukan ini yang ku inginkan. Dimana semua pengawal kenapa tidak ada satupun mobil yang di suruh suamiku" kata Nadila berteriak.
"tenanglah nona, tetaplah didalam mobil saya akan menghadapi mereka." Hendra melepas sabuk pengaman dan bersiap dengan beberapa senjatanya.
"pengawal kita sudah dilenyapkan nona, gunakan pistol ini jika merasa terancam dan maafkan saya nona" lanjutnya, lalu keluar dari mobil.
Para pria itu tertawa saat melihat tubuh Hendra yang tidak sebanding dengan mereka yang berotot, tanpa basa basi perkelahian terjadi, pukulan demi pukulan di berikan. Jumlah yang cukup banyak membuat Hendra kesulitan namun walau luka sayatan di tubuhnya dia tetap berusaha bertahan demi melindungi nona muda nya.
Hendra mendapati tendangan di bagian bawah perut dan dia terguling di tengah jalan. para gangster itu tidak memberi ampun mereka terus menghajar Hendra yang berusaha menangkis serangan mereka. Sebagian dari mereka menuju mobil Nadila, satu pria berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.
"buka pintunya nona manis" kata pria itu, Nadila bersiap dengan pistolnya tapi tangannya gemetaran. Kaca mobil berhasil di pecahkan dan Nadila di pindahkan ke mobil gangster para pria itu tertawa senang ternyata pekerjaan mereka sangat mudah bahkan tidak mengeluarkan tenaga sama sekali.
"ayo selesaikan ini dan pulang untuk berpesta hahaha" kata salah-satu dari gangster untuk memukuli Hendra
"wanita itu sudah berpindah ke mobil kita bos, dia pingsan karena shock" lapor pria berotot itu.
"bagaimana bayi itu?"
"bayinya saya beri obat tidur agar tidak rewel"
"bagus!" setelah memastikan Hendra tidak sadarkan diri mereka meninggalkan Hendra yang malang dengan berlumuran darah.
__ADS_1
Hendra terbatuk dan muntah darah, sayup-sayup kesadarannya hilang dia mengangkat tangannya berharap seseorang datang meraihnya. Dia teringat akan istrinya Jennie dan anaknya yang masih bayi.