Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 19 apa kau menyukainya?


__ADS_3

para pria berkumpul diruangan sidang, sang kakek sedang melakukan sidang terbuka dengan cucunya disaksikan oleh kepala pelayan, Giorgi dan sekretaris Ken yang tidak mau ketinggalan. Liam merasa frustasi sekarang kakeknya sungguh tidak bisa diajak bernegosiasi.


"Kau memeluknya dengan sangat erat, apa kau tidak takut dia sesak nafas dalam pelukanmu?"


pertanyaan apa itu, kakek sedang melucu sekarang. sekretaris Ken menengahi tidak seharusnya dibahas seperti apa posisi mereka saat tidur itu mengusik jiwa kesendiriannya.


"tuan besar, mungkin itu tidak disengaja" Ken


"apa kau melihatnya Ken, haha kau bahkan terlambat. Diam saja biarkan cucuku bertanggung jawab"


tuan Liam tidak bisa menolak bagaimana pun yang terjadi tidak seharusnya di lakukan tapi itu sangat darurat.


"tapi kakek, dia asistenku dan..."


"apa kau menyukainya, hm" pertanyaan yang sulit di jawab Liam dia tidak tau seperti apa perasaan nya saat ini.


"kakek"


"jawab saja Liam, kau sudah mencoret nama baik keluarga Dewantara"


"kakek mari lupakan kejadian pagi ini, aku melakukan itu karena ya karena khawatir "


"khawatir? Liam sekali lagi kakek tanya kau menyukai gadis itu?" kakek Bersi keras


"tanpa Liam jawab, kakek sudah tau posisi perasaanku sekarang kek ku harap kakek mengerti ini dan gadis itu pasti tidak menginginkannya ini salah paham kek" tuan muda Liam berbicara dengan suara yang pelan seakan dia lunglai dan tidak mengerti akan dirinya.


" panggil gadis itu pak man"


banyak yang di bicarakan dalam ruangan itu


hingga Nadila bergabung dalam ketegangan.


"kau!" suara kakek mengejutkan Nadila, Liam sudah tau itu akan terjadi.


"saya?" Nadila bingung


"ya siapa lagi! apa kau menyukai cucuku?"


Nadila menegang ini pertanyaan yang sulit, Liam bukan tipe cintanya.


"tuan sebaiknya kita bicarakan ini baik baik saya tidak keberatan pernikahan ini tidak usah dilakukan. saya hanya asisten tuan Liam dan tidak lebih saya hanya tau mengenai pekerjaan tuan, kami tidak saling mengenal lagian tuan semalam..."


"ah sudah kau sangat banyak bicara, kesalahan kalian adalah telah membuat mata saya melihat kemesraan kalian."


"kemesraan?" tuan Liam dan Nadila bersamaan


"aha, kalian belum menikah tapi sudah sangat kompak"


Giorgi dan Ken bahkan sudah tidak tahan untuk tidak tertawa kakek sedang memutar balikan persoalan.


" kalian harus bertanggung jawab untuk yang kalian lakukan pada saya, kalian telah melukai harga diri kakek yang melihat begitu intim hal itu"


perkataan kakek berhasil membuat wajah Nadila memerah betapa memalukannya itu.


"tenang saja, pernikahan akan dirahasiakan. Kakek akan memberi kuasa pada istri mu untuk menentukan kapan mempublish pernikahan kalian bukan kah kakekmu ini sangat baik." lanjut kakek.


"tapi tuan" Nadila ingin menghentikan ini.

__ADS_1


"tidak ada negosiasi jika kau sudah siap maka Perta pernikahan akan di gelar, keputusan di tanganmu menantu!"


sekretaris Ken dan Giorgi menyiapkan pernikahan yang hanya di hadiri oleh pendeta dan seluruh penghuni rumah, bahkan teman teman tuan Liam tidak dilibatkan. pernikahan dilakukan di sore hari nanti tuan Liam dan Nadila sudah di dalam ruang rias, ini seperti sihir semua disiapkan dengan sangat cepat.


*flashback*


demam Nadila yang sangat tinggi membuatnya tidak sadarkan diri. tuan muda Liam kewalahan dan kehabisan ide, dia menemani Nadila di kamarnya. sakit Nadila semakin menjadi jadi dia kelihatan menggigil kedinginan tuan Liam tidak punya pilihan harus melakukan sesuatu untuk menghangatkannya.


tuan Liam awalnya ragu karena masih memiliki akal sehat tapi dia tidak tega melihat Nadila yang berperang melawan sakitnya hatinya pilu melihat itu. tidak berselang lama dia sudah polos tidak berpakaian, dia membuka pakaiannya dan menyisakan boxer saja. Tanpa ragu dia melakukan hal yang sama dengan Nadila.


"apa yang anda lakukan" Nadila setengah sadar menolak tuan Liam.


"tenanglah saya hanya berusaha membantumu."


Tuan Liam membawa Nadila dalam pelukannya, Nadila pasrah karena rasa dingin nya seakan dia sudah tidak bernyawa dia seakan sedang mimpi sekarang.


Terlalu nyaman tidur dalam pelukan membuat mereka larut dalam mimpi yang indah hingga tidak perduli dengan dunia sekitar.


*flash off "


pernikahan itu digelar tidak ada tamu dalam acara ini hanya doa ikatan pernikahan. Nadila menuruni tangga dengan sangat anggun, memancarkan kecantikan yang tersembunyi selama ini. Tuan Liam memandangnya dari kejauhan baru disadarinya bahwa Nadila sangat lah cantik. namun, tidak lama kesadarannya kembali dia belum mencintai gadis yang beberapa kebetulan bertemu dengannya, menarik perhatiannya dan bahkan menjadi asistennya.


"apa ini tidak salah, hiks bahkan keluargaku tidak tahu hal ini. ibu pasti sedih mengetahui hal ini ibu tidak bisa menyaksikan pernikahanku dan ayah maafkan Nadila ini diluar yang ku inginkan, maafkan aku ayah tidak bisa memberi tahumu tentang pernikahan ini. ini juga cukup aneh bagiku, ayah dulu bermimpi akan mengiring Nadila ke pelaminan dan menyerahkan putrimu ke tangan suami nya tapi sepertinya itu sudah berlalu sebentar lagi. kangsan pasti sangat kecewa padaku sekarang. ayah, ibu, kangsan aku sayang kalian."


tanpa sadar air mata Nadila jatuh. Bagaimana pun ini sangat berat baginya, menikah tanpa cinta membuat hatinya kacau balau entah bagaimana nasibnya ke depan.


"aku bahkan menikah hari ini, ini terlalu cepat. bagaimana aku harus bersikap sekarang kakek bahkan tidak membiarkanku bernafas walau sejenak."


tuan Liam memiliki kegundahan di hatinya dia merasa belum saatnya dia untuk menikah,


tapi dia tidak bisa mengabaikan keputusan kakeknya.


"tuan, saya tidak bisa menikah dengan anda" bisik Nadila.


"benarkah? apa kau punya keberanian menolak."


"tuan saya tidak ingin menikah dengan anda!"


"pernikahan ini harus dilakukan jadi diam saja" kata tuan Liam, dia merasa tidak senang dengan penolakan Nadila.


"saya ingin pulang tuan, saya tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak saya cintai. Bukankah tuan juga begitu, saya hanya karyawan anda tidak pantas untuk anda."


"apa yang kau bicarakan bodoh!"


"saya tidak mau menikah" mata Nadila sudah mulai berkaca kaca.


"kita didepan pendeta jadi bersikap senormal mungkin"


entah apa dengan Liam dia bahkan tidak mengajukan penolakan secara sepihak kepada kakeknya. bukankah dia bisa meninggalkan altar saat ini jika dia berniat, Liam adalah rajanya bukan.


pendeta memulai.


"ini adalah janji suci suami istri sampaikanlah dengan ikhlas dan dari hati, mengaku dan sumpah pernikahan..."


tuan Liam mengucapkan janji suci pernikahan, saat menatap Nadila dihadapannya hatinya bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat tapi dia berhasil menguasai diri dan menyelesaikan janjinya.


Nadila melakukan hal yang sama tapi entah kemana pikirannya bahkan menyatakan janji dengan menunduk tenggorokan nya kering suaranya seakan menghilang. tuan Liam menyadari hal itu tapi dia mengabaikannya.

__ADS_1


"sekarang kalian sah menjadi suami istri" kata pendeta, semua orang bertepuk tangan menyambut pengantin baru dadakan itu. sekretaris Ken ikut terharu dengan pernikahan formalitas itu.


"kakek, haruskah aku memberimu penghargaan sekarang. Bagaimana bisa kau menikahkan Liam hanya dalam sekejap mata" memperhatikan kakek yang berekspresi datar, sekretaris Ken yakin hati kakek sedang kegirangan saat ini karena sangat sulit membuat tuan Liam bertahan dengan seorang wanita selama ini.


"tuan muda, saya tidak tahu apa yang anda rasakan saat ini. maaf saya tidak bisa menyelamatkan anda dalam pernikahan ini"


sekretaris Ken melihat tuan mudanya yang sedang bimbang.


melihat kearah Nadila.


"mengapa gadis itu menangis akhh sial dia pasti sangat terkejut sekarang"


sekertaris Ken bertengkar dalam pikirannya dia masih tidak percaya kalau kakek melakukan pernikahan itu, bukankah selama ini kakek menentang semua wanita yang mencoba memasuki kehidupan cucunya.


acara pernikahan tanpa kemeriahan itu berakhir, tuan Liam cuek pada Nadila sejak saat pernikahan selesai. Nadila berdiam diri didalam kamar tuan Liam.


"istrimu tidak disini" suara kakek di cahaya remang itu.


"aku ingin bicara kek" Liam.


"hhmm, katakanlah"


"ini kejutan yang luar biasa dari kakek setelah bertahun tahun pergi. aku sangat terkejut nyaris jiwaku terlepas dari ragaku. Bagaimana kakek melakukannya, mengapa harus menikah?" Liam ingin tahu mengapa kakeknya Bersi keras menikahkannya, itu bukan sifat kakeknya yang selalu terburu buru seperti yang terjadi. Tuan Umbara bisa saja membuang Nadila ke palung Mariana tapi kali ini berbeda.


"karena kau kesepian" jawaban yang menginjak harga diri tuan Liam


"apa kakek pikun?"


"sudahlah temui istrimu kau akan masuk angin jika terlalu lama diluar"


"kakek, beri aku alasan kek ini bukan dirimu"


tuan besar umbara berlalu meninggalkan Liam. sepertinya kakek tua itu menyuruh Liam untuk mencari sendiri jawaban dari pertanyaannya.


Liam sangat kacau malam itu dia minum sampai mabuk di balkon, untung sekretaris Ken melihatnya. sekretaris Ken membawanya ke kamar tamu yang seharusnya itu kamar Ken setiap menginap.


"tuan muda, mengapa anda mabuk separah ini, apa yang menjadi beban anda."


"Ken, bagaimana aku bisa percaya kakek menikahkan ku"


"anda sudah bertanya?"


"kakek tidak memberi alasan Ken"


"jadi anda diam dan menerima pernikahan ini karena anda yakin kakek punya alasan melakukannya?"


"hhmm, dia bilang aku kesepian"


"bukankah anda merasa nyaman dengan nona tuan"


tuan Liam mulai lemas rasa mabuknya membuatnya sulit menguasai diri.


"aku tidak ingin membahasnya Ken."


dia memejamkan matanya di kasur yang tidak empuk seperti kasurnya di kamar utama, tapi sepertinya Ken berhasil membuatnya tertidur.


"istirahatlah disini saja tuan muda"

__ADS_1


"Ken, jaga istri ku, jangan biarkan dia pergi Ken. Dia menolak pernikahan ini." gumam tuan Liam entah sadar atau tidak. Ken yakin tuan mudanya pasti akan lupa perkataan terakhirnya itu.


__ADS_2