
sekretaris Ken melakukan banyak hal, dia menjadi seorang yg ang tersibuk di dunia bahkan dia tidak perna menutup matanya. Sekretaris Ken menghabiskan sisa waktunya untuk pekerjaan, menciptakan benteng besar di perusahaan agar sulit di robohkan sekalipun itu ledakan akibat meteor yang jatuh dari langit. Disinilah Ken berada di ruangan kantornya, dia menutup ruang Presdir dan mengharamkan siapa pun yang mendekati pintu ruangan Presdir sebagai penghormatannya bahwa dihatinya tuan Liam masih hidup.
"tuan peresmian panti asuhan akan segera digelar, bagaimana menurut anda?" sekretaris wanita yang masih muda itu telah mengabdi cukuplama telah berubah menjadi sekretaris Ken, wanita itu bernama Sina.
"tuan mudalah yang akan meresmikan panti asuhan itu, untuk itu berpikirlah lebih pintar kedepannya jangan menanyakan hal yang tidak saya sukai atau menambahkan jadwal yang membuat saya menentang hal itu" Ken berbuat sesukanya.
"baik tuan, saya akan menunda peresmian sampai tuan muda Liam kembali" sekretaris wanita itu pergi tidak ingin mengganggu makhluk halus yang sedang jinak itu. "bagaimana saya bisa tahu kalau anda tidak senang, oh tuhan memangnya kapan kau akan memulangkan tuan Liam? apa tuan Liam sedang bereinkarnasi? lucu sekali tuan Ken" Sina sekretaris wanita itu hampir gila menghadapi Ken.
Panti asuhan yang merupakan proyek yang sangat berarti bagi tuan Liam telah selesai terlihat megah dan berkualitas baik. Segala fasilitas berkualitas sesuai keinginan tuan Liam telah di sediakan, tinggal menunggu peresmian yang ditunda demi tuan Liam yang entah kapan akan menjelma menjadi manusia kembali.
Sekretaris Ken merasa sudah dua bulan bergelayut dan tenggelam dengan pekerjaan, dukanya telah terlampiaskan dengan caranya memajukan perusahaan Dewantara dan mewujudkan mimpi tuan Liam yang belum selesai. Ada kelegaan dihatinya hingga dia teringat sesuatu dan mulai melakukan panggilan dengan benda pipih yang selalu setia di kantong jasnya.
"hallo, kirimkan lokasinya pada saya" satu kalimat sudah mewakili maksudnya menelepon, di seberang sana tidak membuang waktu langsung mengirim lokasi pada sekretaris Ken.
Sesuai dengan lokasi yang di dapatkan sekretaris Ken berdiri disebuah rumah kecil yang disambut oleh seorang yang bertubuh tegap dan berotot bisa dipastikan orang itu telah berlatih dengan sangat keras untuk membentuk otot-otot tubuhnya. Rumah kecil itu hanya simbolis yang sebenarnya itu ruangan yang membawa mereka menuju ruang bawah tanah yang mungkin sedikit menyeramkan.
Ruangan bawah tanah itu di jaga ketat oleh para pria bertubuh kekar, sangat banyak ruang tahanan dan tempat penyiksaan di dalam sana. Dan disanalah Matteo bersemedi ruangan markas geng Matteo.
"akhirnya setelah aku berjenggot lebat barulah kamu datang kawan hahaha" Matteo menyambut kedatangan Ken dengan hangat.
"hm kamu membuatku geli" Ken tidak percaya kalau Matteo benar-benar akan menumbuhkan jenggotnya seperti yang di katakan ya.
"haha aku sudah bilang aku akan mencukur jenggotku kalau kamu bersedia datang ketempat ini, masuklah mangsamu menantikan mu" Matteo berpegang pada perkataan nya, dia tidak akan membiarkan penjahat itu mati dengan tenang. Matteo ingin Ken yang melakukannya tapi Ken sedang kalut dan belum memikirkan sesuatu yang berupa ritual khusus untuk tawanannya.
__ADS_1
Ken memasuki ruangan putih yang di arahkan Matteo sambil mengelus jenggotnya yang panjang. mata Ken tertuju pada pria yang di ikat dengan besi baja dan hanya menggunakan bokser.
"mengapa kamu melepas pakaiannya? dia bisa masuk angin" pertanyaan Ken membuat Matteo tercengang.
"ku harap kamu tidak simpatik padanya kawan, aku sengaja melakukan itu agar aku bisa memandangi perut berototnya setiap hari tapi sepertinya kamu sudah sangat lama hingga otot perutnya sudah mulai Kendor karena bajingan itu sudah mulai kurus Haha" jawab Matteo dengan santai.
"pantas saja kamu sangat senang menumbuhkan jenggotnya di tempat seperti ini haha" tawa Ken pecah, dia menyadari sudah melewatkan banyak kesenangan.
Ken berjalan mengitari tawanan yang tidak punya ruang untuk bergerak, dia mengamati tubuh pria yang terlihat muda dan sudah matang itu. bisa di tebak bahwa umurnya masih 30 tahun atau lebih, tangan Ken beralih kewajah pria itu dan sedikit mengangkat untuk mengamati beberapa luka dan lebam pukulan. Sedetik kemudian matanya berpindah pada bibir dan leher ada hal aneh disana dan itu sangat menggelitik otak Ken karena tidak bisa menebak luka disebabkan oleh apakah itu.
"apa yang kau pakai untuk mengukir lehernya Matteo?" pertanyaan polos Ken berhasil mengundang tawa keras dari Matteo, diantar sekian banyak pertanyaan kenapa Ken memilih pertanyaan yang menggelikan.
"hahaha apa kamu tertarik mempraktekannya?" Matteo masih enggan menjawab dia masih ingin berbincang banyak dengan Ken yang sudah seperti robot atau lebih tepatnya patung hidup selama ini.
"apa dia lemas karena tidak kau beri makan? dari yang ku perhatikan tidak ada goresan atau luka fisik yang kau lakukan padanya hanya beberapa lebam yang aneh" Ken yang sangat ingin tahu kesenangan apa yang telah dilakukan Matteo pada orang itu.
"Ken, kau tahu seberapa besar kasih sayangku pada Liam. Liam sudah seperti saudara bagiku Ken, tidak akan kubiarkan orang yang membunuhnya hidup dengan tenang. Dia anak angkat dari tuan mahres lebih tepatnya pria yang berhutang nyawa pada keluarga mahres. Berita kematian berjamaah keluarga bajingan itu menimbulkan balas dendam, hanya satu tujuannya melakukan hal yang sama pada tuan Liam" jelas Matteo menceritakan alasan dibalik pembunuh bayaran yang datang beruntun hingga menimbulkan duka besar bagi mereka.
Ken masih belum puas karena siksaan yang Matteo berikan sangat ringan pada pria yang melakukan pembunuhan berencana itu.
"kamu tahu bahwa perbuatannya tidak dapat dimaafkan, aku tidak yakin seorang Matteo sangat tenang tidak menusukkan pisau di tubuh pria brengsek itu" Ken mengambil sebuah pisau kecil dan melemparkannya kearah pria yang membunuh tuan Liam dan bidikannya tidak meleset pisau itu mendarat di dada kanan pria itu darah segar menetes di lantai putih ruangan itu.
Matteo sudah menduga bahwa Ken akan melakukan itu, dia menunggu Ken yang mencabut nyawa orang yang telah melewati batas.
__ADS_1
"aku tahu Ken, tapi aku melakukannya dengan cara yang berbeda kali ini. kau ingin tahu bagaimana cara membentuk lukisan di leher pria itu? baiklah akan ku tunjukan caranya padamu" Matteo mengirim pesan kepada Rio yang sedang berada di luar ruangan. Tidak berselang lama beberapa pria berotot datang memasuki ruangan itu. Ruangan itu lumayan luas dan dilengkapi dengan sofa untuk bersantai, Matteo membawa Ken duduk untuk menikmati wine sambil menyaksikan pertunjukan.
"lakukanlah" perintah Matteo pada pria panggilan itu.
"tidak tuan, ampuni saya tuan. Ampuni saya" pria itu terus memohon tapi tidak ada yang mendengarnya, Matteo menikmati minumannya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ken.
Ken membulatkan matanya saat anak buah Matteo mencumbui tawanannya. Otaknya mulai berfungsi dengan baik, dia sudah tahu sumber tanda merah dan beberapa lebam biru yang dia lihat di tubuh tahanan itu.
"tuan Matteo apa anda sedang berencana menodai mata saya?" kata kata itu tergambar dengan jelas dari cara Ken menatap Matteo, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum dan melanjutkan menonton pertunjukan yang sedang live di depan mereka.
"aku sangat baik bukan? memberi siksaan kenikmatan pada tahanan ku hahaha" Matteo berkata dengan sangat santai.
Ken hanya terdiam dan menyaksikan siaran live. Pria homoseksual itu membolak-balik tubuh tahanan mereka dan mencumbuinya, mereka sangat lihai dalam melakukan pelecehan. Saat penyatuan dilakukan Ken mengalihkan pandangannya dia merasakan ngilu tersendiri karena rintihan tahanan itu, Matteo menangkap pergerakan Ken dia tertawa pelan bagi Matteo aktivitas semacam itu sudah makanannya sehari hari di club'.
"akh sudah hentikan!" tahanan itu yang merupakan anak angkat dari keluarga mahres terus merintih, berteriak, dia diperlakukan bagai binatang oleh Matteo. Pria cabul itu tidak berhenti sampai puas, dia terus menggerakkan tubuhnya kadang memberi hentakan kuat agar lawan mainnya kesakitan.
"hahaha dia pura pura menolak padahal sangat menikmatinya, sekarang giliran ku berikan aku jalan. Aku juga ingin membuat nya terbang sampai kelangit hahaha" anak buah Matteo bergantian melakukannya, bahkan mereka tidak sabaran melampiaskan nafsu yg ang menggebu.
"jangan kumohon jangan lagi!" pria itu memundurkan badannya menghindar, sedari tadi ikatannya sudah dilepaskan agar mereka lebih bebas bermain. para pria homoseksual itu menahan tubuh tahanan dan membuat posisi menungging.
"aku suka posisi ini, tenanglah kucing manis. Aku akan menusuk secara perlahan" pria berbadan kekar itu mengarahkan miliknya dan menghentakkan dan tidak lupa memberi tamparan di pantat lawannya, kegiatan berdurasi dua jam secara bergilir itu membuat mata Ken perih. Tubuh tahannya lemas dilantai dan cairan kenikmatan pertumpahan dimana-mana, Ken mendapatkan kepuasan untuk sementara sebelum dia mencabut nyawa tahanan itu.
"aku menyiksanya secara perlahan Ken, bajingan itu mungkin akan sadar nanti malam. anak buahku hanya memukuli wajahnya untuk menunggumu selama dua bulan ini" jelas Matteo yang menunya mengeksekusi orang yang membunuh sahabatnya walau belum ada kepastian kematiannya.
__ADS_1
Ken berjalan mendekati tahanan itu dan memberi beberapa goresan yang indah di pandangnya sayatan menyakitkan dan beberapa tusukan di kulit. Setelahnya Matteo ikut Ken pulang kerumah utama untuk membahas sesuatu yang penting.