
Ken yang masih dalam tahap pemulihan dilarang meninggalkan tempat tidur, tentunya itu bukan kebiasaan seorang Ken. Dia sangat merah pada dokter Aditia yang terus menahannya dengan obat penenang selama tiga hari terakhir.
"dasar dokter luckna" Ken frustasi membatalkan dia tidur selama tiga hari dan menelantarkan perusahaan yang sangat besar.
"berhentilah memaki Ken, Hari ini aku akan membebaskan mu jadi berterimakasih lah padaku karena aku telah menyelamatkanmu dari maut" dokter Aditia sangat bangga dengan perbuatannya yang mengerjai Ken dengan obat penenang. Aditia melakukan itu untuk memperlancar perawatannya karena dia tahu seperti apa Ken yang gila akan pekerjaan.
"tenanglah, Loi sudah mengamankan perusahaan" jawab Aditia dengan sangat cepat dan tentunya dengan senyum penuh arti.
Setelah alat yang merekat ditubuh Ken terlepas, Ken bangun dan mulai meregangkan otot nya. Luka yang sangat dalam sudah sembuh bahkan Ken merasa bisa Maruk ring petarung saat ini, dia akui pengobatan yang dilakukan Aditia adalah yang terbaik.
"kau akan ku beri bonus" perkataan Ken berhasil membuat Aditia melompat kegirangan.
"apa aku boleh mendapatkan mobil keluaran terbaru yang dipromosikan oleh driver Dewantara group?" dengan tidak tahu malu Aditia mengutarakan keinginannya, bisa saja dia membeli sepuluh mobil keluaran terbaru dengan harga fantastis itu tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memeras dompet Ken.
Ken melempar pisau buah yang berada di samping tempat tidur kearah Aditia, beruntung dokter jomblo itu menghindar dengan cepat kalau tidak bisa dipastikan dia berbaring dengan tali infus lebih lama dari Ken.
"tidak tahu malu" sarkas Ken.
"ayolah, kau tidak pernah memberiku hadiah" Aditia mesin berusaha mendapatkan impiannya.
"aku akan memberimu hadiah saat kamu mewujudkan permintaan terakhir tuan muda" finally dari Ken, yang masuk kedalam ruang ganti sambil tertawa. Dia bersiap untuk pergi kekantor walau hari sudah mulai sore, Ken tidak bisa melepas perusahaan itu dengan sangat mudah.
Ken berganti pakaian sangat cepat dan tentunya Aditia terheran dengan kecepatan Ken dalam mengerjakan sesuatu.
"kembalilah kerumah sakit dokter, jangan bermalas-malasan " kata Ken sebelum menghilang dibalik pintu.
"aku akan terus menjomblo jika hanya berurusan dengan pasien" hati Aditia memelas.
__ADS_1
Ken seperti hantu muncul di perusahaan, kabar yang beredar di kantor pusat adalah Ken sedang melakukan perjalanan bisnis diluar kota menggantikan tuan liam. Ken kali ini memilih mengeliling setiap ruang diperusahaan, hal itu membuat seluruh karyawan memperbaiki diri agar tetap aman.
Ken melewati ruangan yang mengingatkannya pada tuan mudanya, dia merasa terhibur dengan perjalanannya mengelilingi kantor yang sudah lama tidak dilakukannya. Hal menyenangkan itu tidak berlangsung lama saat Bagas menyapanya.
"senang bertemu dengan anda tuan Ken" sambut Bagas saat Ken melewati deretan mejanya.
"siapa kau?" Ken merasa terganggu tanpa menoleh bertanya pada karyawan yang berani menyapanya.
"saya Bagas tuan, saya turut berduka atas insiden yang terjadi pada presdir, boleh kah saya tahu dimana asisten yang bernama Nadila tuan? saya juga penasaran dengannya yang menghilang tanpa kabar" Bagas menyampaikan maksudnya yang menyapa Ken.
Semua karyawan juga penasaran dengan menghilangnya Nadila tapi tidak ada yang berani membicarakannya, karena sangat pantang membicarakan tentang atasan di lingkungan kantor maupun diluar. Rasa penasaran Bagas sudah tidak tertahankan sehingga apapun resikonya dia harus menanyakan Nadila gadis yang disukainya.
"apa kau kekasihnya? apa hubungannya dengan gadis yang kau sebut tadi?" Ken baru menyadari telah meloloskan Bagas yang menaruh perasaan pada nona mudanya selama ini.
"saya hanya merindukannya tuan bagaimana pun dia adalah rekan kerja didivisi dulu dan kami jarang melihatnya sekarang" jawab Bagas menyadari telah salah bertanya.
Bagas merasakan masalah yang serius, kenapa semua orang pantang membahas tentang hal itu. Demi menyelamatkan dirinya Bagas mengangguk mengerti dan berdoa Nadila baik baik saja. Ken melanjutkan perjalananya dan menemukan seorang lagi yang sedang sibuk dengan pulpennya.
"kamu, ikut saya!" perintah yang tidak terbantahkan gadis yang di maksud adalah Belinda, dengan sekali jentik jari Belinda sudah berpindah di ruang kantor ken. Mata Ken seperti mesin pemindai mengamati gender apa yang ada dihadapannya. Belinda yang menyadari mulai waspada sekali Gus malu dengan tatapan Ken, bagaimanapun Belinda normal pasti salah tingkah jika terus dipandangi seperti itu.
"sedekat apa kamu dengan nona? maksud saya nadila" Ken merevisi kata-kata yg ang mencolok.
"kami hanya berteman tuan, selama Nadila masuk ke perusahaan saya sudah berteman dekat dengannya, dia sangat baik dan pekerja keras tuan. Saya bahkan merindukannya yang naik jabatan menjadi asisten presdir sekaligus bangga padanya" jelas Belinda yang merasa berteman dengan Nadila bukan kesalahan. Ken membawa Belinda bukan sekedar mencari alasan mengganggu karyawan tapi dia membutuhkan Belinda untuk melakukan pekerjaannya.
pintu ruangan Ken terbuka, muncullah Loi yang telah menjelma menjadi sekretaris Ken selama tiga hari terakhir.
"bawa gadis ini bersamamu" kata Ken.
__ADS_1
"tuan, asa mau dibawa kemana?" Belinda takut bukan main.
"kau bisa menyetir kan? cukup antarkan dia ke tujuannya" kata Ken mengusir keduanya. Loi tidak membawa kendaraan karena selama tiga hari dia tidur di kantor, jadi Ken meminjamkan mobilnya untuk memulangkan Loi. Ken tidak selemah itu hingga membutuhkan Loi dalam menghandle Dewantara group dan disinilah Belinda di beri tanggung jawab membawa kembali mobil Ken ke parkiran seperti semula.
"mengapa harus aku? bagaimana kalau mobil ini lecet dia akan mematahkan tanganku ch" Belinda geram sendiri takut tentu saja.
Mobil yang di kendarai berhenti, Loi melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil dan hal yang sama dilakukan oleh Belinda.
"tuan" Belinda memelankan suaranya, mereka berhenti di sebuah sorum Dewantara group.
"terimakasih nona..."
"Belinda tuan" dengan cepat menyebut nama karena yakin Loi tidak mengenalnya, lebih tepatnya tidak saling kenal.
Belinda mengendarai mobil Ken dengan terkagum-kagum, mobil yang sangat nyaman bahkan tidak sadar telah sampai di parkiran kantor. Belinda kecewa masih ingin menikmati mobil Ken yang sangat keren di pandangannya.
Belum berjalan jauh Ken sudah memberikan perintah kedua untuk mengantarnya ke restoran. Belinda sudah ingin pulang tapi malah dicegah oleh Ken.
"apa jabatanku berubah menjadi sopir?" belinda berbicara dalam hati.
"saya tidak keberatan jika anda tertarik menjadi sopir" Ken berbicara seakan bisa membaca pikiran saja, Belinda merinding mendengar suar ken dari kursi penumpang.
"terimakasih tuan, tapi saya lebih menyukai meja kerja saya" tolak Belinda berharap manusia menakutkan dibelakangnya tidak tersinggung.
Sesampai di restoran xx Ken mengambil kunci mobil dan melakukan sesuatu yang tidak terduga, tidak ada yang bisa mengubah fakta bahwa dia adalah Ken seorang yang berpegang teguh pada prinsipnya dan pengabdian yang dimilikinya.
"pulanglah dengan taksi" katanya meninggalkan Belinda yang kebingungan di depan parkiran, gadis itu tidak percaya dengan cara orang kaya berpikir. Berterimakasih saja tidak pernah keluar dari mulut Ken atau tidak untuk merendah diri kepada siapapun kecuali pada tuannya, diluar itu dia menganggap berada dibawah kakinya sama rata. Membiarkan orang bernafas saja sudah merupakan bagian dari berkat yang tiada bandingnya. Belinda pulang dengan taksi, dia bersyukur tidak terlalu lama berada di sisi Ken yang menakutkan.
__ADS_1