
setelah mengalami beberapa persoalan Nadila sudah kembali kepada rutinitasnya dan karena insiden yang terjadi di malam itu, tuan Liam menggunakan kekuasaannya agar Nadila berhenti bekerja di restoran atau tempat mana pun.
"awas saja kalau kau masih berani bekerja di tempat lain lagi. mati kau" kata kata menakutkan itu selalu terngiang di telinga Nadila.
Sekarang Nadila hanya bekerja di kantor Dewantara group.
"nad bukan kah kamu juga bekerja di restoran x" kata belinda yang heran dengan Nadila yang sangat santai dengan pekerjaannya
"hm aku sudah berhenti bel."
"kenapa?"
"sepertinya pekerjaan di perusahaan ini makin hari makin banyak jadi aku tidak bisa mengejar waktu" kata Nadila, tidak mungkin ia mengatakan bahwa tuan Presdir yang melarangnya walau itu terasa aneh tapi, Nadila tidak ingin memikirkannya, entah tuan Liam khawatir padanya atau hanya sekedar menyusahkannya saja agar hutangnya yang 50% lagi pada tuan Liam tidak bisa terbayarkan.
"btw kamu membawa bekal lagi?" tanya belinda
"tentu saja bel" kata Nadila seraya sedang memikirkan sesuatu
"lalu kenapa dengan wajahmu"
"aku memang membawa bekal makan siangku "tp entah mengapa kadang kadang di suatu kesempatan bukan aku yang memakannya, saat aku hendak makan bekalnya kosong dan kadang berubah dengan makanan gofood " lanjut Nadila dalam hati
"lalu?" Belinda merasa kalau Nadila belum menyelesaikan perkataannya.
" sepertinya ada tikus di perusahaan ini hahahah"
"hahahaha serius lah nad pemikiranmu aneh aneh saja."
sampai saat ini Nadila masih keheranan, bahkan sekarang dia selalu membawa tasnya kalau keluar ruangan tidak lucu jika bekal telur gulung nya hilang.
Dan benar saja bekal Nadila kembali hilang dia ingat betul meninggalkannya di meja kerja, terpaksa meninggalkan karena ada meeting penting setiap divisi demi kemajuan kinerja.
di ruangan Presdir tuan Liam sedang merasa senang
"akhir akhir ini makan siang anda tidak perna tuntas tuan aku heran jika anda sedang program diet" kata sekretaris Ken menyindir
"diam lah Ken aku tidak lapar"
"baiklah terserah kau saja" kesal Ken
"apa kau kehilangan sopan santun mu Ken!"
"tuh kan, ayolah Liam aku ini temanmu sekaligus bawahanmu"
__ADS_1
sejenak tuan Liam merasa kembali ke masa lalu dimana sekretaris Ken memposisikan diri sebagai kakaknya
"kau memanggilku dengan nama Ken ada sesuatu yang terjadi?"
mendengar pertanyaan tuan Liam Ken berdiri menghadap Liam dan terdiam sangat lama. Liam merasa pembahasan yang disampaikan Ken adalah diluar urusan perusahaan tuan Liam pergi menuju sofa dan memposisikan diri sebagai teman dan keluarga begitu pula dengan Ken kali ini dia akan mengambil posisi sebagai kakaknya tuan Liam, mereka berbicara selayaknya orang normal tanpa bahasa formal
"sudah lama tidak begini Ken" kata Liam
menghela nafas dalam
"aku akan ambil minum" Ken pergi ke sudut ruangan dan menekan sebuah tombol dan dinding itu berubah menjadi mini bar menyadari gerakan Ken, Liam menekan remote pengunci pintu ruangannya.
"sudah sebelas tahun berlalu" Ken
"teruskan Ken " Liam mengosongkan gelasnya.
"sepertinya keadaanmu sudah lebih baik Liam, beberapa bulan terakhir aku bisa melihat perubahan itu dan aku bahagia Liam jika senyummu belasan tahun lalu kembali."
"hmm" Liam membenarkan hal itu bahkan dia bisa membayangkan hal dimasa lalu.
"aku yakin perubahanmu beberapa bulan ini telah sampai pada kakek di luar sana."
"kau benar Ken, aku sudah siap jika kakek bertamu kerumah aku sudah lama merindukannya." kata Liam memejamkan matanya, Ken memalingkan wajahnya sat menyadari ada genangan air disudut mata tuan Liam dan air mata itu tidak terbendung.
"bahas hal ini dengan serius Ken"
"Liam, pembunuh paman Dewantara masih berkeliaran"
"aku tau Ken dan kau sudah bekerja keras mencegah serangga serangga itu untuk tidak menyentuhku. aku sudah mengetahuinya tapi, aku pura pura tidak tahu kalau kau yang melakukannya secara sembunyi sembunyi." jelas Liam
"aku melakukannya karena kau adikku Liam, itu sudah sumpah ku pada ayahmu dan janjiku pada kakek apapun yang terjadi atau posisiku berada di manapun aku akan mengutamakan keselamatanmu"
Liam mengangguk mengerti, betapa setianya Ken disisinya walau tidak terlihat oleh matanya tapi Liam bisa merasakan bahwa Ken berada di sekelilingnya.
begitu banyak masa lalu yang terungkap dan Liam mulai mengerti jalur yang sebenarnya Ken menceritakan yang dia tau selama ini. Ken merasa kedepannya akan sangat sulit menangani masalah sendiri dia membutuhkan Liam yang selalu jauh lebih jeli darinya.
"mereka mengincar mu sebagai tuan muda Dewantara group " kekhawatiran Ken
"aku tahu Ken, aku tidak akan diam lagi"
Ken mendekati Liam dan memeluknya erat, Ken tahu bahwa selama ini Liam sangat kesepian, dia bahkan menolak pelukan karena trauma tentang ibunya yang mati di pelukannya sendiri.
"kakek akan segera berkunjung " tegas Ken
__ADS_1
"aku tahu "
"sejak kapan Liam" Ken menanyakan tentang Liam yang tidak mau di peluk disaat sedang sadar.
"sepertinya hatiku hangat akhir akhir ini Ken"
"ku harap aku mengenalnya Liam"
Ken dapat melihat ada seseorang dibalik perubahan tuan mudanya, mereka bercanda gurau mengingat masa kecil mereka.
jam kantor berakhir tuan Liam dan sekretaris Ken turun menggunakan lift eksekutif hingga sampai ke parkiran khusus
"Ken, beristirahatlah aku akan pergi sendiri jangan mengikuti ku hari ini" kata tuan Liam menajamkan matanya
"baiklah, dengan satu syarat"
"apa lagi Ken?" tuh kan mulai kesal dia
"untuk besok aku akan memperketat penjagaan mu dan izinkan aku menempatkan penjaga di beberapa kemungkinan."
"bukankah kau sudah melakukannya! lalu untuk apa izin dari ku dasar kriminal"
"hahaha... kamu benar tuan muda saya sekretaris Ken tidak membutuhkan izinmu"
"jangan membuatku terganggu Ken"
Ken lega setelah mendapat persetujuan itu, sekretaris Ken keluar dari mobil tuannya dan membiarkan mobil itu menuju tujuannya sendiri.
tuan Liam berhenti di seberang jalan di sana ada halte bis dilihatnya seseorang yang duduk terdiam di sana hingga pandangannya terhalang dengan bis kota dan hal memalukan yang tuan Liam lakukan saat berencana mengikuti bus itu.
bus berhenti di perempatan jalan di mana tempat itu terdapat rumah rumah kecil dan sederhana, namun sepertinya terlihat tenang tidak banyak kendaraan.
Nadila tanpa melihat sekeliling pergi memasuki kontrakannya.
"jadi kucing itu tinggal di sini"
tuan Liam sempat tersenyum dan tidak lama dia tersadar
"aisss kenapa aku mengikutinya ahh sudah lah lagian ini tidak terlalu buruk dan Ken tidak mengetahuinya hahaha" tuan Liam merasa sangat hebat karena berhasil menguntit orang tanpa ketahuan.
sepanjang perjalanan pulang tuan Liam sedang merencanakan sesuatu yang membuat nya senang dan sepertinya memang menyenangkan untuk di lakukan di akhir pekan, sultan memang bebas bukan? berbuatlah sesukanya.
ini adalah pemecah rekor terbaik tuan muda Liam mengabaikan pekerjaannya hari itu karena seharian ini dia sedang melakukan misi yang luar biasa. mulai dari mencuri bekal makan siang orang, berbicara seperti layaknya keluarga bersama sekretaris Ken, hingga mengikuti seseorang tanpa alasan. yah, mungkin alasannya penasaran kucing itu tinggal dimana.
__ADS_1