Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 62 ritual gila ken


__ADS_3

perusahaan yang di wakili Ken tetap stabil walau telah kehilangan data penting. Awalnya tidak mudah banyak yang melakukan penyelundupan memanfaatkan kekacauan yang ada, Ken menyelesaikan semua selama berbulan-bulan dan disinilah Ken berada saat ini melepas semua penat yang melekat padanya.


Ken menjernihkan pikiran di pesisir pantai yang tidak berpenghuni itu, bukan tanpa pengunjung tapi Ken mengosongkan tempat itu untuknya. Ken menceritakan rasa rindu yang mendalam kepada ombak yang tidak pernah lelah datang menyapa daratan dan angin yang menenangkan jiwa.


"akankah kau tidak kembali tuan muda, setidaknya anda memberi saya tuan muda kecil sebagai kenangan sebelum pergi tanpa jejak" Ken memandang lautan yang tidak kelihatan ujungnya sama seperti beban pikirannya yang tidak ada habisnya.


Ken menceritakan banyak hal dan juga meluapkan kekesalannya pada batu yang dilemparnya ke lautan hingga dia tertidur karena rasa nyaman dibelai angin pantai.


Kedatangan Loi membangunkan Ken dari kedamaian dunianya, ternyata langit sudah berubah warna menjadi sangat indah, sebagai tanda matahari berpamitan untuk bersembunyi.


"anda telah lama tertidur tuan" kata Loi sang pengganggu ketenangan.


"pergilah tidak seharusnya anda mengikuti saya, tugasmu ada kalau tuan muda masih ada, beliaulah yang seharusnya anda ikuti bukan saya" Ken merasa kesal Loi memperlakukan dirinya sama seperti Loi memperlakukan tuan Liam. Hal itu sangat mengganggu karena dia seakan merasa lemah sehingga harus dikawal.


Loi tidak dapat membantah Ken, dia yakin Ken sudah lebih baik setelah melakukan ritual panjang di pinggir pantai. kelakuan Ken hari ini cukup menghibur Loi, seumur hidup baru kali ini Loi menyaksikan Ken berlaku seperti anak labil.


"saya pergi tuan, ingat hari akan segera gelap saya harap ritual anda sudah berakhir. Saya juga minta tolong ikutkan titipan salam dari saya untuk istri tuan muda hahaha" Loi pergi meninggalkan Ken.


Dari kejauhan Loi dapat melihat Ken belum menyudahi kegiatannya, entah ritual apa lagi itu Loi bahkan sudah menyerah untuk mencari tahu, Loi tidak ingin mengganggu Ken lebih lanjut.


Di belahan dunia lain seperti biasa tuan Liam pergi memancing saat dini hari dan akan kembali di pagi hari. Tuan Liam yang mencintai istrinya kadang tidak rela meninggalkan wanita pengisi hatinya yang selalu tertidur pulas. Namun, dia harus melakukan pekerjaan itu untuk menambah tabungannya untuk persalinan istrinya, hasil pancingan ikan selalu banyak setiap saat dan selalu terjual.


Tuan Liam pulang di pagi hari dengan wajah bahagia, istri tercintanya selalu melakukan penyambutan yang meluluhkan hatinya.


"sayang jangan terlalu lama berdiri ayo duduklah, perutmu sudah mulai membesar jangan lakukan ini lagi" tuan Liam dengan telaten membantu istrinya duduk tangannya gemetar saat istrinya berlari memeluknya.

__ADS_1


"aku akan baik-baik saja, ayo menjual hasil pancingannya biar bisa dapat uang" Nadila dengan sangat bahagia menemani suaminya.


Mereka pergi ke pasar tradisional untuk berjualan ikan, hal yang tidak pernah dilakukan tuan Liam selama hidupnya harus dilakukannya demi istrinya. Dengan ketampanan yang tidak memudar di wajahnya sudah mengundang para pembeli. Tuan Liam bukan hanya menjual ikan tapi juga sudah mulai menjual hasil kebunnya berupa sayuran segar, jualan itu sangat cepat habis yang kadang membuat Nadila merasa cemburu dengan rayuan para wanita bahkan ibu-ibu pada suaminya.


"ada apa dengan wajahmu sayang? kenapa mengerut seperti itu?" tuan Liam bertanya walau sudah tahu alasan dari tingkah istrinya yang semakin manja padanya.


"hmm" Nadila menutup mulutnya rapat dan enggan mengeluarkan suara, bukan kesal tuan Liam tertawa terbahak istrinya sangat menggemaskan.


"baiklah ayo suamimu yang tampan ini akan membawamu kesuatu tempat" satu kecupan lembut berhasil menghilangkan kerutan di wajah Nadila. wanita yang hamil muda kembali ceria dia berjalan bergelayut di lengan suaminya mengelilingi pasar.


sangat banyak makanan yang dijual di pasar, Nadila menelan liurnya saat aroma bakso bakar menyapa indra penciumannya.


"aku ingin sekali memakannya tapi aku harus menabung untuk bayi ku" Nadila menahan keinginannya sambil mengelus perut buncitnya.


"sayang aku ingin makan bakso bakar itu" bukan Nadila tapi tuan Liam yang ingin, Nadila terkejut karena gerakan cepat tuan Liam yang menarik tangannya mendekati jajanan yang berbaris di sepanjang jalanan pasar.


"aku tidak mau suamiku, makanlah bukankah kamu yang sangat ingin?" Nadila menolak sia-sia usaha mereka mencari uang jika hany di habiskan untuk jajanan.


"Dila sayang, aku ingin makan bersama anakku jadi kumohon bantu aku" tuan Liam tidak menerima penolakan dia menyuapi istrinya, dia hanya makan satu bulatan bakso saja selebihnya untuk istrinya. Nadila ketagihan dan meminta lebih banyak lagi, dia lupa keuangan suaminya. Tuan Liam memberi semua yang diminta Nadila, dia senang hati ini istrinya memakan semua jenis makanan yang sudah lama di tahannya.


Nadila bersandar di pundak suaminya sambil mengelus perutnya yang kenyang. Rasanya menyesal terlalu banyak makan, wanita berbadan dua itu kesulitan menggerakkan tubuhnya.


"ah perutku akan meledak" Nadila sangat puas.


"anakku sudah kenyang sayang atau masih mau yang lain, martabak Mesir misalnya" tawar tuan Liam lagi, rasanya menyenangkan melihat mulut belepotan ibu hamil yang bernafsu makan banyak.

__ADS_1


Nadila dengan cepat menolak dia sadar sudah melewati batas, suaminya sedangan cuti menjadi sultan sekarang. Dia menepuk jidatnya menyesali kalau dia sudah melakukan pemborosan.


"maafkan aku suamiku, aku menghabiskan uangmu lagi" mood ibu hamil yang tidak terduga, Nadila menangis karena rasa bersalahnya jelas-jelas dia melihat dengan matanya sendiri kalau suaminya kesulitan mendapatkan uang tapi dengan senangnya dia menghabiskannya.


"hei, kenapa menangis. sssttt sudahlah sayang itu tidak ada nilainya bagiku, aku bahagia melihatmu tidak mogok makan. Bukankah dokter bilang kamu harus makan banyak karen anak kita butuh nutrisi, biasanya wanita hamil suka ngidam sayang aku tahu kamu sudah menahannya sejak lama maafkan aku yang baru bisa memberi yang kamu inginkan " tuan Liam memeluk istrinya dengan sayang yang sangat besar, siapapun yang melihat itu pasti iri.


Biasanya tuan Liam menggunakan mobil yang hanya diproduksi satu di dunia tapi kali ini dia sedang melatih otot kaki dengan berjalan kaki sambil menggendong istrinya yang kesulitan berjalan karena kekenyangan.


"apa kamu lelah suamiku?" Nadila khawatir pada suaminya yang berkeringat.


"mengapa aku harus merasa lelah untuk kalian? tubuhmu masih sangat ringan besok-besok makanlah lebih banyak lagi" tuan Liam memang sangat kuat menggendong istrinya bukan hal yang sulit. Nadila lah yang tidak nyaman merepotkan suaminya.


Nadila diperlakukan seperti layaknya sang ratu, segala keperluannya disiapkan oleh tuan Liam. Pria yang sangat berkuasa yang sangat siaga untuk istri dan anaknya yang akan lahir nanti.


"apa kamu tidak berniat kembali sayang, perusahaan mungkin membutuhkanmu kasihan sekretaris Ken sendirian" kata Nadila mengingat tuan Liam bukan orang biasa dari kelas rendah.


Tuan Liam terdiam cukup lama dia sedang memikirkan sesuatu dan setelahnya dia tersenyum bahkan tertawa kecil, dia menemukan harta Karun di hatinya.


"apa kamu mengidam untuk kembali ke kota sayang" sungguh diluar ekspektasi manusia tuan Liam hanya memikirkan kesenangannya.


"bukan begitu suamiku, mana ada acara mengidam seperti itu" Nadila sangat shock dengan kelakuan suaminya.


"anak kita akan lahir di kota sayang, dia akan melihat seberapa besar kekayaan Dady nya yang bahkan mommy nya sendiri tidak perna tahu. Tunggulah sayang aku juga memikirkan betapa merepotkan nya ken tapi sebentar lagi ya, aku ingin memberi kejutan untuk mereka" tuan Liam yang menyombongkan dirinya yang sedang cuti menjadi sultan, Nadila tertawa melihat sifat lain suaminya yang mau hidup sederhana bagi mereka.


Sedangkan yang dirumah utama merasa telinganya berdengung dan tidak nyaman, dia adalah sekretaris Ken yang selalu mencari kesibukan di rumah utama.

__ADS_1


"anda baik-baik saja tuan?" tanya pak man.


"aku merasa telingaku berdenging sepertinya ada yang sedang berencana jahat padaku" Ken merasa Dejavu membuat pak man geleng-geleng kepala.


__ADS_2