Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 33 merasa dilupakan


__ADS_3

Dua hari kemudian suasana sudah kembali tenang dan tuan Liam sudah kembali bekerja seperti biasa dengan sekretaris Ken yang selalu setia di belakangnya. Geronimo lagi-lagi kalah dan kembali ke persembunyiannya dalam waktu panjang mungkin dia tidak kembali.


Di tempat lain dalam sebuah kamar Vila mewah yang terletak di kaki gunung dan dibatasi oleh pantai yang indah Nadila termenung di balkon kamarnya merasa terasingkan dari dunianya.


"apa anda melupakan saya tuan? ini sudah dua hari berlalu tapi anda belum datang menjemput saya" Nadila tidak tahu dimana dia berada saat ini para pelayan dirumah itu tidak ada mau memberi tahunya dan juga melarangnya untuk keluar atau pergi jauh. Pria yang selalu muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba itu tidak ia kenal.


*flashback*


saat penyerangan terjadi seseorang berusaha membuka pintu mobil yang didalamnya Nadila bersembunyi hingga memecahkan kaca mobil itu. Karena ketakutan dan juga terkejut dengan kaca mobil yang pecah gadis itu pun pingsan, ketika Nadila sadar dari pingsannya dan mulai membuka matanya. Nadila merasa bingung tidak mengenali tempat dia berada saat ini


"dimana ini?" Nadila melihat sekelilingnya yang terlihat asing. Pintu kamar terbuka seorang pria masuk kedalam kamar itu


"apa tidur anda nyenyak?" tanya pria itu.


"siapa kau dan ini dimana, kenapa anda membawa saya ke sini?" pertanyaan beruntun itu membuat pria itu ingin tertawa.


"apa anda menyukai tempat ini nona?" pria itu tidak menghiraukan pertanyaan Nadila.


"tidak! aku ingin pulang suami saya pasti mencari saya tuan, tolong antarkan saya pulang" kata Nadila mulai takut. "tuan Liam, suamiku. kamu dimana tolong datanglah aku takut" Nadila menangis dia sangat berharap suaminya datang sekarang.


"nona, jangan menangis saya bukan orang jahat"


"aku ingin pulang" kata Nadila lagi.


"saya tidak punya banyak waktu nona. Disini ada banyak pelayan mereka akan melayani anda, anggap saja kalau anda sedang liburan akhir pekan dan anda berada di vila di kaki gunung anda akan aman disini dan sampai jumpa lagi" pria itu pergi meninggalkan Nadila dalam kebingungan seakan tersesat dalam ruangan sempit.


*flash off*

__ADS_1


"anda dimana tuan ? mengapa melupakan saya, datanglah menjemput saya " Nadila sangat berputus asa sekarang. Pria yang membawanya tidak melakukan apapun padanya dan juga tidak ingin menjawab pertanyaannya, pria asing itu hanya meninggalkannya begitu saja. setelah lama termenung Nadila teringat dengan ponsel suaminya yang dia bawa bersamanya, dia mencari keberbagai sisi kamar itu berharap ponsel itu bisa membantunya. Ternyata semesta masih berpihak padanya ponsel itu tersimpan dengan baik di laci meja rias kamar itu.


"yeah aku menemukannya" Nadila merasa senang ponsel itu masih bersamanya. Dia mulai membuka dan mengotak atik ponsel itu, hanya ada dua nomor dalam ponsel itu salah satunya nomor sekretaris Ken, segera Nadila menelpon nomor itu tapi sekretaris Ken tidak menjawabnya membuat Nadila kehilangan harapannya.


"ternyata pernyataan cintanya itu hanya bualan saja agar aku percaya padanya dan sekarang berharap dia akan menjemputmu, aku membencinya sekarang jika dia mencintaiku pasti dia akan mencari ku kan." Nadila merasa di tipu oleh tuan Liam dia merasa sedang berada dalam pengasingan di tempat tanpa penghuni hanya ada suara burung di pegunungan dan deru ombak di pantai.


Nadila menjalani kesendiriannya dan tidak bisa di bohongi dia merindukan seseorang dengan panggilan pria gila oleh nya. semua memori selama bersama tuan Liam terputar dipikirannya. Bahak hari sudah mulai malam tapi belum ada tanda tanda seseorang akan datang. Di tengah lamunannya pria asing yang membawanya ke tempat itu datang lagi, Nadila mengambil pisau buah dan menggenggamnya erat bersiap menyerang pria itu.


"selamat malam nona" kata pria itu mengulum senyum karena melihat reaksi Nadila memegang pisau.


"siapa anda sebenarnya mengapa menahan saya disini?" Nadila benar-benar tidak tahan dengan semua ini.


"saya yakin ingatan anda sangat lemah, apa anda tidak ingat dengan saya? bahkan sebelum ini kita pernah berpapasan beberapa kali. Ingat ingatlah dulu nona dan tolong letakkan pisaunya itu sangat berbahaya" pria itu berbicara degan sangat santai kemudian berjalan mengambil segelas wine. Nadila berusaha mengingat orang itu tapi yang terlintas di pikirannya bukanlah pria yang didepannya melainkan seseorang yang dia harapkan akan datang menjemputnya pergi.


"istirahatlah nona ini sudah larut malam" Pria itu seperti peramal bisa mengetahui isi pikiran Nadila yang sedang memikirkan seseorang.


Di dalam kamar Nadila tertidur dalam kesepiannya dan mulai mengigau memaki suaminya yang seakan telah melupakannya. kemudian gadis itu terbangun di saat hari masih gelap, dia keluar merasakan dinginnya angin saat dini hari sepertinya dia sulit untuk terlelap.


"mengapa aku harus mengharapkannya, dia memiliki segalanya dan bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan. Betapa menyedihkannya hidupku mengapa harus aku yang terpilih masuk kedalam ilusi alam ini?" Nadila melamun di dan terus berjalan hingga sampai di atas bebatuan yang ber jurang air laut dengan ombak kuat, langkah kakinya enggan untuk berhenti hingga sampai ke tepi bebatuan itu. Gadis itu memejamkan mata menikmati hembusan angin yang dingin dan perlahan menjatuhkan dirinya.


Sebuah tangan kokoh melingkar di pinggangnya menariknya kembali, Gadis itu sayup sayup berusaha melihat wajah orang yang berada di hadapannya tapi wajah itu terhalang oleh gabut yang memenuhi mata Nadila. Gadis pingsan, pria berjas itu membawanya ke dalam kamar dan mencoba membangunkannya dalam berbagai cara.


"hei, Bagun lah" menepuk nepuk wajah Nadila.


Perlahan mata dengan bulu mata lentik itu terbuka dan melihat seseorang yang ada dihadapannya begitu dia rindukan hadir selama ini.


"Bahkan saya berhalusinasi tentang anda tuan" Nadila menangis dan mendorong tubuh pria yang berada sangat dekat dengannya, dia menolak apa yang terjadi pada dirinya saat ini.

__ADS_1


"jadi kau berhalusinasi tentangku?" kata pria itu mengonfirmasi pendengarannya


"menjauh lah dari saya, pergilah jauh! anda pikir ini tidak menyiksa saya. Saya berharap anda datang menjemput saya tapi kenapa tidak kunjung datang hiks... apa saya terlalu bodoh karena memercayai anda" Nadila melemparkan kekesalan dihatinya dia masih beranggapan bahwa pria dihadapannya adalah bagian dari halusinasinya.


Pria yang ada dihadapan Nadila adalah tuan Liam suaminya, tuan Liam baru menyadari kedatangannya terlalu lama dan hampir terlambat. Tuan Liam membawa istrinya kedalam pelukannya mencoba mengembalikan kesadaran istrinya dan menenangkannya.


"ini aku sayang, maafkan aku ya maaf maaf" ucap tuan Liam berkali kali.


Nadila mulai menemukan kesadarannya merasakan pelukan hangat itu membuatnya yakin bahwa ini bukan halusinasinya tapi benar, suaminya tuan Liam ada bersamanya saat ini.


"mengapa lama sekali tuan?" suara Nadila melemah diiringi sesenggukan.


Tuan Liam hanya diam dan memeluknya masih ingin melepas rindu. Setelah lama terdiam dan suasana hati nya sudah mulai tenang dengan sangat bersalah tuan Liam meminta seribu maaf dari Nadila.


"maaf karena terlambat datang"


"Apa saya harus senang dengan kedatangan anda sekarang?" pertanyaan yang sulit di jawab oleh tuan Liam.


"Apa anda tidak berpikir bagaimana keadaan saya saat ini, pria itu memaksa saya ikut dengannya saat itu tuan bahkan berusaha memecahkan kaca mobil anda. Apa anda tidak berfikir seberapa takutnya saya? ketika terbangun berada dalam sebuah kamar yang aneh dan pria itu selalu datang setiap saat itu membuat saya ketakutan. Saya tidak mengenali pria itu, dia juga tidak mau menjawab pertanyaan saya. Saya tidak tahu harus pergi kemana, saya seperti berada dalam pengasingan." Nadila mengeluarkan semua ketakutannya selama ini.


"sudahlah, hari masih sangat dini kita lanjutkan besok ya. sekarang tidurlah sayang" kata tuan Liam lembut lalu memeluk tubuh istrinya.


"kenapa kita tidur disini tuan ayo pulang saya tidak ingin pria asing itu datang" Nadila yang masih khawatir padahal pria asing yang dia sebut itu tidak pernah berbuat jahat padanya.


"Ken ada disini dia tidak akan berani, tidurlah kamu pasti lelah"


Nadila tidak punya pilihan lain selain memejamkan matanya yang sudah lelah. Tidurnya malam ini lebih nyaman dari hari kemarin yang hampir tidak tidur karena masih takut ada yang berbuat jahat padanya.

__ADS_1


__ADS_2