
tuan Liam yang menginap dihotel terjaga dari tidurnya telinganya berdengung seakan ada yang memanggilnya.
"ini masih sangat dini hari"
berusaha mencari posisi yang nyaman tapi tidak ditemukan. tuan Liam teringat dengan gadis yang berstatus istrinya.
"gadis itu, aku sampai melupakannya."
mengambil hp mengotak atik tapi sepertinya yang dia cari tidak di temukan.
"aku tidak menyimpan nomornya. jadi dia hanya gadis berstatus istri di hidupku, mengapa aku seperti merasa bersalah."
mencoba menghubungi sekretaris Ken tapi pria itu seakan menghilang, saat saat termenung nya sebuah notifikasi masuk.
"anda membutuhkan sesuatu tuan?" nomor tidak dikenal. tuan Liam mengabaikan pesan itu dia mau sekretaris Ken sekarang, mencari sekretaris Ken keluar kamar hotel bahkan mencoba melihat dari atas balkon.
"saya di depan kamar anda tuan muda" pesan masuk lagi.
"saya mau Ken sekarang!" tidak mengenal nomor siapa tapi tetap bertanya tentang sekretaris Ken.
"tuan Ken sedang mengurus sesuatu tuan, saya ada di sekitar anda"
"perlihatkan dirimu" final tuan Liam,
ketukan pintu kamar tuan Liam, pria misterius itu ternyata memperlihatkan dirinya.
"selamat pagi tuan muda, senang bertemu dengan anda" jam 3 dini hari.
"masuklah" Tuan Liam
"terimakasih tuan muda dan selamat untuk pernikahan anda" pria itu terlihat tenang.
"suruh Ken kesini!"
"tuan Ken Sudah kembali ke ibu kota tuan."
"sial beraninya dia! lalu kau!" sekretaris Ken pergi tanpa pamit.
"saya Loi tuan, pengawal bayangan untuk anda saya pengawal masa kecil anda."
"jelaskan dengan benar!"
"saya pengawal anda sejak berumur 15 tahun tuan. saya selalu berada di sekitar anda, sekarang saya harus memperlihatkan diri."
"saya mau kopi" Loi langsung mengerti membawa tuan mudanya di cafe hotel itu.
mereka berbincang lama, sangat mudah mengakrabkan diri dengan tuan muda pikirnya.
"apa yang terjadi?"
"pengawal yang di kirim tuan Ken menjaga anda dari jarak jauh tiba tiba menghilang"
"dan Ken sialan meninggalkan saya dalam keadaan tertidur!" tuan Liam mencoba mencerna yang terjadi.
"tuan besar berada di negara ini, tuan Ken bisa meninggalkan anda karena dia percaya pada tuan Giorgi"
"ch, jadi kau menggantikan mereka yang musnah!"
Loi sadar sedang berbicara dengan siapa
"pilihan kata yang bagus tuan muda." Loi
"saya sudah belasan tahun berada disekitar anda tuan, tanpa di ketahui siapapun bahkan tuan Ken sekalipun"
"lalu kenapa kau memperlihatkan diri padaku?"
"anda memerintah saya tuan" jawab Loi.
Loi mengantar tuan Liam ke kamarnya.
Loi bisa membaca bahwa tuan mudanya tidak tenang.
"tuan muda, beristirahatlah dengan tenang saya dengar nona muda baik baik saja, walau sedikit murung dan sesekali menanyai keberadaan anda. beristirahat lah tuan muda saya akan berjaga di luar!"
"hmm"
Loi hendak meninggalkan kamar tuan mudanya.
"Loi kau tahu yang kuinginkan"
"sudah saya kirimkan tuan." lalu pergi menghilang dibalik pintu. tuan Liam memeriksa pesan dari Loi nomor Nadila,
dia tersenyum ternyata Loi memahaminya dengan baik.
tuan Liam terbangun jam 7 pagi itu sudah sangat terlambat badannya sakit semua, tidurnya tidak bersahabat tadi malam. menghubungi.....
"beraninya mengabaikan ku!" marah lagi.
di panggilan ke lima terdengar suara di seberang sana
"hallo... hall ooo... apa ada orang? siapa ini!"
__ADS_1
suara serat baru bangun itu terdengar sangat merdu.
tuan Liam mematikan telepon sepihak. Dia seperti sedang memenangkan lotere sekarang. Loi muncul jam 8 di depan kamar.
tidak berselang lama tuan Liam muncul.
"hei! kau mengejutkan saya."
mereka menuju lobi hotel. Tapi sepertinya perjalanan itu tidak mulus, tuan Liam berpapasan dengan seseorang yang familiar.
"Liam, kau kah itu Liam" kata wanita itu lembut.
"apa saya mengenal anda?" Liam acuh.
"secepat itu kau Melupakanku Liam, kamu lupa tentang kita" berusaha menyentuh liam
"Jennie jaga sikap mu!"
wanita itu adalah Jennie mantan kekasih tuan Liam
"tidakkah kita kembali seperti dulu Liam" kata nya memelas.
Loi menyadari ketidak nyamanan itu langsung menghalangi Jennie.
"saya harap kita tidak bertemu di beberapa kemungkinan yang menjadi kebetulan" kata tuan Liam pergi tanpa menoleh.
"saya ingin segera pulang Loi"
tanpa bersuara Loi menjalankan mobil memamerkan bakat mengemudinya dengan sangat baik.
"anda melewatkan sarapan anda"
"apa dia sudah sarapan?"
"nona sarapan didalam kamar, tidak perna keluar tuan muda" jelas Loi.
"ch, kapan saya membahas tentang dia!"
sekarang Loi mengerti seperti apa tuan mudanya dari dekat, selama ini dia hanya memperhatikan dari jauh.
"tuan muda, kalau anda bersikap seperti ini setiap hari saya akan sangat betah bersama anda. anda sangat menantang" Loi
Liam memasuki rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya, tuan muda itu mengabaikan orang yang berada di ruang tamu.
"ada apa dengannya Loi" tanya Giorgi mewakili.
"sepertinya tuan muda merindukan istri nya" Loi bicara dengan santai.
Benar saja tuan Liam mencari keberadaan Nadila.
"kau sudah berani mengabaikan saya!"
Nadila mengakhiri kegiatan berjemur matahari di balkon. dia mendekati arah suara.
"apa peduli anda"
"apa kau gila! kau makin kurangajar sekarang"
"apa lagi sekarang! tuan Liam yang terhormat!"
"hei ada apa dengan mu?" Liam menyadari perubahan Nadila yang makin kurus.
"ada apa? kau menikahi saya dua hari lalu dan kemudian pergi menghilang. meninggalkan saya sendirian di rumah yang besar ini. apa anda tidak berfikir bagaimana keadaan saya. untuk itulah saya menolak pernikahan ini tapi anda tidak membantu sama sekali.
apa anda tidak memikirkan perasaan saya, tidak kan? anda bahkan tidak peduli pada saya. " air mata Nadila mengalir, bahkan dia berteriak menyampaikan keluhannya.
Tuan Liam hanya diam mendengar, memberi waktu untuk Nadila meluapkan isi hatinya.
"anda kemana saja tuan? anda meninggalkan saya bersama orang orang asing dirumah ini, saya merasa takut. hiks... bagaimana saya bersikap? saya tidak mengenal tuan tuan itu.
kakek... kakek anda sangat mengerikan, saya tidak bisa keluar kamar, saya takut bertemu dengan mereka hiks... hiks...
kakek anda tidak adil dalam mengambil keputusan dia tidak mau mendengar penjelasan. saya tidak mau berpapasan dengannya, saya tidak ingin berbicara padanya. "
tuan Liam memeluk Nadila mencoba menenangkannya sama sekali tidak berfikir mental Nadila terancam.
"tenanglah, tenang." memeluk Nadila erat.
cukup nyaman pelukan itu membuat Nadila tertidur pulas. tuan Liam memperbaiki posisi Nadila di tempat tidur.
"jadi kau mengharapkan saya ada disini mengapa kau bergantung pada saya?
tapi kau membenci kakekku, apa kau menyesal menikah denganku?"
tuan Liam meneliti wajah Nadila yang kelelahan dan sangat menyedihkan.
tuan Liam turun setelah dirasa Nadila tidur dengan nyaman masih tidak peduli dengan para penghuni rumah itu.
"pak man!" panggil Liam
"apa yang bisa saya bantu tuan muda"
__ADS_1
"apa Ken belum kembali?"
"tuan Ken belum kembali dari kemarin tuan muda"
"kemana pria gila itu!"
"anda membutuhkan sesuatu?"
"bawa sarapan ke kamar, oh iya! jangan sampai membangunkan gadis itu biar kan dia istirahat"
"nona sudah sarapan tuan" menyampaikan informasinya
"aku lapar!" Liam merasa sangat lelah berbicara dengan semua orang. Ken benar benar ingin mati, meninggalkan tuan muda yang sangat membutuhkannya.
menghubungi sekretaris Ken lagi dan lagi.
"Ken sialan...."
"Ken akan kembali besok, jadi tetap di rumah hari ini" kakek
"ch, aku ingin bubur ayam " melontarkan keinginannya lalu pergi kedalam kamar.
"saya memiliki firasat tuan muda mengidam" seloroh Loi lalu pergi mencari bubur.
"Giorgi apa selera cucuku berubah?" tanya kakek
"sepertinya itu untuk nona tuan besar."
tuan Liam larut didalam pikirannya.
"apa aku mencintainya, tapi mengapa secepat ini."
Nadila mulai menggeliat di tempat tidur badannya terasa kaku mencoba meregangkan nya melihat itu tuan Liam mendekati tempat tidur.
"tu... tuan"
"kau sudah bangun? bersihkan dirimu, saya akan segera kembali"
tuan Liam menuruni tangga dengan tergesa gesa.
"dimana bubur nya pak man?"
"akan saya panaskan tuan, sebentar." pak man melihat jam yang melingkar di tangannya jam 11.00 bukan waktu yang tepat makan bubur pikirnya.
"mengapa lama sekali pak man panggil semua pelayan!" entah apa penyebab kekesalan itu.
seluruh pelayan berbaris di ruang pembatas dapur dengan ruang tamu yang luas itu.
"apa kalian bersenang senang? bagaimana kalian tidak memberi nona kalian makan!"
"tuan muda bubur anda" sela pak man
"tertibkan mereka pak man."
tuan Liam membawa bubur ke kamar.
Nadila sudah segar dengan baju santainya. sepertinya dia lupa dengan apa yang terjadi tadi pagi.
"makan buburmu"
" bubur? saya tidak mau makan bubur tuan" tolak Nadila
"ch, baru dua hari tapi kau sudah sekurus ini."
"saya tidak lapar, tolong tinggalkan saya sendiri"
"buka mulutmu, Keith "
Nadila menoleh panggilan itu sangat aneh
" nama saya Nadila tuan"
"saya akan memanggilmu Keith saja. Nadila terlalu panjang. buka mulutmu"
" tidak mau!!"
tuan Liam merasa tidak senang, dia melakukan berbagai cara untuk membuat Nadila makan.
"mmhhh"
tuan Liam menyuapi Nadila dengan mulutnya.
"apa yang anda lakukan?" Nadila sangat kesal
" kau ingin makan sendiri atau saya suapi!"
Nadila terpaksa memakan semua bubur itu tidak mau di cium lagi.
"itu ciuman pertama saya"
Nadila merasa terhina sekarang, tapi tuan Liam merasa senang akan penuturan Nadila.
__ADS_1
"saya tidak peduli itu resiko dirimu sendiri. lagian saya suamimu ingat itu."
Nadila menyadari hal itu, tuan Liam memiliki hak atas dirinya sekarang.