Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 22 ken


__ADS_3

sekretaris Ken mengendarai mobil membelah keheningan malam, jalan yang sepi itu mempercepat laju kuda besi itu. Di pertengahan jalan sekretaris Ken di hadang oleh berapa berandalan. sekretaris Ken keluar dari mobil ini hal biasa baginya.


"sekretaris Ken, kau cukup berani." kata pria blasteran yang berada diantara barisan pria berbadan padat itu.


sekretaris Ken mengenal orang itu.


"Deorsa, penangkis pedang."


"apa anda takut tuan Ken?"


sekretaris Ken merasa ini bukan kebetulan.


"saya rasa saya salah memilih jalan untuk pulang"


"hahaha ternyata anak ingusan itu tidak bersamamu"


"kau sungguh sangat ceroboh deorsa, mengabaikan lawan adalah kesalahan." sekretaris Ken tetap tenang.


"baiklah melenyapkan mu akan lebih baik, kau selalu saja menghalangi pergerakan ku"


deorsa bersiap dengan pistolnya melakukan serangan jarak dekat.


pertarungan itu sangat seimbang. anak buah Deorsa melepas tembakan dari berbagai sisi. sekretaris Ken berhasil menghindar. Ternyata kekuatan sekretaris Ken tidak bisa di remehkan dia hanya dengan tangan kosong berhasil menjatuhkan lawan. semua anak buah Deorsa terjatuh, bahkan patah tulang.


"dorrr, dorr" suara tembakan tidak terelakan


"sial" Ken memaki Deorsa yang membawa banyak pasukan.


Ken melayangkan senjata darurat ke arah Deorsa, pisau itu mendarat di lengan kiri Deorsa.


sekretaris Ken terpaksa harus menghindar, masuk kedalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi, dua puluh mobil mengejarnya.


"kau sangat licik tua Bangka, tapi juga pengecut."


sekretaris Ken tahu betul orang yang mengirim Deorsa. sekretaris Ken menggiring mobilnya di dalam hutan di sebuah gedung tua. menghadapi pasukan yang banyak di tempat terbuka bisa melukainya, dia harus punya benteng pertahanan.


sesuai dugaan pasukan yang mengejarnya berpencar.


"cari dia." Deorsa merasakan kemenangan.


Dooorrr, dorrr tembakan dimana mana.


sekretaris Ken menembak dengan sangat brutal.


"kau curang Deorsa" suara dari belakang Deorsa.


"hahaha, masih banyak lagi yang akan menghajar anda tuan Ken. setelah kau lenyap maka tuan muda kesayangan anda juga menyusul"


"hm, mimpi mu terlalu tinggi!!!"


perkelahian terjadi, Ken akui kecepatan Deorsa sangat cepat dalam bertarung, Deorsa berhasil memberi goresan di otot perut Ken.


kekuatan Ken berkurang karena kelelahan menghadapi ratusan orang.


"ini cukup menyenangkan Ken" Deorsa sangat senang Ken sudah terluka.


Ken melayangkan pukulan cepat dan menendang Deorsa hingga terjatuh. tidak membuang kesempatan Ken mengeluarkan pisau perak di sisi kakinya, memberi sayatan pada Deorsa. tapi sepertinya Deorsa cukup terlatih setelah sekian lama memberi sayatan berkali kali membuat sekretaris Ken kewalahan.


sekretaris Ken tetap bertahan menendang tulang kering Deorsa, Deorsa mengerang merasakan kakinya ingin patah. perkelahian itu menjatuhkan Deorsa tidak lupa sekretaris Ken memberi hadiah tusukan di bahu Deorsa sebagai kenang kenangan. Tapi sepertinya pasukan penolong Deorsa datang dalam jumlah banyak kembali. sekretaris Ken yang kehilangan banyak darah sudah tidak berdaya, sayup sayup dia melihat bayangan seseorang mendekat padanya dan kemudian tubuhnya melayang. tubuh sekretaris Ken semakin menjauh dari keributan suara senjata itu.


sekretaris Ken merasa dingin ini seperti berada didalam ruang pendingin saja, perlahan membuka matanya tergambar ruangan putih dimatanya. sekretaris Ken berusaha menemukan kesadarannya.


"kau sudah sadar"


suara pria berjas di samping jendela itu, sedang menikmati minuman anggur.


sekretaris Ken terdiam dia masih lunglai.


"aku sempat berpikir kau tidak bisa menghindari peluru"


"tuan Matteo, anda datang" sekretaris Ken berusaha mengeluarkan suaranya yang masih lemah.


"kau curang Ken!"


mengerti arah pembicaraan Matteo membuat Ken tertawa.

__ADS_1


"Haha awhhh." luka yang sangat mengganggu itu memberi nyeri yang menyakitkan.


"tetaplah berbaring lukamu cukup dalam"


Matteo datang tepat waktu, anggota Matteo yang berkeliaran di sekitar kota B samar samar melihat mobil tuan Liam melakukan perjalanan di tengah malam, tapi kesibukan Matteo di club' dan jarak kota B cukup memakan waktu.


"terimakasih tuan Matteo, saya berutang pada anda"


"aisss ternyata berasa di sekitar Liam sungguh mempengaruhi pergaulan mu yang menjadi kaku Ken membosankan sekali"


"itu membuat saya nyaman"


"ch, aku membenci bos mu itu. ayolah Ken bersikap santai lah sedikit aku merindukan hal itu"


"huh baiklah"


lama mereka terdiam Matteo membiarkan sekretaris Ken menikmati obatnya agar dia cepat pulih.


"Deorsa?" tanya sekretaris Ken


"mereka berhasil melarikan diri, dia membawa gas air mata, membuat anggotaku kehilangan jejak Deorsa"


"mereka semakin mendekati tuan muda"


"itu nilai plus untuk mereka" kata Matteo enteng.


"orang suruhan Deorsa melenyapkan pengawal tuan muda, aku terpaksa mengelabui mereka membawa mobil tuan muda meninggalkan hotel"


"Liam tidak tahu?"


"keselamatan tuan muda adalah prioritas bagi ku Matteo"


"Liam beruntung memiliki mu Ken, paman Dewantara pasti bangga padamu" pujian dari Matteo membuat hati Ken menghangat.


hari itu sekretaris Ken menginap di rumah Matteo walau pun obat yang diberikan padanya sangat manjur, lukanya cepat membaik tapi sekretaris Ken tidak ingin terlihat lemah didepan tuan mudanya.


"jadi apa selanjutnya Ken?"


pembicaraan sekretaris Ken dan Matteo cukup serius hingga menjelang malam.


"siapa yang bersama Liam sekarang?"


"kakek telah kembali" ya Ken jawab begitu saja. Matteo mengangguk dia bisa menilai sejauh mana keseriusan masalah ini.


"istirahatlah kau sudah bisa kembali besok"


"obat apa yang ku minum? kenapa luka ku sangat cepat sembuh" tanya Ken


"itu penemuan terbaru di pusat obat obatan mafia"


"apa ada kopi terbaru juga" tanya Ken.


"ayolah Ken, apa tuan mudanya tidak membiarkanmu tidur? hahaha"


Matteo mengejek sekretaris Ken yang menyedihkan.


"sialan kau!!!"


"Black Ivory Coffee aku akan mengirim stoknya kerumah mu, itu kopi olahan dari Thailand Utara. semoga kua menyukainya"


"jangan kirim kalau hanya sedikit!"


"tentu saja, kau meremehkan ku?"


perbincangan hangat itu tenggelam dalam gelapnya malam.


sekretaris Ken muncul di rumah utama di pagi hari seperti biasanya. Tapi sepertinya tuan muda yang terhormat belum muncul.


"pak man, apa nona muda bersama tuan muda" tanya sekretaris Ken


"tuan bisa menunggu satu jam lagi"


sekretaris Ken tidak percaya itu, tapi segan untuk naik karena dia yakin Nadila ada disana.


"kau datang Ken. ayo sarapan" suara kakek yang entah muncul dari mana.

__ADS_1


"tuan besar, saya akan menunggu tuan muda"


"ini perintah Ken!" sang kakek yang tidak ingin di bantah. sekretaris Ken bergabung di meja makan. di belakang kakek berdiri Giorgi dan Loi tanpa berkedip


"aisss kekek tua ini memaksaku sarapan, tapi kedua patung itu tidak! aku tidak suka sarapan ini, aku mau susu!" teriak sekretaris Ken dalam hati.


"kau akan menyukai itu ken"


"terimakasih tuan besar" Sandwich Roti Gandum itu digigitnya perlahan, Giorgi dan Loi mengulum senyum.


"itu akan membuatmu semakin kuat Ken" lanjut kakek.


"tentu saja tuan" sekretaris Ken merasa sangat jengkel sekarang.


Benar saja dua manusia itu beriringan menuruni tangga sekretaris Ken mengutuk tuan mudanya yang terlalu lama keluar dari kamar.


"suruh istrimu makan Liam "


mereka duduk berseberangan dengan sekretaris Ken. tuan Liam melihat Ken hatinya sangat lega.


sang kakek meletakkan salad buah di piring Nadila. sangat aneh Nadila hanya menunduk terus.


" tegakkan kepalamu menantu kau membuat repot saja!" Nadila hampir menangis suar lantang kakek belum bisa bersahabat dengan telinganya.


"pelan kan suaramu kek" kata Liam


"apa! kakek hanya menyuruhnya makan" jelas kakek menatap tajam kearah Nadila.


Nadila tidak akrab dengan kakek mertuanya itu. Dia masih tidak merasa menjadi menantu atau menikah sekali pun, setiap hari selalu berdebat dengan tuan Liam.


Nadila menggerakkan sendok di tangan nya mengaduk aduk salad buah itu.


Giorgi merasa kalau ada yang tidak beres dengan situasi ini.


"nona muda apa anda ingin sarapan yang lain, seperti roti panggang misalnya" tawar Giorgi.


Nadila mengangkat wajahnya lalu beberapa saat kemudian mengangguk.


Giorgi menyajikan roti panggang di depan Nadila, dengan cepat Nadila memakannya.


"hei! mengapa tidak bilang kalau ingin makan roti hah!" kakek yang tidak terima.


Liam awalnya kesal dengan tindakan tangan kanan kakeknya tapi dia tidak membuka suara.


"maafkan saya tuan" jawab Giorgi.


"Liam berangkat kek" pamit tuan Liam diikuti Ken dan Nadila. Nadila tidak ingin berdiam di dalam rumah dia ingin bekerja.


"terimakasih kak" kata Nadila menunduk


"itu sudah tugas saya nona"


telinga tuan Liam menangkap perkataan itu.


kakek menatap Giorgi.


"kau cukup akrab dengan menantuku Giorgi"


"karena dia menyadari ketampanan saya tuan"


"berhati hatilah Giorgi"


"nona muda membenci anda tuan, karena tidak memberi mereka kesempatan meluruskan ke salah pahaman itu"


"hanya ada satu wanita yang tidur dengan cucuku selama ini Giorgi dan dialah yang tertangkap basa oleh saya"


"tapi wajah anda terlalu tua, membuatnya tidak berselera untuk memandang anda" Giorgi mulai memprovokasi tuan besarnya.


"tapi ketampanan dan kharisma yang ku miliki tidak akan memudar Giorgi" kakek tidak terima.


"saya tidak yakin tuan"


"kau ingin mati!"


itu sudah biasa terjadi diantara kedua pria berbeda usia itu bahkan mereka tidak menyadari Loi yang sudah menghilang kembali.

__ADS_1


__ADS_2