
sudah lama kita lupakan bahwa tuan Geronimo belum menutup matanya, kepulangan tuan Liam bagai Sambaran petir baginya. kebahagiaannya melenyapkan keturunan Dewantara telah gagal, murkanya Geronimo membuat lumpuh anggotanya. Suara tembakan bergema di ruang pertemuan itu, emosi seorang Geronimo memuncak tidak terkendali.
"bagaimana bisa, akhhh" sekali lagi Geronimo menghujani peluru di sembarang tempat.
"tenanglah tuan" Deorsa juga tidak mengerti dengan yang dia lewati. Tuan Liam kembali begitu saja, selama ini dia sudah menyusuri semua daerah bahkan tempat terpencil tapi tidak mendapatkan keberadaan tuan Liam dan nyatanya tuan Liam kembali. Perkiraan mereka tentang tuan Liam salah telak.
Deorsa mulai mencari informasi untuk memuaskan hati tuan Geronimo yang sudah menguap membentuk asap hitam. Mereka menggunakan banyak koneksi untuk mencapai keinginan mereka namun kali ini mereka tidak bisa bergerak lebih jauh karena tuan Liam benar-benar dijaga ketat bahkan memandangi dari jarak jauh saja akan merenggut nyawa mereka.
"sebaiknya anda lebih berhati-hati lagi tuan" peringatan Deorsa yang mengkhawatirkan keselamatan tuan Geronimo. Menurut analisanya kali ini jika mereka maju maka saat itu juga Geronimo akan berakhir.
Anak buah handal dari Deorsa hanya bisa mengintai dari jauh mereka mengira-ngira mendapat peluang untuk menerkam mangsa. Deorsa teringat sesuatu hal, dia memanggil seseorang untuk datang menemuinya malam nanti, siapakah dia yang di maksud?
Singkat waktu Mobil yang sedikit berkelas memasuki kawasan hutan yang sepi, di sana ada sebuah rumah persinggahan yang di jadikan tempat untuk mengeksekusi korban. Seorang pria yang masih muda turun dari mobil, dia berjalan dengan langkah tegas memasuki area yang di penuhi oleh pria berbadan kekar dengan wajah sangar. Pria itu seakan sudah terbiasa sehingga berjalan dengan tenang dan sedikit bergaya dengan kata mata hitamnya.
"kau sudah datang?" suara Deorsa di balik kursi yang membelakangi lawan bicaranya.
"apa yang ingin anda ketahui? saya tidak punya waktu lama jadi cepatlah" kata pria itu menanggapi Deorsa dengan berani.
"kau terlalu lama bersantai diluar sana membuatku muak, katakan apa yang kau dapatkan dari tuan Liam. katakan semuanya tanpa kau sisakan termasuk pembicaraan kalian yang terakhir" Deorsa harus menciptakan strategi yang matang kali ini.
Pria muda itu berjalan dan duduk didepan Deorsa dengan akrab dia mengambil gelas yang berisi sisa minuman Deorsa dan meminumnya sampai tandas. Di samping itu ada beberapa bungkus serbuk di sana, tidak lupa dia menghisapnya dengan nikmat, seketika pria muda itu merasakan jiwanya melayang bagai berada di atas awan. Cukup lama pria muda itu menikmati ketenangan jiwanya yang melayang seakan telah mencapai kenikmatan dunia. Perlahan dia menurunkan kaca mata hitamnya sedangkan Deorsa hanya menunggu dengan sebatang rokok yang di jepit di antara jarinya.
"bukankah seluruh dunia sudah tahu kalau tuan Liam yang kalian incar telah kembali. Bahkan sangat dekat dengan kalian" kata pria itu dengan santai seakan meremehkan Deorsa yang dapat melumpuhkan seratus jiwa dalam sekali tangkisan pedang.
__ADS_1
"kamu benar, dia kembali bersama wanita yang di cintai ya, hahaha ini sangat menarik wanita itu akan menjadi kelemahannya kedepan" Deorsa mulai menemukan solusi yang tidak terduga. Pria muda di depannya menegang, dia mungkin bisa membantu mencari jalan untuk mencapai misi tapi tidak berfikir melukai orang lain, termaksud istri tuan Liam yang di luar misinya.
"mengapa incarannya jadi berubah"
sekarang misi utama mereka adalah mengincar istri tercinta Liam yang entah siapa pemilik nama yang sedang di perbincangkan dengan sebutan Dila.
Deorsa memberitahukan semua rencana untuk mengacau tuan Liam pada Geronimo, alhasil Geronimo mendapatkan mainan baru dia tertawa puas dan tidak sabar meluncurkan misi barunya untuk meledakkan Dewantara group tanpa sisa.
"bawa istri Liam hidup-hidup padaku tanpa lecet, aku ingin merasakan kulit mulusnya. Bukankah itu sangat menggairahkan Deorsa, setidaknya menikmati t***** istrinya akan lebih menyenangkan, hahaha" Geronimo sudah menghayal membayangkan segalanya.
"pastikan itu Deorsa" kata Geronimo lagi.
"baik tuan" Deorsa mulai mencari cara menemukan istri tuan Liam yang tersembunyi di antara wanita di dunia.
Dengan mengandalkan mobil buntut miliknya pria itu berhasil membawa Jennie kerumah sakit untuk segera di periksa, melihat yang datang adalah Jennie dokter Aditia mengambil alih ranjang branka dan segera memeriksa Jennie secara pribadi di ruang rawat. Pria yang menolong jeni bernama Hendra, dia pasrah menyerahkan Jennie di tengah kegugupannya.
"apa yang terjadi padamu Jennie?" dokter Aditia khawatir dengan keadaan Jennie karena terlambat sedikit lagi maka akan ada pendarahan.
"a...aku" Jennie kebingungan suaranya tertahan, sangat sulit menjelaskan karena dia tidak mengerti tentang yang terjadi.
"mengapa kamu tidak makan dengan teratur, kamu bisa saja kehilangan bayi mu Jen" Aditia frustasi dengan kelakuan Jennie yang menyiksa diri sendiri.
Mendengar setiap penuturan dokter Aditia hari Jennie mengerut tidak berdaya, dia menyesali kebodohannya yang membuat anaknya ikut menderita, dia mogok makan karena memang tidak memiliki segalanya. Jennie mencoba menghemat tapi tetap saja berkurang dia ingin mengatakan begitu pada Aditia tapi itu terlalu rendah untuk di ceritakan. Jennie tidak ingin mengundang simpati yang lebih jauh dari Aditia, membiarkannya berobat gratis saja sudah cukup baginya.
__ADS_1
"maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu Jen, tapi cobalah mengerti. Siapa pun ayah dari bayi ini, jika kamu menyayangi bayimu makan jagalah dia dengan sepenuh hati Ken. Aku sudah pernah menyarankan mu untuk aborsi walau itu adalah dosa besar tapi kamu menolak" Aditia menyesal dan memeluk Jennie.
"aku akan mempertahankan bayiku Aditia, aku tidak tahu kenapa tidak rela membunuhnya, aku merasa hanya bayi inilah yang ku miliki" kata jeni memeluk perutnya sendiri.
Aditia mengerti naluri seorang ibu sangat kuat, seorang ibu yang menyayangi anak-anak melebihi segalanya. Dokter Aditia sangat paham perasaan Jennie dan segera menghiburnya agar mendapatkan kekuatan dan tetap berjuang untuk anaknya. Setelah merasa lebih baik Jennie berpikir untuk pulang, Aditia dengan setia menemaninya keluar melewati lorong rumah sakit yang tidak jauh dari sana ada beberapa mata yang melihat adegan itu. Seorang pria yang merasa cemburu akan perlakuan Aditia yang memapah Jennie dengan hati-hati.
"terimakasih lagi Aditia" kata Jennie.
"berhati-hati lah dan minum vitamin mu dengan benar, aku melebihkan stokmu agar kamu tidak kesusahan" kata Aditia yang mendapat anggukan dari Jennie disertai lambaian tangan Aditia saat taksi yang ditumpangi Jennie meninggalkan area rumah sakit.
Taksi yang ti tumpangi Jennie di hentikan oleh Hendra di pertengahan jalan, tanpa rasa bersalah pria itu membuka pintu mobil penumpang yang di tempati Jennie. Hendra menggendong Jennie keluar dari mobil, adegan yang sangat romantis bukan?
"terimakasih pak, biarkan saya saja yang membawanya pulang" kata Hendra sambil melempar uang tips kedalam mobil taksi itu.
"apa yang anda lakukan?" Jennie memberontak dengan tetap mengalungkan tangannya di leher Hendra takut terjatuh dalam gendongan itu. Senyum senang dari Hendra saat merasakan tingkah lucu Jennie.
"kamu datang bersamaku seharusnya pulang juga bersama ku, panggil aku Hendra" kata Hendra Menaik turunkan alisnya dengan tatapan yang sangat teduh membuat Jennie tertegun tanpa sadar.
Tidak ada percakapan yang terjadi hanya suara musik nostalgia yang di putar Hendra di dalam mobil itu. Jennie kembali ke rumah kecilnya dia bertekad untuk hidup lebih baik kedepannya sehingga tidak merepotkan orang lain.
"nama saya Jennie, terimakasih sudah menolong saya" Jennie merasa gugup lagi, dia merasa perasaannya lebih tenang saat Hendra di dekatnya.
"saya tinggal di rumah depan, kalau ada apa-apa jangan sungkan" setelahnya Jennie masuk kedalam rumahnya dan beristirahat dengan damai.
__ADS_1
Hendra duduk di kursi samping jendela di lantai dua rumahnya, rumah yang lumayan besar dan sedikit mewah sesuai selera nya itu sangat strategis sehingga dapat melihat Jennie di seberang sana. Ada ketertarikan dimatanya apa lagi saat Jennie tidak menolak penawarannya untuk lebih berinteraksi.