
Seorang pria yang kelelahan berbaring di pasir, dia sedang bermimpi kalau dirinya sedang berada diatas awan dengan hembusan angin yang berhembus menyapu wajahnya. Jam 6 pagi langit mengeluarkan ekspresi warna merah di timur sangat indah, perahu nelayan satu per satu mulai bersandar di pantai semua orang mengangkut hasil tangkapnya masing-masing tengah penuh kebanggaan.
Seorang nelayan dengan tidak sengaja menemukan pria yang masih setia melanjutkan mimpinya. Nelayan lain mulai mendekat dan melihat pria asing yang terdampar di pantai, satu diantaranya adalah pria yang brewokan tidak lain adalah tuan Liam. Tuan Liam penasaran dan ikut di tengah-tengah para nelayan untuk melihat pria yang dimaksud, tapi sayang wajahnya berlawanan dengannya.
"dia sepertinya tidak asing" Liam.
Di keramaian tuan Liam mulai menyerah untuk mencari tau pria asing itu, pikirannya sedang tertuju pada istrinya dia ingin segera pulang. Saat hendak berbalik pria asing itu membalikkan badannya mulai terusik dengan suara nelayan.
"Ken" panggil tuan Liam ketika berbalik melihat kebelakang dengan cepat dia mendekati Ken dan terus memanggil namanya.
"Ken, Kenny" panggil tuan Liam setelah sampai di depan Ken, mereka bertatapan.
"kalian saling kenal?" tanya salah satu nelayan dan melayan yang lain terkagum kagum dengan Ken yang diduga dari kota.
Perlahan Ken mulai mengenali wajah tuan mudanya yang menggelap dengan bulu-bulu halus di wajahnya namun tetap tidak mengurangi ketampanannya. Air mata Ken luruh dia seakan sedang bermimpi dan menolak untuk terbangun.
"tuan muda, mengapa meninggalkan saya terlalu lama. Pulanglah ke dunia nyata tuan muda jangan hanya muncul di mimpi saja" kata Ken yang merasa seperti berada di dunia lain. Tanpa di duga tuan Liam menampar Ken agar menghentikan drama menjijikkan itu.
"tuan muda, jangan marah padaku" kata Ken lagi dan tamparan kedua mendarat lagi. Ken merasa pipinya kebas dan akhirnya tersadar bahwa itu nyata, segera dilihatnya tangan tuan Liam dan memeriksanya.
"ini nyata tuan, mengapa menampar saya sekeras itu. Apa telapak tangan anda sakit, maafkan saya tuan muda, maafkan saya" Ken mengelus tangan tuan Liam dengan baik, dia yakin tangan tuannya merasakan sakit yg tanpa menghiraukan wajahnya yang kebas.
__ADS_1
"Ken, hentikan!" sama seperti Ken ternyata tuan Liam tidak dapat menahan kebahagiaannya, Ken datang mencari nya walau tidak sesuai dengan yang dia rencanakan bukanlah hal yang menjadi masalah.
Semua orang mulai memahami kalau tuan Liam bukan orang sekelas mereka. Mereka sangat beruntung bisa bertemu dengan orang kaya ketika melihat sebuah boat yang terparkir tidak jauh dari mereka berkumpul.
"jadi anda orang kaya?" nelayan yang penasaran.
Tuan Liam pun menjelaskan kepada teman nelayannya tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Para nelayan mengangguk mengerti dan juga memuji tuan Liam yang memiliki posisi sebagai raja mau berbaur bersama mereka yang kerja dengan imbalan makan saat pulang.
"apa yang kau bawa?" tanya tuan Liam.
"saya membawa beberapa yang bisa di bagikan tuan" jawab Ken yang ternyata membawa banyak makanan sehat dan juga buah di kapal nya. "aku berencana mengajari ikan hiu untuk makan buah, tapi entah kenapa hiu takut mendekatiku" Ken mulai berkaca tentang seramnya wajah tampannya yang langsung tertendang ketika sadar ketampanannya selalu kalah oleh tuan Liam yang berkharisma.
Para nelayan rekan tuan Liam membantu Ken mengangkut barang untuk di bawa ke rumah tuan Liam, bukan sekedar membantu Ken membagikan semua yang dia bawa kepada mereka sebagai bagian dari kewajibannya menolong orang yang kekurangan ekonomi di pulau itu.
"pelan sayang perutku bisa tergencet" Nadila merasa suaminya sangat bersemangat hari ini, apa dia mendapat ikan yang banyak?
"lihatlah sayang" tuan Liam menunjukkan keberadaan Ken pada Nadila, bahkan wanita hamil itu hampir lunglai melihat Ken dihadapannya.
Ken telah selesai dengan tugas mulia membagikan sembako yang sempat terpikir untuk dia bawa, hingga secara kebetulan bertemu dengan tuan mudanya yang menjadi alasan dirinya mengarungi lautan tadi malam. Ken berjalan untuk menyapa nona mudanya.
"apa kabar anda nona?" kata Ken yang tidak menyangka Nadila hidup dengan baik bersama tuan Liam dan saat bertanya matanya tertuju pada perut Nadila.
__ADS_1
"hai sekretaris Ken, kamu datang tepat waktu apa kau cenayang" kata-kata tak terduga keluar dari mulut Nadila, Ken melirik tuan mudanya meminta bantuan untuk menjelaskan maksud kata-kata tak jelas dari wanita hamil itu.
Ken hanya tersenyum seperti biasanya saat berhadapan dengan nona mudanya karena takut dengan pria bucin di hadapannya yang sedang menatapnya dengan tajam.
Ken memasuki rumah kecil yang di tempati tuan mudanya, sungguh hatinya tersayat melihat itu semua. Dia tidak dapat membayangkan hari hari yang dilalui tuan dan nona nya yg ang sedang hamil di tempat seperti itu.
"maafkan saya yang terlambat datang ke pulau ini tuan muda, seharusnya saya datang lebih awal sehingga nona tidak terlalu menderita di rumah yang kecil ini" Ken berlutut mengungkapkan penyesalan terbesarnya.
"itu bukan salahmu sekretaris Ken, kami hanya masih ingin berada disini saja makanya tidak kembali" Nadila berusaha menghibur Ken walau benar adanya mereka bukan tidak bisa kembali ke kota hanya saja belum saatnya mengingat trauma Nadila yang baru sembuh akibat kecelakaan.
Ken masih pada posisinya berlutut dia merasakan penyesalan yang sangat mendalam ketika melihat perut istri tuan mudanya yang sudah membesar.
"kapal kami pernah mengitari pulau ini tuan muda dan entah kenapa saat itu saya ragu untuk singgah, dan beberapa hari terakhir saya kembali teringat untuk datang, kata Matteo pulau ini bagian dari kota Z yang termasuk kekurangan ekonomi" jelas Ken.
"yang kau lihat di pesisir waktu itu, benar aku Ken mungkin perubahanmu yang membuatmu ragu, Lupakan saja aku tidak menyalahkan mu" tuan Liam tidak menyalahkan Ken karena dia tahu seberapa besar pengorbanan Ken pada dirinya. Ken pun mulai merasa tenang saat mendapat tepukan di bahunya.
Tidak terasa perbincangan mereka cukup panjang hingga matahari meninggi memberi alarm untuk makan siang. Ken mulai mengambil peran dengan berubah profesi menjadi juru masak, tidak rela jika Nadila berdiri terlalu lama, rasa bersalahnya akan kembali muncul. Segala bahan yang dia bawa di keluarkan dan mulai menyulap menjadi menu makan siang yang membuat Nadila ngiler.
"sayang, apa kamu benar benar lapar?" tuan Liam mulai khawatir, akhir akhir ini kegelisahan Nadila menjadi pertanda lapar dari bayi dalam perutnya.
"Ken cepatlah sedikit istri dan anakku kelaparan, sini aku bantu aku akan memotong sayurnya" tuan Liam mengambil pisau dan mulai membuat sayur capcay. Dua bertubuh kekar bersatu dengan cepat makanan tersusun di atas meja, tidak menunggu lama semua di sedot oleh mulut Nadila.
__ADS_1
Ken hanya bisa melongo matanya membesar saat melihat semua makanan habis tidak tersisa dari situ juga dia yakin tuan Liam kesulitan selama ini hingga memilih menarik uang untuk kebutuhan istrinya dan memberi isyarat untuk kembali saat peresmian, tapi di luar dugaan Ken terlalu terburu-buru menemukan mereka.
"jadi tidak ada yang tahu kau datang kemari" tuan Liam merasa dirinya seperti buronan yang sedang bersembunyi di pusat bumi. Dia tertawa puas saat wajah Aditia dan Matteo lewat di kepalanya saat mencari Ken, bagai di sembunyikan setan. Sangat jelas dari setelan Ken yang merubah penampilan sangat sulit di kenali.