Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 71 seperti apa ayah


__ADS_3

"kamu sangat bahagia karena telah pamer di seluruh dunia" pengawalan yang menggemaskan dari Nadila


"apa kabarnya sayang? apa dia nakal lagi?" tuan Liam tidak menanggapi perkataan istrinya, baginya bermain dengan anaknya dalam perut lebih menyenangkan seperti sekarang dia sedang mendongeng pada anaknya yang belum melihat keindahan dunia.


Nadila mendorong kepala suaminya agar menjauhi dirinya, dia selalu kesal dengan kelakuan calon Dady yang satu ini selalu membuat perutnya geli.


"sayang, biarkan aku bermain dengannya sebentar" tuan Liam masih betah dengan posisinya.


"tunggulah dia keluar dulu ini terlalu geli, kerjakan hal lain saja berhentilah menggangguku. Aku ingin menonton film favorit ku" Nadila memperbaiki posisi duduk dan menyalakan tv tanpa peduli pada wajah tampan suaminya yang sudah mengkerut.


Nadila sangat senang berhadapan dengan gambar kartun di layar lebar hingga melupakan bayi besar yang sedang ngambek. Sangat lucu kelakuan tuan Liam Liam, semoga tidak ada mata orang lain yang melihat ini tuan muda itu sangat tidak cocok dengan kewibawaan yang kamu miliki. Sama halnya dengan istrinya yang sudah menatap gemas padanya, ini sisi lain suami tampannya.


"aku sudah gila sampai melupakannya, ini sudah dua jam berlalu. Nadila bersiaplah untuk di terkam oleh psikopat ini, bagaimana bisa kamu lebih memilih menonton dari pada menemaninya" Nadila.


"berhentilah menatapku dan lanjutkan lah menonton puaskan dirimu, karena besok benda itu sudah tidak disitu lagi" kata-kata ketus tuan Liam, tuh kan Nadila belum lama kamu beranggapan tapi sudah menjadi nyata, tuan Liam kesal sekesal kesalnya.


Nadila sudah berpindah di samping raja ngambek dengan tangan yang melingkar di leher suaminya. satu, dua, dan tiga kecupan kilat yang berhasil menghilangkan kesadaran tuan Liam. Luluhkan hati yang mengkerut tadi, sekarang hati itu mengembang mengatakan kurang.


"lagi ayo lagi" kata tuan Liam


"apa" Nadila pura-pura tidak mengerti.

__ADS_1


"aku anggap kalau kamu ingin aku yang memulai, baiklah" tuan Liam ingin mengerjai istri yang sudah melupakan ya selama dua jam tadi.


"kyakk... iya iya suamiku sayang maafkan istri mu yang cantik dan seksi ini." sangat menggemaskan bukan, tuan Liam bahkan tidak berdaya melawan kelakuan istri yang satu ini.


Tuan Liam bersandar dan membawa istrinya bersandar padanya agar lebih nyaman, tuan Liam hanya ingin di temani oleh istrinya di sela kegundahan hatinya. Sangat jelas ada sebuah batu yang mengganjal hatinya saat ini, batu itu sangat keras dan terasa dingin sehingga hati tuan Liam menjadi dingin malam ini.


"kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" Liam.


"tidak ada" Nadila merasa tidak ada yang perlu di katakan, sangat sulit di mengerti apa maunya.


sangat lama mereka larut dalam pelukan, pelukan yang semakin lama semakin erat. Nadila menyadari keadaan sudah tidak baik-baik saja, tangannya bergerak mengelus punggung suaminya. Dia tidak tahu apa yang terjadi sejak tadi semua baik-baik saja.


"berjanjilah tidak akan meninggalkanku Dila sayang" suara memelas itu hampir tidak terdengar.


Setelah berusaha akhirnya tuan Liam mengangkat wajahnya, ketampanannya tidak dapat menyembunyikan kebenaran tentang perasaannya. kemudian Nadila kembali membawa suaminya kedalam pelukannya.


"menangislah, tidak apa-apa aku akan berada disini hm. keluarkan semuanya agar kamu bisa lega" bujuk Nadila.


Awalnya kepalanya menggeleng, namun rasa itu tidak bisa di bendung bahu tuan Liam bergetar menahan sekuat tenaga, dia tidak ingin terlihat lemah di mata istrinya. Tapi nyatanya dia kalah oleh kelembutan istrinya yang membuatnya merasa punya tempat untuk bercerita dan menumpahkan segala isi hatinya. Tangis tuan Liam pecah di pelukan Nadila yang tidak mengerti alasan tangisan itu.


"tidak apa-apa, aku ada disini" hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Nadila, hatinya tersayat mendengar Isak tangis suaminya yang sangat dalam. Nadila bahkan tanpa sadar menjatuhkan air matanya.

__ADS_1


Tuan Liam sudah tenang kembali dengan wajahnya yang memerah selesai menangisi entah apa yang di tangisinya. Dia menggenggam erat tangan istrinya namun tidak ada kuasa mengangkat wajahnya karena malu.


"ini hari, tepat hari kepergian ayah sayang" kata pilu itu akhirnya terucap.


Deg, Nadila menegang mendengarnya. Sekarang dia mengerti situasinya ini adalah hari yang sulit bagi tuan Liam. Nadila juga merasa bersalah karena tidak pernah penasaran tentang keluarga Dewantara yang sudah melibatkan dirinya ikut menjadi bagian dari keluarga itu.


perlahan kepala Liam turun kepangkuan Nadila, dia tertidur cukup lama untuk menetralkan pikirannya. Nadila mengelus lembut pucuk kepala suaminya berharap bisa menggantikan orang tersayang yang menyayangi suaminya. Nadila sendiri masih memiliki orang tua tapi tinggal jauh dari mereka sudah menciptakan kerinduan yang mendalam, lalu bagaimana dengan tuan Liam yang di tinggal untuk selamanya yang dirasakannya pasti sulit diukur. Tidak, bukan sulit tapi tidak ada parameter yang dapat mengukur hal itu.


"maaf, aku tidak tahu kalau hari ini memperingati kepergian ayah suamiku" Nadila membuka suara, mencoba mengobrol dengan suaminya setidaknya menghibur dengan kata-kata akan kesedihan suaminya.


"dulu, aku sangat bahagia memiliki keluarga yang lengkap dan tidak berkekurangan apapun. Ayah memberi semua yang ku butuhkan. Ayahku mencintai ibuku dan itu dibuktikan dengan adanya diriku diantara mereka, hingga semua berubah sangat cepat di saat aku belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


ayahku baik kepada semua orang dan kemurahan hatinya yang membuat ibuku jatuh hati padanya, dia senang berbagi dengan cuma-cuma tanpa tersorot oleh apapun. kenapa aku mengatakan begitu? karena aku pernah membuntuti ayahku membagikan makanan pada anak-anak di jalanan. Ayah juga mengajarkanku demikian, dari situlah alasan panti asuhan itu di bangun. Tapi impian kecil ayah tertunda saat kecelakaan yang merenggut nya dan meninggalkan kami untuk selamanya" Liam berhenti ini kali pertama dia menceritakan tentang dirinya yang menyedihkan.


Nadila dengan setia mendengarkan semua cerita tuan Liam tanpa menyela atau sekedar memotong, cerita menyedihkan itu membakar telinga Nadila betapa sulitnya hidup tuan Liam yang di kenal dunia dengan kejayaan di atas langit.


"aku tahu segalanya Dila sayang, aku mengetahuinya kalau kejadian itu bukan sekedar kecelakaan biasa. Ayah pergi karena telah direncanakan begitu juga dengan ibuku yang direbut di depan mataku, ibuku meninggal di pelukanku sayang. Bagaimana? apa yang harus aku lakukan bahkan aku berpikir setelah memenuhi semua impian mereka aku akan lebih tenang dan bahagia, bisa melupakan segalanya di masa lalu. Tapi ternyata masa lalu masih mengikuti ku" Liam


sekarang Nadila mengerti dan mulai paham tentang suaminya.


Bagaimana kelanjutannya? apakah akan terjadi pertumpahan darah? dan ada apa dimasa lalu yang terkubur oleh waktu yg ang terus berjalan?

__ADS_1


sampai disini dulu ya, author sudah menanggapi permintaan up, besok besok up banyak deh🤗🤗


salam jauh author ❤️❤️


__ADS_2