Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 32 menyerangan kembali


__ADS_3

Giorgi mendapat kabar dari bawahannya bahwa Geronimo menyerang mereka, segera tuan besar umbara menggerakkan anggotanya untuk menyusul cucunya. Tapi sepertinya ini penyerangan dua arah anggota kakek di hadang di tengah jalan hingga Pertumpahan darah terjadi. Setelah lama bertarung dan saling tembak menembak itu akhirnya mereka bisa melumpuhkan lawan.


"Giorgi dimana Loi?" tanya kakek


"saya menyuruhnya memeriksa perusahaan di Italia kemarin tuan dan seharusnya telah kembali"


"Bagaimana dengan cucuku Giorgi"


"Saya tidak yakin nona muda selamat tuan besar"


"Loi akan ku bunuh kau jika berani berkhianat!" tuan Umbara marah, Loi tidak datang melindungi cucu dan menantunya. Mereka sampai di lokasi setelah tuan Liam membawa Ken kerumah sakit untuk menuntaskan tikus pengganggu yang telah melukai cucunya.


"kita sepertinya sangat terlambat tuan"


"hancurkan markas mereka Giorgi dan temukan menantuku" perintah tuan Umbara.


Giorgi menyusun pasukan khusus untuk menyerang kembali lawan. Sangat mudah bagi Giorgi menemukan markas persembunyian Geronimo di kota itu, mereka menuju tengah hutan tempat Geronimo berada. Giorgi membunuh dan menghancurkan markas itu tanpa sisa.


"sial, Geronimo benar benar licik dia sudah kabur duluan" mengetahui Geronimo telah pergi jauh Giorgi kembali menemui tuan besarnya.


"lalu dimana menantuku Giorgi?" kakek mengkhawatirkan menantunya.


"Rival anda tidak mengetahui bahwa tuan muda sudah menikah, bahkan tidak ada yang tahu kalau nona muda ada di dalam mobil bersama tuan muda saat itu. Sepertinya nona muda sudah ada di tempat yang aman jauh dari jangkauan siapa pun"


"maksudmu menantuku melarikan diri?"


"Sepertinya begitu tuan di tempat kejadian kami menemukan gelang nona di pinggir jalan perbelokan itu"


"cucuku pasti mengetahui keberadaan istrinya. Gerakkan seluruh anggota kita untuk mencari menantuku Giorgi" kakek tetap saja tidak percaya sepenuhnya.


Di sebuah rumah sakit lain sekretaris Ken sudah sadar


"aku penasaran berapa nyawa yang kau miliki Ken, kau terluka parah berkali kali tapi tidak kunjung mati hahaha" suara Matteo, mendengar perkataan Matteo sekretaris Ken menajamkan matanya ingin sekali dia memukul kepala Matteo saat ini.


"tetaplah berbaring Ken, lukamu cukup dalam" kata dokter Aditia memberi segelas air pada Ken.


"tuan muda dimana nona?" sekretaris Ken belum bisa tenang sebelum dia melihat nona mudanya.


"mengapa kau selalu menanyakan istriku" tuan Liam memukul luka Ken membuat pria itu meringis, tuan Liam menunjukan kecemburuannya. Kecemburuannya yang berlebihan membuat Matteo penasaran dengan objek yang dibicarakan.


"kau berutang memperkenalkan istri mu pada ku Liam" kata Matteo yang baru tahu tentang pernikahan sahabatnya akhir akhir ini.


"tuan muda" Ken masih bersuara.


"berhentilah Ken dan cepatlah sembuh istriku pasti baik baik saja" kata Liam kesal semua orang sedari tadi hanya membahas tentang istrinya yang entah kemana saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana kau begitu yakin kalau istri mu baik baik saja hmm" suara kakek dari arah pintu.


"kakek bahkan tidak menemukannya" jawab Liam kesal.


"apa kau tidak menaruh pelacak Ken"


Ken lagi lagi kecolongan dia melupakan hal penting itu. Kakek merasa tidak ada gunanya berada di ruangan itu, dia memutuskan untuk pulang dan istirahat saja. sikap tenang cucunya memberinya keyakinan bahwa cucunya punya cara sendiri melindungi keluarganya.


"berikan aku cicit secepatnya Liam!" pesan kakek


"tunggulah tenagamu pulih Ken, mungkin besok kau sudah bisa pulang, aku harus pergi ada pasien yang harus dioperasi sebentar lagi" kata Aditia meninggalkan ruangan itu.


"terimakasih dokter Aditia" ucap Ken, lalu memilih tidur karena efek obat yang diminumnya.


"pulanglah Liam biarkan aku yang menemani Ken, bawalah mobil ku orang orang akan pingsan jika melihat bentuk mobilmu" kata Matteo. Tanpa suara Liam keluar dari ruangan itu, mengendarai mobil Matteo di ikuti beberapa pengawal dari Matteo.


Matteo pergi keruangan Aditia untuk mencari ujung dari sebuah benang kusut.


"apa kau butuh obat penenang Matteo?"


"ini cukup gila Aditia" Matteo mencoba mencerna keadaan.


"Liam di serang di perjalanan bersama istrinya dan Ken terluka parah karena melindungi mereka. Istri Liam menghilang dan Liam masih terlihat tenang" analisis dari Aditia


"kaca mobil Liam di lapisi anti peluru tapi bisa pecah, itu berarti ada seseorang yang membuka paksa mobil itu tapi siapa?" Mateo masih enggan menyimpulkan semua penuturan Aditia Matteo masih diam.


Perlahan Matteo mulai mencerna kejadian ini.


"aku yakin Liam telah memperhitungkannya. Dia memang bukan mafia tapi kekuatannya lebih dari mafia. Sekarang aku mengerti, istri Liam akan lebih aman jika tidak pulang malam ini"


"apa kau gila!" Aditia dibuat ketar-ketir.


"Aditia, malam ini akan ada penyerangan lagi aku harus berada di sisi Liam. Tetaplah disini menjaga Ken, pria gila itu sedang tidak bisa menggerakkan tubuhnya."


"aku lebih tahu darimu aku dokter!"


"terserah, kau tetap payah tanpa obat dariku! aku pergi." Aditia membenarkan perkataan Matteo obat obatan mafia dari Mateo telah banyak menyelamatkan orang dan memberikan penyembuhan dengan cepat.


Tuan Liam sampai di rumah utama dan kemudian pergi merendam dirinya, satu jam dia melakukan itu barulah dia keluar dari kamar mandi. Tidak lupa membalut luka-lukanya di bantu oleh pak man.


"tuan apa yang terjadi?" pak man


"pak man malam ini pindahkan seluruh pelayan ke paviliun belakang jangan ada orang di rumah ini" perintah Liam


"saya akan bersama anda tuan" tidak diragukan pak man bukan pelayan biasa dia juga penembak jitu.

__ADS_1


"saya tidak bisa melarang hal itu"


"terimakasih tuan" pak man selesai dengan tugasnya memberi perban di luka tuan mudanya.


pak man mengumpulkan semua orang dalam rumah dan menyuruh mereka tinggal di paviliun belakang tanpa menampakkan diri. semua pelayan patuh tanpa ada yang bertanya tentang apa yang terjadi.


setelah mengosongkan rumah tuan Liam duduk di balkon kamarnya di temani pak man dengan segelas anggur. Terlihat seseorang mengendarai motor memasuki area rumah utama pak man membidik senapannya.


"tahan pak, itu Loi" tuan Liam mengenali orang itu walau sangat jauh.


Loi masuk ke dalam rumah menuju sebuah ruangan untuk mengambil senjata, tidak berselang lama suara tembakan berada di mana mana Loi bersiap dengan senapannya tidak membiarkan siapapun melewati pintu utama.


"itu kiriman Geronimo pak" jelas liam


"saya akan membantu tuan Loi " kata pak man.


Tembak menembak kembali terjadi, Matteo datang tepat waktu dan mulai masuk ketengah tengah kumpulan musuh dan menikam siapa saja yang di jangkaunya bersama anggotanya. Liam juga ikut bergabung, dia senang Matteo cepat tanggap.


"apa kau terkejut sobat" kata Matteo


"kenapa kau datang"


"tentu saja untuk bersenang senang aku sudah lama tidak melakukan ini, hahaha "


pertarungan itu berlangsung cukup lama, yang mereka hadapi bukan anggota biasa melainkan pembunuh bayaran berdarah dingin. Sepertinya kemenangan memihak pada mereka karena Matteo membawa orang-orang terlatih. Matteo berhasil menyandera beberapa pembunuh bayaran yang masih bernyawa di markasnya.


"aku masih ingin menyayat tubuh mereka Liam" kata Matteo


"lakukan sesukamu saja, aku lelah dan ingin beristirahat" Liam tidak peduli


"kau tidak mungkin tidak tahu keberadaan istrimu kan?" tatapan mencurigakan dari Matteo.


"Hmm"


"selamat atas pernikahanmu Liam, aku turut bahagia" Matteo memeluk tubuh sahabatnya.


Matteo menghabiskan malam dengan meminum anggur wine bersama Liam, seakan merayakan kemenangan mereka.


"aku penasaran dengan gadis yang meluluhkan hatimu Liam" senyuman mengejek Matteo.


"hmm"


"aku tidak pernah melihat mu bersama gadis manapun, pernikahanmu sangat mengejutkan bagiku. Apa kau serius pada istri mu?" akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut Matteo. Tuan Liam mengangguk sebagai jawaban lalu meneguk habis isi gelasnya.


"Dila, Aku merasakan kenyamanan saat bersamanya, dia mengingatkanku pada belaian ibuku saat aku tidur di pangkuannya, hatiku menghangat seperti menemukan hidup yang baru dan aku mencintainya saat pertama kali melihat sorot matanya." Rasa mabuk membuat Liam mengungkap seberapa dalam perasaannya dan seberapa besar kebahagiaannya.

__ADS_1


"sepertinya sudah mau pagi masuklah ke kamarmu kawan, aku juga mau pulang pekerjaanku sangat banyak besok. Aku akan meninggalkan beberapa orang untuk berjaga"


Tuan Liam enggan berpindah memutuskan tidur di sofa itu sampai pagi.


__ADS_2