
jam 10.00, Nadila keluar kamar dengan pakaian santai yang menurutnya layak di pakai di rumah.
"anda tidak ke kantor nona?" tanya pak man
"eh paman, saya seperti nya kurang sehat" sambil tersenyum.
pak man mangut mangut mendengar alasan Nadila.
"apa anda sudah meminta izin pada tuan muda?"
"saya sedang tidak ingin membahas pria gila itu. paman katakan saja pada sekretaris Ken saya tidak enak badan"
"baik nona" pak man menjalankan perintah nona mudanya.
"yes,..." Nadila bergembira bisa berjauhan dengan tuan Liam.
"paman dimana kakek?"
"apa anda ingin bertemu dengan tuan besar nona?"
"hmm, saya hanya ingin tahu saja paman"
"tuan besar sedang berolah raga di taman belakang nona mari saya antar"
Nadila mengikuti langkah pak man kepala pelayan yang di anggapnya paman.
Nadila berdiri tidak jauh dari kursi taman disana ada tuan Umbara dan Giorgi.
"silahkan nona, saya akan kembali ke dalam"
"terimakasih paman"
"sama sama nona"
Nadila hanya berdiri tidak ada niat menghampiri pria tua itu. Nadila sayup sayup mendengar pembicaraan mereka, setelah beberapa saat dia kembali kedalam rumah.
"paman, saya ingin keliling rumah"
"saya akan panggil pelayan menemani anda nona" kata pak man.
"paman, saya lebih senang ditemani oleh anda tidak akan keliling terlalu lama. mumpung kakek sedang diluar rumah"
"baiklah nona mari" pak man menjadi pemandu keliling rumah untuk Nadila.
pak man sedikit bercerita tentang keluarga Dewantara, sejauh yang bisa di ketahui orang diceritakannya
"paman kenapa kakek bicaranya seperti itu? jantung ku hampir copot kalau mendengarnya bicara"
pak man hampir melepas tawa mendengar itu.
"nona percayalah tuan besar sangat baik dan penyayang. tuan besar adalah seorang pemimpin, untuk itulah cara berbicara tuan besar sangat lantang. tuan besar akan senang jika anda menyapanya barang sekali nona dan sudah seharusnya anda menerima posisi sebagai menantu Dewantara satu satunya."
kegiatan keliling rumah itu selesai, Nadila mengetahui sedikit demi sedikit lingkungan rumah itu.
di dapur para koki sedang mendiskusikan menu makan malam.
"paman" suara Nadila mengejutkan semua penghuni dapur.
"nona muda" semua menunduk hormat.
"apa anda membutuhkan sesuatu nona"
"ini pertama kali setelah sekian lama menantu Dewantara hadir di dapur" pak man.
"apa saya mengganggu?"
"tentu saja tidak nona." jawab pak man cepat
"saya sangat bosan sekarang, boleh saya bergabung?"
"ini perkejaan kami nona" seorang koki angkat bicara tidak mungkin majikan berada di dapur.
"paman biarkan saya yang memasak makan malam" tawar Nadila bersemangat.
__ADS_1
"nona muda" pak man tidak tahu menanggapi.
"paman tenang saja tuan Liam sudah mengizinkan, bahkan membakar dapur pun boleh. heh becanda paman, jangan terlalu formal pada nadila"
"baiklah nona, tapi izinkan kami membantu anda" tawar pak man.
"ya, tentu saja paman. semua berbaris di sana jangan ganggu saya memasak. trus pekerjaan paman adalah mencicipi masakan saya nanti. saya rasa itu sudah membantu kan paman." "tidak seperti tuan Liam yang selalu mengganggu pikiran saya" lanjutnya dalam hati.
Nadila menyiapkan menu makan malam versi nya sendiri, semua pelayan tidak ia izinkan membantunya.
"bagaimana rasanya paman?" Nadila tidak sabar dengan hasil masakannya.
"nona ini sangat lezat, nona saya yakin tuan besar akan menyukainya." puji pak man.
"bagikan untuk para pelayan juga paman." Nadila sangat senang.
"tentu nona"
para pelayan menyusun menu makan malam yang sederhana itu di atas meja makan, menata dengan rapi ada banyak menu di sana.
"pak man apa yang kau masak?"
"tuan besar makan malam sudah siap" pak man menarik kursi tuan besarnya.
"apa ini pak man?"
"ini udang asam manis, ini seperti sup ayam dan sayur tuan, dan ini dari bahan telur, silahkan dinikmati tuan besar"
"menu ini tidak perna ada sebelumnya hmm tapi, sepertinya mengganti menu sesekali tidak masalah"
para koki dan pelayan nilai gemetaran, mereka akan siap menanggung resiko malam ini.
"Giorgi ayo kau coba makanan ini, bentuknya agak aneh tapi rasanya membuat saya berselera haha" kakek menghabiskan makanannya.
"dimana anak nakal itu pak man?"
"tuan muda akan terlambat pulang, tuan besar" jawab pak man
"sepertinya nona muda kelelahan tuan, nona muda baru saja pergi beristirahat di kamar"
kakek merasa perutnya sudah tidak bisa menahan amunisi lagi, dia meninggalkan beberapa potong telur gulung dan beberapa sisa sayur lainnya.
"baiklah, sering sering masak makanan seperti ini"
"tuan besar sebenarnya makanan ini..."
suara pak man terhenti karena kedatangan tuan Liam.
"pak man" suara tuan Liam terhenti saat melihat menu di atas meja makan.
"telur, penciumanku sangat tajam, ku harap rasa telur ini sama kalau tidak aku akan memecat orang yang membuatnya"
segera mengambil piring dan mulai melakukan ritual makan, membuat semua orang terheran.
tuan Liam bahkan mengambil butir butiran telur yang tersisa.
"tuan muda, sepertinya anda berselera dengan telur itu" pak man merasa bersalah telur itu di masak hanya sedikit oleh Nadila, sebagai menu tambahan saja tadi.
"benar pak man, saya akan makan nasi dan telur ini pak "
"tapi tuan telur itu sangat sedikit"
"nasi mana nasi" tuan Liam menambah nasi dan makan sedikit sedikit telur gulung itu, tuan Liam sangat senang mendapati makanan itu.
"tuan ini di masak oleh..."
"pak man, saya belum makan seharian jadi biarkan saya makan"
sekretaris Ken menggaruk tengkuknya merinding.
"lalu apa yang anda lakukan di restoran xx barusan tuan muda, menghayal" Ken.
ritual makan telur aneh itu selesai, tuan Liam memasuki kamarnya dia menemukan Nadila yang tertidur pulas. tuan Liam memutuskan untuk membersihkan diri
__ADS_1
suara percikan air di kamar mandi membangunkan Nadila, dia berguling kesana kemari.
"apa kau punya kebiasaan tidur seperti jarum jam!" suara yang mengejutkan itu.
Nadila terduduk dia lupa akan sesuatu.
mengambil sesuatu di lemari dan berlari ke kamar mandi.
"aiss tuh kan banjir, untung gak ketahuan kan malu" Nadila
setengah jam berada di kamar mandi
"apa yang kau lakukan didalam sana, kenapa lama sekali!" serangan menyebalkan itu lagi.
"apa yang anda lakukan diluar sana, kenapa baru pulang tuan!" serangan balik dari nadila
"memangnya apa yang saya lakukan"
"ch, anda senangkan bersenang senang diluar sana"
"tentu saja" tuan Liam memantik api.
Nadila muak ingin pergi tapi tangannya di cekal
"mau kemana hmm?"
"tuan lepas!"
"apa otak mu sekecil itu? mengapa pola pikirmu sangat pendek?"
"lalu kenapa anda tidak pulang semalam"
"ada pekerjaan yang harus di selesaikan"
"di club'?" tebak nadila
"ya, sekedar bersantai Keith"
Nadila merasa jijik mendengar tuan Liam berada di club' malam.
Nadila pergi duduk di sofa, melihat kekesalan Nadila tuan Liam bersorak senang dalam hati.
"aku datang bersama Ken tidak sendirian"
"tentu saja, anda tidak sendirian banyak wanita seksi di sana!"
"apa kau cemburu nona Dewantara?"
"tidak!"
tuan Liam menatap mata Nadila dalam mencoba menggoda gadis berstatus istrinya.
"saya tidak cemburu!" kata Nadila menutupi kegugupannya.
"benarkah? tapi wajah mu memerah " tuan Liam menyentuh dagu Nadila lembut, itu membuat suasana makin panas saja.
"tuan, saya menikah dengan anda karena sebuah insiden. walaupun berpisah dengan anda kelak maka percayalah bahwa saya hanya akan menikah sekali yaitu dengan anda. setidaknya hargailah saya sebagai saat yang yang terikat dengan anda !" Nadila menangis, dia tidak sanggup membayangkan suaminya berganti wanita setiap hari.
Hati tuan Liam terhenyak dia membawa Nadila ke pelukannya.
"mengapa kamu sangat cerewet hmm.
bukankah sudah ku katakan, aku pergi bersama Ken dia menemani ku mabuk. aku bahkan tidak menyebut wanita lain dalam kata kataku. dengar apa pun alasannya berhentilah membahas wanita lain di kepalamu mulai sekarang"
"anda pikir saya yang ingin membahasnya, lepas saya tidak ingin dipeluk" mencoba melepas diri.
"pak man bilang kamu sakit jadi, besok kamu masih libur."
"saya sudah tidak sakit tuan"
"kalau sakit maka sakit! tidurlah jangan bicara lagi" tuan Liam tidak melepas dekapannya, dia memejamkan mata menghirup aroma sampo Nadila.
Nadila yang tidak punya pilihan lain pun ikut tertidur mencari kedamaian dalam mimpi.
__ADS_1