Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 42 sulit memahami


__ADS_3

Hubungan renggang terjadi antara suami istri itu. Tuan Liam yang mulai cuek dan Nadila yang pendiam, keadaan itu membuat sekretaris Ken serba salah.


"apa anda ingin ke suatu tempat nona?" sekretaris Ken ingin mencairkan suasana yang terlalu sepi itu.


"antarkan aku pulang kerumah orang tuaku sekretaris Ken" perkataan Nadila membuat pandangan tuan Liam beralih padanya, Argumentasi bermunculan di kepalanya.


"mungkin rekomendasi tempat lain nona, saya akan mengantar anda" sekretaris Ken menyadari tatapan mata tuannya yang sulit terbaca "tuan muda mengalah pada nona muda sekali saja" hati Ken memelas.


Sekretaris Ken merasa nona mudanya sedang tidak ingin kemana mana langsung membawa mereka pulang kerumah, belum sempat Nadila berdiri dengan benar saat keluar dari dalam mobil tuan Liam sudah menariknya dan menyeretnya kedalam kamar. pak man berlari menyusul, dia khawatir dengan nona mudanya.


"jadi kau berencana pergi dariku" tuan Liam mencekam lengan Nadila hingga kesakitan.


"memang apa masalahmu! aku hanya ingin bertemu mereka itu saja" ada kegetiran dalam suara Nadila, semakin hari dia semakin tersiksa berada di sisi suaminya sejak kemunculan mantan kekasih suaminya yang membuat dirinya minder.


"tidak akan!" tuan Liam bersikeras untuk tidak memberi izin, Nadila menangis di sisi tempat tidur mengapa suaminya semakin tidak mengenalinya? tuan Liam pergi keruang kerjanya dan tidak perna keluar dari sana.


"tuan Ken, apa yang terjadi?" pak man merasa tuan Liam akan lepas kendali, mendengar suara barang yang berjatuhan itu membuktikan telah terjadi sesuatu di dalam sana.


"tuan muda belum bisa memahami wanitanya dengan baik pak" sekretaris Ken mulai teringat permintaan nona nya yang ingin diantar kerumah orangtuanya, dia mengusap wajahnya ada rasa bersalah disana.


"maafkan saya nona melupakan hal penting ini."


sudah dua hari tuan Liam dan istrinya tidak bertegur sapa dan pria itu memilih tidur di ruang kerjanya dan tidak lupa memberi libur pada Nadila yang diam didalam kamar. suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka, sekretaris Ken beranjak membuka pintu.


"nona?" sekretaris Ken sedikit terkejut dengan kehadiran Nadila yang tidak terduga. Dari penampilan Nadila bisa dinilai bahwa dia kurang mengurus diri selama beberapa hari terakhir.


"tuan Liam ada?" Nadila berbicara dengan suara takut.


"masuklah nona, tuan muda sedang bersantai" sekretaris Ken berjalan di belakang nona mudanya yang semakin hari semakin kehilangan berat badannya.


tuan Liam mencium aroma parfum istrinya, bohong kalau tidak ada kerinduan di hatinya.

__ADS_1


dari kejauhan istrinya berjalan mendekatinya hatinya teriris melihat itu, sekarang dia bingung bagaimana menghadapi istrinya yang telah diabaikannya karena sibuk dengan pekerjaan yang tidak kunjung selesai.


"boleh kita bicara?" Nadila bertanya dengan suaranya yang melemah, sangat khawatir suaminya mengabaikan dirinya. Tidak diduga jantung tuan Liam berdetak kuat darahnya mengalir ke seluruh tubuh lebih cepat dari biasanya.


"duduklah" menyuruh Nadila duduk di sofa sedangkan Ken meninggalkan ruangan itu, Memberi privasi pada mereka.


Nadila berjalan dan duduk diseberang sofa tempat tuan Liam duduk, dia memilih berhadapan dengan suaminya. Tuan Liam masih menunggu Nadila buka suara. Sangat lama mereka berada dalam keheningan, ego masih bersarang di hati keduanya. Nadila kesulitan memilih kata yang tepat untuk suaminya hingga dia merasa gugup.


"maafkan aku, suamiku" tuan Liam menatap istrinya lekat dan mesin diam menunggu kata-kata selanjutnya. Nadila tertunduk tidak sanggup menatap mata suaminya yang membuatnya meleleh kapan saja.


"maukah kamu memaafkan ku? suamiku, aku tidak bermaksud mendiami dirimu." Nadila mencengkram kedua tangannya, takut? tentu saja, dia takut tuan Liam tidak mau memberinya kesempatan mengutarakan keinginannya. Tuan Liam tiba-tiba mengulurkan tangannya mengundang Nadila mendekatinya.


"kemarilah" tuan Liam membuka kedua tangannya membentuk sebuah tempat rangkulan. Nadila mendekat dia sangat penurut, tuan Liam tersenyum dan membawa istrinya duduk di pangkuannya menyalurkan kerinduan mendalam.


Nadila membiarkan suaminya memeluknya tanpa mengatakan apa pun.


"aku tidak marah padamu sayang hmm, katakan kamu menginginkan apa? aku akan mengabulkannya jika permintaanmu masih wajar." tuan Liam mengelus lembut kepala istrinya, Nadila merasakan kehangatan suaminya kembali. Walau dia sempat bingung dengan perubahan mendadak suaminya, menurunkan wajahnya agar bisa sejajar dengan suaminya.


"mengapa? mengapa beri aku alasan Dila sayang" tuan Liam meminta kejelasan dari keinginan istrinya yang mau pergi sendiri. sekretaris Ken sudah memberikan banyak teori pada tuan mudanya selama ini dan tuan Liam mencoba mengaplikasikannya.


nadila yakin tuan Liam akan menolak untuk itu dia mengurungkan niatnya.


"lupakan saja, aku kembali kekamar saja" Nadila berusaha bangun dari pangkuan itu dengan sekuat tenaga.


Sesampai didalam kamar langsung naik ketempat tidur, tidak sempat menutup mata suara pesan masuk di hp berbunyi. Beberapa pesan masuk dan dibalas oleh Nadila, ada kesenangan dihatinya saat membaca pesan itu. Sangat lama tukar pesan itu berlangsung hingga dia tertidur dengan posisi masih memegang hp yang berkedip-kedip.


Tuan Liam mengambil hp istrinya dan menaruhnya entah kemana, lalu masuk kedalam selimut memeluk istrinya. Tidak lupa meletakkan tangannya di tempat ternyaman saat memeluk istrinya.


"aku memaafkan kejadian diantara kita, tapi aku tidak mengizinkanmu ke tempat apapun yang kamu maksud" tuan Liam berbicara dibalik punggung istrinya tanpa sadar ada tetesan bening membasahi pipi istrinya.


Malam sudah berganti namun mereka terlambat bangun, Nadila lebih dulu bangun dan mandi. Saat berhadapan di meja rias matanya menemukan sebuah notes pesan singkat, "maukah menghabiskan hari bersamaku?" Nadila tidak mengerti dan malam mencari keberadaan ponselnya. Satu jam berlalu ponsel itu hilang bagai ditelan bumi. Tidak disadari olehnya suami tampannya sudah rapi dengan pakaian santainya.

__ADS_1


"apa tidak kekantor?" Nadila melihat perubahan aneh dengan setelan suaminya.


"aku sudah punya segalanya" jawaban sang presdir yang selalu benar adanya. Nadila kembali beralih mencari benda berharganya, tuan Liam pergi ke bawah mencari keberadaan Ken.


Sudah siang hari Nadila turun kebawah merasakan perut yang lapar dan juga melewatkan sarapan. Mereka makan siang dengan tenang, setelah selesai tuan Liam mengajak istrinya pergi, diperjalanan Nadila kebingungan jalan yang mereka lalui kali ini sangat berbeda dan tampak asing.


"apa yang kamu pikirkan?" tuan Liam berusaha mengorek isi kepala istrinya.


"apa kamu melihat ponselku?suamiku aku mencarinya sejak tadi" Nadila memanyunkan bibirnya membuat tuan Liam tidak tahan untuk menciumnya, setelah puas mendapatkan keinginannya barulah memberi jawaban.


"aku terganggu dengan suara ponselmu, jadi aku membantumu membuangnya" kata tuan Liam santai dan seperti tidak ingin membahasnya lagi. Sungguh tidak merasa bersalah sama sekali.


perjalanan kali ini sangat panjang, mereka dikejar malam dan memutuskan untuk menginap dihotel.


"apa yang kita lakukan sebenarnya, ayo pulang saja" Nadila tidak menikmati perjalanan ini karena ada hal lain dipikirannya dan rencana yang tidak ingin dilewatkan.


"perjalanan masih panjang, Ken pergi mengurus beberapa hal, ayo lakukan sesuatu di kamar ini selama Ken pergi" tuan Liam sudah memasukan istri dalam perangkap yang berlapis hingga sulit melepaskan diri. sesuatu pun terjadi malam itu di saksikan oleh kamar hotel di tengah remang remang lampu.


perjalanan kembali dilalui, Nadila yang tidak tahu tujuan mereka yang berputar-putar membuatnya tidak bersemangat. Pertanyaannya tidak pernah mendapat jawaban yang tepat oleh dua pria di dalam mobil itu.


"apa mereka sedang berencana mengikatku kedalam hutan?" Nadila sangat kesal pada suaminya yang terus memanfaatkan kesempatan pada dirinya.


"kita akan sampai sore hari, tidurlah ini masih jauh" Nadila enggan menutup matanya, sebentar dan sebentar kepalanya jatuh hampir mengenai jendela mobil beruntung tuan Liam menyadarinya dan membawa istri dalam pangkuannya.


Terdengar nafas berat tuan muda dari kursi penumpang belakang.


"apa kaki anda kram tuan?" Ken merasa nona mudanya tidur terlalu lama dan kaki tuan Liam kesemutan karena tidak mendapat pergerakan.


"berapa jam lagi Ken?" tuan Liam ingin segera sampai tujuannya.


"15 km lagi tuan muda kita akan sampai sebelum mata hari terbenam" tuan Liam memejamkan matanya menyesal melakukan perjalanan darat karena kadang dihalang macet. Ini membuat mereka sampai dalam waktu yang lama, bisa saja naik helikopter biar cepat sampai. Menurut saran sekretaris Ken itu terlalu menonjol dan mudah dicium oleh musuh yang masih mengincarnya, walau sudah lama menghilang bukan berarti sekretaris Ken akan lengah keselamatan tuan muda yang paling diutamakan.

__ADS_1


__ADS_2