
Di tengah yang lainnya melakukan perang yang besar-besaran dan tidak ada yang tahu kapan akan berakhirnya. Seorang pria yang asing membawa seorang yang sekarat kerumah sakit. Pria itu membawa dengan membopong tubuh itu, tidak peduli seberapa berat beban yang di angkatnya asalkan orang yang dia bawa mendapat pertolongan.
"suster! suster tolong saya" kata pria itu tergesa-gesa. Petugas rumah sakit bekerja dengan sangat telaten, membawa pasien kedalam ruang IGD untuk melakukan pertolongan pertama.
"apapun itu lakukanlah demi keselamatannya saya mohon" lanjut pria itu dengan nafas yang terengah-engah karena kelelahan.
" bersabarlah tuan, kami pasti akan melakukan yang terbaik tapi saat ini kami hanya bisa memberikan pertolongan pertama karena para dokter masih sibuk menangani pasien dan operasi tuan" jelas seorang perawat yang merasa ngeri dengan tatapan mata pria di hadapannya.
"sialan! pindahkan pasien keruang VVIP saya akan menanggung biayanya" bahkan memaki, dia bolak-balik mencari solusi, yang segera dilaksanakan oleh para perawat.
Sungguh sangat tidak beruntung, belum juga ada dokter yang menangani pasien malang itu, "apakah rumah sakit ini kekurangan dokter, bagaimana kalian menelantarkan pasien yang membutuhkan pertolongan" pria itu mulai kesal.
"sebentar lagi dokter Aditia akan datang tuan, beliau baru saja menyelesaikan operasi kangker, mohon bersabar dan tanda tangan surat pertanggung jawab" kata suster menyerahkan surat.
Pintu ruangan terbuka dan munculah dokter yang ditunggu, dokter Aditia masuk yang pandangannya hanya pada pasien yang terbaring tidak sadarkan diri. Segera pria asing itu memakai masker agar tidak di kenali oleh dokter Aditia.
"apa yang terjadi padanya?" tanya dokter Aditia sambil memeriksa bagian vital pasien. Luka tubuh pasien bukanlah luka biasa dia sangat mengenali bentuk luka-luka pasien tersebut.
"dokter terimakasih sudah datang, pastikan dia mendapatkan nyawa kembali atau anda yang akan kehilangan nyawa" "kau sangat lama dokter, aku benci bertemu dengan anda ch" lanjutnya dalam hati
"hei apa anda gila?" kata dokter Aditia sedikit berteriak pada pria asing yang pergi tanpa pamit. "sepertinya aku mengenali suaranya"
Dokter Aditia membersihkan luka di wajah pasien dan mengobatinya, cukup seperti itu saja melakukan pelayanan yang terbaik. Dua jam berlalu rasa penasaran Dokter Aditia sangat besar sehingga menunggu pasien terakhir yang di tangannya sampai sadarkan diri.
"siapa namamu?" tanyanya setelah pasien sadar dengan perban berpikir di wajahnya.
"Hendra tuan" jawabnya dengan bisikan.
dokter Aditia memukul keras perut pasien yang bernama Hendra hingga pasien mengerang "apa anda ingin membunuh saya dokter?" kata Hendra meringis.
__ADS_1
"kanapa pasien seperti anda muncul lagi, seharusnya saya menyuntik mati anda" kata dokter Aditia.
"terimakasih telah menyelamatkan saya untuk kedua kalinya dokter, saya harus kembali bolehkah saya pergi?" katanya
Sedangkan di tempat lain Rio menghadap Matteo "sejak kapan kamu memakan gaji buta" kemarahan Matteo yang di sambut dengan diam oleh Rio.
"dari mana saja kamu sialan!" lanjutnya
Rio mengeluarkan hp dengan foto yang di peroleh nya. Matteo mengamati semua laporan Rio sambil mendengar penjelasan Rio yang tidak perna mereka duga namun masih terpenggal itu.
Matteo bersama Rio menuju rumah sakit menemui Hendra, disana dokter yang menyebalkan sedang menjalankan tugasnya memberikan obat yang mempercepat pemulihan Hendra. "saya berterima kasih atas pengorbanan anda, salah satu orang kepercayaan Liam adalah yang terkuat. Istirahat lah tubuhmu mengalami luka berat dan harus terapi tulang, terlebih bagi kirimu yang mendapat benturan kuat demi kakak ipar" kata dokter Aditia pada Hendra setelah mengetahui statusnya.
Matteo masuk dan langsung menodongkan pistol di kepala henda "dimana nona Nadila bodoh" Matteo
Melihat situasi itu, Aditia menghajar Matteo Samapi merasa lelah "bersikaplah yang benar, dia hampir kehilangan nyawanya demi melindungi kakak ipar dan buang senjatamu itu"
"maafkan saya yang lalai akan tanggung jawab tuan" kata Hendra menyesal karena menyadari nona muda nya yang tidak terselamatkan. Dia bahkan meneteskan air mata didalam rasa sesalnya, Hendra yakin nyawanya tidak akan selamat jika tuan Liam mengetahui keberadaannya yang lalai akan tanggung jawab.
Tanpa sepengetahuan tuan Liam mereka menuju tempat kejadian sebagai titik terakhir Nadila berhenti, mereka melakukan secara diam-diam agar tidak diketahui publik. Seluruh jalanan mereka telusuri namun belum menemukan petunjuk bahkan CCTV mereka periksa, mengamati setiap kendaraan yang mencurigakan. Sekretaris Ken tidak ingin ketinggalan dia rela berjalan kaki seorang diri tanpa lelah menyusuri jalanan.
"nona apa anda tidak meninggalkan petunjuk?" gumamnya dan berhasil memancing nyali Matteo.
"mobil yang menyerang ada 7 tapi saat saya datang dua mobil sudah pergi mungkinkah nona disalah satunya" dugaan Rio.
"cari keberadaan mobil itu Mr.D" perintah Ken.
Mr.D mengotak atik alat khusus yang dimilikinya, hanya itu solusi yang mereka miliki karena CCTV mobil sudah hangus saat ledakan. "itu mobil yang keliru tuan tidak ada apapun disana" katanya yakin.
sekretaris Ken mengusap wajahnya bahkan menarik rambutnya seakan ingin botak dengan sekali tarikan. Ini sangat mustahil sudah menjelang malam namun belum ada petunjuk. Apa yang harus dia katakan pada tuan Liam, tidak mungkin menyampaikan bahwa mereka tidak mampu menemukan Nadila itu sangat melukai kekuatan mereka terlebih Matteo yang akan terluka harga dirinya kerena kekuasaannya tidak dapat menyelamatkan istri tercinta dari sahabatnya.
__ADS_1
Sudah menggelap berada di lokasi itu hanyalah sia-sia, semua anggota di bubarkan kecuali Ken yang memilih tidur di pinggir jalan. Pria yg ang berdedikasi itu tidak bisa pulang sebelum menemukan jejak yang dia cari, tanpa merasa keram di kaki dia berjalan di pinggir jalan hingga terjatuh di tumpukan semak-semak karena lelah tanpa istirahat.
ponselnya berdering "katakan" katanya tanpa melihat nama yang tercatat disitu. "baiklah berhati-hati lah" lanjutnya.
Sedangkan tuan Liam hanya merenung tentang keberadaan istrinya, dia menyesal membiarkan mereka berpisah seharusnya dia tetap memeluk keluarga kecilnya itu.
"maafkan aku sayang, aku pasti menemukan kalian bertahanlah untuk ku, aku mohon" katanya sambil menyeka air mata.
Hari kembali memberi kesempatan kepada penghuni bumi untuk beraktivitas, tuan Liam mengendarai mobil dengan sangat cepat di pagi-pagi subuh, dan akhirnya berhenti di pinggiran jalan saat melihat tubuh Ken yang tergeletak. Menendang dengan kuat kaki sekretaris Ken yang tidur tanpa tahu tempat.
"apa kamu sudah miskin sehingga harus menjadi gembel dengan balutan jas itu!" katanya dengan dingin.
Sekretaris Ken langsung tersadar dan mengadu dengan kakinya " sakit sialan bukan menjadi gembel tapi menjadi mayat jika kamu membangunkan ku seperti itu" Masih mengelus kakinya.
"dimana istriku?" ah tuan Liam ini sulit di percaya, carilah sendiri jika ingin bertemu secepat itu.
Tuan Liam mengenali jejak yang berbeda dan segera menelitinya, sebuah jejak kendaraan di samping Ken berdiri. "ayo jalan Ken" mereka berjalan menyusuri jalanan itu.
"ini jejak roda motor tuan muda" tebak Ken seakan familiar dengan jejak itu.
Setelah lama mengamati jejak kendaraan roda dua itu muncul senyuman jahat di bibirnya "ayo pulang Ken" katanya membuat Ken terheran namun tetap melakukannya
"aku akan membunuhnya" lanjutnya.
*
*
hai para sobat author, author sudah menganggur menulis terlalu lama ya. Hehehe author minta maaf ya, kini author akan up kembali.
__ADS_1
jangan lupa dukung author terus ya, agar kesibukan author cepat berlalu dan memiliki waktu kembali untuk menulis.
Ayo beri like, komentarnya, curahkan isi hatinya hehehe 🤭🤭🤭