
hari hari berikutnya Nadila menjalani rutinitas seperti biasa, mengikuti kemana pun tuan Liam pergi. Sebagai seorang asisten pribadi sekaligus istrinya. Sekarang mereka memantau penyelesaian pembangunan panti asuhan, tanpa sengaja perhatian tuan Liam tertuju pada istrinya yang banyak pikiran akhir akhir ini.
"Ken putar arah" perintah tuan Liam yang langsung di laksanakan oleh sekretaris Ken.
"kenapa berputar suamiku" Nadila sedang menghalalkan berendam air panas untuk melepas lelahnya, namun pekerjaan tidak pernah usai. Sekretaris Ken membawa mereka disebuah mol pusat perbelanjaan kelas atas.
"apa ada meeting penting di mol juga, aku bisa gila. Tubuhku sangat lelah" keluh Nadila
"kamu bisa memilih apa saja yang kamu inginkan disini Ken akan mengurus tagihannya" cara orang kaya melepas penat ya berbelanja begitu pikir tuan Liam.
"aku tidak ingin apapun, aku ingin pulang dan tidak ingin bertemu denganmu" Nadila ingin mengatakan begitu tapi, tidak pernah sampai.
"dalam sepuluh menit kamu tidak memilih barang sebanyak sepuluh pcs, kamu akan tahu akibatnya" kata-kata ancaman membuat Nadila mengambil barang secara random. sepuluh menit habis, pelayan mol membawa semua barang yang dipilih Nadila bahkan barang itu lebih dari sepuluh pcs sangking cepatnya asal ambil saja.
Tuan Liam mendekati barang yang di bawa pelayan dan dia tersenyum istrinya memilih beberapa dress yang sangat minim. seketika matanya tertuju pada setelan aneh tuan Liam sangat mengenali setelan itu, sekarang dia yakin istrinya memilih secara asal.
"kamu yakin dengan pilihanmu?" mencoba mengonfirmasi kepada istrinya.
"a...apa terlalu banyak ya? maafkan aku suamiku, aku terburu-buru sehingga tidak menghitung berapa yang sudah ku pilih" kata Nadila merasa bersalah, lalu mengembalikan beberapa dress yang menurutnya terlalu mahal.
"tidak sayang, maksudku kamu bisa menambah lagi sebanyak yang kamu mau. apa ada lagi yang membuatmu tertarik?" tuan Liam ingin menyenangkan istrinya yang nyatanya Nadila tidak tertarik saat ini. Karena sudah tidak ada lagi mereka pergi meninggalkan mol itu dengan beberapa paper bag, tentu saja yang repot disini adalah Ken.
saat mereka sedang menyusuri mol menuju lift, seseorang menghampiri tuan Liam. Wanita seksi dengan hight heels runcing datang memeluk tuan Liam.
"Liam, akhirnya kita bertemu. kamu kemana saja Liam aku sudah mencari mu kemana mana TPI sangat sulit menemukanmu" wanita bernama Jennie muncul kembali dan bergelayut manja di lengan tuan Liam yang tidak menghindar, pemandangan itu membuat Nadila sangat marah hatinya terasa sakit.
"saya duluan tuan" Nadila pergi meninggalkan adegan romantis di depan matanya.
mata Jennie tertuju pada Nadila dengan semangat dia mengusir Nadila, Jennie tidak melepaskan cengkeramannya seakan pamer pada dunia bahwa tuan Liam adalah miliknya.
Nadila berlari menuju mobil yang disusul sekretaris Ken karena khawatir dengan nona mudanya sedangkan tuan Liam tinggal untuk menyelesaikan urusannya. wajah penuh air mata, dia menangis dalam diam.
"kenapa begini? aku tahu jelas jelas dia tuan Liam yang memiliki segalanya, tidak seharusnya aku berfikir bahwa dia hanya milikku. Bukankah aku tidak mencintainya? tapi mengapa hatiku sangat sakit melihat seorang wanita yang memeluknya mesra." Nadila mencoba menguatkan hatinya tapi air mata tidak bisa dia tahan. sekretaris Ken masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi, menghidupkan mesin mobil dan juga AC untuk nona mudanya setelah itu dia kembali keluar memberikan waktu untuk nona mudanya. Saat sekretaris Ken keluar tangis Nadila kembali pecah, itu membuktikan suaminya tinggal bersama wanita itu.
"dia punya banyak uang kekayaannya tidak akan habis, bagaimana bisa dia tahan dengan satu wanita? wanita itu adalah mantan kekasihnya yang selalu jadi gosip betapa mereka saling mencintai" Nadila merasa hanya menjadi pelampiasan selama ini. setengah jam berlalu tuan Liam kembali dan langsung masuk kedalam mobil. Tanpa suara sekretaris Ken membawa kuda besi itu kerumah utama.
__ADS_1
Mobil terparkir dengan baik, Nadila tidak menunggu pintu mobil dibukakan untuknya dia langsung keluar sendiri dan masuk kedalam kamar. tuan Liam melihat tingkah istrinya yang berubah.
"apa dia menangis Ken?" tuan Liam bisa melihat mata istrinya yang sembab.
"seperti yang anda pikirkan tuan muda" sekretaris Ken juga merasa bersalah karena tidak bisa mencegah Jennie yang datang tiba-tiba itu, sekarang sekretaris Ken mengutuk belanjaan yang membuatnya repot hingga lengah memperhatikan sekitar.
Tuan Liam masuk kedalam kamar dan menemukan istrinya dalam balutan selimut tebal.
"bagaimana kamu tidur tanpa berganti pakaian? bangun lah Dila bantu aku berganti pakaian" suara itu menghilang begitu saja yg ang didalam selimut tidak memperdulikan.
"beraninya kamu membantahku!" Tuan Liam menarik selimut itu dan memaksa Nadila untuk bangun, perlakuan itu menyadarkan Nadila tentang posisinya. Nadila berjalan menyiapkan setelah piyama tidur suaminya dan melakukan perannya seperti biasa. Tidur bersama suaminya tanpa membantah karena dia adalah seorang istri hanya saja yang dirasakannya saat ini berbeda.
malam itu terlalu dengan sangat cepat Nadila bahakan bangun lebih awal dari biasanya menyelesaikan semua kewajibannya dan memilih berangkat lebih dulu ke kantor.
"pak man dimana Dila istriku?" tuan Liam mencari istrinya tapi tidak menemukannya.
"nona berangkat sangat cepat hari ini tuan, nona melewatkan sarapan" laporan pak man menghentikan sendok yang hendak masuk kedalam mulut tuan Liam. Tuan Liam merasa itu sangat berlebihan.
tuan Liam khawatir saat ini, bertepatan sekretaris Ken datang menjemput, tidak membuang waktu mereka berangkat ke kantor. saat ini tujuan tuan Liam adalah menemui istrinya.
tuan Liam tidak menghiraukan Ken dan didapat Nadila sedang duduk melamun di meja kerjanya, kehadiran tuan Liam tidak disadari olehnya.
"kamu terlalu rajin hingga melewatkan sarapanmu!" suara tuan Liam yang meninggi, mengejutkan Nadila yang melamun.
"saya tidak lapar tuan" jawab Nadila singkat dan beralih memeriksa tab pencatat ditangannya, dia bersiap bekerja di bawah perintah suaminya. Tuan Liam menarik paksa tab itu dan mencekam lengan Nadila.
"lepas" Nadila berusaha melepaskan diri tapi kekuatannya tidak sebanding hingga dorongan tuan liam membawanya terbaring di sofa dan tuan Liam berhasil menindihnya.
suara ketukan pintu menyelamatkan Nadila, segera memperbaiki posisinya dan merapikan rambutnya rang berantakan. Sekretaris Ken menduga-duga yang terjadi dalam ruangan itu.
"sarapan untuk anda nona" Ken menyampaikan maksud kedatangannya, tidak lupa melirik tuan mudanya memberi sorotan mata yang seakan mengatakan anda terganggu tuan. Nadila keluar dan membuang makanan itu ketempat sampah, dia nekat makan makanan pinggir jalan seharian itu.
sedangkan didalam ruangan presdir tuan Liam merasa gelisah, karena Jennie yang selalu mendatanginya.
"urus ****** itu Ken, aku yakin Nadila begini karena kejadian di mol kemarin!" tegas tuan Liam yang sudah muak
__ADS_1
"akan segera saya urus tuan muda" Ken bahkan sangat bersemangat dengan perintah itu.
"sekarang bagaimana caranya agar gadis bodoh itu mengakui perasaannya? aku sudah lama menunggu ken"
Nadila pulang lebih awal dan tidak ingin menunggu tuan Liam, apa yang terjadi sebenarnya? Nadila tidak pulang kerumah tapi pergi ketempat lain, Tuan Liam menyuruh para pengawal mencari istrinya sangat banyak kemungkinan di kepalanya. Sudah malam tapi tidak ada yang menemukan keberadaan istri tuan Liam.
"kau juga tidak bisa menemukan istriku Ken?" Ken menempatkan beberapa pengawal pada nona mudanya sayangnya mereka kehilangan jejak nona mereka di keramaian. Sekretaris Ken menghela nafas mengatakan ini salah anda tuan.
"sial!" tuan Liam tambah marah, ingin mencari tapi kemana? sudah jam sepuluh malam Nadila belum juga pulang. Tuan Liam melampiaskan kekesalannya kepada pengawal istrinya, bisa dipastikan pria-pria kekar itu sudah tidak bisa berjalan lagi.
Suara mesin mobil menghentikan kekacauan itu, Nadila keluar dari mobil itu dengan wajah yang menunduk diikuti oleh Loi. Tidak menoleh Nadila berjalan memasuki kamar, tuan Liam ingin menyusul yg ang ditahan oleh Loi.
"kita harus bicara tuan" Loi mengintruksikan agar tuan Liam duduk dengan benar.
"beraninya kau padaku Loi!" tuan Liam merasa Loi tidak menghargainya.
"saya tahu anda sedang tersulut emosi dalam salah paham. nona muda berdiam duduk di rumput kecil taman, saya tidak tahu apa yang terjadi. Jangan memarahinya tuan lupakan tingkah aneh nona hari ini, mengertilah hatinya yang lembut sangat mudah terluka" Loi ingin sekali memukul wajah tuan Liam ketika mengetahui sumber kesedihan Nadila adalah kedatangan Jennie yang tidak ditolak oleh tuan Liam.
kekacauan malam itu sudah di bereskan, tuan Liam naik ketempat tidur dan mulai menyentuh istrinya yang dia rindukan beberapa hari ini.
"saya lelah tuan" Nadila berusaha menolak.
"tuan, aku ini suamimu Dila! apa yang ada di otak sempit mu itu!" mulailah pertengkaran di atas tempat tidur, tuan Liam tidak ingin melepaskan Nadila begitu saja.
"apa anda berfikir saya ini sama dengan ****** penghangat ranjang mu?" Nadila meluapkan emosi yang ada didalam hatinya.
"kamu adalah istriku satu-satunya " tuan Liam meluncurkan kecupan di leher istrinya yang diduga sensitif untuk menghentikan kemarahan istrinya.
Nadila semakin tidak terima berusaha mendorong tubuh kekar suaminya dan melayangkan tamparan, tangan kecil itu berhasil menciptakan perih di pipi kanan tuan Liam.
"apa aku ini hanya pelampiasan mu? aku jadi berfikir setiap kamu pergi malam untuk menemui para wanita diluar sana. persetan dengan kata-kata cintamu itu. kau bahkan tidak mengerti perasaanku" Nadila sungguh sangat memendamnya selama ini, mendorong dan memukul suaminya yang tidak mengelak sama sekali.
"memangnya apa yang kau rasakan, hmm?" berharap Nadila mengungkapkan perasaannya.
"memangnya perasaan apa yang bisa ku berikan pada mu?" Tuan Liam kehilangan kendali dan menerjang istrinya, sangat sulit membuat Nadila membuat hati padanya.
__ADS_1
"mengapa sangat sulit Dila sayang, malam yang kita lalui bahkan tidak menggoyahkan mu saat mendesah bersamaku? kau sangat bodoh, berterima kasihlah atas cintaku ini. mungkin membuatmu hamil lebih baik. baiklah mari merencanakannya malam ini." tuan Liam tidak membiarkan Nadila mengeluarkan kata-kata lagi dia benar benar mendominasi segalanya, melakukan kegiatan yang tidak akan bisa dilupakan oleh wanita dibawah Kungkungannya.