Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 57 sementara berduka


__ADS_3

Di sebuah perkampungan jauh dari kota seorang pria asing berlutut di tengah tengah keluarga yang bahagia dengan kesederhanaan yang mereka miliki. Pria itu menunjukkan rasa bersalah yang sangat besar dan penyesalan yang mendalam.


"apa anda becanda tuan? hiks hiks putriku" ibu Nadila berbicara dengan suara tercekat, sungguh diluar dugaan kepergian putri yang dibesarkan dengan cinta dan sayang.


Saat ini Loi datang menyampaikan berita duka kepada keluarga Nadila, dia tidak menghiraukan keterlambatan menyampaikan informasi yang sudah berjalan dua bulan itu. Selama ini tidak ada yang datang menemui keluarga istri tuan Liam karena kakek masih memastikan mereka dapat ditemukan, tapi ini sudah terlalu lama dan berbohong dalam jangka waktu yang lama bukan hal baik.


"maafkan kami nyonya, jika berita ini sangat mengejutkan bagi kalian dan juga maaf akan keterlambatan kami datang kemari. Kami juga mendapat duka besar akan kehilangan seorang yang terhormat tuan muda kami nyonya, Kami sudah berusaha mencari keberadaan tuan muda dan nona Nadila tapi alam tidak bersahabat untuk membawa kami bertemu dengan mereka. Saya harap kita saling bersabar dalam hati nyonya dan tuan, kami sangat menghargai kalian sebagai orang tuan nona muda kami" Loi membungkuk dan memilih membelakangi keluarga yang berduka itu, dia tidak dapat menahan kesedihannya karena menyesal tidak berada disisi tuan Liam saat itu.


"putri kita tidak mungkin meninggal suamiku, hiks. lakukan sesuatu aku ingin melihatnya" ibunya Nadila terus menangis histeris dunia mereka seakan menjadi kiamat. Ayah Nadila tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun dia hanya menangis dalam hati ada penyesalan karena tidak punya kuasa melindungi putrinya.


"itu kecelakaan istriku, kita tidak dapat melawan takdir. kita harus bisa mengikhlaskannya jika memang putri kita sudah tiada" air mata duka lolos dari kelopak mata sang ayah yang selalu mengharapkan yang terbaik untuk putri tersayangnya.


Loi yakin ini tidaklah muda bagi keluarga nona mudanya, terutama kangsan yang sedari tadi meringkuk di lantai. Dia belum memberikan hadiah kepada kakaknya atas pernikahan yang sudah direstuinya, tapi kakaknya sudah tidak bisa ditemui lagi.


Kangsan memilih berdiam didalam kamar memutar memori yang sudah di lalui bersama kakak nya, hatinya sungguh tersayat saat diingatkannya hanya terukir hal menyenangkan berdebat dan tidak pernah akur dengan kakaknya.


"setidaknya aku ingin berdebat dengan mayat mu untuk yang terakhir kali kak" kangsan mengelus fotonya bersama kakak tercintanya. Dia berharap bisa melihat tubuh kakaknya tapi itu tidak mungkin, Loi telah menceritakan detai kejadian saat kecelakaan dan mereka percaya kalau segala usaha telah dilakukan.

__ADS_1


Loi hendak pamit untuk pergi tapi melihat kondisi keluarga nona mudanya dia merasa tidak tega meninggalkan tempat itu. Di pagi hari ibunya Nadila terkejut saat menemukan Loi yang tertidur di sofa kecil di ruang tamu. Loi yang merasakan kehadiran seseorang langsung membuka matanya, seorang pengawal yang selalu waspada dalam tidurnya.


"Maafkan saya nyonya, saya ketiduran " Loi berdiri membungkuk pada ibu Nadila, mata sembab dan pucat menandakan wanita paruh baya itu menangis sepanjang malam membuat Loi semakin merasa bersalah.


"saya akan buatkan kopi untuk anda" ibu berlalu pergi ke dapur dan tidak lama datang dengan segelas kopi yang disana pak Hasim suaminya juga sudah bergabung.


"terimakasih nyonya" Loi merasa tidak sopan, tidak seharusnya dia mendapat pelayanan dari keluarga nona mudanya.


keluarga Nadila merasa canggung dengan panggilan Loi sudah disanggah beberapa kali tapi tetap saja Loi tidak merubah panggilannya. Loi merasa sudah cukup menemani keluarga duka, dia punya pekerjaan lain yang harus di selesaikan.


"saya ingin sekali berada di sini dalam waktu yang lama tuan Hasim tapi pekerjaan saya tidaklah sedikit, jadi saya harap anda mengerti. Saya janji akan datang mengabari anda jika ada kabar tentang nona muda, saya harap keluarga menerima kiriman dari keluarga Dewantara tanpa kata penolakan. Nona muda juga mengharapkan hal ini untuk membantu keluarga yang disayangi nona" Loi sudah menyiapkan beberapa hal untuk diserahkan kepada keluarga kecil itu.


"sejak kapan suara menjadi bergema di rumah ini, ais aku merinding" dokter Aditia.


pak man muncul dengan pakaian penuh darah. Pemandangan itu akan mengejutkan siapa saja yang melihatnya, pak man menghampiri dokter Aditia yang mematung, sepertinya dokter mengingat kejadian dimasa lalu.


"anda datang dokter, cepat selamatkan tuan Ken" dokter Aditia mengumpulkan kesadarannya dan berlari ke kamar Ken, di pikiran Aditia Ken harus diselamatkan.

__ADS_1


Ken sudah tidak sadarkan diri, pucat dan sebagian darahnya membeku menandakan lukanya sudah lama. Aditia mulai membersihkan darah Ken agar dapat melihat seberapa besar luka itu, setelah mengamati Aditia menatap tajam kearah pak man meminta penjelasan.


"apa Ken mencoba bunuh diri?" Aditia dapat dapat menilai luka tembakan di tubuh Ken.


"tuan besar datang berkunjung tadi dokter" jawaban pak man dapat dibaca oleh Aditia, semua orang sudah menduga jika kakek datang pasti akan seperti ini.


Aditia menyiapkan alat untuk melakukan operasi darurat, dari analisisnya sudah tidak sempat membawa Ken ke rumah sakit. Hal utama agar Ken selamat adalah mengeluarkan peluru yang bersarang dalam tubuh Ken. Dissecting set alat bedah sudah disiapkannya, beruntung obat bius masih ada. Walau kehilangan kesadaran dokter aditia tetap memberi obat bius agar tidak terjadi ketegangan saat operasi.


"peluru di pinggangnya sangat dalam pak man, aku sedikit kesulitan" dokter Aditia berhasil mengeluarkan peluru di lengan ken, tapi di pinggang sangat sulit karena letak pelurunya sangat strategis.


Pak man ikut membantu dokter Aditia mengeluarkan peluru yg api masih sangat sulit. Jalan satu satunya yaitu memberi sayatan di tempat lain karena entah bagaimana cara menembak sehingga peluru itu berada di sudut 45° dengan titik luka.


Membutuhkan waktu tiga jam bagi dokter Aditia menyelesaikan operasi. Dia memberi suntikan obat khusus pada Ken, obat pemulihan tercepat yang hanya digunakan untuk orang khusus. Cukup memberi obat Tanpa harus melakukan transfusi darah untuk mengganti darah Ken yang habis.


"pak man, Ken mungkin akan sadar besok. saya memberi obat penenang dosis tinggi agar dia lebih beristirahat, saya harus kembali kerumah sakit tolong ganti infusnya kalau sudah habis. Besok pagi saya akan datang memeriksanya" Aditia menjelaskan panjang lebar tentang yang harus dilakukan oleh pak man.


Selepas kepergian Aditia, dua mobil hitam masuk ke halaman rumah utama, sepuluh pria berjas keluar dengan senjata api. Mereka tidak bersuara hanya berjalan dan mengatur posisi untuk berjaga, pak man keluar untuk melihat situasi yang semakin menegangkan itu. Salah seorang maju menghadap pak man, sepertinya mereka bukan lawan tetapi kawan.

__ADS_1


"tuan kami di perintahkan oleh tuan Matteo untuk berjaga" jelas pria yang bertanggung jawab. Pak man mengerti dan membiarkan mereka berjaga, sebuah notifikasi masuk di hp pak man Aditia pelakunya.


"pak man, aku hanya khawatir pada Ken untuk itu aku meminta Matteo untuk menjaganya" Aditia.


__ADS_2