
"aku akan pergi" kata Hendra
"kemana?" Jennie seakan tidak rela ditinggalkan.
"ada pekerjaan yang harus di selesaikan mungkin akan kembali besok lusa" jelas Hendra
Pria yang memberi kehidupan kedua pada Jennie tidak bisa menunda kepergiannya. Dia mengeluarkan segepok uang dan menyerahkannya pada Jennie. Mata Jennie membulat sempurna dia merasa ini terlalu berlebihan, dia menolak dengan cepat bukan saatnya dia menjadi serakah tinggal di tempat yang nyaman dan makan gratis sudah lebih dari segalanya. Namun hendra masih memaksa keinginannya meninggalkan sejumlah uang untuk Jennie.
"aku sudah membeli semua keperluan dapur dan beberapa cemilan ku letakkan di dalam kulkas, jangan sampai dia kelaparan uang itu bisa kamu gunakan untuk membeli sesuatu yang mungkin kamu inginkan" Hendra pergi menggunakan motor agar tidak terjebak macet. Dia meninggalkan uang di atas meja untuk Jennie.
"bagaimana aku menilai caramu memperlakukanku?" Jennie
Jennie merasa seperti seorang istri yang ditinggal pergi oleh suaminya, bolehkah dia berharap itu nyata? sesuai yang di katakan, kulkas penuh dengan bahan makanan dan cemilan dan di laci dapur tersusun banyak susu hamil dengan varians rasa yang berbeda beda. Jennie tersenyum getir membayangkan perlakuan yang didapatkannya dari pria asing yang tinggal satu atap dengannya.
Di tempat lain di markas neraka bagi pengkhianat terdengar suara jeritan dimana-mana, suara yang menyatakan rasa sakit yang mereka rasakan. Para pekerja yang di sandera oleh Ken belum membuka mulut untuk berbicara, hingga kedatangan seseorang merubah segalanya. Hendra muncul di markas menghadap sekretaris Ken dengan membawa beberapa barang.
"kamu sudah mendapatkan keluarga mereka?" kata sekretaris Ken menunjuk orang yang sudah di rantai.
"sudah tuan" jawab Hendra menyeringai.
"sekarang lakukan tugasmu" Ken menyerahkan semua pada Hendra, sudah waktunya kembali ke kantor pikirnya.
__ADS_1
Hendra bukanlah orang biasa, dia adalah wakil markas yang di jadikan sebagai tempat para sandera, tanpa banyak bicara dia mengambil posisi santai dengan menjepit cerutu asap di antara kemari nya. Perlahan membuka satu persatu map yang di bawanya dan menempelkan didinding putih ruangan itu.
"apa kalian mengenal mereka? hm, tentu saja mereka adalah keluarga kalian. Dengan ini kita akan tahu sejauh mana mulut kalian bisa tertutup rapat" Hendra mengeluarkan pistolnya dan menembaki foto yang di tempelnya satu demi satu.
"tuan, tolong ampuni kami, ampuni keluarga kami tuan" seorang pria yang melihat foto anak gadisnya yang masih remaja menjadi sarang peluru dia menangis dan menyesali.
pria itu mengatakan bahwa dia hanya menjalankan tugas demi sejumlah uang yaitu menutup mulutnya sedangkan uang itu dilakukan oleh seseorang yang sangat pandai. Kesalahannya adalah pria itu tidak mengenali pada siapa dia bekerja sehingga Hendra membuatnya kehilangan kedua kakinya, salah satu pria yang di sandera mendapatkan sentilan dengan cairan aneh yang membuat syaraf kakinya perlahan mati.
"akhhhh, haaaa. kakiku tidak!" pria itu menjerit saat mendapati kakinya yang tidak bergerak, Hendra memang sangat kejam saat menjalankan misinya.
"katakan yang sejujurnya agar hukuman kalian bisa saya perhitungkan" Hendra mengitari tikus yang di ikat dengan rantai, saru tusukan pisau di hadiahi di salah satu paha itu. Menjerit sekuat tenaga tentunya, tidak ada yang bisa menahan rasa sakit nya.
Semua orang yang berada diruangan itu berlumuran darah bahkan kemeja yang di kenakan Hendra penuh dengan percikan darah. Hendra sangat senang mendapati tugas kali ini, karena dia sudah lama meliburkan diri.
Mereka berada dalam ruangan dengan layar lebar seakan akan menonton bioskop, panggilan Vidio tersambung terlihat seorang pria kekar dengan memakai topeng dan seorang gadis berusia sembilan belas tahun terikat di sebuah kamar. Mata pria yang bernama pak canda terbuka lebar, gadis yang di lihatnya adalah putri satu satunya.
"ayah, ayah aku takut" suara anak gadisnya di seberang sana menyakiti hati pak Canda.
"tidak, tidak lepaskan saya, lepaskan putri saya" pak Canda tidak percaya resikonya akan sejauh ini.
"katakan pada siapa kamu bekerja?" gertak Hendra lagi. Lebih mengejutkan pria yang diancam bungkam, dia memegang kesetiaan yang kuat. Hendra kehabisan kesabaran dia menyuruh anggotanya melakukan sesuatu pada putri pak Canda yang mementingkan orang lain dari pada putri nya.
__ADS_1
"putrimu lah yang menanggung perbuatannya" kata Hendra tanpa menutup Vidio, semua yang di lakukan terlihat jelas di layar lebar seakan nyata di mata pak Canda.
Putri pak Canda di seret ke atas kasur dan di l***hkan, gadis yang lemah itu tidak bisa lepas dari kekuatan pria yang melecehkannya. Berteriak memohon pengampunan tapi apa daya pak Canda bahkan tidak mau mengaku.
"tuan, lepaskan putri saya dia tidak bersalah" pak Canda memohon tapi sudah terlambat putrinya sudah telanjang, betapa hinanya itu.
"kau terlambat dasar bodoh!" kata Hendra menyesal saat orang suruhannya tidak berhenti dengan aktivitasnya yang sudah dimulai, putri pak Canda di per**s* tanpa ampun dan itu di saksikan oleh pak Canda sendiri.
Kebodohan seorang ayah yang tidak terpuji melindungi orang lain demo ambisinya. Hendra geram dan menancapkan pisau ke pinggang pak Canda, baginya jika tidak bisa di ajak kerja sama untuk apa dia menahannya tetap hidup. Pak Canda mulai sekarat karena kehabisan darah, sedangkan putrinya terkulai lemas di atas ranjang.
Di sela nafas terakhir pak Canda menyebut sebuah kata yang mirip dengan nama panggil seseorang, Hendra mendapatkan yang dia inginkan tapi sayang pak Canda sudah tidak tertolong dan sangat tidak mungkin mengembalikan keadaan putrinya seperti semula. Hendra menganggap pak Canda dan keluarga tidak beruntung kali ini.
"jika putri pria bodoh ini masih bertahan hidup, maka berilah kehidupan yang layak padanya jauh dari kota ini" perintah Hendra pada orang suruhannya, dia merasa harus membayar pinalti telah menghancurkan kehidupan orang.
Hendra melanjutkan pekerjaan mencari orang yang menjadi target selanjutnya, dia yakin orang yang dia hadapi termasuk berpotensi untuk itu harus hati-hati. Hendra akan menangkap musuhnya tanpa meninggalkan jejak agar tidak ada simpang siur nantinya. Berurusan dengan pihak kepolisian tidak menyenangkan untuk itu dia harus melakukannya dengan cara yang unik.
Hendra datang ke sebuah club' yang di sana orang yang dia cari sedang bercanda gurau dengan beberapa wanita seksi. Hendra mengambil posisi duduk di sebelah pria incarannya, sedikit berbincang di tengah kemabukan. Setelah lama pria incarannya kehilangan kesadaran dan tertidur di sofa, hal itu membuat para wanita kecewa karena pria yang mereka layani tertidur.
"hei cantik, sepertinya pria tampan ini sedang kelelahan, biarkan saya mengantarnya pulang" kata Hendra
"tuan disini ada kamar jadi jangan repot-repot" godaan para wanita malam.
__ADS_1
"tidak masalah nona cantik kalian bersenang senanglah" Hendra mengeluarkan uang dari saku pria incarannya dan membagikannya pada para wanita itu agar mereka senang.
"kan bukan uangku haha" Hendra berlagak seperti pria royal dengan uang curiannya.