
Anginnya sangat menyejukkan saat menikmati pemandangan matahari terbenam di ufuk barat, kakek yang sudah berumur sudah tidak sekuat dulu lagi. Kakek Umbara, keluarga yang dimiliki tuan Liam yang menyayanginya dengan cara yang berbeda dari kakek lah tuan Liam terbentuk menjadi kuat saat ini.
"tuan besar, bagaimana kabar anda?" tanya Giorgi
kakek menoleh sebentar lalu menarik sebelah bibirnya "pertanyaannya itu membuatku bosan Giorgi, berhenti menanyakan hal itu pada ku. Kau membuat umurku semakin pendek saja" katanya.
Giorgi mendekati tuannya, inilah pekerjaan Giorgi setelah kepulangan tuan Liam dari tragedi yaitu menemani masa tua sang kakek. Menemani kakek bercerita berbagi kisah kehidupan, hingga Giorgi lupa bahwasannya dirinya masih belum memiliki pasangan hidup "saya sangat bahagia melihat anda menua dalam keadaan sehat tuan besar" kata Giorgi.
"hmm, berapa usiamu sekarang?" dengan mata terpejam menanyakan hal itu pada Giorgi.
"42 tahun tuan besar, saya sangat bersyukur bisa mencapai umur saya sekarang" jawab nya sedikit malu, tidak di sangka hari ini adalah ulang tahun Giorgi dan hanya di hari ulang tahunnya lah dia bisa bebas dari pekerjaan melayani majikannya.
"kenapa datang kemari, seharusnya kamu pergi menikmati hadiahmu Giorgi. Kamu selalu tidak ingin libur jika ku perintahkan libur, untuk itu beristirahatlah di hari ulang tahun mu jangan menguntit terus" kata kakek.
"saya akan melakukannya lain kali tuan besar, hari sudah mulai gerimis sebaiknya anda masuk kedalam mobil. Saya akan berada disisi anda untuk waktu yang tidak terbatas" perkataan dan kerasnya kepala Giorgi kalau masalah libur sulit di bujuk.
Di perjalanan pulang Giorgi hanya diam tidak seperti biasanya yang di lakukan. Di setiap detik Giorgi selalu melaporkan hal penting tapi tidak kali ini. Suasana tenang di dalam mobil membuat kakek merasa nyaman dan memilih tidur di tengah kesunyian "selamat beristirahat tuan besar" dalam hati.
perjalanan mulus hingga kekediaman kakek Umbara, "kamu harus menggendongku Giorgi karena kamu sudah membiarkanku tertidur dalam keadaan duduk. Hal itu membuat badanku sakit semua" kakek yang manja.
"bagaimana keadaan cicitku Giorgi? apa dia tumbuh dengan baik? pastikan dia sekuat ayahnya yang menelantarkan kakeknya. Bahkan tidak perna meluangkan waktu menjengukku, selalu aku yang menjenguknya. Kadang membuatku bingung siapa yang jadi orang tua disini" lanjutnya.
"saya akan mengatur agar anda bisa bertemu dengan tuan muda Liam dan tuan muda kecil secepatnya tuan" Giorgi tidak mematahkan harapan.
Di club' tuan Liam menikmati wine nya secara perlahan dan otaknya terus berputar-putar. "berambut pirang dan bertato pedang di lengan kirinya, siapa dia?" katanya kemudian.
Ciri-ciri yang sangat di kenali warga dunia gelap dan juga Ken tentunya yang tidak ketinggalan karena cerita masa lalunya bersenggolan dengan itu. Matteo juga melupakan yang satu itu, pantas saja permainan mereka sangat cepat berakhir tanpa mendapat serangan dari lawan, ternyata yang terkuat tidak di sana pikirnya.
__ADS_1
"ada apa Liam?" tanyanya.
"Geronimo belum mati, pria itu menyelamatkannya, periksa semua rumah sakit jangan sampai mereka lolos" mendengar itu, Rio langsung menjalankan perintah.
"Kamu sudah mulai mabuk kawan, pulanglah biarkan Rio yang mengurus mereka. Kakak ipar akan khawatir jika tidak pulang sekarang" kata Matteo mengingat waktu terus berjalan.
"antar Liam pulang Ken, semua ini masih berlanjut. Kamu mengerti maksudku kan?" lanjutnya lagi.
Tidak membuang waktu sekretaris Ken membawa tuan Liam pulang, melintasi jalan yang ramai pengendara. Tuan Liam tidak sepenuhnya mabuk, kesadarannya masih penuh namun dia membenarkan Matteo yang mengingat orang tercintanya.
Sangat banyak slide yang berbaris di kepala tuan Liam, yang harus di selesaikan sebelum menjadi virus yang sulit di hancurkan. sekretaris Ken mengerti keadaan sulit yg ang terjadi di depan mata "tidak ada salahnya menceritakan nya pada nona muda tuan. Agar anda lebih tenang dan perasaan nona Nadila tidak terluka." kata Ken.
"hm, aku lebih dulu memikirkan hal itu dari padamu. Cari lah ide yang lain, jangan mengikuti ideku. sangat tidak membantu!" Kata tuan Liam menyela.
"baiklah, anda menang tuan muda, ch. Seharusnya aku diam saja dari tadi" Ken merasa pendapatnya tidak di benarkan pada hal dia lebih dulu memberi ide itu, tuan Liam sangat pandai membalikkan fakta.
"Baru saja masuk beristirahat tuan" jawab pak Man, Ken pun memilih bersuara. Panggilannya mendapat respon oleh Nadila dengan muka baru bangun dan rambut berantakan. Ken dan pak Man memalingkan wajah demi menghormati nona nya, mereka membawa tubuh besar tuan Liam ke atas ranjang.
"maaf kan saya, telah mengganggu istirahat anda nona. Tuan muda hanya lelah, jadi tidak ada yang di khawatirkan" jelas Ken.
"Hem terimakasih, hm... sekretaris Ken apa tuan liam mabuk?" kata Nadila memastikan.
"tuan muda hanya kelelahan nona, saya permisi" jawab Ken, kemudian berbalik sangat tidak baik memandangi nona mudanya yang mengenakan pakaian tidur. Sebelum benar-benar pergi sekretaris Ken menyempatkan memeriksa kamar sebelah di sana kamar baby Rans di temani baby sitter beserta dua orang pelayan senior.
Setelah merasa aman sekretaris Ken melangkahkan kaki menuruni tangga, bukan benar-benar pulang dia patroli mengelilingi rumah utama. Pak Man yang sudah berat matanya terus terjaga mengikuti langkah sekretaris Ken. Banyak yang mereka bicarakan di tengah malam gelap dan sunyi di temani segelas kopi hitam favorit Ken.
sedangkan di kamar utama Nadila sudah membersihkan tubuh suaminya yang setengah mabuk "terimakasih istriku sayang" suara parau tuan Liam melelehkan hati Nadila.
__ADS_1
"tidurlah, jika sudah lelah" kata Nadila mengelus kepala suaminya untuk mengantarnya ke alam mimpi yang indah.
Bukannya tidur tuan Liam malah memeluk istrinya dan mulailah mengoceh "aku meledakan yg empat tinggal orang yang membuatmu menangis tadi siang sayang, kamu jangan marah padaku ya" katanya dengan manja.
Terkejut? tentu saja. Nadila tidak percaya suaminya senekat itu namun di hatinya juga berpikir itu setimpal dengan perbuatan yang dilakukan, sudah cukup penderitaan mereka di masa lalu.
"dulu aku dilarang membalas Geronimo supaya nanti anak anakku bisa hidup dengan damai, nyatanya pria tua itu masih mengincar keturunan Dewantara. Apa aku salah jika melindungi kalian dengan cara ini sayang?" tanya Liam dengan mata berkaca-kaca mengingat masa lalu yang kelam. Nadila hanya menggeleng, kali ini dia setuju saja.
"aku mendukung keputusanmu, lakukanlah. aku tidak akan mengampuni orang seperti itu" Nadila tidak membutuhkan penjelasan lain, semua itu tidak penting baginya.
"aku mencintai kalian. Aku mencintaimu Dila, seluruh galaksi akan ku ledakkan jika galaksi mengusik mu" kata tuan Liam
Sangat banyak yang di ceritakan malam itu, semua rasa senang dan duka yang di rasakan tuan Liam di utarakan nya tanpa sisa.
*
**
hehehe
kepada para pembaca setia author, terimakasih masih singgah😊
Author minta maaf sebesar besarnya karena jarang up, Minggu ini adek author sakit jadi sibuk tidak punya waktu menulis. Mohon di maklumi ya.
Hehehe nih mulai coba up lagi, satu per satu.
jangan lupa semangati author dengan like, share, komen, dan beri vote ya🤭 anggap saja sebagai obat biar gak ngantuk hehehe ❤️❤️❤️
__ADS_1