
Ken berdiri di depan pintu rawat Hendra bahkan tuan Liam hampir menabrak nya. "apa kau ingin dipecat?" bertanya setengah membentak, bagaimana bisa Ken berdiri tepat dihadapannya yang seharusnya Masih cuti.
"Seharusnya saya tidak melalaikan tugas tuan muda" kata Ken dengan dingin bahkan tuan Liam tidak bisa membantahnya, Ken yang keras kepala.
Sekretaris Ken tiba-tiba sembuh dari segala sakitnya ketika dia mengetahui tuan Liam yang akan bertemu Jennie. Hati Ken tidak tenang jika tidak berada di sana tepat waktu, dia terlihat seperti tahanan yang di jaga ketat oleh anak buahnya sendiri tapi bukan sekretaris Ken namanya jika tidak bisa lolos dari mereka. Sekretaris Ken seakan menjadi transparan saat membalut tubuhnya dengan setelan jas bermerek itu.
Menegakkan kepala saja tidak kuasa untuk dilakukan para bodyguard di rumah utama, dengan santai menuju lokasi tuan Liam berada "aku terlambat" katanya lewat lirikan mata pada dokter Aditia.
Tuan Liam pergi tanpa menoleh, anggap saja semuanya akan beres dengan kehadiran sekretaris Ken. Sedangkan Ken di dekati oleh Jennie rasa sakit di hari Jennie saat mengetahui suaminya yang hampir merenggang nyawa tidak untuk di abaikan. "aku ingin suamiku berhenti" katanya
Sekretaris Ken menarik nafas panjang makhluk mengerikan yang disebut sebagai wanita bukanlah hal yang di sepelekan "belum saatnya untuk egois nona" kata Ken disertai lirikan pada bayi yang tertidur di sofa.
Jennie mematung sesaat lalu perlahan terduduk di lantai, dia tersadar keputusannya belum sepenuhnya benar bahkan dia tidak menyadari keberadaan suaminya yang sudah di ruang operasi darurat.
__ADS_1
Tuan Liam kembali ke kantor dan memulai kesibukan seperti biasanya bahkan ikut turun memantau beberapa pekerjaan yang terlihat sepele.
"pastikan kalimat yang kamu ucapkan berguna ken" katanya saat menyadari kehadiran Ken.
"hm" jawaban yang mengundang emosi dari Ken.
"beraninya kamu melanggar perintahku!"
"Saya merasa bosan jika hanya memandangi dinding kamar tuan" kilas Ken.
Hari ini pekerjaan kantor menjadi lebih ringan, sekretaris andalan sudah kembali tentu saja segala sesuatu dalam perusahaan harus berjalan dengan semestinya. Terkadang posisi sekretaris Ken menjadi ancaman bagi para pekerja dalam perusahaan bahkan kadang terbawa mimpi.
disinilah dirinya berada dalam ruangan yang hening dengan tumpukan dokumen penting Dewantara group. Memilah satu persatu tidak di beri kesempatan untuk terlewat. Seseorang memasuki ruangan sekretaris Ken dengan perlahan.
__ADS_1
"bagaimana?" tanyanya.
"seperti nya anda harus menilainya sendiri tuan" kata pria itu menunjukan sesuatu yang dia bawakan "
Sekretaris Ken tampak mengernyit ketika melihat sesuatu yang diluar dugaannya, dia sudah lama melupakan sesuatu yang berharga itu.
"kirim beberapa orang di sekitar mereka, jangan mengecewakan ku" katanya.
Pria misterius itu pergi tanpa menimbulkan suara.
Diseberang kota keluarga yang selalu berkecukupan mengalami krisis. "bagaimana kalau Nadila mengetahui keadaan kita dia pasti sedih" kata ibunya."maafkan kangsan ibu" "ini salah ku" lanjutnya dalam hati
usaha mereka telah gagal sia-sia karena kurang ketelitian, entah bagaimana mereka bisa terlilit utang dengan pendapatan mereka selama ini. Tabungan mereka hangus entah kemana, pihak bank juga tidak bisa membantu menemukan keberadaan uang mereka yang sudah di simpan selama ini.
__ADS_1
Menurut laporan uang sudah ditarik habis oleh kangsan, tidak ada yang dapat mengetahui keberadaan uang itu.