Cinta Presdirku

Cinta Presdirku
eps 94 libur yang di tarik kembali


__ADS_3

Rumah sakit mendapat pasien dengan kaki kiri berlumuran darah, beruntung sekali rumah sakit yang memiliki dokter Aditia yang anti cuti. Meninggalkan istri tercinta seorang diri di rumah, akibat dari kesalahannya tentang undangan pernikahan yang tidak tersampaikan. Jangan tanya tentang bulan madu, itu semua sudah tertunda dan akan selalu tertunda.


"lukanya tidak terlalu dalam dan juga tidak membahayakan organ vital, baiklah setelah mengobati pria malang dengan lengan sedikit melepuh maka aku akan pulang. Aku merindukan istriku, yah walau nanti aku pulang hanya mendapat konser Rep darinya, aku sampai berpikir akan menjadikannya artis akademik idol" pikiran dokter Aditia sambil tersenyum mengingat wajah istrinya yang selalu memarahinya karena kesibukan. Namanya juga dokter, selalu siap demi menyelamatkan nyawa manusia.


"apa anda baru saja mengalami kecelakaan? sejenis kebakaran aset?" pertanyaan penuh kekesalan di berikan Aditia.


"Obati saja luka saya dokter, jangan banyak tanya. Ini bukan urusan anda" kata pria itu menahan sakit jahitan yg ang di berikan dokter Aditia.


Satu jam pengobatan selesai, dengan tampilan kaki kiri di perban dan beberapa bagian lengan yang melepuh di perban "anda sangat berbakat, saya akan mengingat kebaikan anda dokter Aditia, terimakasih" kata pria itu, setelah membaca nama dokter dan tidak lupa sejumlah uang di letakkan di meja dekat dokter Aditia yang tidak berkutik melihatnya.


"berjalan pincang lah, semoga kau sampai di tujuanmu sebelum efek obat bius itu habis" teriak dokter yang bersemangat pulang.


Dokter rindu istri pulang kerumah tanpa sambutan, hal itu membuatnya merasa bahwa pernikahan tidak selalu sesuai ekspektasi. Dia salah satu yang tidak beruntung di pernikahannya karena istrinya yang terlalu cuek padanya, Aditia pikir akan di manja oleh istri seperti tuan Liam yang berwajah cerah sejuta kali lipat setelah bertemu istrinya.


Dengan kecewa dokter Aditia memasuki kamarnya "gelap" Kamar itu gelap pertanda istrinya tidak di kamar. Lebih mengherankan tidak biasanya lampu di matikan.


"sayang kamu di sana? Adel sayang, kenapa gelap" kata Aditia memanggil istrinya sambil meraba menyalakan lampu kamar. Lampu di ruang ganti menyala dan perlahan pintu itu terbuka, seorang wanita berjalan keluar di tengah remang remang gelap.


"sayang, apa yang..." Aditia membeku saat merasakan sentuhan jemari istrinya, sangat lembut bahkan jantungnya berdetak cepat.


Lampu kamar menyala, dokter Aditia dapat melihat wajah manis istrinya dengan sangat jelas.


Perlahan yg angan itu berpindah di dada Aditia, ah suasana seperti itu membuat dokter Aditia mati berdiri. "Apa aku tidak menarik di pandanganmu?" tanya Adel


Perlahan mata Aditia bergerak melihat penampilan seksi istrinya malam ini, "kain apa yang di kenakan nya, aku sudah tidak bisa menahannya" meneguk liurnya, tentu saja umpan berhasil di makan. Aditia merangkul pinggang istrinya merapat di tubuhnya, pelan tapi pasti b*b*r keduanya bertemu dengan sangat lembut.


Sulit menghentikan yang sudah di mulai, dokter Aditia mengangkat tubuh istrinya dan meletakkannya di tempat tidur oversize miliknya, Dokter Aditia menyalurkan cintanya yang di sambut oleh Adel. Pakaian mereka sudah tidak beraturan.


"sayang kamu membuatku tidak terkendali" Aditia memejamkan matanya saat menyadari istrinya menc***nya lagi "apa kamu sesibuk ini sehingga tidak ada waktu untukku tuan dokter? ch aku benci profesimu" katanya

__ADS_1


Aditia hanya bisa tertawa menanggapi istrinya kali ini, lalu memeluknya erat "jadi bolehkah malam ini sayang? hm kamu benar aku seakan melupakanmu maaf ya sayang"


Malam pertama pengantin lama, terjadi malam ini, dokter Aditia tidak cupu seperti yang di ketahui. Dia memperlakukan istrinya dengan sangat baik hingga melayang ke angkasa. Adel merasa bahagia dengan hal itu. "kita lakukan perlahan ya, ini akan sedikit sulit sayang" kata Aditia merasa tidak tega dengan istrinya.


Tidak ada pilihan untuk berhenti, Aditia terus mencoba beberapa kali dan akhirnya berhasil beriringan dengan jeritan istrinya "maaf sayang maaf" katanya sambil mencium wajah istrinya agar melupakan sakitnya. Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka, entah sudah hitungan ke berapa namun dokter Aditia tidak ada niat untuk berhenti.


Dering ponsel dokter Aditia mengganggu suasana panas yang mereka ciptakan "hm, hah handphone kamu berdering" kata Adel.


"biarkan saja, aku tidak ingin ada yang mengganggu kita sayang. Biarkan aku melunasi utangku padamu di bulan madu yang tertunda hm akh" tolak Aditia yang tidak berhenti dengan kegiatannya.


Namun ponsel itu tidak berhenti berbunyi sungguh tidak bisa bekerja sama saja dan kali ini bukan ponsel Aditia tapi ponsel Adel yang berbunyi. Aditia menjadi frustasi bagaimana bisa di waktu kesenangannya ada gangguan maut.


Adel segera menjawab telepon tanpa melihat siapa yang berada di seberang sana bersamaan dengan Aditia yang tidak berencana berhenti dengan kegiatannya


"sebentar sayang, biarkan aku menjawab teleponnya"kata Adel berusaha mengatur nafas.


"hallo hm, siapa ini? hm akh hah" "suara yang sulit di terjemahkan itu ikut menimpali, sangat memalukan" wajah Adel semakin memerah betapa malunya dia, jangan tanya suasana hati Aditia yang tertawa riang melampiaskan kekesalannya. Seakan menjelaskan untuk jangan mengganggu.


"hahahaha kamu menyesal bukan?" kata Ken.


"bagaimana bisa Aditia seganas itu hahaha" mereka tidak berhenti tertawa, para pria lajang yang kesepian.


"sudahlah biarkan dia" kata Ken yang juga merasa bersalah karena pembatalan bulan madu dokter Aditia di sebabkan oleh dirinya juga. Kalau seandainya tidak ada penyimpangan hari itu, maka dia bisa memastikan Nadila ikut mendampingi tuan Liam menghadiri pernikahan Aditia.


Matteo meninggalkan Ken sendirian di kafe "aku pergi"


"tidak masalah" kata Ken menaikkan sebelah alisnya. Selepas kepergian Matteo sebuah pesan masuk ke hp Ken.


Mobil dengan kecepatan tinggi membelah keramaian jalan ibu kota, sesekali Ken memaki dan mengutuk jalan yang memanjang seakan tidak pernah berujung itu. Dia menyelip banyak kendaraan bahkan mobil patroli polisi tertinggal jauh oleh kecepatannya. perjalanan yang seharusnya satu jam dipersingkat menjadi dua puluh menit, mobil di parkirkan di pinggir jalan sepi dan jarang di kendaraan.

__ADS_1


"kamu baik-baik saja" kata Ken menemukan pria yang melemah.


"ya tuan, ini menyakitkan" katanya, dia adalah Hendra yang menahan sakit.


"mengapa tidak kerumah sakit bodoh!" sambil mengoceh Ken memapah Hendra ke dalam mobil. Hendra menjelaskan bahwa tadi sore dia di obati oleh dokter Aditia, namun efek obat biusnya habis sehingga dia berakhir seperti itu.


Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran Hendra memberikan alamat rumahnya dan ingin di antar ke rumah nya saja. Sekretaris Ken hanya bisa membantu dengan sebotol air , setelahnya melajukan mobil ke alamat yang di tuju.


"ternyata kehidupanmu sangat tenar, sekarang bagaimana? siapa yang ada dirumah sebesar ini ch" gumam sekretaris Ken melihat rumah milik Hendra. Sekretaris Ken membunyikan bel, tidak berselang lama seorang wanita membuka pintu.


Ken sangat terkejut dengan wanita yang dihadapannya, ini semua jauh dari dugaannya dengan tanpa suara dan wajah yang datar sekretaris Ken membawa Hendra ke kamar. Sedangkan wanita yang tidak lain adalah Jennie belum menyadari kalau yang mengantar Hendra adalah sekretaris Ken. Penampilan sekretaris Ken yang tidak formal sangat tidak di kenali.


"suamiku, apa yang terjadi? apa dia kecelakaan tuan?" kepanikan Jennie melihat luka-luka Hendra membuat Ken berpikir telah melewatkan identitas Hendra sebagai orang khusus di bidangnya.


"aku baik-baik saja" kata Hendra menggenggam tangan Jennie.


Mendengar suara itu Jennie mulai tenang dan dengan perut besar nya dia berusaha untuk berdiri dan menyadari bahwa yang berada di hadapannya itu sekretaris Ken. Dia menunduk malu, hampir menangis di tengah kegugupannya.


"duduklah nona, biarkan saya saja yang mengambil air minumnya" kata Ken pergi menuju dapur.


"minumlah nona" Ken dapat melihat tangan Jennie yang gemetaran.


"terimakasih sekretaris Ken"


Mereka kembali terdiam, Ken hanya duduk dengan mengotak atik hp nya sedangkan Jennie sedang menyusun kata-kata untuk menjelaskan sesuatu, karena dia yakin sekretaris Ken belum meninggalkan tempat duduknya sebab menunggu penjelasan darinya.


"jadi kalian sudah menikah? menunggu anda bercerita sangat mustahil nona, semoga anda selalu bahagia dan bertobatlah nona. Saya akan turut mendoakan kebahagiaan anda" yah hanya itu yang penting bagi Ken.


"terimakasih" suara Jennie bahkan nyaris tidak terdengar.

__ADS_1


"saya sudah memesan makanan, anda pasti lapar" kata Ken menjemput makanan di luar pintu.


Jennie hanya bisa menuruti perintah Ken untuk makan yang banyak, sangat kebetulan makanan yang di pesan adalah kesukaannya jadi sangat sulit menolaknya. Jennie makan sangat lahap yang di selingi dengan menjawab beberapa pertanyaan Ken.


__ADS_2