
Huru-hara dan desis-desus terdengar di segala sudut perusahaan Dewantara group dan juga perusahaan di berbagai penjuru. Hal ini karena tersebarnya undangan peresmian panti asuhan yang didirikan oleh Dewantara group sebagai salah satu bagian dari kepedulian dan perhatian keluarga Dewantara dimasa lalu.
Menurut informasi yang beredar selama ini, peresmian panti asuhan itu di tunda disebabkan oleh satu perintah tidak terbantahkan oleh sekretaris Ken
"panti asuhan ini adalah cita-cita seorang yang sangat berarti untuk itu kehadiran tuan muda Liam yang akan meresmikan ini" begitulah yang tersebar di seluruh penjuru. Berita kecelakaan dan menghilang nya tuan Liam presdir Dewantara group menjadi sebuah keajaiban jika dapat kembali sesuai dengan perkataan Ken.
Hari ini, penantian besar bagi orang yang penasaran dengan undangan yang beredar, akankah tuan Liam sudah kembali dan selamat dalam kecelakaan dahsyat yang kecil peluang untuk terhindar dari ledakan itu. Ada yang bersyukur akan keselamatan tuan liam dan ada sebagian yang kecewa karena suatu pikiran yang menyimpang. Berbagai macam tanggapan yang diberikan setiap orang saat berita yang belum pasti itu tersiar. Para pemburu berita mulai berlarian serta berlomba mencari kebenaran, mereka berharap mendapatkan kesempatan utama menaikan rantingnya.
"apa yang ku lewatkan" Dokter Aditia tersedak roti santapan untuk menghentikan aksi demo di perutnya, dia sedang melihat berita hot yang sedang berlangsung sungguh tidak dapat di percaya dengan cepat menyambar jasnya dan melakukan telepati untuk mencari kebenaran.
Dua mobil hitam dengan desain yang sesuai dengan pemilik mobilnya yang tampan memasuki kawasan elit menuju rumah utama Dewantara tanpa hambatan mobil itu dapat terparkir cantik di depan rumah utama.
"Haha kau penasaran? aku juga" Suara pria yang sangat familiar siapa lagi kalau bukan Matteo. Dia juga sama terkejutnya dengan Aditia dan tidak salah lagi insting yang tidak pernah meleset itu.
"Hey, psikopat dimana lagi kamu bersembunyi kali ini" suara teriakan Matteo yang sudah merasa gemas bahkan sebelum melihat batang hidung orang yang di carinya. Sepertinya suara menakutkannya tidak mendapatkan respon, terjadilah tatap menatap diantara mereka berdua.
"aku penasaran dengan sambutan darimu Matteo" Aditia duduk di sofa ruang tengah karena suara barusan pasti sampai di telinga pak man dan mungkin pak man akan lebih dulu menyapa mereka dengan segelas minuman.
"tentu saja sampai tanganku membengkak baru berhenti" jawab Matteo santai, sambutan beberapa Bogeman mungkin menyenangkan untuk menyalurkan kerinduan dan kekhawatiran jauh dari lubuk hatinya.
Matteo menaikkan sebelah alisnya melempar pertanyaan kepada pemilik pertanyaan, Aditia masih menyimpan rasa bersalah karena kejadian itu sehingga dia terdiam. Bukan karena sedih tapi sedang mencari ide yang bagus,
"ku rasa membuatnya sedikit cemburu akan menyenangkan" kata Aditia membentangkan skenario di kepalanya.
"ku harap tidak ada duka Aditia" Matteo menunduk merasa belum siap mendengar kenyataan melihat sudah hampir setengah jam belum ada yang menyapa mereka.
Aditia juga merasakan hal yang sama, dia berharap semua baik-baik saja, terlepas dari sesuatu yang ditakuti. Mereka saling terdiam karena sampai sekarang pak man belum muncul, mungkinkah ada hal buruk?
__ADS_1
Suara langkah kaki dari arah dapur menarik perhatian dua pria yang masih setia melajang itu. Muncullah dari sana seorang wanita dengan perut membuncit, mata dokter Aditia menilai wanita itu hamil besar bahkan bisa meramalkan usia kandungannya hanya dengan melihatnya saja.
"kakak ipar" panggil mereka bersamaan bahkan sudah menjauhi sofa untuk mendekati objek yang di sebut kakak ipar, ada rasa tidak percaya disana.
"tuan Matteo, dokter kalian disini?" Nadila sangat lama terdiam, rasa terkejutnya menimbulkan gerakan diperutnya.
"menjauh lah dari istriku, aku tidak mau putraku tertular wajah jelek kalian" suara bariton dari arah tangga entah sejak kapan pria yang disebut psikopat oleh Matteo berada di anak tangga terakhir yang sejak tadi tidak ada arwa di tangga itu. Aditia sampai tercengang lirikannya melempar pertanyaan "sejak kapan dia disana" pertanyaan itu untuk Matteo sedangkan Matteo hanya mematung.
Entah siapa yang memulai pria yang pantas di panggil berkepala tiga itu sudah saling merangkul, tidak ada suara yang terdengar hanya berpelukan erat dan air mata mengalir.
"ada apa dengan matamu?" kata Liam melihat titik embun di mata Aditia.
Matteo masih mematung ada haru bahagia di hatinya, dia sudah lama mengharapkan kehadiran ini dan akhirnya tanpa dicari orangnya muncul. Tubuh yang masih kokoh masih sesempurna dulu, dia lebih tua dari Liam tapi tidak senang di panggil kakak.
"apa kau yakin ingin melewatkan peluang mu?" tuan Liam yang anti akan pelukan dan Matteo yang belum sadar dari mode nya, membuat Liam berinisiatif memeluknya.
"kamu sudah bekerja keras Matteo" kata tuan Liam menepuk pundak Matteo yang belum juga membalas pelukan berharga yang telah dia berikan.
"lepaskan pelukanmu aku merasa geli" suara tidak menyenangkan dari Matteo berujung pada tawa keras Aditia yang tidak menduga hal itu.
Segala yang mereka rancang dalam argumentasi tadi sudah melebur dan menguap menjadi gas. Matteo yang berencana melayangkan pukulan seperti biasa lupa saat melihat istri tuan Liam yang tengah hamil, sedangkan Aditia percayalah kata-kata nya tadi hanyalah bualan karena dari dulu dia tidak pernah berhasil mengerjai Liam.
Pak man sedari tadi sudah mengetahui kehadiran tamu, namun dia urung menyapa dan sekarang pak man muncul menyajikan yang dibutuhkan tamu dan tuannya di ruang tengah. Tidak lupa buah untuk wanita hamil.
"terimakasih" kalimat itu terlontar begitu saja tanpa menunjuk orang yang berhak mendapatkannya.
"seharusnya aku yang berterimakasih karena sudah bertahan hidup Liam, aku akan sangat menyesal seumur hidup karena meninggalkan mu dan terutama kakak ipar yang sedang hamil saat itu" Dokter Aditia
__ADS_1
"kau tahu istriku hamil tapi tidak memberitahu pada ku" Liam kesal mendengar penuturan itu.
"maaf, waktu sangat singkat saat penyerangan itu. Awalnya aku ingin memberimu kejutan akan penantianmu Liam, tapi nyatanya waktu tidak mengijinkan" Yang di katakan Aditia benar karena dirumah sakit saat itu sangat kacau dan tujuan utama membawa Nadila menjauhi bahaya.
Sangat lama mereka terdiam dan hanya menikmati minuman masing-masing. Nadila selesai dengan buahnya dan sepertinya kepalanya sudah miring di bahu suaminya pertanda mau beristirahat.
"mau diantar ke kamar sayang" kata Liam mendapat anggukan dari Nadila dengan segera tuan Liam tanpa permisi memboyong istrinya dikamar.
Setelah Nadila sang ratu tertidur, posisi tiga pria berpindah ke ruang kerja tuan Liam. Pembahasan serius terjadi disana, banyak hal yang mereka bicarakan secara rahasia.
"Saat insiden itu aku yakin kamu selamat Liam kalau kau sendirian tapi mengingat ada istri mu aku sedikit ragu, bukan sedikit tapi sangat. Semua mengklaim bahwa Nadila ikut dalam ledakan dengan bukti cincin kalian dan sisa kain terbakar milik Nadila yang kebetulan nyangkut di sisa ledakan. Namun, hatiku sangat kuat hingga bertekad mencarimu sampai sekarang. Jika Nadila tidak, maka kamu yang selamat karena obat yang diberikan padamu" Matteo
"terimakasih telah melindungi ku dan istri ku" begitulah akhirnya.
"hm, aku kesal karena kau hampir saja membuatku kehilangan harapan" kata Aditia.
"tahun ini belum berakhir, masih ada harapan menemukan wanita seksi bukan begitu Matteo?" kejahilan dimulai.
Mereka bercanda gurau bernostalgia dan juga melakukan perayaan kecil kepulangan tuan Liam.
Hai, hai, hai.🤗
Author sudah up lagi nih.
Saat ini musim hujan sobat author jadi jaringan sedikit ngambek, sulit melakukan upload.
Selamat membaca.
__ADS_1
Tetap semangat dan banyak berdoa😁🤗